Tampilkan postingan dengan label Five Twins. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Five Twins. Tampilkan semua postingan

You and The Twin: Meet Them

Sabtu, 17 Juni 2017

Kau memberengut sepanjang hari setelah kena omel bos. Menurutmu bukan apa-apa menumpahkan sisa air yang sedikit di perkakas makan setelah dicuci, di lantai dapur. Toh nanti juga akan kering sendiri kan? Kau juga tidak terima dimarahi gara-gara membawa gelas dengan memeganginya seperti meraup bibir gelas tersebut. Itu cara termudah dan hemat waktu!

Akhirnya karena kesal, kau membangkang pada bosmu. Jika bukan karena berhutang pada Sam setelah tidak sengaja merubuhkan motor gadis itu, kau tidak akan pernah bekerja--sebulan penuh--di sana. Kau hanya tidak punya ongkos perbaikan yang diminta Sam, maka dari itu dia menyuruhmu bekerja di tempat om-om kenalannya.

Belum seminggu, tapi kau sudah memecahkan tiga gelas, dua piring, dan dua alas cangkir. Belum lagi ada satu pelanggan yang terpeleset karena kau tidak memeras pel sebelum mengusapkannya ke lantai.

Sam pun tergelak mendengar bosmu memberi julukan "musibah" padamu.

"Sebenarnya aku tak peduli kau membuat bulldog-ku lecet," kata Sam sambil menopang dagu dan menyunggingkan cengiran menjengkelkan khas dirinya. Dia menamakan motor tuanya bulldog karena suara raungannya.  "Galliano memang membutuhkan pegawai tambahan, makanya aku merekomendasikanmu. Tapi kau mengacau." Gadis itu lagi-lagi terbahak.

Kau makin membenamkan kepala ke meja, tidak peduli lap kotor mengenai pipimu. Kau memang bukan tipe anak manja yang berbuat seenaknya, tapi menjadi waiter di Gritti yang hampir selalu ramai? It too much...

Belum lagi tugas kuliahmu yang mengantri untuk diselesaikan. Kau merasa lebih baik menjadi samsak bagi Sam seharian lalu sebagai gantinya, dia menganggap hutangmu lunas. Sudah lama kau tertular virus berandal macam Sam, tapi untungnya kau tidak kehilangan harga dirimu dengan kabur seperti pengecut.

Sekitar seminggu yang lalu kau bergabung bersama gerombolan komplotan geng Sam. Kalian bermain skateboard. Dan sialnya papan luncurmu menghantam motor Sam sampai-sampai jatuh terguling ke area proyek yang penuh reruntuhan.

Bunuh saja aku, batinmu saat itu melihat Sam menyeringai. Well, dia memang tidak sembarangan menghajar orang, tapi apa yang dia lakukan kemudian akan sukar ditebak. Kau pernah mendengar rumor kalau terakhir kali Sam pernah meminta kroninya menggantung bocah laki-laki secara terbalik lalu membenamkan kepalanya ke air.

"Ada hal lain yang bisa kau lakukan selain jadi pegawai Galliano. Aku baru memikirkannya kemarin," ujar Sam. Senyumnya aneh. Bulu kudukmu berdiri mendapati aura ganjil di sana.

Tapi pada akhirnya kau memilih opsi kedua yang diajukan gadis itu--hanya karena untuk melakukannya, kau cuma butuh waktu seminggu saja.

***
Sam memberimu alamat yang dikirimkannya melalui line. Motormu pada akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Gerbang itu langsung mengingatkanmu pada Mordor--dan sang Mata yang menunggumu di baliknya.

Menelan ludah, kau lantas memencet bel. Seorang pria langsung membuka lubang seukuran wajah pada salah satu persegi bagian gerbang tersebut.

"Cari siapa?" tanyanya.

"Ah ya, anu..." Ucapanmu tergagap. "Saya teman Samsin. Diminta ke sini buat... Ah, anu.. Ketemu..." Tunggu sebentar. Siapa nama orang yang disebut Sam tadi? "Vino? Viyo?"

Pria itu mengernyit sambil memperhatikan wajahmu seksama. Dia tampak menimbang sebentar sebelum akhirnya mempersilakanmu masuk. Tak lupa dia juga memintamu memasukkan motormu ke pekarangan.

Beberapa saat berjalan mengitari taman yang penuh bunga, seorang wanita paruh baya menyambutmu ramah. Setelah berbasa-basi menanyakan minuman apa yang kau mau di siang hari bolong begini, dia pun meninggalkanmu sendirian di ruang tamu.

Sembari menunggu, kau dijalari bayangan-bayangan aneh. Sejauh kau bisa ingat, teman-teman Sam tidak ada yang normal--minimal seperti dirimu. Kebanyakan dari mereka preman, gotik, terobsesi pada hal-hal yang tidak wajar. Misal kemarin saat kau mengira gadis di sebelahmu sedang mengeratkan syal di leher, tapi ternyata benda itu bukan syal, melainkan ular. Detik itu juga kau menjerit sejadi-jadinya.

Untungnya kau tidak menunggu lama. Seorang gadis berlari masuk. Pakaian yang melekat di tubuhnya berlumur tanah basah. Dia hanya mengenakan kaus oblong dan celana safari yang bisa melorot kapan pun. Melihat ada orang asing di sana, dia menatapmu lama.

"Hai!" sapanya. Tapi saat kau akan membalas, dia sudah telanjur pergi.

Apa dia Vio? Kau bertanya-tanya menebak sosok berambut cepak barusan. Mungkin dia buru-buru mandi setelah melihatmu.

Tidak lama berselang, kau mendengar suara dua orang yang ribut. Seseorang berambut legam panjang keluar sambil menalikan pita kuning di ujung kerah.

"Berhenti di situ!!" Kau juga mendengar gadis selainnya berseru nyaring. Mendadak saja dia melompat ke arah gadis tadi dan menjambak rambutnya. Kontan dia menjerit.

"Lepas! Lepas sekarang!!"

"Sebentar saja! Pulihkan blogku! Aku menghabiskan waktu semalaman merancangnya! Gladys akan mengamuk kalau lihat kantung hitam ini," kata si Gadis berambut cokelat ikal menunjuk matanya.

"That is your problem!" balas satunya juga dengan berteriak. Dia hendak kabur tapi kakinya langsung direngkuh erat.

Kau mulai meragukan kemampuan matamu menyadari wajah keduanya mirip. Oh bukan. Wajah ketiganya mirip. Mengingat temponya, kau tidak yakin kalau salah satu dari sepasang gadis itu dan anak yang datang berlumur lumpur adalah orang yang sama.

