Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

You and The Twin: Meet Them

Sabtu, 17 Juni 2017

Kau memberengut sepanjang hari setelah kena omel bos. Menurutmu bukan apa-apa menumpahkan sisa air yang sedikit di perkakas makan setelah dicuci, di lantai dapur. Toh nanti juga akan kering sendiri kan? Kau juga tidak terima dimarahi gara-gara membawa gelas dengan memeganginya seperti meraup bibir gelas tersebut. Itu cara termudah dan hemat waktu!

Akhirnya karena kesal, kau membangkang pada bosmu. Jika bukan karena berhutang pada Sam setelah tidak sengaja merubuhkan motor gadis itu, kau tidak akan pernah bekerja--sebulan penuh--di sana. Kau hanya tidak punya ongkos perbaikan yang diminta Sam, maka dari itu dia menyuruhmu bekerja di tempat om-om kenalannya.

Belum seminggu, tapi kau sudah memecahkan tiga gelas, dua piring, dan dua alas cangkir. Belum lagi ada satu pelanggan yang terpeleset karena kau tidak memeras pel sebelum mengusapkannya ke lantai.

Sam pun tergelak mendengar bosmu memberi julukan "musibah" padamu.

"Sebenarnya aku tak peduli kau membuat bulldog-ku lecet," kata Sam sambil menopang dagu dan menyunggingkan cengiran menjengkelkan khas dirinya. Dia menamakan motor tuanya bulldog karena suara raungannya.  "Galliano memang membutuhkan pegawai tambahan, makanya aku merekomendasikanmu. Tapi kau mengacau." Gadis itu lagi-lagi terbahak.

Kau makin membenamkan kepala ke meja, tidak peduli lap kotor mengenai pipimu. Kau memang bukan tipe anak manja yang berbuat seenaknya, tapi menjadi waiter di Gritti yang hampir selalu ramai? It too much...

Belum lagi tugas kuliahmu yang mengantri untuk diselesaikan. Kau merasa lebih baik menjadi samsak bagi Sam seharian lalu sebagai gantinya, dia menganggap hutangmu lunas. Sudah lama kau tertular virus berandal macam Sam, tapi untungnya kau tidak kehilangan harga dirimu dengan kabur seperti pengecut.

Sekitar seminggu yang lalu kau bergabung bersama gerombolan komplotan geng Sam. Kalian bermain skateboard. Dan sialnya papan luncurmu menghantam motor Sam sampai-sampai jatuh terguling ke area proyek yang penuh reruntuhan.

Bunuh saja aku, batinmu saat itu melihat Sam menyeringai. Well, dia memang tidak sembarangan menghajar orang, tapi apa yang dia lakukan kemudian akan sukar ditebak. Kau pernah mendengar rumor kalau terakhir kali Sam pernah meminta kroninya menggantung bocah laki-laki secara terbalik lalu membenamkan kepalanya ke air.

"Ada hal lain yang bisa kau lakukan selain jadi pegawai Galliano. Aku baru memikirkannya kemarin," ujar Sam. Senyumnya aneh. Bulu kudukmu berdiri mendapati aura ganjil di sana.

Tapi pada akhirnya kau memilih opsi kedua yang diajukan gadis itu--hanya karena untuk melakukannya, kau cuma butuh waktu seminggu saja.

***
Sam memberimu alamat yang dikirimkannya melalui line. Motormu pada akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Gerbang itu langsung mengingatkanmu pada Mordor--dan sang Mata yang menunggumu di baliknya.

Menelan ludah, kau lantas memencet bel. Seorang pria langsung membuka lubang seukuran wajah pada salah satu persegi bagian gerbang tersebut.

"Cari siapa?" tanyanya.

"Ah ya, anu..." Ucapanmu tergagap. "Saya teman Samsin. Diminta ke sini buat... Ah, anu.. Ketemu..." Tunggu sebentar. Siapa nama orang yang disebut Sam tadi? "Vino? Viyo?"

Pria itu mengernyit sambil memperhatikan wajahmu seksama. Dia tampak menimbang sebentar sebelum akhirnya mempersilakanmu masuk. Tak lupa dia juga memintamu memasukkan motormu ke pekarangan.

Beberapa saat berjalan mengitari taman yang penuh bunga, seorang wanita paruh baya menyambutmu ramah. Setelah berbasa-basi menanyakan minuman apa yang kau mau di siang hari bolong begini, dia pun meninggalkanmu sendirian di ruang tamu.

Sembari menunggu, kau dijalari bayangan-bayangan aneh. Sejauh kau bisa ingat, teman-teman Sam tidak ada yang normal--minimal seperti dirimu. Kebanyakan dari mereka preman, gotik, terobsesi pada hal-hal yang tidak wajar. Misal kemarin saat kau mengira gadis di sebelahmu sedang mengeratkan syal di leher, tapi ternyata benda itu bukan syal, melainkan ular. Detik itu juga kau menjerit sejadi-jadinya.

Untungnya kau tidak menunggu lama. Seorang gadis berlari masuk. Pakaian yang melekat di tubuhnya berlumur tanah basah. Dia hanya mengenakan kaus oblong dan celana safari yang bisa melorot kapan pun. Melihat ada orang asing di sana, dia menatapmu lama.

"Hai!" sapanya. Tapi saat kau akan membalas, dia sudah telanjur pergi.

