A Piece of Honesty: She's not mad, she's hungry. Give her food, and everything will just fine

Minggu, 14 Juni 2015





Segera setelah mobil merah muda itu masuk ke halaman parkir sebuah gedung pusat olahraga, sepasang boots hitam berhak tinggi langsung menjulur dari dalam kursi penumpang. Keadaan di sekitar cukup lengang sehingga gadis itu tidak mengundang banyak perhatian seperti yang biasa dia alami. Sekujur tubuhnya berbalut warna hitam: jeans hitam, cape dengan tudung hitam, juga tidak lupa sepasang matanya tertutup kacamata hitam. Rambut cokelat ikalnya tersembunyi sempurna di balik tudung.

Gladys harus akui, meskipun dengan emosi yang meledak-ledak, artis remaja yang selalu dia buntuti ke mana-mana itu selalu mempersiapkan baik-baik hal-hal yang jadi perhatiannya—walaupun lebih sering mengarah pada sesuatu yang sebenarnya lumayan… anarkis.

Seperti misalnya apa yang hendak dia lakukan dengan tongkat bisbol yang tengah gadis itu pegang.

Kepalanya menoleh ke segala arah di sekelilingnya, mencari mobil yang adalah milik seseorang yang telah membuatnya gadis itu murka. Tidak butuh waktu lama. Mobil itu diparkir tidak jauh dari mobilnya kini. Kemudian tanpa pikir panjang dia mendatanginya.
Pandangan Gladys yang tadinya tidak pernah lepas memperhatikan tingkah gadis itu pun akhirnya memalingkan muka lalu mendesis—benar-benar tidak sampai hati melihat langsung perbuatannya kali ini.

Sang Gadis bertudung mengangkat tongkat bisbolnya tinggi-tinggi lalu mengayunkannya keras tepat di kaca depan mobil orang yang membuatnya marah. Tidak cukup sekali, dia memukulkan tongkat itu berkali-kali hingga nyaris semua bagian kaca depannya hancur total. Belum puas, mesin depanpun juga jadi sasarannya. Beberapa orang yang awalnya berjalan berlalu-lalang membelalak syok melihat perbuatan gadis itu tapi tidak ada yang cukup berani menghentikannya.

Barulah dalam hitungan menit kemudian, setelah merasakan emosinya terlampiaskan seluruhnya, gadis itu berhenti. Rongga dadanya naik turun karena sebagian energinya cukup terkuras mengingat dia mengerahkan seluruh kekuatannya hari itu hanya untuk menghancurkan sebuah mobil.

Gladys yang ingin membenamkan kepalanya dalam-dalam ke stir pelan-pelan menoleh ke arah artis yang diasuhnya.

Chrisantee—begitu Gladys memanggilnya—bukan gadis yang jahat. Hanya saja ketika dia marah, orang yang terkena amuknya akan hancur sehancur-hancurnya. Untuk kasus kali ini, Gladys cukup punya andil. Dia memperkenalkan Chrisantee pada seorang produser yang mesum—Gladys bersumpah, dia tidak tahu menahu soal itu awalnya. Produser itu minta supaya Chrisantee memperlakukannya dengan “baik”, namun ujung-ujungnya tentu saja berbeda jauh dengan apa yang Gladys anggap mulanya.

Dia—Chrisantee memang bukan artis besar. Suaranya ketika menyanyi, juga akting gadis itu lumayan bagus. Namun dia ingin orang-orang mengenalnya karena usaha yang dia lakukan, bukan dengan pengaruh yang dia miliki. Karenanya dia memulai segala sesuatunya mulai dari level terendah. Makanya mereka sering menawarkan diri ke beberapa agen. Tentunya ini bukan untuk yang pertama kalinya terjadi.

Dua setengah tahun Chrisantee memulai semuanya, dia pun mendapatkan kepopuleran yang sudah lama diidam-idamkan. Meski begitu, gadis itu tidak mau terlalu cepat puas.

Gladys telah terbiasa menghadapi tingkah Chrisantee yang blak-blakan. Namun entah kenapa dia tidak pernah bisa menebak apa yang kemudian dilakukan gadis itu. Sama seperti kali ini. Padahal setahunya saudaranya yang lain tidak ada yang senekat itu walaupun harus Gladys akui—mereka semuanya aneh. Well, memangnya orang mana yang akan menganggap biasa kembar berjumlah lima?

Sekarang dilihatnya Chrisantee membalikkan badan lalu melangkah kembali ke mobilnya. Gladys menghela napas panjang ketika gadis itu membuka pintu belakang dan masuk setelah lebih dulu melemparkan tongkat bisbol yang dia bawa ke dalam. Dia menyibakkan tudung lalu melepaskan kacamata kemudian berbaring miring dengan muka cemberut.

“Sudah lega sekarang?” tanya Gladys yang menghidupkan kembali mesin mobil lalu tanpa menunggu perintah gadis itu mereka pun beranjak dari sana.