"Hei, Chrysantee, semurmu sudah mendidih! Apa kau mau meledakkan dapur?!" Satu orang lagi datang dengan berkacak pinggang. Dia lalu menoleh pada si Rambut hitam yang mengumpat tanpa suara. "Tendang saja kepalanya."

Gadis yang dipanggil Chrysantee itupun berdecap dan langsung lari ke dalam. Reaksinya terlalu drama untuk kembali pada semur.

Kau makin tercengang meralat perhitunganmu barusan. Mereka bukan hanya bertiga tapi berempat. Apa manusia kloningan sedang tren saat ini?

"Jangan lupa mampir ke artisan dan ambil biolaku," pesan gadis yang terakhir muncul pada gadis di depannya.

Si Rambut hitam sungguh tidak ramah. Pandangannya mendelik sebelum akhirnya pergi. Kau melihatnya berusaha merapikan rambutnya yang seperti habis diterpa badai.

"Wah, ada tamu," kata gadis yang tersisa bersamamu. Dia lalu melangkah mendatangimu. "Nama?"

Kau menyebut namamu, tidak lupa menyebut nama Sam.

"Apa kau psikopat?"

Kau lantas kebingungan, namun gadis itu tertawa.

"Tidak ada orang yang mau rumahnya dimasuki psikopat kan?" Dia berujar mengusap dagu. Tetap menatapmu, gadis itu menggigit bibir bersama pancaran mata yang agak... bergairah? "Di mana Sam?"

"Aku nggak tahu," jawabmu ditambah gelengan. "Sebelumnya maaf, kamu..."

"Aku," potong gadis itu sembari memilin rambut. "Vio."

Kau mengangguk-angguk, agak lega karena akhirnya bertemu orang yang Sam maksud. Tapi kelegaanmu tidak berlangsung lama saat Chrysantee kembali dan memasang wajah memberengut.

"Semurnya. Asin," gerutu gadis itu. Dengan wajah yang sama, tatapannya berganti padamu. "Siapa?"

Senyum Vio merekah lagi. Sekujur tubuhmu meremang karena dia meneliti seluruh tampilanmu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Makin tidak beres ketika dia berucap sesuatu yang tidak bisa kau pahami.

"Наша новая игрушка*."

*Our new toy

Lesson (3): Games Before Lunch

Jumat, 17 Februari 2017

Jejak telapak kaki mereka membekas di permukaan pasir putih. Ada yang melesat bagai orang kesetanan namun meraih posisi pertama, ada yang berlari dengan muka membiru tetapi masuk ke posisi kedua, sepasang yang menyingkir beberapa saat karena salah satunya muntah lalu yang lain menemani, juga satu lagi yang berlari santai karena sejak awal tidak peduli. Gargaric Len menyeringai saat melihat kelimanya melalui teropong di menara mercusuar.

Tiara dan Melisma menyelesaikan tahap awal. Viola, Amarta dan Ratimeria gagal. Alasannya karena Violalah yang muntah, Amarta menemaninya, sedangkan Ratimeria sama sekali tidak punya niat berlomba. Mereka berlima kemudian terduduk lemas di teras rumah kayu—kelelahan. Viola bahkan seperti tubuh kehilangan rohnya, sementara Amarta dengan sabar mengipasi.

“Lama tidak bertemu dan dia tambah kejam..,” gerutu Melisma sebelum menandaskan sebotol air. “Apa dia sedang bosan? Apa karena itu dia sengaja membuat repot?”

“Aku lapar,” kata Tiara polos. “Kita makan apa nanti? Amarta mau masak?”

Amarta menggeleng.

“Kata kakek, akan ada yang membawakan makan,” balasnya memberitahu.

Bunyi singkat berasal dari sesuatu yang dilempar hingga melesat membuat salah satu dari mereka menoleh. Saking singkatnya, empat yang lain tidak menyadarinya. Ratimeria beranjak berdiri lalu melangkah sedikit memutari rumah kayu. Tepatnya di dinding samping, gadis itu menemukan sebatang panah dengan secarik kertas yang terlipat dan diikat di sana.

Aku menunggu kalian di tengah pulau. GL

Dasar orang tua, batin Ratimeria dalam hati. Dia lalu kembali ke tempat semula dan melemparkan begitu saja secarik kertas kusut itu ke tengah-tengah yang lain. Sementara mereka mengernyit mengartikan maksud gadis itu, Ratimeria beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa. Tiaralah yang lebih dulu mengambil kertas itu dan membaca tulisan di sana.

Shit,” umpat Tiara yang langsung berlari menyusul Ratimeria.

“Apa itu?” tanya Amarta saat ganti Melisma yang membaca.

This games isn’t finished yet for today,” gumam si Pualam.

***
Persis di tengah-tengah pulau yang dimaksud kakek mereka, terdapat sebuah lapangan persegi panjang yang pada pinggiran bergaris putih sementara bagian rumpang lapangan itu bercat hijau. Sampai di sana, aroma minyak cat masih tercium. Melisma berjongkok sebentar demi menyentuh lapangan yang mereka pijak. Bekas cat itu masih sangat bersih.

Viola memandang sekitar—terutama dinding kawat yang menutup area lapangan. Tangannya juga memeriksa kawat yang digunakan. Informasi yang dia peroleh kurang lebih sama dengan yang didapatkan Melisma: semua hal di arena tennis pulau itu, semuanya baru saja dibangun.

“Kenapa tidak ada orang di sini?” gumam Amarta mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Hanya beberapa saat kemudian, datang tiga orang laki-laki berwajah asing masuk ke arena. Kaus yang mereka kenakan seragam: berwarna hitam dengan dua garis merah di dada. Dua di antaranya berkulit putih memerah setelah sempat terpapar sinar matahari. Iris mata mereka berwarna abu-abu terang. Satu berambut pirang, sedangkan yang lain berwarna cokelat gelap mengilap. Sementara satu orang lain lagi berkulit hitam, dengan rambut yang hitam keriting.

“Hari cerah sekali di sini!” Speaker yang dipasang di salah satu tiang mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Mereka semuapun refleks menutup telinga. Membenarkan volume speaker tadi, Gargaric tertawa saat meminta maaf. “Bukankah sangat menyenangkan terbebas sementara dari hari-hari jenuh yang biasa kalian jalani?” kata pria tua itu lagi.

Rahang Melisma menekan kuat, berkata dalam hati pada dirinya sendiri kalau tidak ada gunanya mengumpat pada speaker. Ekspresi kesal yang dia tampakkan juga tidak jauh berbeda dari Viola dan Tiara.