Apa dia Vio? Kau bertanya-tanya menebak sosok berambut cepak barusan. Mungkin dia buru-buru mandi setelah melihatmu.

Tidak lama berselang, kau mendengar suara dua orang yang ribut. Seseorang berambut legam panjang keluar sambil menalikan pita kuning di ujung kerah.

"Berhenti di situ!!" Kau juga mendengar gadis selainnya berseru nyaring. Mendadak saja dia melompat ke arah gadis tadi dan menjambak rambutnya. Kontan dia menjerit.

"Lepas! Lepas sekarang!!"

"Sebentar saja! Pulihkan blogku! Aku menghabiskan waktu semalaman merancangnya! Gladys akan mengamuk kalau lihat kantung hitam ini," kata si Gadis berambut cokelat ikal menunjuk matanya.

"That is your problem!" balas satunya juga dengan berteriak. Dia hendak kabur tapi kakinya langsung direngkuh erat.

Kau mulai meragukan kemampuan matamu menyadari wajah keduanya mirip. Oh bukan. Wajah ketiganya mirip. Mengingat temponya, kau tidak yakin kalau salah satu dari sepasang gadis itu dan anak yang datang berlumur lumpur adalah orang yang sama.

"Hei, Chrysantee, semurmu sudah mendidih! Apa kau mau meledakkan dapur?!" Satu orang lagi datang dengan berkacak pinggang. Dia lalu menoleh pada si Rambut hitam yang mengumpat tanpa suara. "Tendang saja kepalanya."

Gadis yang dipanggil Chrysantee itupun berdecap dan langsung lari ke dalam. Reaksinya terlalu drama untuk kembali pada semur.

Kau makin tercengang meralat perhitunganmu barusan. Mereka bukan hanya bertiga tapi berempat. Apa manusia kloningan sedang tren saat ini?

"Jangan lupa mampir ke artisan dan ambil biolaku," pesan gadis yang terakhir muncul pada gadis di depannya.

Si Rambut hitam sungguh tidak ramah. Pandangannya mendelik sebelum akhirnya pergi. Kau melihatnya berusaha merapikan rambutnya yang seperti habis diterpa badai.

"Wah, ada tamu," kata gadis yang tersisa bersamamu. Dia lalu melangkah mendatangimu. "Nama?"

Kau menyebut namamu, tidak lupa menyebut nama Sam.

"Apa kau psikopat?"

Kau lantas kebingungan, namun gadis itu tertawa.

"Tidak ada orang yang mau rumahnya dimasuki psikopat kan?" Dia berujar mengusap dagu. Tetap menatapmu, gadis itu menggigit bibir bersama pancaran mata yang agak... bergairah? "Di mana Sam?"

"Aku nggak tahu," jawabmu ditambah gelengan. "Sebelumnya maaf, kamu..."

"Aku," potong gadis itu sembari memilin rambut. "Vio."

Kau mengangguk-angguk, agak lega karena akhirnya bertemu orang yang Sam maksud. Tapi kelegaanmu tidak berlangsung lama saat Chrysantee kembali dan memasang wajah memberengut.

"Semurnya. Asin," gerutu gadis itu. Dengan wajah yang sama, tatapannya berganti padamu. "Siapa?"

Senyum Vio merekah lagi. Sekujur tubuhmu meremang karena dia meneliti seluruh tampilanmu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Makin tidak beres ketika dia berucap sesuatu yang tidak bisa kau pahami.

"Наша новая игрушка*."

*Our new toy

Lesson (3): Games Before Lunch

Jumat, 17 Februari 2017

Jejak telapak kaki mereka membekas di permukaan pasir putih. Ada yang melesat bagai orang kesetanan namun meraih posisi pertama, ada yang berlari dengan muka membiru tetapi masuk ke posisi kedua, sepasang yang menyingkir beberapa saat karena salah satunya muntah lalu yang lain menemani, juga satu lagi yang berlari santai karena sejak awal tidak peduli. Gargaric Len menyeringai saat melihat kelimanya melalui teropong di menara mercusuar.

Tiara dan Melisma menyelesaikan tahap awal. Viola, Amarta dan Ratimeria gagal. Alasannya karena Violalah yang muntah, Amarta menemaninya, sedangkan Ratimeria sama sekali tidak punya niat berlomba. Mereka berlima kemudian terduduk lemas di teras rumah kayu—kelelahan. Viola bahkan seperti tubuh kehilangan rohnya, sementara Amarta dengan sabar mengipasi.

“Lama tidak bertemu dan dia tambah kejam..,” gerutu Melisma sebelum menandaskan sebotol air. “Apa dia sedang bosan? Apa karena itu dia sengaja membuat repot?”

“Aku lapar,” kata Tiara polos. “Kita makan apa nanti? Amarta mau masak?”

Amarta menggeleng.

“Kata kakek, akan ada yang membawakan makan,” balasnya memberitahu.

Bunyi singkat berasal dari sesuatu yang dilempar hingga melesat membuat salah satu dari mereka menoleh. Saking singkatnya, empat yang lain tidak menyadarinya. Ratimeria beranjak berdiri lalu melangkah sedikit memutari rumah kayu. Tepatnya di dinding samping, gadis itu menemukan sebatang panah dengan secarik kertas yang terlipat dan diikat di sana.