“Aku lapar…,” gumam Chrisantee dengan tatapan kosong seolah telah berhari-hari dia lalui tanpa makan.

“Kita bisa beli salad di minimarket kalau kau mau,” respon Gladys.

“Seperti aku mau makan itu saja.”

Gladys mengerutkan kening.

“Aku mau makan nasi dan daging kecap—sepanci penuh.”

“Hei, Chrisantee! Orang brengsek macam apa yang mengajarimu makan sebanyak itu waktu sedang marah?!” Gladys membelalak dan langsung membentaknya tanpa pikir panjang. Sedikit banyak, wanita itu mengakui kalau sifatnya sendiri tidak jauh berbeda dengan Chrisantee. “Harus berapa kali aku mengajarimu cara menghitung kalori?!”

“Produser itu sempat mengajakku ke hotel…” Chrisantee berujar memotong khotbah Gladys. Manajernya pun bungkam dan menelan ludah. “Rasanya aku ingin sekali menggunakan tongkat bisbolku lagi…,” gumamnya membuat Gladys sedikit takut.

“Da—…” Gladys meresponnya kemudian setelah jeda beberapa detik. “Daging kecap di mana maksudmu?”

***

Dan di sanalah mereka, duduk berhadapan di dalam sebuah restoran Korea. Meja yang ada di tengah mereka penuh dengan makanan. Chrisantee lahap memakan daging kecapnya setelah lebih dulu menyumpal mulutnya dengan sesendok penuh nasi. Dia nampak begitu telaten memisahkan daging dengan tulangnya sementara Gladys memperhatikan dia dalam kelesuan. Gladys sendiri hanya memesan segelas lemon tea dingin yang sampai sekarang masih utuh. Melihat Chrisantee makan saja sudah membuatnya kenyang. Bahkan dia merasa tidak perlu lagi menyantap makan malamnya nanti.

“Aku tahu kau kelaparan. Setidaknya makan pelan-pelan. Kalau kau tersedak hebat seperti dulu, aku juga yang repot,” nasihat Gladys entah Chrisantee dengar atau tidak.

Sesaat kemudian ponsel Gladys berbunyi. Wanita itu merogoh tasnya untuk mengambil benda putih itu. Saat membukanya, dia mendapati ada satu pesan yang masuk. Dari orang yang sama sekali tidak dia duga.

“Hei, Chrisantee,” panggil Gladys tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. “Ada satu kembaranmu di sini.”

Chrisantee tetap mengunyah makanan dalam mulutnya, meski begitu temponya berkurang.

“Siapa?” tanya gadis itu sembari menebak-nebak. Paling-paling sepasang kembarannya yang ada di Indonesia—karena merekalah yang paling mungkin mendatanginya, tidak seperti sepasang lainnya.

“Kembaranmu yang nama depannya panjang,” kata Gladys. “Aku tidak terlalu ingat… oh, tapi aku ingat nama tengahnya. Vrtnica.”

Dan sontak, Chrisantee menyemburkan sebagian makanan di mulutnya hingga mengenai wajah Gladys.

***

Selama Chrisantee bersamanya, dia nyaris tidak pernah menyinggung keempat kembarannya sebelum orang lain melakukannya lebih dulu. Gladys pernah bertanya mengapa mereka terpisah satu sama lain, namun gadis itu hanya menjawabnya dengan seulas senyum masam. Gladys juga tidak pernah bertemu dengan ayah si Kembar dan hanya pernah mendengar suaranya lewat sambungan telepon.

Sekarang setelah mereka kembali lagi ke mobil menuju ke bandara, Gladys melihat Chrisantee duduk di kursi belakang sembari menggigiti ujung kuku jempolnya. Gadis itu tegang. Gladys jarang sekali melihatnya seperti itu. Bahkan di saat-saat paling genting sekalipun Chrisantee akan berusaha berbohong dengan sembunyi di balik gelak tawanya.

Sesampainya di bandara, Chrisantee langsung berlari sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari-cari sosok itu di antara banyak orang yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka mengenalinya dan langsung berusaha memotret gadis itu menggunakan kamera ponsel. 

Gladys menghela napas panjang, memutuskan akan membiarkannya saja. Setidaknya para fans di sana tidak seagresif fans di panggung tempat Chrisantee menyanyi.

Sedetik kemudian, mata Chrisantee terpaku pada satu arah. Gladys mengikuti arah pandangannya dan melihatnya. Sosok seorang gadis yang kurang lebih mirip dengan Chrisantee, hanya saja dengan tatanan rambut serta rona kulit yang berbeda. Keduanya pun memiliki selera yang berbeda soal pakaian.

Gadis manekin tidak berubah seperti terakhir kali mereka bertemu—kurang lebih setahun yang lalu. Dia mengenakan gaun renda yang berwarna biru lembut. Rambut cokelat terangnya seperti biasa dibiarkan tergerai jatuh. Sementara di belakang gadis itu, dua orang pria mengikutinya membawakan koper serta barang-barang lain.