“Perkenalkan tiga tamu kalian untuk hari ini: Mawa, Lotad, dan Hebron,” kata Gargaric memperkenalkan. Mawa merupakan laki-laki yang berkulit putih dengan rambut pirang, Lotad yang berambut cokelat gelap, sedangkan Hebron yang berkulit hitam. “Masih ada sekitar satu jam sebelum makan siang, jadi kita akan bermain sebentar.”

Bermain? Tiara menyeringai menahan gemas. Mengingat kakek mereka yang dulu seorang olahragawan, mustahil tiga orang itu hanya pemain biasa. Dan kenapa juga mereka harus laki-laki? Apa kepala si Kakek sempat terbentur baru-baru ini hingga lupa semua cucunya berjenis kelamin perempuan?

Jangan salah sangka, batin Melisma yang rupanya punya pikiran sama dengan Tiara. Mereka berdua merasa tidak masalah bermain dengan siapa pun selama masih dalam kondisi prima. Hanya saja…

Melisma menoleh ke belakang, memandang satu per satu kembarannya yang lain. Viola masih lesu, Amarta balas menatap polos ke arahnya, sedangkan Ratimeria diam seperti patung.

Mereka sama sekali tidak bisa diharapkan..

Apalagi jika mereka sampai kalah, Gargaric mungkin akan menambah jumlah hari mereka terkurung di pulau tidak berpenghuni itu.

“Nah, anak-anak manis, silakan gambreng. Dua pemenang yang akan bermain lebih dulu melawan Mawa dan Hebron,” instruksi Gargaric. “Oh ya, dan.. kalian akan terima akibatnya kalau berlaku curang.”

Tiara lagi-lagi menyeringai. Amarta berseru dengan semangat menarik semuanya untuk mulai gambreng. Pertama, Viola langsung keluar dan gadis itu menghela napas lega. Ratimeria keluar kedua. Saat yang masih gambreng tersisa tiga orang, baik Tiara dan Melisma saling menatap tegang. Bisa gawat kalau Amarta sampai maju.

Dalam tenis, pemainnya akan sangat membutuhkan kemampuan refleks dan lari yang cepat. Amarta tidak akan bisa memenuhi keduanya. Gadis itu buruk sekali dalam kegiatan yang melibatkan gerak fisik.

Mereka kompak bersamaan mengangkat tangan kanan ke udara lalu menghempaskannya berbarengan ke bawah.

“Gambreng!!”

Tiara dan Melisma seketika membeku.

***
Mawa adalah satu dari sebelas pemain didikan Gargaric. Mereka belum mencapai tahapan pemain pro. Mungkin sekitar seperempat dari keselurahan kriteria yang harus dipenuhi sebelum bermain di laga. Meski begitu, Mawa yakin kemampuan dirinya, dan sepuluh orang yang lain juga tidak bisa dianggap remeh. Gargaric sendiri adalah pelatih yang punya kompetensi penuh—meski Mawa dan yang lain sepakat menyebutnya iblis. Tapi berkat itulah, mereka jauh berkembang hanya dalam jangka waktu setahun ini.

Sebelum datang ke pulau itu, Gargaric mengundang mereka secara pribadi dengan alasan liburan karena merasa latihan yang mereka lakukan cukup menguras tenaga. Hebron bahkan muntah terkadang akibat latihan mereka yang sesekali terlampau berat. Saat hampir sampai di lapangan tenis, Mawa mengira ajakan untuk berlibur hanya akal-akalan Gargaric. Lotad juga mengira mereka akan latih tanding dengan pemain pro.

Ketiganya sama-sama terkejut melihat lima orang gadis yang ada di sana. Ditambah lagi, wajah mereka sama persis—hanya saja dengan tipe rambut yang berbeda.

Gargaric memerintahkan mereka untuk gambreng demi memutuskan siapa di antara mereka yang akan bermain duluan. Beberapa saat kemudian, dua gadis pun tersisa. Satu gadis berambut pendek yang tersenyum lebar antusias, sedangkan satu lagi gadis berambut hitam legam—mengikatnya di belakang kepala yang sejenak berwajah keruh. Sepertinya dia tidak terima dengan hasil gambreng tadi.

Untuk lawan mereka, Mawa memutuskan berpasangan dengan Hebron.

Siapa mereka? Dan kenapa Gargaric meminta Mawa dan yang lain untuk melawan mereka? Sepertinya kelima gadis itu masih remaja.

Mereka akan menemukan jawabannya nanti. Pokoknya, tidak peduli siapa pun mereka, baik Mawa dan Hebron tidak akan mengalah. Mereka bertiga akan bermain dengan segenap kemampuan yang mereka punya.

***
Seumur hidupnya hingga saat ini, Melisma tidak pernah membayangkan kalau dia akan menjadi partner tenis si Bungsu. Bisa jadi kali ini adalah arena permainan yang paling menyebalkan yang pernah Melisma lakukan.

Tiara mengambil dua raket yang telah disiapkan tidak jauh dari sana lalu melemparkannya masing-masing satu pada Melisma dan Amarta.

Seakan tidak peduli dengan apa yang Melisma pikirkan—atau mungkin sungguh-sungguh tidak tahu, senyum Amarta tidak sekalipun pudar. Dia pun mengangguk menurut perintah si Pualam yang menyuruhnya berdiri di sisi depan, sementara Melisma sendiri berniat akan meng-cover wilayah belakang.

Melisma bahkan tidak yakin Amarta akan sanggup melakukan serve ringan.

Melisma memulai pertandingan dengan melambungkan bola tinggi-tinggi ke udara. Bola itu langsung melesat di wilayah Mawa dan Hebron. Hebron berlari menyongsong bola, lalu mengembalikannya dengan pukulan forehand. Pukulan yang cepat, kuat dan tegas. Melisma langsung berlari mengembalikannya.

Dan tiba ketika bola itu dipukul ke empat kalinya, Melisma melompat tinggi—seketika melakukan smash. Bola seketika menghantam rumpang di wilayah Mawa dan Hebron—tanpa keduanya bisa mengejar, menimbulkan bunyi yang membuat Lotad bersiul terkesima.

One-zero!” seru Tiara yang duduk di kursi wasit lantas membuat Hebron berdecap.

“Apa dia pro?” tanya Hebron pelan pada Mawa.

Melisma mengernyit. Aksen Inggris-Amerika, pikirnya mengenali bahasa yang dua laki-laki itu ucapkan.

We’ll know,” balas Mawa pendek.

Namun tetap saja, sehebat apa pun pualam, jika pasangan bermainnya tidak bisa mengimbangi. Hanya kekalahan yang menunggu di depan mata.