Aku menunggu kalian di tengah pulau. GL

Dasar orang tua, batin Ratimeria dalam hati. Dia lalu kembali ke tempat semula dan melemparkan begitu saja secarik kertas kusut itu ke tengah-tengah yang lain. Sementara mereka mengernyit mengartikan maksud gadis itu, Ratimeria beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa. Tiaralah yang lebih dulu mengambil kertas itu dan membaca tulisan di sana.

Shit,” umpat Tiara yang langsung berlari menyusul Ratimeria.

“Apa itu?” tanya Amarta saat ganti Melisma yang membaca.

This games isn’t finished yet for today,” gumam si Pualam.

***
Persis di tengah-tengah pulau yang dimaksud kakek mereka, terdapat sebuah lapangan persegi panjang yang pada pinggiran bergaris putih sementara bagian rumpang lapangan itu bercat hijau. Sampai di sana, aroma minyak cat masih tercium. Melisma berjongkok sebentar demi menyentuh lapangan yang mereka pijak. Bekas cat itu masih sangat bersih.

Viola memandang sekitar—terutama dinding kawat yang menutup area lapangan. Tangannya juga memeriksa kawat yang digunakan. Informasi yang dia peroleh kurang lebih sama dengan yang didapatkan Melisma: semua hal di arena tennis pulau itu, semuanya baru saja dibangun.

“Kenapa tidak ada orang di sini?” gumam Amarta mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Hanya beberapa saat kemudian, datang tiga orang laki-laki berwajah asing masuk ke arena. Kaus yang mereka kenakan seragam: berwarna hitam dengan dua garis merah di dada. Dua di antaranya berkulit putih memerah setelah sempat terpapar sinar matahari. Iris mata mereka berwarna abu-abu terang. Satu berambut pirang, sedangkan yang lain berwarna cokelat gelap mengilap. Sementara satu orang lain lagi berkulit hitam, dengan rambut yang hitam keriting.

“Hari cerah sekali di sini!” Speaker yang dipasang di salah satu tiang mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Mereka semuapun refleks menutup telinga. Membenarkan volume speaker tadi, Gargaric tertawa saat meminta maaf. “Bukankah sangat menyenangkan terbebas sementara dari hari-hari jenuh yang biasa kalian jalani?” kata pria tua itu lagi.

Rahang Melisma menekan kuat, berkata dalam hati pada dirinya sendiri kalau tidak ada gunanya mengumpat pada speaker. Ekspresi kesal yang dia tampakkan juga tidak jauh berbeda dari Viola dan Tiara.

“Perkenalkan tiga tamu kalian untuk hari ini: Mawa, Lotad, dan Hebron,” kata Gargaric memperkenalkan. Mawa merupakan laki-laki yang berkulit putih dengan rambut pirang, Lotad yang berambut cokelat gelap, sedangkan Hebron yang berkulit hitam. “Masih ada sekitar satu jam sebelum makan siang, jadi kita akan bermain sebentar.”

Bermain? Tiara menyeringai menahan gemas. Mengingat kakek mereka yang dulu seorang olahragawan, mustahil tiga orang itu hanya pemain biasa. Dan kenapa juga mereka harus laki-laki? Apa kepala si Kakek sempat terbentur baru-baru ini hingga lupa semua cucunya berjenis kelamin perempuan?

Jangan salah sangka, batin Melisma yang rupanya punya pikiran sama dengan Tiara. Mereka berdua merasa tidak masalah bermain dengan siapa pun selama masih dalam kondisi prima. Hanya saja…

Melisma menoleh ke belakang, memandang satu per satu kembarannya yang lain. Viola masih lesu, Amarta balas menatap polos ke arahnya, sedangkan Ratimeria diam seperti patung.

Mereka sama sekali tidak bisa diharapkan..

Apalagi jika mereka sampai kalah, Gargaric mungkin akan menambah jumlah hari mereka terkurung di pulau tidak berpenghuni itu.

“Nah, anak-anak manis, silakan gambreng. Dua pemenang yang akan bermain lebih dulu melawan Mawa dan Hebron,” instruksi Gargaric. “Oh ya, dan.. kalian akan terima akibatnya kalau berlaku curang.”

Tiara lagi-lagi menyeringai. Amarta berseru dengan semangat menarik semuanya untuk mulai gambreng. Pertama, Viola langsung keluar dan gadis itu menghela napas lega. Ratimeria keluar kedua. Saat yang masih gambreng tersisa tiga orang, baik Tiara dan Melisma saling menatap tegang. Bisa gawat kalau Amarta sampai maju.

Dalam tenis, pemainnya akan sangat membutuhkan kemampuan refleks dan lari yang cepat. Amarta tidak akan bisa memenuhi keduanya. Gadis itu buruk sekali dalam kegiatan yang melibatkan gerak fisik.

Mereka kompak bersamaan mengangkat tangan kanan ke udara lalu menghempaskannya berbarengan ke bawah.

“Gambreng!!”

Tiara dan Melisma seketika membeku.

***
Mawa adalah satu dari sebelas pemain didikan Gargaric. Mereka belum mencapai tahapan pemain pro. Mungkin sekitar seperempat dari keselurahan kriteria yang harus dipenuhi sebelum bermain di laga. Meski begitu, Mawa yakin kemampuan dirinya, dan sepuluh orang yang lain juga tidak bisa dianggap remeh. Gargaric sendiri adalah pelatih yang punya kompetensi penuh—meski Mawa dan yang lain sepakat menyebutnya iblis. Tapi berkat itulah, mereka jauh berkembang hanya dalam jangka waktu setahun ini.