Gladys mendekati Chrisantee dan berdiri di sebelahnya begitu Vrtnica menghentikan langkah tepat di hadapan mereka. Dia menatap Chrisantee sekilas sebelum gadis itu spontan memalingkan wajah—gugup.

Ah.. apa dia selalu seperti ini waktu bertemu kembarannya satu itu? Gladys bertanya-tanya. Setahunya Chrisantee bersikap wajar ketika bertemu kembarannya yang lain.

How are you?” tanya Vrtnica memecah kekakuan.

“Aku baik-baik saja,” jawab Chrisantee ditambah anggukan. “Tumben kau ke sini. Ada perlu apa?”

Vrtnica memiringkan kepalanya seolah memikirkan sesuatu alih-alih menjawab Chrisantee.
“Aku butuh samsak tinju…,” katanya. “Mau mengantarku?”

“Oke!” Senyum Chrisantee mengembang.

Entah itu karena Vrtnica memintanya, ataukah karena tinju adalah olahraga kesukaannya, Gladys tidak tahu.

***

“Pilihlah,” pinta Vrnica—lebih cocok dikatakan memerintah—pada Chrisantee disambut anggukan senang hati gadis itu, kemudian dia berlari kecil ke samsak-samsak tinju yang digantung.

Mereka ada di pusat belanja bagian peralatan dan perlengkapan olahraga sekarang. Dua orang pria yang mengekor Vrtnica kemudian membawakan sebuah kursi untuk gadis itu duduki. Sementara itu Gladys pun berdiri kikuk di sebelahnya.

“Ada kejadian menarik apa?” tanya Vrtnica tanpa mengalihkan perhatiannya dari Chrisantee yang sedang memilih samsak—bahkan beberapa kali meninjunya.

“Apa?” Gladys mengangkat alis, bingung.

“Anak satu itu pasti sering membuatmu repot kan?”

“Ah, itu…” Gladys tertawa hambar. “Sebenarnya tadi pagi dia menghancurkan mobil calon produsernya.”

Vrtnica tersenyum tipis. Kemudian keheningan tercipta.

“Omong-omong… bisakah aku minta sedikit bantuanmu?” tanya Gladys, membuat Vrtnica menoleh padanya. “Maukah kau menasihati dia? Bukannya aku keberatan dengan sikapnya selama ini.. tapi kalau dia terus melampiaskan emosinya kala sedang kesal seperti tadi.. aku takut karirnya akan redup.”

Vrtnica menghadapkan kepalanya kembali ke depan lalu menopang dagu.

“Anak itu…” Dia berkata. “Sering sekali berbohong.”

Gladys terdiam. Gadis itu benar. Chrisantee sering menyembunyikan rasa tegang, takut, dan kecemasannya di balik  tawanya.

“Namun di saat tertentu.. dia akan sangat jujur pada perasaannya sendiri,” kata Vrtnica lagi. “Kalau kularang dia melakukan hal-hal yang mencerminkan perasaannya saat itu juga, dia akan sepenuhnya jadi seorang pembohong.” Vrtnica menoleh. “Kau ingin dia jadi seperti itu?”

Gladys tertegun. Perhatiannya kembali pada Chrisantee yang tampak senang sekali memainkan samsak seolah lupa pada keberadaan mereka berdua.

“Tentu.. aku tidak melarangmu menasihatinya,” kata Vrnica pelan. “Semuanya akan menjadi lain kalau aku yang melakukannya… kalau aku bilang jika dia akan menangis sebelum tertidur, apa kau akan percaya?”
“Apa?”
“Aku tidak pernah mengatakannya ya?” Vrtnica tersenyum penuh arti. “Meski Tiara tidak bisa menganggapku sama dengan yang lain, dan meskipun juga sebagian dirinya takut padaku, dia tidak pernah tahu aku mengkhawatirkannya lebih dari siapa pun dalam keluarga kami.”

Jeda yang panjang. Gladys melihatnya menutup kedua mata.

“Biarkan dia melakukan apa pun selama tidak membahayakan dirinya atau orang lain,” kata gadis itu terdengar tidak terbantahkan. “Because whatever you do, good or bad, people will always have something negative to say.”

Bibir Gladys terkatup erat. Mengapa? Tanyanya dalam hati. Mengapa meskipun gadis itu jauh lebih muda darinya, Vrtnica terdengar jauh lebih dewasa? Perlahan dirinya pun paham mengapa Chrisantee begitu menganggapnya istimewa.

“Tapi itu tidak berarti dia bisa melakukan apa pun… terutama hal-hal seperti itu.” Gladys memprotes.

That’s why you’re here.”

Jawaban gadis itu lagi-lagi membuat Gladys tertegun.

Tengah larut dalam pikirannya, Chrisantee berlari kecil menghampiri mereka.

“Aku lupa tanya kau butuh berapa,” ucap gadis itu.

Vrtnica tersenyum tipis. 

“Pilihlah yang kau suka. Gantilah samsak di kamarmu,” katanya.