That Time They were Learning (Coda)

Sabtu, 18 Juli 2015





“Aku paham makna kata-kata itu. Tapi.. meskipun tidak bisa jadi sahabat mereka.. kami masih bisa menjadi teman,” kata Amarta. “Kau dulu pernah bilang kalau kita harus selalu menjaga hubungan baik kita dengan orang lain. Aku juga akan melakukan hal yang sama.”

“Itu sebabnya kau mencampur sup Isabel dengan kepiting tanpa memberitahunya meski tahu dia alergi?”

Amarta meremas kedua tangannya—merasa sangat bersalah.

“Perbuatanku tidak bisa dibenarkan,” nyatanya tegas. “Membiarkannya melakukan apa yang mereka mau.. juga karena tidak mengadukannya pada orang lain, bukankah.. orang lain akan menganggap kalau aku sudah membayarnya?”

Ratimeria menutup mata sejenak sebelum merespon kalimat itu dengan senyuman samar. Amarta pun menangkap senyuman itu sebagai tanda pembenaran. Walaupun gadis itu sempat kabur karena tidak tahan, setidaknya dia telah berbesar hati dan berani menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Mudah mengatakan pada diri sendiri untuk minta maaf, namun diamnya gadis itu telah menunjukkan segalanya.

“Aku punya permintaan…,” kata Amarta kemudian.

“Katakan.”

“Biarkan aku mengadakan pesta kecil besok.. di sini.”

“Terserah saja.” Ratimeria memiringkan kepala. “Rumah ini bukan atas namaku, jadi lakukan apa yang kalian mau.”

спасибо. (terimakasih)” Amarta tersenyum lalu segera beranjak dengan berlari-lari kecil keluar ruangan.

***

Mansion itu punya gedung olahraga yang jarang sekali dipakai. Tapi mumpung semua kembar ada dalam lokasi yang sama, tempat itu kemudian ramai dengan suara-suara tawa dan bunyi bola hijau yang berulang kali memantul berganti arah. Di masing-masing kubu di lapangan, berdiri Melisma dan Tiara yang menguncir rambut mereka tinggi ke belakang. Keduanya mengenakan shirt polos berkerah khusus olahraga dan rok pendek di atas lutut. Tempat sepi itu pun berubah menjadi arena bermain tenis.

Dalam satu giliran tiba-tiba Tiara melakukan smash kilat hingga Melisma refleks berlari lebih cepat menyongsong bola, tapi yang ada gadis itu terjatuh keras.

Beberapa pelayan rumah yang menyaksikan langsung heboh dan bertepuk tangan karena menurut mereka pertandingan kali itu seru, tidak berbeda jauh dengan yang mereka lihat di televisi.

Melisma segera bangkit berdiri lalu membenarkan posisi wristband kuningnya yang berwarna sama juga dengan pita di rambut. Seorang pelayan pria yang kali itu jadi petugas lapangan dadakan kemudian melemparkan bola hijau padanya. Melisma tidak menunda sedikitpun untuk menghantamkan bola itu pada Tiara. Mereka pun kembali asyik dengan pertandingan kali ini.

Amarta datang tidak lama kemudian diikuti pelayan-pelayan mereka yang mendorong troli makanan yang telah gadis itu selesai buat. Dia mengarahkan mereka ke meja besar di samping Ratimeria yang tengah duduk menonton. Cangkir teh Dimbula yang ada di dekatnya telah kosong dan dingin. Amarta lalu menukarnya dengan cangkir baru yang telah dihangatkan lebih dulu lalu menuangkan Green Pekoe dari teko merah muda yang cantik. Tidak lupa juga bungsu itu menyiapkan kesukaan kembar yang lain: segelas besar susu tawar hangat untuk Melisma, semangkuk besar marshmallow warna-warni untuk Tiara, dan jus stroberi untuk Viola yang suka semua jenis buah.

Karena hari telah menjelang sore dan mereka semua setuju untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, Amarta membuat berbagai macam snack sore yang hampir seluruhnya manis. Red velvet cake dan cheesecake yang sudah dipotong-potong, sekotak penuh macarons, dan tujuh gelas sherry trifle. Tidak lupa dia juga menyiapkan bunga segar dalam vas dan sekeranjang salad buah.

Seorang pelayan datang kemudian membisikkan sesuatu pada Amarta dari jarak yang tidak begitu dekat. Senyum gadis itu lalu mengembang dan dia pun berlari pergi.

“Mereka sudah datang,” ujar Viola mendekat pada Ratimeria—dia juga membawa raket dan mengenakan baju olahraga yang santai.

Tiba-tiba terdengar bunyi bedebum keras disambut suara heboh lagi para pelayan yang menonton. Kali ini Tiara yang terjungkal. Bukannya menekan bibir sebal seperti Melisma tadi, dia justru tertawa terbahak-bahak sembari menyeka keringat di dahinya. Melisma sendiri menggeleng-geleng dan berkacak pinggang. Gadis itu lalu menoleh ke arah Viola dan Ratimeria.

“Giliran siapa?” tanya si Gadis pualam yang sekarang memegangi kedua lututnya.

Viola menoleh pada Ratimeria. “Kau mau main?”

Ratimeria balas memandangnya. “Kau menantangku?”

“Hei, ini cuma tenis. Kenapa bahasamu seperti itu?”

“Tidak ada yang salah dengan bahasaku. Tanggapanmu yang salah.”

Viola memutar bola mata lalu pandangannya beralih lagi ke lapangan. Melisma dan Tiara sepertinya tidak lagi berminat untuk meneruskan pertandingan “santai” mereka.

“Siapa yang menang tadi?” tanya Viola keras.

“SERI!!” Melisma dan Tiara menjawab tidak kalah kerasnya.

“Oke, enyah dari lapangan. Sekarang giliranku dan Meri.”

Meskipun dari jauh, Melisma dan Tiara sempat berpandangan sekilas sebelum keluar garis lapangan. Tadinya mereka sama-sama berpikir Viola akan bermain dengan Amarta. Ratimeria biasanya hanya jadi penonton dan diam di satu sisi sementara pemain lainnya sibuk berakting. Sebutan manekin sesungguhnya benar adanya karena gadis itu jarang sekali menggerakkan seluruh tubuh dalam satu waktu—setidaknya itu yang selama ini mereka lihat. Mendengar kalau dia setuju bermain tenis walau hanya saat santai saja membuat atmosfer di sekeliling mereka mendadak terasa aneh.