Sebelum datang ke pulau itu, Gargaric mengundang mereka secara pribadi dengan alasan liburan karena merasa latihan yang mereka lakukan cukup menguras tenaga. Hebron bahkan muntah terkadang akibat latihan mereka yang sesekali terlampau berat. Saat hampir sampai di lapangan tenis, Mawa mengira ajakan untuk berlibur hanya akal-akalan Gargaric. Lotad juga mengira mereka akan latih tanding dengan pemain pro.

Ketiganya sama-sama terkejut melihat lima orang gadis yang ada di sana. Ditambah lagi, wajah mereka sama persis—hanya saja dengan tipe rambut yang berbeda.

Gargaric memerintahkan mereka untuk gambreng demi memutuskan siapa di antara mereka yang akan bermain duluan. Beberapa saat kemudian, dua gadis pun tersisa. Satu gadis berambut pendek yang tersenyum lebar antusias, sedangkan satu lagi gadis berambut hitam legam—mengikatnya di belakang kepala yang sejenak berwajah keruh. Sepertinya dia tidak terima dengan hasil gambreng tadi.

Untuk lawan mereka, Mawa memutuskan berpasangan dengan Hebron.

Siapa mereka? Dan kenapa Gargaric meminta Mawa dan yang lain untuk melawan mereka? Sepertinya kelima gadis itu masih remaja.

Mereka akan menemukan jawabannya nanti. Pokoknya, tidak peduli siapa pun mereka, baik Mawa dan Hebron tidak akan mengalah. Mereka bertiga akan bermain dengan segenap kemampuan yang mereka punya.

***
Seumur hidupnya hingga saat ini, Melisma tidak pernah membayangkan kalau dia akan menjadi partner tenis si Bungsu. Bisa jadi kali ini adalah arena permainan yang paling menyebalkan yang pernah Melisma lakukan.

Tiara mengambil dua raket yang telah disiapkan tidak jauh dari sana lalu melemparkannya masing-masing satu pada Melisma dan Amarta.

Seakan tidak peduli dengan apa yang Melisma pikirkan—atau mungkin sungguh-sungguh tidak tahu, senyum Amarta tidak sekalipun pudar. Dia pun mengangguk menurut perintah si Pualam yang menyuruhnya berdiri di sisi depan, sementara Melisma sendiri berniat akan meng-cover wilayah belakang.

Melisma bahkan tidak yakin Amarta akan sanggup melakukan serve ringan.

Melisma memulai pertandingan dengan melambungkan bola tinggi-tinggi ke udara. Bola itu langsung melesat di wilayah Mawa dan Hebron. Hebron berlari menyongsong bola, lalu mengembalikannya dengan pukulan forehand. Pukulan yang cepat, kuat dan tegas. Melisma langsung berlari mengembalikannya.

Dan tiba ketika bola itu dipukul ke empat kalinya, Melisma melompat tinggi—seketika melakukan smash. Bola seketika menghantam rumpang di wilayah Mawa dan Hebron—tanpa keduanya bisa mengejar, menimbulkan bunyi yang membuat Lotad bersiul terkesima.

One-zero!” seru Tiara yang duduk di kursi wasit lantas membuat Hebron berdecap.

“Apa dia pro?” tanya Hebron pelan pada Mawa.

Melisma mengernyit. Aksen Inggris-Amerika, pikirnya mengenali bahasa yang dua laki-laki itu ucapkan.

We’ll know,” balas Mawa pendek.

Namun tetap saja, sehebat apa pun pualam, jika pasangan bermainnya tidak bisa mengimbangi. Hanya kekalahan yang menunggu di depan mata.

Welcome to Disaster Maker Club (15)

Sabtu, 30 Juli 2016



Eva, Zein, dan Audin berdiri mengelilingi tempat Lana berbaring, sementara Shin duduk di atas tepi ranjang. Mereka sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing, melupakan keheningan panjang yang biasanya sangat mengganggu—apalagi di asrama yang sering berisik. Di saat Eva, Zein, dan Shin berulang kali membatin kata mengapa, Audin mempertanyakan kata-kata Demetrin beberapa hari yang lalu.

Orang di dekatnya yang sedang mengundang kematian datang… apakah itu Lana?

Meskipun seorang pengendali, tubuh mereka sebenarnya tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Fisik mereka mudah terluka. Apalagi dari ketinggian seperti itu, Lana jatuh dengan posisi kepala di bawah. Dia sangat beruntung tidak langsung tewas di tempat. Walaupun melihat detik-detik saat gadis angin itu jatuh, biarpun sempat, Audin dan Laz tidak akan bisa berbuat banyak. Tanah yang digerakkan tiba-tiba justru akan melukai Lana, sedangkan kemampuan logam dari Laz tidak ada gunanya.

Pokoknya, mereka semua tidak ada yang bisa memperkirakan hal semacam itu terjadi.

Lana kehilangan kekuatannya? Kenapa? Tubuhnya kaku seperti mayat.

Pintu kamar itu diketuk. Mereka lantas menoleh ke arah yang sama. Mr. Elios masuk diikuti penghuni lain kecuali Agatha dan Snare. Zein berani bertaruh kalau gadis galak itu sedang merantai Snare. Vampir memang gampang gila jika mencium bau darah.