Chrisantee mengerjap. “Ganti? Kenapa?”

Maid rumahmu mengatakan padaku kalau samsakmu hancur semalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau memukulinya.” Vrtnica lalu berdiri. “Jangan terlalu berlebihan,” nasihatnya lalu berbalik hendak pergi.

“Kau tidak mau mampir dulu sebelum pergi?” tanya Chrisantee ragu-ragu.

Vrtnica menoleh lagi padanya. Tangan kirinya terangkat meminta sesuatu dari salah satu guard-nya tadi. Pria itupun memberikan padanya sebuah kotak dengan pegangan besi. Vrtnica kemudian memberikannya pada Chrisantee.

“Apa ini?”

“Makan malammu,” jawab Vrtnica. “Bagilah dengan Gladys.” Dan setelah mengatakannya, dia pergi.

“Ah… apa-apaan…,” keluh Chrisantee sedih. “Cuma begitu saja…” Dia menatap sebentar kotak tadi tanpa minat lalu mengalihkannya pada Gladys.

“Apa isinya?” tanya Gladys.

“Mana kutahu. Ayo pulang. Oh, bilang samsak yang kupilih tadi untuk dikirim ke rumah. Aku yakin mereka tak akan minta bayaran karena semua samsak itu sudah dibeli,” kata Chrisantee lesu.

Gladys menghela napas panjang. Hidungnya mencium aroma yang lezat dari kotak tadi. Dia pun tergoda untuk membukanya. Dan kemudian, mulutnya membentuk huruf “o”.

“Ini makanan apa? Daging kecap?” gumam wanita itu asal-asalan.

Chrisantee mengerutkan kening dan langsung melihat isi kotak itu juga.

“Ini semur!!” pekiknya senang. Hidungnya menghirup dalam-dalam kuah coklat di kotak itu. “Dan bukan sembarang semur!! Ini semur yang dimasak di restoran mendiang mama!”

“Oh?”

What? Kau mau bilang kalau kau tidak tahu makanan kesukaanku?” Mata Chrisantee menyipit.

Gladys memutar bola matanya. “Mana kutahu kalau kau terlihat begitu lahap menyantap segala jenis makanan!”

Chrisantee cemberut dan langsung merebut kotak itu lalu melengos pergi. Dua-duanya sama-sama sebal, namun Gladys tetap setia mengikutinya.

That’s why I’m here…,” gumamnya sangat pelan kemudian tersenyum.

Warm Croquettes in the Afternoon: Feeling in A Gift

Kamis, 11 Juni 2015



Setelah membentuk adonan berbentuk bundar lalu membalurnya dengan tepung panir, dia mendekatkan telapak tangannya di atas penggorengan, memastikan apakah minyak gorengnya sudah cukup panas atau tidak. Gadis itu melepaskan sarung tangan plastiknya lalu memasukkan satu per satu kroket ke dalam wajan menggunakan sumpit. Bersenandung sembari membolak-balik kroket itu, dia memandang keluar jendela memperhatikan tanaman-tanaman anggrek yang sebagian sudah mulai mekar.

“Lho, Marta belum pulang?” kata seorang gadis berseragam renda kuning ketika membuka pintu ruangan itu.

Amarta menoleh.

“Hai, Hilda. Kamu juga belum pulang?” Dia membalikkan pertanyaan.

“Aku baru selesai mengumpulkan bahan untuk presentasi besok,” jawab Hilda yang perlahan mendekati Marta. “Wah… sepertinya enak. Apa ini?”

“Kroket kentang daging keju.”

“Ah, aku suka sekali keju! Ah, tapi buat siapa? Kalau untuk praktek, harusnya kan kamu masak waktu pelajaran.”

Amarta tersenyum singkat lalu membalik kroket supaya tidak gosong.

“Oh, lihat! Anggreknya udah pada mekar!” Hilda berdecak kagum sekaligus iri. “Enak ya, jadi kamu. Anak tata boga sekaligus pertamanan. Perabot dapur kamu sama taman kamu juga dekat.”
 
“Kebetulan saja kok. Omong-omong.. bisa tolong ambilkan saus saset di lemari atas?”

Hilda mengangguk lalu melakukan apa yang diminta Amarta. Setelah menggoreng semua kroket, Amarta membungkus tiga di antaranya untuk Hilda disambut senyum mengembang gadis itu. Amarta membereskan sisanya dengan menaruh beberapa pada piring melamin kecil sedangkan sebagian lagi dia bungkus untuk dibawa pulang. Ketika dia menoleh pada jam dinding, waktu menunjukkan pukul tiga kurang tujuh menit.

Dia harus bergegas.

Amarta buru-buru mengenakan kembali jaketnya kemudian merapikan baju dan roknya sambil mematut diri ke cermin. Tersenyum setelah menyampirkan tas selempang ke bahu dengan sepiring kecil kroket di tangan, gadis itupun pergi setelah menutup pintu.