Viola kemudian menempati bagian lapangan yang berjarak lebih jauh. Ratimeria melepaskan cape-nya yang tipis lalu melangkah masuk dalam arena setelah salah satu pelayan memberinya raket. Melisma dan Tiara menonton mereka kaku saat menyadari Ratimeria membawa raket seperti memegang pedang samurai.

Servis pertama dilakukan oleh Ratimeria. Viola pun bersiap dengan kuda-kudanya. Bola itu dipukul, memantul sekali kemudian dikembalikan ke arah sebaliknya. Saat itulah, bola dipukul keras dan tajam ke sisi terjauh dari jangkauan Viola menggunakan pukulan backhand yang tegas dan kuat. Terkesiap, Viola berlari namun akibatnya bagian bawah sepatu yang dia kenakan mendadak terasa sangat licin, membuat gadis itu terjatuh keras.

Melisma bersiul, berujar pada Tiara, “Itu hasrat pro. Menjengkelkan menyadarinya tidak pernah lunak pada siapa pun—meski di permainan santai seperti ini.”

Ratimeria menempelkan kepala raket di belakang lehernya—seperti mengejek walau wajahnya datar seperti biasa. Viola lalu bangkit berdiri. Padahal baru ronde pertama, namun napasnya langsung berubah labil. Permainan itu pun diteruskan meski tidak imbang.

Tidak lama kemudian datang Amarta yang ceria bersama dengan Haven dan Isabel yang memenuhi undangan untuk ikut hadir dalam pesta. Mereka sama-sama mengerjap melihat Viola dan Ratimeria yang sedang beradu di lapangan.

“Kami sudah lama tidak main tenis. Ini cuma tenis santai saja kok. Kalian boleh main kalau kalian mau,” kata Amarta. Namun bagi Haven dan Isabel, yang mereka lihat justru sebaliknya. “Duduk dulu,” katanya lagi lalu memberikan pada mereka masing-masing segelas sherry trifle.

Bunyi seseorang jatuh lagi—tentu saja Viola, dan ini sudah yang ketiga kalinya.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Viola sambil menyeka peluh di leher samping.

“Apa?”

“Kapan tepatnya kau belajar tenis?”

“Aku mempelajari apa pun yang kulihat.” Ratimeria menjawab sambil mengayun-ayunkan raket. “Semuanya aku latih waktu malam sebelum tidur.”

Viola melirik Melisma dan Tiara disambut kedikan bahu.

“Termasuk karate?” Viola bertanya lagi. Dia pernah mendengar dari salah satu laki-laki yang pernah mengekor Ratimeria ke mana-mana kalau gadis itu telah mengenakan sabuk hitam di dogi-nya. Viola tidak pernah memercayai ucapan itu sampai sesaat lalu sebelum si Manekin memberitahunya dengan mulutnya sendiri.

Padahal hampir setiap hari yang Viola lihat, dia selalu bertingkah seperti kucing malas!

Ratimeria menjawab pertanyaan tadi dengan anggukan. Viola mendengus kemudian bersiap.

“Ayo mulai lagi,” katanya.

“Tidak mau.”

What?!”

“Aku tidak mau berkeringat lebih banyak. Tadi aku sudah mandi,” jawab Ratimeria bernada bosan. Dagunya menunjuk ke arah Haven dan Isabel yang sedang mengobrol dengan Amarta. “Tamunya sudah datang.”

Amarta memberikan sepiring kecil red velvet cake pada Isabel sementara Haven telah menelan segigit macaron ke mulutnya. 

“Kamu nggak bilang kalau punya lebih dari satu kembaran,” kata Isabel memperhatikan empat kembar yang saling bicara di tepi lapangan.

Amarta mengerjap. “Aku sudah pernah bilang kalau di keluargaku, kami lima bersaudara.”

“Ya, tapi kami nggak tahu kalau kalian semua kembar,” respon Haven. “Apalagi kemarin-kemarin, di antara mereka ada yang menyamar jadi kamu kan?”

Amarta meringis sembari menyuapkan sesendok sherry trifle ke mulut.

“Jadi siapa yang menyamar jadi kamu kemarin-kemarin?” Haven kembali menginterogasi. “Aku dengar dari Dania, waktu dia melemparmu.. maksudku, kembaranmu dengan telur, dia langsung dijambak. Juga Kevin dan Willy, tahu kan? Kembaranmu itu juga melempar mereka sampai terpental ke tembok.”

Mata Isabel melebar sedangkan Amarta tertegun gugup.

“Oh dan juga… Daren sepertinya suka padamu,” tambah Haven hingga Amarta tersedak. “Aku nggak tahu kenapa mukanya babak belur baru-baru ini. Dia seperti baru saja terjebak tawuran. Anehnya dia cengar-cengir persis idiot. Ah, satu lagi.. waktu dia menyanyi di pensi kemarin, jelas-jelas kembaranmu tahu kalau aku yang bikin kamu di-bully.”

“Suaranya bagus sekali, juga cantik seperti artis.” Isabel mengomentari.

Amarta bingung memutuskan apakah dia harus memberitahu mereka atau tidak mengenai Tiara dan Melisma yang bergantian menyamar menjadi dirinya. Namun sebelum dia selesai mendebat dalam hati, keempat kembarannya telah lebih dulu menghampiri mereka.

“Hai, Haven. Hai, Isabel,” sapa Viola dibalas ucapan yang sama. Gadis itu lalu menggantikan Amarta memperkenalkan kembaran mereka yang lain. Pertama-tama dia menunjuk gadis berambut ikal cokelat terang yang panjang di sebelahnya. “Kenalkan, ini Tiara. Dia model, penyanyi, dan aktris, tapi di Singapura. Dia anak yang lahir keempat.”

“Hai!” Tiara melambaikan tangan rendah.

“Meskipun tidak terlalu terkenal,” gumam Melisma pelan yang langsung merusak suasana. Balasannya, Tiara langsung mendelik tajam ke arah gadis itu.

“Oh jadi yang…”

“Ya, dia yang menyanyi waktu di pensi kemarin.” Amarta memotong membenarkan tebakan Isabel.

“Omong-omong apa kabarnya Daren?” tanya Tiara. “Aku sempat menghajarnya karena telah menaburi sup makan siangku dengan semut.”

Haven, Isabel, dan Amarta langsung saling pandang bergantian. Pernyataan itu sekaligus menjawab penasaran Haven tadi.

“Kamu hajar dia?” ulang Haven tidak percaya.

“Tiara sempat belajar tinju,” kata Amarta memberitahu.

“Ini Melisma.” Viola buru-buru mengalihkan topik dengan memperkenalkan gadis pualam di sebelahnya.