Mr. Elios menghampiri Lana. Pria itu menaruh kanannya di atas ranjang untuk melihat gadis itu lebih dekat. Ketika dirasanya selimut yang menutupi tubuh Lana mengganggu, dia menyibaknya sekalian. Shin dan Eva yang berada di seberang Mr. Elios lantas tertegun melihat iris mata guru mereka berubah berkilau bagai ametis. Menggunakan mata itu, Mr. Elios menelusuri seluruh bagian tubuh Lana. Pria itu kemudian mengernyit.

“Apa kalian melihat sesuatu yang aneh sebelumnya? Misal bayangan mencurigakan yang mengikuti kalian?” tanya Mr. Elios.

Mereka saling berpandangan dan kompak menggeleng.

“Apa yang terjadi?” tanya Eva tidak sabar.

“Kutukan,” celetuk Eero, membuat semua tatapan menoleh padanya. Menerima pandangan tanya, laki-laki itu menghela napas panjang. Dia mengeluarkan tongkat dari balik bajunya.

Tongkat itu digerakkan sehingga ujungnya menggoreskan tulisan berwarna biru keemasan di udara. Eero menuliskan sebuah simbol. Setelah selesai, dia lantas mendorong simbol itu supaya mendekat pada Lana. Simbol itu menghilang, digantikan bayangan seperti asap jelaga yang membuat Zein, Audin, dan Shin menahan napas. Bayangan itu melilit Lana seperti ular.

“Seperti yang Eero katakan,” ujar Mr. Elios lalu menggigit bibir. “Kita tidak akan tahu sumbernya selama Lana belum bangun.”

“Apa yang harus kita lakukan kalau begitu?” tanya Audin.

Lama Mr. Elios berpikir. Pria itu mengetuk-ngetuk ujung kakinya, juga menggigiti kuku jempol kanan.

“Apa boleh buat,” putus dia akhirnya.

***
Tiga mangkuk dan lima piring kotor bertumpuk. Gadis itu dengan tenang menyeruput kuah mie dingin kemudian memasukkan irisan telur rebus ke mulutnya. Berkali-kali dia mengeluarkan suara-suara yang lumayan “mengusik” Snare. Apalagi vampir itu duduk di depannya. Snare hanya memesan stik sapi setengah matang sehingga dia tidak melewatkan aroma darah. Makanan itupun telah habis sekitar satu setengah jam yang lalu.

“Hei,” panggil Snare namun tidak diacuhkan. “Teman kita barusan kecelakaan. Kau tidak khawatir?”

Agatha menyeruput kuah mie lagi. Jeda beberapa detik, gadis itu hanya menanggapi pendek, “Apa hubungannya makan dengan rasa khawatir?” Dia lantas melanjutkan makan—kali ini mengunyah potongan pir.

Snare bengong sambil menggerakkan lidahnya ke dinding mulut.

“Aku hanya bisa bilang napsu makanmu sedang bagus,” katanya.

“Kau jenius,” balas Agatha sengit.

Vampir itu tersenyum sekilas.

“Kali ini apa lagi?” tanyanya. “Aku pikir kau adalah orang yang sangat peduli pada teman.”

“Dia bukan temanku.”

“Kau kejam sekali,” komentar Snare sembari menggeleng. “Kupikir kau telah terbiasa dengan mereka. Masih merasa mereka akan membicarakan hal yang buruk di belakangmu? Ataukah… kau sengaja berlaku kasar untuk membuat mereka menjauh?”

Tidak ada respon.

“Biar aku tebak,” kata Snare lagi. “Kau sengaja menahanku di sini supaya aku tidak mencium bau darah Lana. Wajah seperti mayat itu membuatku bergairah.”

Splash! Segelas air langsung mengguyur wajah Snare. Waitress yang kebetulan lewat langsung menghentikan langkah karena kaget. Bukan hanya dia, beberapa pengunjung lain kafe itupun terkejut. Saat mereka memperkirakan kalau si Laki-laki akan marah, Snare dengan ringannya tersenyum manis pada waitress tadi.

“A-apa perlu saya ambilkan handuk?”

“Tidak usah, terimakasih,” balas Snare.

Meskipun sempat ragu, waitress itupun akhirnya pergi setelah mendapati ekspresi Agatha seperti orang yang sebentar lagi akan mengamuk.

“Kau sentuh dia, akan kubunuh kau!” ancam gadis itu dengan mata menyipit.

Vampir itu tertawa kencang. Pengunjung lain berpikir kalau Snare adalah seorang yang masokis.

“Kembali ke topik,” kata Snare. “Apa yang membuatmu kesal kali ini?”

Agatha meletakkan kembali mangkuknya setelah meneguk habis kuah di sana. Benda itu telah bersih mengkilap tanpa ada sisa. Mulut gadis itu mendecap. Pandangannya terarah keluar dinding kaca kafe tersebut.

“Aku tidak pernah suka bidadari. Mereka terlalu angkuh ketika dimintai tolong,” ujarnya.

“Tidak semua bidadari seperti itu. Mr. Elios misalnya.”

To be honest, Mr. Elios memang bidadari, tapi kastanya rendah. Bidadari yang arogan tidak akan mau tinggal di dunia bawah.”

“Lalu apa hubungannya dengan mood-mu yang jelek?”