Seperti yang sudah dia duga, di lapangan sore itu telah berkumpul anak-anak klub sepakbola yang sedang mendengarkan arahan dari pelatih mereka. Amarta diam-diam mengintip di ujung dinding sekolah mencari-cari seseorang yang ada di antara barisan remaja laki-laki di sana. Agak sulit membedakan mereka karena menghadap arah yang berlawanan.

Namun sedetik kemudian, laki-laki itu menoleh ke samping—berbicara sesuatu pada anak di sebelahnya.

Amarta tersenyum. Itu dia, batinnya dengan perasaan berbunga-bunga.

Tanpa menunda-nunda lagi gadis itu berjalan mengendap—padahal tidak perlu begitu—seperti pencuri, mendekati meja panjang di mana beberapa tas anggota klub sepakbola diletakkan. Saking sering melakukannya, Amarta bahkan hafal masing-masing nama pemilik tas-tas itu. Sepiring kecil kroket buatannya kemudian dia taruh di dekat sebuah tas hijau gelap yang diletakkan paling pinggir.

Setelah melakukan kegiatan rutinnya seminggu sekali, dia pun berbalik pergi.

Saat itulah sebelum Amarta sampai ke gerbang depan, mata mereka bertemu: gadis itu dan sang Laki-laki jangkung pucat dengan kacamatanya.

***

Nathan tahu dia tidak sedang memperhatikan jalan. Dia juga tahu kalau sewaktu-waktu bisa saja ada sebongkah batu besar di tengah-tengah jalan yang dia telusuri kini dan Nathan mungkin saja akan tersandung atau bahkan terjungkal ke depan. Namun dia tidak peduli. Suasana hatinya sedang sangat jelek hari ini. Dia juga tidak peduli kalau pelatih klub sepakbola akan menceramahinya panjang lebar karena telah datang terlambat.

Ketika akhirnya mengangkat wajahnya setelah melewati gerbang sekolah, Nathan urung menghela napas panjang. Kedua matanya terpaku selama beberapa detik sebelum gadis itu mengangkat wajahnya juga.

Nathan tertegun.

Sepasang mata yang jernih itu seolah tidak pernah membuat Nathan bosan meskipun seringkali bukan dirinya yang jadi objek perhatian gadis itu.

Rambut pendeknya tertata rapi di belakang kepalanya dan terkadang sepasang jepit disematkan di sisi kanan dan kiri untuk mengatur anak-anak rambut. Wajahnya oval dengan rona wajah yang sehat dan bercahaya. Dua bibirnya ranum. Nilainya bertambah ketika gadis itu tersenyum. Dan kenyataannya gadis itu memang selalu menyunggingkan senyum saat bersama siapa pun. Nathan bahkan menyadari kalau tidak sekalipun dia mendapati gadis itu bersedih atau marah—meskipun mungkin gadis itu menutupi segala emosinya dalam ulasan senyum itu. Nilai tambah lainnya ialah, walaupun senyum gadis itu palsu, tidak ada yang bisa menyadarinya.

“Hai, Nathan,” sapa Amarta ramah ditambah lambaian tangan yang rendah dan singkat. “Latihannya sudah dimulai lho. Cepatlah ke sana.”

Nathan diam. Bukan hal mengherankan kalau dia mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat meskipun yang dia inginkan justru melakukan kebalikannya. Dialah yang pertama memutus kontak mata mereka lalu melangkah maju melewati gadis itu. Sesuai dugaannya, ekspresi Amarta seketika berubah keruh. Tetapi kemudian, apa yang dilakukan gadis itu selanjutnya, sama sekali tidak disangka oleh Nathan.

Melangkah menyusun Nathan, Amarta tiba-tiba menepuk bahunya. Alan yang sedikit terkejut langsung menoleh. Sepasang matanya melebar. Amarta tanpa ragu menyodorkan bungkusan kecil berisi beberapa kroket buatannya tadi.

“Buatmu,” katanya pendek dan—seperti biasa—berhiaskan senyuman hangat.

Nathan mengerjap. Meski begitu diterimanya bungkusan tadi. Senyum Amarta pun mengembang senang. Lalu setelah melambai lagi, dia pun berbalik pergi.

Baru ketika sosok gadis itu menghilang, Nathan baru sadar kalau dia lupa mengucapkan terimakasih. Seringnya dia memang terus meyakinkan diri kalau menjadi seorang introvert bukanlah sesuatu yang buruk. Hanya saja di saat-saat seperti tadi, dia selalu merutuki diri sendiri.

Nathan sedikit meremas bungkusan tadi dan dia merasakan kehangatan. Dari tekstur dan aroma yang berhasil dia cium, sepertinya bungkusan itu berisi makanan.

Nathan tersenyum sekilas kemudian melanjutkan jalan. Dia akan menganggap pemberian tadi sebagai balasan karena sebelumnya dia juga telah melakukan hal yang sama pada gadis itu. Entah Amarta menerimanya dengan baik atau tidak. Nathan hanya berharap perasaan gadis itu akan sama dengannya ketika menerima pemberian seperti tadi.