Isabel dan Haven menoleh pada Melisma tapi mereka tidak mendapat ekspresi yang ramah. Gadis itu tampak enggan dan berulang kali berdehem—entah karena gugup atau justru kurang suka dengan suasananya.

“Dia kembar ketiga,” kata Viola kemudian memelankan suaranya saat memberitahu Haven dan Isabel, “Dania sempat melemparnya dengan telur, lalu… kalian tahu sendiri.” Gadis itu lalu tertawa hambar diikuti Haven yang perlahan merinding.

Amarta pun berbisik pada Haven, “Dia jago judo..”

“Dan yang ini Meri.” Kali ini Viola menyebutkan nama gadis bermata sendu yang duduk agak jauh.

Mata kiri Ratimeria masih dibalut kain. Isabel dan Haven memandangnya namun gadis itu tidak menoleh melainkan dengan tenang menyesap tehnya.

“Dia kembar kedua,” terang Viola—hanya sebatas itu mendeskripsikan Ratimeria. “Aku kembar pertama, sedangkan Amarta yang kelima.” Sikap dewasa Viola kemudian nampak dari caranya bicara. Tidak mengherankan perannya di antara kembar yang lain adalah si Penyelesai masalah. “Kalian tahu sejak tahu kalau Marta di-bully kemarin-kemarin.. aku yang khawatir lalu menghubungi yang lain. Aku merasa tidak enak hati secara tidak langsung meminta saudara-saudara kami yang sibuk ini kembali ke rumah. Dan seperti yang kalian tahu, ada yang ngotot sampai menyamar jadi Amarta.”

“Maaf,” ucap Haven dan Isabel bersamaan.

Viola menggeleng. “Marta juga salah,” balasnya bijak. “Syukurlah kalian sudah baikan.”

Suasana hening sesaat. Amarta lalu menghidupkannya kembali dengan menaruh piring-piring kecil red velvet cake atau cheesecake dan segelas sherry trifle di depan masing-masing mereka. Beberapa tertawa melontarkan gurauan, atau ada juga yang berdecap kesal karena terus disindir.

Ratimeria memperhatikan dalam diam kemudian tersenyum samar. Setidaknya mereka tidak tanya lagi perihal balutan di mata kirinya, meski benar terluka, namun dengan alasan yang jauh berbeda dengan yang dia sebut dulu. Di depannya contoh perihal memaafkan telah jelas dibentangkan. Namun dia sendiri tidak yakin suasana seperti itu juga berlaku untuknya.

Sederhana sekaligus rumit. Itu saja.


“Forgiveness is a gift you give yourself.” -Tony Robbins-

That Time They were Learning (Resolution-End)

Kamis, 16 Juli 2015






Si Gadis mata satu tidak ada di kelas. Viola meski diam dan duduk manis, matanya tidak bisa berhenti melirik pintu yang dibiarkan terbuka. Tiara sendiri telah kembali ke kelas Amarta. Hanya saja saat menoleh ke belakang sewaktu hendak masuk ke kelasnya sendiri, Ratimeria lenyap. Viola menyetujui adanya pendapat kalau kembarannya itu memiliki tubuh seperti bulu, namun tetap saja, bagaimana bisa dia tidak mendengar sama sekali langkah kaki gadis itu tatkala meninggalkannya?

Kalau dia tidak benar-benar bisa mengikuti sekolah umum, kenapa sampai repot-repot menjadi pelajar sementara di sana? Entah di mana Ratimeria sekarang, yang pasti dia pasti sengaja membolos. Tidak mengherankan selama ini sumber kegiatan belajarnya berasal dari pengajaran privat—selain guru-guru yang dipekerjakan, Viola sempat iri kalau Ratimeria kadang menerima didikan langsung dari ayah mereka. Apa yang dia pelajari telah jauh melewati batas materi sekolah formal. Mungkin otaknya mirip Melisma, hanya saja dia tidak punya ambisi untuk mengandalkan segala hal yang dia tahu. Kerjanya hanya mengurusi perusahan produsen-produsen makanan yang tersebar di mana-mana. Sayangnya Viola hanya tahu sebatas itu.

***

Sedari awal dia memang tidak berniat berdiam di dalam kelas. Ratimeria tidak suka kurungan yang berwujud nyata—kelas sekolah adalah salah satunya. Dia berada di halaman belakang sekolah yang dipenuhi tanaman juga rumput liar. Matanya terpaku pada sekuntum bunga kertas yang dihinggapi kupu-kupu merah. Tanpa berkedip dia memperhatikannya hingga akhirnya kupu-kupu tadi terbang.

Mungkinkah.., dia bertanya dalam hati. Langkah mereka mendekat ke sini terlalu berisik?

Ratimeria menoleh. Dia tidak terkejut melihat sepasang gadis berada lumayan dekat dengannya sekarang. Haven dan Isabel. Dia cukup tahu hanya dengan membaca name tag keduanya.

“Kamu siapa?” tanya Isabel. Sebab air muka yang berbeda, juga berkat balutan kain putih di mata kirinya, mereka tidak mengenali wajah Ratimeria mirip dengan Viola ataupun Amarta.

Sounds like rhetorical question to me…” Ratimeria berujar disambut dengan kerutan kening Isabel dan Haven. “Terus kenapa kalian ke sini?”

Isabel dan Haven saling berpandangan sekilas. Mereka mendengar kalau Amarta terus-terusan berbicara dengan guru yang sedang mengantar siswa baru berkeliling sekolah. Gadis itu bertingkah mencurigakan hingga keduanya tidak bisa tenang. Isabel bersikap tenang namun Haven sebaliknya. Mereka tambah cemas karena tidak berhasil menemukan Amarta di mana pun. Atau bahkan gadis cengeng itu nekat datang ke ruang guru.

Pertanyaan Isabel tadi sebatas kilasan karena mereka mendapati Ratimeria tidak mengenakan seragam identitas sekolah seperti siswa lain.

Meskipun hanya dengan mata kanan, Ratimeria menatap mereka bergantian tanpa melewatkan satu detilpun. Isabel—khususnya—merasakan hawa aneh menjalar di tubuhnya.

“Kita pergi aja,” ajak Haven menarik lengan Isabel.

Looking for someone?” Ratimeria bertanya lagi sebelum mereka berdua membalikkan badan untuk pergi.

Haven dan Isabel sama-sama menoleh.

“Kurasa aku tadi melihat seseorang masuk ke sana..,” kata Ratimeria menunjuk ke satu arah.