“Aku pernah melihat kejadian yang sama persis dengan Lana. Aku juga tahu apa yang akan dilakukan Mr. Elios nantinya.”

***
“Mr. Elios yakin Charlotte tidak akan diapa-apakan di sana?” tanya Zein ragu. Telunjuknya jadi tempat seekor merpati putih bertengger.

“Meski menyebalkan, dia pecinta hewan. Apalagi hewan-hewan cantik,” ujar Mr. Elios.

Zein terdiam beberapa lama, mempertimbangkan ulang apakah dia akan melakukan apa yang Mr. Elios perintahkan atau tidak. Namun ini semua demi Lana. Demi Lana, mereka harus minta bantuan Charlotte. Normalnya, burung tidak akan mampu terbang mencapai bulan, apalagi kayangan. Karenanya, Eero sudah lebih dulu memantrainya supaya kebal. Sebelum menerbangkannya, Zein pun mencium kepala merpati itu. Sosoknya melesat cepat membumbung tinggi.

“Kita akan tahu jika dia membaca pesanku,” gumam Mr. Elios lantas duduk di atas salah satu batu—menunggu.

“Kenapa bukan Mr. Elios saja yang ke kayangan?” tanya Audin.

Kini, hanya ada tiga orang itu di dekat telaga di mana bidadari biasa turun ke bumi untuk mandi ketika bulan purnama.

“Urusan di bumi belum selesai,” jawab pria itu. “Aku hanya akan kembali ke kayangan jika kaisar memerintahkan.”

Audin mengangkat alis tertegun. “Kaisar? Kayangan punya penguasa?”

“Tentu saja. Seperti presiden di negara ini.”

“Seperti apa dia?”

“Dia sebenarnya makhluk abadi—tidak akan mati selain dibunuh atau bunuh diri. Hanya saja tiap seribu tahun, fisiknya akan terlahir kembali. Begitu berulang-ulang. Di periode ini sepertinya sosoknya kurang lebih seperti anak berumur tiga belas tahun.”

“Hoo…” Audin mengangguk-angguk. Teringat sesuatu, gadis itu lalu bertanya lagi, “Apa yang guru ketahui soal bidadari berdarah campuran?”

Mr. Elios mengerjap. Dia terkejut karena Audin menanyakan hal yang sebenarnya cukup tabu di kayangan.

“Mereka punya setengah darah kayangan dan setengah makhluk bumi. Namun dalam kasus tertentu, ada dari mereka yang sepenuhnya punya darah makhluk bumi, lantas menjual jiwanya dan menjadi bidadari. Dengan begitu, mereka bisa hidup sampai ribuan tahun dengan penampilan fisik yang tidak berubah.”

“Apa bedanya dengan vampir?” Kali ini Zein yang bertanya.

Bidadari adalah makhluk yang diberkahi.. sementara vampir adalah monster…

Mereka bertiga menoleh. Agatha datang bersama dengan penghuni DM yang lain kecuali Snare, Laz dan Lana.

“Di mana Snare?” tanya Mr. Elios.

“Berburu,” jawab Eva. “Lana akan aman dengan Laz.”

Mr. Elios mengangguk-angguk. Pandangannya sempat beradu dengan Shin, namun gadis itu buru-buru memalingkan wajah. Raut wajahnya masih saja muram. Pria itupun hanya bisa menghela napas panjang. Kalau saja hanya mereka berdua yang ada di sana…

“Charlotte!!” Zein berseru keras melihat merpati putihnya kembali.

Semua yang ada di sana sontak mendongak ke atas.

Burung itu kembali seorang diri. Namun, tepat ketika Mr. Elios mengira pesannya telah diabaikan, cahaya putih yang amat silau perlahan turun. Sosoknya bagai bintang yang perlahan turun ke bumi. Semuanya perlu waktu beberapa saat untuk membiasakan mata mereka dengan cahaya yang berpendar di sekujur tubuh sosok itu. Mereka melihat sepasang sayap yang dibentangkan lebar, namun ketika kakinya menyentuh permukaan air telaga, sayap itu menghilang, digantikan dengan selendang transparan yang penuh dengan serbuk keperakan.

Dan di sanalah dia, tersenyum samar. Kulit putih bening yang dimilikinya menunjukkan kalau makhluk itu bukan manusia. Rambutnya juga berwarna perak, tampak lembut dan jatuh. Rambut itu berhias beberapa permata yang tidak kalah silaunya.



Kecantikan yang mampu menghipnotis sekitarnya.

Bidadari itu melihat Mr. Elios dan diapun melayang mendekat—kurang lebih seperti Lana. Gerak-geriknya anggun, juga angkuh.

“Katakan padaku…,” katanya dengan nada yang halus. “Apa yang anak didikmu lakukan?”

“Siapa?” tanya Mr. Elios tidak mengerti.

Bidadari itu menyentuh wajah Mr. Elios dengan jari-jari tangannya yang lentik. Dia bahkan mendekatkan mulutnya pada telinga pria itu.

Tidak ada yang tahu kalau Shin mengepalkan tangan dan menekan rahangnya kuat melihatnya.

“Mengapa dia berteman dengan iblis...? Nyawanya pelan-pelan digerogoti…” bisik sang Bidadari. “Apa yang hendak kau berikan padaku jika untuk menolongmu.. aku harus… menghalangi Bidadari Kematian?”