Benar-benar… karena dia merasa Amarta sungguh bagai anggrek yang mekar di pagi hari.

***

“Tadi aku dimarahi guru,” keluh Amarta setelah menaruh sepiring lemon myrtle soufflĆ© glace di atas meja makan di depan Viola yang sibuk mengunyah pai ayam.

“Kenapa?” tanya Viola walau dengan mulut penuh.

“Aku lupa mengganti buku-buku di tas. Jadinya hari ini aku membawa buku-buku yang tidak perlu, juga tidak membawa buku-buku yang seharusnya kubawa.”

“Lain kali siapkan malam hari sebelumnya.”

“Aku tahu. Cuma lupa saja.”

“Kenapa bisa lupa?”

Amarta terdiam lalu menekan bibirnya ditambah senyuman serupa bocah kecil yang ketahuan tidak menyikat gigi malam sebelum tidur.

“Kalau begitu, aku bereskan sekarang saja bukunya!” putus gadis itu lalu berlari naik tangga menuju kamarnya. Viola pasti akan menyindir habis-habisan kalau sampai dia tahu alasan mengapa Amarta lupa menyiapkan kembali buku-buku sekolahnya adalah karena terlalu asyik dalam fase jatuh cinta.

Buru-buru dia memilah satu per satu buku dalam tasnya untuk menentukan bawaannya besok ketika tiba-tiba dia mendengar bunyi benda kecil yang tidak sengaja jatuh saat dia mengeluarkan buku catatan kecilnya. Amarta mengerutkan kening melihat benda yang berkilauan itu di lantai. Berjongkok, dia pun memungutnya.

Sebuah jepit rambut anggrek berwarna ungu yang masih dibungkus dalam kemasan plastik.
Benaknya dipenuhi tanda tanya. Setahunya, dia tidak ada jepit rambut seperti itu dalam koleksi hiasan-hiasan rambut yang dirinya miliki.

Then it’s a gift?

Kemudian dia pun tersenyum lalu memasang jepit itu di rambutnya di depan cermin.


“Love is not about how much you say ‘I love you’ but how much you prove that its true…”

A Bowl of Milk Pudding: Sometimes it’s not the butterflies that tell you you’re in love, but the pain

Minggu, 07 Juni 2015





Sebuah mobil Audi hitam berhenti tepat di depan stasiun kemudian dari pintu pengendara, seorang pria berlari kecil membuka bagasi mengeluarkan sebuah koper kecil berwarna kuning. Beberapa saat keluarlah seorang gadis ber-coat kuning dengan sepasang wedges tinggi yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling mendapati banyak orang berlalu lalang sibuk. Pria tadi menghampirinya menyerahkan koper gadis itu lalu menunduk sekilas. Setelah mengatakan sesuatu, gadis itu pun melangkah masuk stasiun tanpa menoleh kembali.

Melewati akses masuk dan setibanya di dalam, pandangannya berkeliling lagi namun dia tidak menemukan orang yang dicari. Menghela napas, gadis itu menyeret kopernya menuju ke tempat duduk yang kosong. Saat melihat jam tangan kecilnya, dia maklum karena telah datang dua belas menit lebih awal dari yang dijanjikan.

Seorang pria beraroma rokok yang menyengat berjalan lewat di depannya lalu duduk tidak jauh dari gadis itu. Dia menyembunyikan kedua tangannya pada saku jaket. Diam-diam dia pun melirik ke samping memperhatikan gadis tadi yang sekarang tampak sedang melamun karena matanya menyorot lurus ke depan tanpa beralih ke arah lain.

Coat kuning gadis itu terlihat begitu mencolok karena kuning bersih tanpa cela. Tudungnya berhias serat-serat yang lembut bagai bulu domba. Kebalikan dari warna kuning itu, rambut hitam kelamnya terjalin rapi di samping kanan. Walau hanya dilihat dari samping, semua orang pasti berpendapat sama dengan si Pria—dia gadis yang amat cantik. Ketika perhatian pria itu beralih, dia mengerutkan kening begitu menyadari orang-orang di sekelilingnya juga tanpa malu memperhatikan gadis tadi. Kasarnya, menjadikan dia barang tontonan.

Si Pria pelan-pelan mendekat lalu bertanya, “Mau ke mana, Non?”

Gadis itu menoleh. Tapi ekspresinya sama sekali tidak diharapkan oleh si Pria. Matanya menyorot tajam dan alisnya bertaut menunjukkan rasa tidak suka karena telah terusik. Menerima respon seperti itu, pria tadi pun mengurungkan niatnya untuk sok akrab.

Untunglah tidak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu datang.

Seorang remaja laki-laki jangkung berjaket hitam dengan ranselnya berjalan cepat menghampiri sang Gadis yang menunggu.

“Aku sudah berusaha datang lebih awal, tapi selalu kamu yang datang lebih dulu,” kata laki-laki itu kemudian duduk di dekatnya dengan napas yang agak memburu.