Mata kedua gadis tadi langsung membelalak begitu mengetahui telunjuk Ratimeria mengarah ke sebuah barak di samping laboratorium biologi. Panik, mereka langsung berlari ke sana. Haven mencoba membuka pintu namun barak itu dikunci dari dalam. Dia pun berteriak menebut nama seseorang dengan terus menggedor-gedor pintu. Isabel sendiri berulang kali menekan-nekan tombol ponselnya diiringi decapan gelisah.

Ratimeria mendekati keduanya dengan langkah tanpa suara. Barulah ketika baik Haven dan Isabel sampai pada puncak frustasi mereka, Ratimeria memberikan saran terbaiknya.

“Tunggulah waktu sekolah usai nanti..” Dia berkata berhiaskan senyuman prihatin. “Kita bisa.. dobrak pintunya sama-sama tanpa menarik perhatian.”

***

Sekelompok laki-laki masih memakai lapangan rumput di belakang gedung sekolah untuk bermain sepakbola. Mau tidak mau Haven dan Isabel harus menunggu mereka selesai—walaupun bisa jadi langit sudah menggelap ketika mereka selesai bermain. Haven sempat mengutarakan keraguannya pada Isabel kalau Amarta benar-benar mengurung diri di barak, tapi kemudian Isabel membalasnya kalau setidaknya kali ini mereka harus percaya. Sedikit sekali orang yang berbohong tetap tinggal di lokasi dia mengatakan kebohongannya.
Perhatian mereka kemudian beralih pada gadis aneh itu. Dia sedang duduk di atas kubus batu-bata dengan mulut mengulum ujung sedotan dari sebuah teh botol. Posisinya saat ini tengah membelakangi mereka.

Hawanya semakin dingin setelah sekeliling mereka mulai gelap serta muncul cahaya kecil yang berasal dari lampu-lampu rumah di atas bukit. Ratimeria tetap bergeming sedangkan Haven dan Isabel tambah gelisah. Setelah memastikan tidak ada lagi anak laki-laki anggota klub sepakbola yang tertinggal, sepasang gadis itu lalu sepakat untuk langsung mendatangi barak. Di dalam suasananya gelap karena lampu remang-remang yang ada di sana tidak dinyalakan.

“Amarta!!” Haven berteriak memanggil. “Jawab aku kalau kamu di dalam!! Mau sampai kapan kamu di dalam situ?!”

Ratimeria berdiri diam di belakang mereka dengan matanya yang tetap mengawasi seksama. Haven terlihat yang paling panik karena dia terus berseru kasar, tapi kemudian tambah menarik karena melihat baik-baik tingkah mereka berdua, Isabellah yang sebenarnya paling ketakutan.

Haven mendadak menoleh ke belakang lalu bertanya bernada melengking pada Ratimeria. “Kamu yakin ada orang di dalam sini?!”

“Kenapa tidak, kalau kalian tidak bisa membuka pintunya dari luar?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Ratimeria namun sangat jelas menjawab pertanyaan Haven.

Kuncian di pintu barak itu ada dua, yakni kunci gembok di sisi luar, serta kuncian batang besi di sisi dalam. Karena gembok yang mereka lihat tidak dalam keadaan mengunci, pintu itu tidak bisa dibuka pastilah karena seseorang mengunci dari dalam.

“Dia benar,” kata Isabel yang sekarang memucat. “Kita harus dobrak pintu ini.”

Haven lalu menggigit bibir frustasi. Dia lalu berkali-kali menendang keras pintu barak tapi sia-sia saja. Sebagai gantinya, gadis itu kembali berteriak membentak. Ratimeria memperhatikan Isabel lagi. Wajahnya makin pucat ditambah kekakuannya menggigiti ujung kuku jari-jarinya.

Tegang di sana semakin parah tatkala tiba-tiba terdengar benda tumpul berjatuhan dari dalam barak. Haven dan Isabel sama-sama membelalak. Bahkan sayup-sayup suara tangisan terdengar.

“AMARTA!!!” Haven yang tampaknya sudah berada di puncak emosinya, menyebut nama itu liar.

Allow me.”

Ketiga gadis itu termasuk Ratimeria langsung menoleh ke belakang pada sumber suara yang tenang. Seorang gadis lagi dengan rambut panjang hitam yang menutupi seluruh punggungnya. Dia merasa tidak perlu respon persetujuan untuk kemudian membuat lubang di dinding kayu barak itu menggunakan pipa besi yang panjang. Suaranya keras sekali sampai-sampai Haven dan Isabel mundur dua langkah.

Gadis misterius tadi melemparkan begitu saja pipa besinya—membuat Haven dan Isabel tersentak. Dia lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang itu lalu meraba-raba sisi dalam pintu, mencari batang besi kecil yang dalam posisi mengunci. Hanya butuh beberapa detik, pintu itupun berhasil dibuka.

Mata Ratimeria dan Melisma sempat bertemu sebelum gadis pualam itu masuk ke sana duluan diikuti Haven dan Isabel. Melisma menyalakan lampu remang-remang di sana. Kedua gadis tadi sontak terkesiap melihat wajah Amarta hampir seluruhnya basah oleh air mata dan tubuhnya diikat dengan tali.

Ratimeria sempat menghela napas kecewa melihat kesalahan kecil yang telah gadis itu lakukan. Namun untunglah saking syoknya, baik Haven dan Isabel tidak bisa mencerna pemandangan di depan mereka kini dengan baik.

Isabel langsung mendatangi Amarta sedangkan Haven terpaku di tempat.

“Kamu nggak apa-apa?” Isabel melepaskan ikatan tali di tubuh Amarta seraya menangis.

Ratimeria lalu duduk di atas meja yang usang dan berdebu. Saat itu juga masuk satu orang lagi yang mereka kenal dengan seragam yang sama dengan Amarta, Haven, dan Isabel. Viola mendesah memandang mereka bertiga penuh arti. Kelopak matanya berkedut menunjukkan keprihatinan. Setelah itu, Haven dan Isabel terdiam tegang.

“Kalian berdua..” Viola berkata pelan. “Apa yang kalian lakukan pada adikku?”

***

Pesan singkat yang diterima Haven siang tadi adalah jebakan.

Aku akan mengakhiri semuanya seperti yang kau mau. Sekali lagi maaf.