Welcome to Disaster Maker Club (14)

Kamis, 21 Juli 2016



“Dua rasa caramel, satu rasa apel, dan satu lagi rasa stroberi. Semuanya yang large,” pesan Agatha pada wanita paruh baya yang menjaga stan popcorn di taman bermain Liliac. Sementara wanita itu memasukkan popcorn ke dalam masing-masing wadah, Agatha merogoh tas kecilnya untuk menghitung uang.

Zein, Lana, dan Audin sibuk sendiri dengan pamflet Liliac. Mereka berdiskusi permainan apa yang sebaiknya didatangi dulu. Shin sedang duduk melamun di bangku dekat kolam air mancur. Eva tengah tertawa-tawa dengan Eero, sedangkan Laz meski berada di dekat mereka hanya sesekali menanggapi—itupun dengan senyum hambar. Sedangkan Snare… bergeming tidak jauh dari gerobak penjual jus. Mulutnya mengecap tiap kali penjual itu membuat jus buah berwarna merah.

“Sip! Oke kan? Oke ya!” Zein mengacungkan jempol. “Kami mau naik roller coaster dulu! Ada yang mau ikutan?” serunya pada yang lain.

“Aku ikut!” sahut Eva. Melihat Eero diam saja, gadis itu tiba-tiba mengangkat tangannya. Eero kaget. Bahkan sebelum laki-laki itu sempat protes, Zein lebih dulu membeo.

“Eva Eero keren deh! Laz ikutan ya!” kata Zein.

Laz nyengir kuda.

“Yang lain?” sambung Lana bergantian memandang Shin, Agatha dan Snare.

Pass,” jawab Shin dan Agatha bebarengan tanpa sengaja. Keduanya saling berpandangan sekilas.

“Aku mau naik bianglala saja,” kata Agatha. “Yang pesan popcorn tadi siapa? Buruan ambil.”

Zein, Lana, dan Eva langsung menghambur mengambil pesanan mereka.

“Kita kan mau naik roller coaster. Memang bisa bawa ini?” Lana mengangkat alis.

Hening.

Agatha mendesah. Kumpulan bocah idiot, gerutunya dalam hati namun untungnya bisa ditahan supaya tidak kelepasan. Benaknya masih keruh gara-gara ingat dua pengganggu dirinya mengambil alih tubuh mereka selama beberapa hari. Mungkin tidak terhitung ada berapa banyak masalah yang mereka buat. Agatha hanya berharap dua pembuat masalah itu tidak menyebabkan kekacauan juga selain di asrama. Dia tentu tidak rela kerja kerasnya selama ini akan menguap begitu saja.

“Sini aku bawa,” tawarnya disambut senyum sumringah yang lain. Dua kotak popcorn dia bawa di pelukannya sementara dua lainnya dibawa Snare.

“Snare, jangan sampai kau habiskan  popcorn stroberiku mentang-mentang warnanya merah.” Zein memperingatkan sambil matanya menyipit tajam.

Awalnya, Snare mengangkat alisnya lalu pandangannya turun ke bawah memperhatikan sebagian popcorn yang berwarna merah. Selanjutnya dengan masih memasang tampang menyebalkan kali ini, Snare mengambil sekepalan tangan popcorn dan secepat kilat memasukkannya ke dalam mulut.

Zein menjerit. Gadis itu langsung melompat “menghajar” Snare, sementara si Vampir justru mempermainkannya. Mudah saja, karena Zein lebih pendek darinya.

“Pokoknya..,” kata Agatha mengabaikan tingkah keduanya. “Setelah kalian dari roller coaster, kita langsung ke teater.” Dia menoleh pada Shin. “Mau ikut ke bianglala?”

Shin tersenyum tawar.

“Tidak,” tolaknya halus. “Aku mau ke kafe kopi saja. Nanti aku susul.”
***

Makhluk itu hanya memiliki satu mata. Tubuhnya seukuran telur, dengan sepasang kaki unggas dengan kuku yang hitam dan tajam. Dia tampak sangat kecil saat bertengger di satu tempat. Hanya saja ketika hendak pergi, makhluk itu membentangkan sayapnya yang lebar bagai kelelawar. Umumnya, makhluk sejenis itu memiliki sayap dengan panjang mendekati batter bisbol. Hanya saja kali ini sayapnya tumbuh hampir tiga kali panjang normalnya.

Masalah besar kali ini adalah karena Lana tidak tahu.

Bertengger pada kabel listrik di taman Liliac, dia memperhatikan gadis angin itu tampak tertawa riang pada teman-teman yang menyertainya. Senyumnya cerah seperti biasa. Bahkan mungkin lebih cerah dari yang gadis itu berikan padanya.

Mengapa dia bisa tersenyum seperti itu?

Apa yang membuatnya tertawa?

Siapa orang-orang yang sedang bersamanya?

Makhluk itu diam, namun pada matanya muncul garis-garis merah. Pandangannya tetap mengarah pada sosok Lana yang mengantri pada barisan orang-orang yang hendak naik pada kereta yang meluncur cepat. Dia menelengkan tubuhnya, lalu berputar-putar. Saat kakinya tidak lagi berpijak pada kabel, makhluk itu terbang. Sosoknya kemudian menghilang.

***
Sekitar setengah jam mengantri, akhirnya tibalah giliran mereka naik. Lana duduk di sebelah Eero. Di belakang mereka ada Eva dan Zein, sedangkan di belakangnya lagi wajah Laz perlahan membiru di sebelah Audin.