“Kau lari?” Melisma—gadis itu menoleh dan tersenyum. Sikapnya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang tadi.

“Taksiku terjebak macet. Aku terpaksa lari ke sini karena seperti yang sudah kubilang tadi: aku berusaha sampai di sini lebih awal,” jawab Alan sebal.

“Kenapa kau begitu terobsesi sekali datang lebih dulu daripada aku?”

“Aku-tidak-terobsesi,” jawab Alan menekan nada pada satu per satu kata, khususnya pada kata terakhir.

Melisma tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Satu kereta datang, berhenti sejenak untuk menunggu semua penumpangnya masuk menimbulkan jeda obrolan yang panjang di antara mereka berdua. Sebagian besar orang di sana membawa tas atau koper yang besar dan berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing, sementara sebagian lainnya hanya duduk dan menunggu—seperti yang Melisma dan Alan lakukan—sambil berkutat dengan gadget.

“Kenapa kamu milih naik kereta? Padahal akan lebih cepat dengan pesawat,” ujar Alan memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
 
Gadis itu menekan bibirnya lalu menyilangkan tangan meskipun tersembunyi dalam balutan coat.

“Ibuku suka sekali mengajak kami berlima naik kereta api,” katanya kemudian. Matanya menerawang lurus mengingat saat-saat kecilnya yang indah. Tentunya jauh lebih indah ketika wanita yang bagaikan terus bermandikan cahaya itu masih menghembuskan napas. “Meskipun ujung-ujungnya kami hanya mendatangi tempat-tempat yang sebenarnya tidak perlu.. atau juga meski kami hanya berkeliling… Dia suka menggantungkan tangannya pada pegangan dalam kereta api yang sedikit berguncang..”

Alan terdiam. Mendengar Melisma begitu merindukan ibunya, dia langsung teringat pada sosok ibunya sendiri. Seorang wanita yang ceroboh. Bahkan karena satu kecerobohan yang dia perbuat, Alan kehilangan seseorang yang amat berharga. Karenanya untuk waktu yang lama, mereka seperti dipisahkan sebuah jurang yang lebar dan tinggi. Alan marah padanya. Namun sedikit demi sedikit, berkat bentakan Melisma suatu hari lalu, Alan sadar kalau dialah yang membuat senyum cerah yang dulu selalu menghias wajah ibunya telah memudar hingga sekarang nyaris tidak tampak sama sekali.

“Kuharap Mrs. Lusi tidak keberatan aku mengganggumu,” kata Melisma.

“Tentu aja nggak,” jawab Alan sembari menggeleng. “Dia justru tampak senang. Kamu mengingatkannya pada Allen.”

Melisma mengerutkan kening. “Allen—adikmu laki-laki.”

“Orang sering mengiranya anak perempuan karena dia sangat manis.”

“Jadi menurutmu apa aku juga sangat manis?”

Alan langsung berdehem beberapa kali lalu melihat jam tangannya. Mereka cukup menunggu beberapa menit lagi sebelum akhirnya kereta yang akan membawa mereka datang.

***

Jam-jam yang terlewat di kereta begitu melelahkan. Melisma menyeret kopernya keluar bersama Alan yang menggendong ransel di punggung. Keduanya sampai di kota tujuan saat hari menjelang sore, namun suasana dalam stasiun masih cukup padat.

“Kamu lapar? Kita naik taksi dan cari makan, atau kita check in dulu ke hotel?” tanya Alan memandang ke sekelilingnya, mengabaikan supir taksi, angkot, atau bahkan tukang ojek yang menawarkan dengan gigih jasa mereka.

“Aku mau mandi…,” gumam Melisma pelan menyadari segaris kecokelatan di bagian siku coat-nya.

“Kita ke hotel dulu kalau begitu,” putus Alan yang tiba-tiba merebut pegangan koper Melisma lalu menyeretnya ke arah satu taksi yang sedang diparkir di luar. Laki-laki itu mengatakan sesuatu pada supirnya lalu mereka menghampiri bagasi untuk menaruh barang.

Alan sepertinya tidak sadar kalau Melisma tidak langsung mengikutinya. Gadis itu masih berdiri mematung di tempat sambil memperhatikan Alan dari kejauhan. Ketika kemudian Alan bingung karena Melisma tidak ada di sekitarnya, barulah gadis itu melangkah setelah menghela napas panjang. Tapi baru saja dua langkah dia bergerak, seorang pria tiba-tiba menubruk keras badannya, kemudian Melisma oleng ke samping dan bahunya membentur dinding pilar.

Pria tadi panik lalu buru-buru menolong Melisma. Hanya ada sebagian kecil orang yang melihat—itupun mereka tidak terlalu mempedulikannya karena tubrukan tadi terkesan tidak sengaja.

“Mbak nggak apa-apa? Maaf, saya buru-buru,” kata pria itu setelah melepaskan tangannya dari lengan Melisma.

Gadis itu mengerutkan kening.