Berkat pesan itu Haven panik dan langsung memberitahukannya pada Isabel. Ada dua kemungkinan mengenai apa yang dilakukan Amarta selanjutnya: pertama, mengadukan kejadian yang dia alami pada guru, dan yang kedua menghukum dirinya sendiri. Karena mereka bersahabat dekat cukup lama dan saling mengenal baik, kemungkinan pertama gugur karena Amarta bukan orang yang tega menjerumuskan siapa pun. Otomatis mereka berdua panik luar biasa—karena walaupun Haven dan Isabel tahu bagaimana perlakuan anak-anak lain pada Amarta, setidaknya mereka tidak pernah lupa pernah menganggapnya sebagai sahabat yang menyenangkan.

“Kalian berdua.. Apa yang kalian lakukan pada adikku?” Viola—kembaran Amarta lalu bertanya. Saat itu juga gadis yang tadi membuat lubang pada dinding kayu barak, mengunci pintu itu lagi.

Haven mengernyit begitu menyadari wajah mereka begitu mirip.

“Katakan hanya padaku,” balas Haven berani dengan menjadikan badannya perisai untuk Isabel walaupun di belakangnya juga ada Amarta yang sesenggukan. “Karena yang memberinya pelajaran hari-hari belakangan ini adalah perbuatanku.”

“Kenapa?” tanya Viola lagi.

“Itu…”

“Amarta membuatkanku sup kepiting,” potong Isabel lalu berdiri di samping Haven. Matanya sempat menoleh nanar pada Amarta kemudian kembali menatap Viola.

Viola dan Melisma awalnya mengernyit tidak mengerti. Tapi begitu Isabel meneruskan kata-katanya, raut wajah mereka berubah.

“Aku alergi kepiting,” aku Isabel. “Bukan alergi yang berat. Saat tidak sengaja makan kepiting, beberapa bagian tubuhku hanya akan gatal-gatal. Kalau kupikir-pikir.. Amarta pantas melakukannya karena dia marah aku telah secara tidak sengaja merusak janjinya dengan guru tata boga yang sangat dia sukai.. juga membuat buku agenda yang dia buat dengan susah payah, hancur ketika tidak sengaja aku mendorong tasnya ke sungai…”

Sama dengan Haven, Viola dan Melisma diam menyimak, menunggu alasan sebenarnya.

“Bungkusan sup kepiting itu aku bawa ke rumah.. awalnya kupikir itu hanyalah sup biasa. Ibuku pun memakannya untuk makan malam kami di rumah..” Isabel menutup mata sejenak. Tangannya terkepal. “Ibuku juga alergi. Tapi tidak seperti alergiku yang ringan, alergi ibuku jauh lebih berat. Dia hampir tidak bisa bernapas. Dia hampir mati kalau tidak cepat-cepat dibawa ke rumah sakit.”

Viola langsung membekap mulutnya sendiri sementara Melisma syok. Haven dan Isabel jelas tidak menyadari gadis yang terduduk di belakang mereka tidak lagi sesenggukan, melainkan tertegun dengan sepasang matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya.

“Aku anak tunggal…,” kata Isabel yang mulai terisak. “Ibuku adalah keluargaku satu-satunya. Di saat aku tidak bisa menyalahkan Amarta secara langsung, aku hanya bisa cerita pada Haven.. aku tahu alasan Amarta yang murung dan terluka akhir-akhir ini.. sambil menunggunya menyampaikan permintaan maaf padaku secara langsung.. aku pun berpura-pura tidak tahu apa-apa…”

Haven menyentuh bahu Isabel untuk menenangkannya.

“Semua hal yang dialami Amarta adalah perbuatanku sendiri,” klaimnya tegas. “Isabel tidak ikut andil sama sekali.”

Viola, Melisma, serta gadis yang terduduk di belakang Haven dan Isabel lalu membisu. Sebenarnya rencana awal mereka adalah untuk memberi pelajaran pada dalang perundungan Amarta. Tapi setelah tahu alasan di balik itu, sekarang bahkan tidak ada yang berani mengangkat wajah, apalagi untuk berkata-kata.

You’ve heard that..” Ratimeria berujar pelan. “Take the mask off.”

Merasa perintah tadi ditujukan padanya, gadis yang ada di belakang Isabel lalu berdiri. Dia melepaskan wig pendeknya juga menyeka air mata palsu yang membasahi pipinya, membuat Haven dan Isabel membelalakkan mata terkejut. Gadis itu juga melepaskan beberapa jepit di kepalanya hingga rambut panjang ikalnya tergerai panjang sekarang.

Sorry,” ucap Tiara sembari meringis pada Haven dan Isabel. Pandangannya lalu beralih pada Ratimeria. “Berlebihan sekali ya?”

“Bukan kau,” balas Ratimeria datar. Gadis itu lalu menoleh pada Melisma. “Coba buka pintunya..”

Melisma bertingkah bingung. Meski begitu dia lalu membuka kunci pintu dan membukanya. Matanya langsung melebar begitu melihat Amarta yang asli berdiri tepat di ambang pintu sambil menangis tanpa suara.

“Marta..” Viola memanggilnya pelan dengan perasaan campur aduk.

“Kemarilah..,” panggil Ratimeria yang mengulurkan tangan. Amarta lalu mendekat padanya seraya menyeka pipinya yang basah. Tangan itu lalu menangkup di wajah Amarta. “Is it time for apology?”

Amarta mengangguk.

Я скажу вам кое-что, прежде чем делать это. Одна любовь на самом деле только для одного человека .. Вы не можете поделиться им с другом. Это то, что Хейвен пытается сказать вам. Вы можете подружиться со всеми, но только в одном человеке, которого вы можете иметь ее сердце.

Kata-kata itu diucapkan secara lembut dalam bahasa Rusia hingga baik Haven ataupun Isabel tidak bisa mengetahui maknanya. Amarta menunduk lagi lalu mengangguk mengerti meski air matanya kembali mengalir.

Gadis manekin kemudian beranjak meninggalkan barak diikuti Viola dan yang lain tanpa melewatkan menoleh pada Amarta lebih dulu. Melisma yang terakhir keluar kemudian menutup pintu tanpa menguncinya lagi. Dia membayangkan mereka bertiga akan bicara dari lubuk hati yang paling dalam hingga tidak sepatutnya diusik oleh siapa pun. Termasuk mereka berempat.

Amarta ragu-ragu menatap bergantian Haven dan Isabel. Kedua tangannya meremas kuat-kuat roknya hingga kusut tidak karuan. Makna dari kata-kata yang diutarakan Ratimeria terngiang jelas dalam benaknya, membuat gadis itu harus memutuskan tindakannya sendiri—tentu saja bukan cara pengecut yang dia lakukan kemarin-kemarin.


I'll tell you something before you do that. One love actually only for one person.. You can't share it with the other. This is what Haven trying to tell you. You can make friends with everyone, but only in one person you can have her/his heart.