“Kau baik-baik saja?” tanya Audin.

Laz berdehem. Supaya gadis itu tidak melihat wajah tegangnya, dia langsung membuang muka.

“Jangan bilang kalau kau takut?” Audin menebak. Sungguh, dia tidak bermaksud untuk mengejek. Baginya, orang yang berpura-pura berani padahal ketakutan setengah mati sama sekali tidak keren. Bagus jika dia takut namun punya kemampuan untuk meredam rasa takut itu. Tapi jika tidak, bukankah lebih baik menghindar?

Sebelum Audin sempat bertanya lagi, roller coaster itu terlanjur mulai berjalan. Zein dan Eva bahkan mulai menjerit girang.

Tidak butuh waktu lama, roller coaster itu mempercepat lajunya. Setelah melewati terowongan yang gelap, mereka mereka naik mencapai posisi rel yang paling tinggi.

Put your hands up, guys!!!” teriak Zein kencang.

Hell…” Laz menggumam amat pelan—kurang dari sedetik sebelum kendaraan super cepat itu meluncur ke titik paling bawah.

Jeritan penumpangnya nyaring mengalahkan suara gesekan roda dan rel.  Tidak hanya rel yang meluncur dari tempat tinggi ke rendah untuk memacu adrenalin, kepala mereka juga dibuat pusing dengan rel yang melengkung membentuk lingkaran. Ada dua titik rel lingkaran. Titik pertama telah mereka lalui. Selanjutnya di titik kedua, roller coaster itu berhenti mendadak tepat ketika para penumpangnya dalam posisi kepala di bawah.

“Kenapa ini?” Eva mengernyit. “Mesinnya rusak?”

Beberapa dari mereka mulai panik dengan berteriak. Dengan posisi mereka seperti itu, mustahil untuk menyelamatkan diri. Mereka berada cukup jauh di atas tanah. Mungkin tidak masalah kalau mereka langsung mengevakuasi penumpang lain dengan kekuatan yang mereka punya, hanya saja orang-orang itu akan langsung “melihat”. Andai saja Mr. Elios ada di sana, tentu mereka tidak akan khawatir karena bidadari pria itu akan dengan sigap menghapus ingatan yang tidak seharusnya ada.

Sembari Zein dan yang lain mencoba mencari solusi, tubuh Lana kaku. Matanya mengerjap-ngerjap berulang kali. Dia mulai sulit bernapas. Sekujur badannya seolah membatu. Syaraf-syaraf Lana seolah mati. Selain kelopak mata, dia tidak bisa menggerakkan anggota tubuh yang lain.

Seseorang… tolong…

Lana ingin sekali mengucapkan kata itu, namun mulutnya tidak berfungsi.

Samar-samar, gadis itu menyadari sesuatu bergerak-gerak dekat seat belt-nya. Dari suaranya seolah-olah.. seseorang atau sesuatu sedang mencoba membuatnya jatuh dari ketinggian saat ini.

“Teknisnya tahu tidak ya?” gumam Audin mengundang pandangan yang lain supaya tertuju padanya. Eero, Eva, dan Zein menoleh ke belakang sehingga mereka tidak melihatnya.

Baik Audin dan Laz membelalak ngeri saat tubuh Lana yang bagaikan mayat terjatuh ke bawah tanpa gadis itu berusaha terbang seperti yang biasa dirinya lakukan.

“LANAA!!!”

***
Ekspresi Snare mendadak berubah ketika dia dan Agatha tengah menaiki salah satu tempat dalam kincir raksasa.  Vampir itu punya insting dan pendengaran yang tajam. Kepalanya langsung menoleh ke arah sumber suara yang membuatnya punya firasat aneh.

“Ada apa?” tanya Agatha tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel.

“Jeritan tadi..” Snare mengernyit. “Dari Audin dan Laz?”

Agatha menatapnya.

“Mereka kan sedang naik roller coaster. Wajar kan kalau mereka menjerit?”

“Bukan jeritan seperti itu,” kata Snare. Laki-laki itu balas menatap Agatha. Perlahan, matanya berubah merah sehingga Agatha tertegun. “Aku juga mencium bau darah segar..”

***
Badan Lana tertelungkup di atas tanah yang penuh rumput gajah mini. Pandangannya buram dan irama napasnya pendek-pendek. Padahal hanya beberapa saat lalu, sekujur tubuhnya mati rasa. Sekarang setelah terjun bebas dan menghantam bumi, indera perasanya kembali berfungsi. Rasa sakitnya timbul perlahan, namun amat menyiksanya.

Sekalipun tidak pernah Lana membayangkan pengendali udara sepertinya akan terjatuh seperti tadi.

Samar-samar telinganya menangkap teriakan teman-temannya yang lain. Lana tidak sanggup membalasnya. Ketika kegelapan mulai menguasai benak gadis itu, sang Makhluk kecil menghampirinya. Sayapnya bahkan membentang lebar untuk membantu Lana terlelap.

Sebelum kesadarannya berangsur menghilang, Lana mengenali sosok itu. Makhluk kecil yang menurutnya manis dan sepatutnya disayangi.

“Pril…,” bisik Lana pelan. Detik selanjutnya, kelopak mata gadis itu menutup setelah darah segar membasahi bagian pelipis.