Tepat saat pria tadi berbalik hendak pergi, Melisma langsung mencengkeram kerahnya. Aksinya itulah yang kemudian mengundang perhatian orang-orang di sekeliling mereka.

“Yang namanya sampah tetap saja sampah,” ujar Melisma menatap tajam pada pria itu.

“Mbak, saya buru-buru nih!” elak pria itu yang sepertinya mulai panik dan menutupinya dengan ekspresi kesal.

Emosi Melisma langsung terpancing. Dengan sekali hentakan dia membanting tubuh pria itu ke depan. Saking kerasnya bunyi benturan yang dihasilkan, orang-orang di sana pun mulai heboh. Pria tadi berusaha keras untuk melepaskan diri, tapi yang ada, Melisma mencengkeram pergelangan tangan kirinya lebih keras dan kasar. Berikutnya bahkan tangan kanan pria itu berada dalam injakan sepatu wedges Melisma.

Pria itu mengerang kesakitan sementara Melisma merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah kantung kecil kuning yang berhias manik-manik berkilauan dengan ditutup tali pita. Setelah memastikan isi kantung itu masih berada pada tempatnya, Melisma melepas cengkeraman tangan dan injakannya tapi menendang tubuh pria itu sehingga berbalik menghadap atas. Mulut pria itu kaku ditatap tajam oleh Melisma.

You’re lucky I didn’t kill you after trying to steal my precious brooch,” kata gadis itu marah.

Tiba-tiba saja pria tadi mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya yang lain. Melisma tersentak namun terlambat menghindar. Ujung pisau kecil yang tajam itu melukai kakinya dan membuat luka yang memanjang. Tidak butuh waktu lama, darahpun merembes membasahi kaus kakinya.

Masih kalut dalam kepanikan karena tertangkap basah mencuri sekaligus ditambah tidak sengaja melukai Melisma, pria tadi langsung berlari kabur. Tapi sialnya, seseorang memukul leher belakangnya hingga pria itu langsung jatuh pingsan. Dua orang sekuriti yang datang langsung mengamankan pria tadi.

Melisma terduduk, meskipun di atas lantai kotor yang amat dibencinya. Kakinya terasa perih sekaligus lemas.

Alan—orang yang ternyata berhasil melumpuhkan pencuri tadi berjalan menghampiri Melisma lalu berjongkok memunggungi gadis itu.

“Naik,” katanya. “Taksinya di sana.”

Melisma menggigit bibir dan kedua alisnya bertaut. Biar begitu Alan tidak dibuatnya menunggu lama. Gadis itu perlahan-lahan merangkul Alan melewati kedua bahunya. Alan kemudian beranjak berdiri sambil menggendong Melisma di punggungnya tanpa berkata apa-apa lagi karena baik dia ataupun gadis itu tahu bagaimana persisnya melihat orang yang mereka sayangi terluka.

***

“Kamu nggak seharusnya pergi keluar lagi jadi aku pesan makanan hotel. Nanti diantar ke sini,” kata Alan sambil membereskan obat luar, kapas, dan pembalut dalam plastik setelah membebat kaki Melisma yang kini duduk di ujung ranjang. Laki-laki itu menghela napas panjang lalu berdiri hendak beranjak pergi. “Aku ke kamarku dulu.”

“Ah, anu…,” ucap Melisma kemudian menghentikan langkah Alan sebelum berlalu. “Kita pergi besok, tapi.. aku tidak mau bosan di dalam kamar saja. Bagaimana kalau menonton film sama-sama?”

Alan terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Kalau makanannya sudah diantar, kasih tahu aku.” Dan setelah mengatakannya dia pergi.

Apa dia marah? Melisma bertanya-tanya dalam hati lalu memeluk kedua kakinya sendiri yang ditekuk di atas ranjang.

Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk. Datang seorang laki-laki pegawai hotel yang berseragam rapi membawa troli makan malamnya. Melisma mempersilakan dia masuk untuk menaruh makanan itu di meja tengah kamarnya di depan televisi. Setelahnya, pegawai itupun pergi.

Melisma mengambil ponselnya untuk memberitahu Alan, namun niatnya urung. Detik selanjutnya yang dia hubungi justru kembar pertama.

“Halo, Snow White. Kenapa kau meneleponku?” respon suara jauh di seberang sana. “Kau sudah makan malam? Tidak ada segelas susu di mejamu?”

“Memang tidak ada susu.” Melisma menggerutu menatap meja makan malamnya yang penuh makanan. Tapi kemudian keningnya berkerut melihat semangkuk puding di sana.
Puding susu.

“Kupikir aku sedang dihukum. Ternyata tidak.” Dia tersenyum. Saat kembarannya bingung mengartikan ucapannya, Melisma justru memutus sambungan. Setelahnya tanpa ragu dia mengetikkan obrolan di Line pada Alan.

***

Film komedi. Mereka menontonnya sambil menyantap makan malam dengan duduk bersila menghadap meja yang rendah. Alan menyendokkan nasi ke mulutnya sedangkan Melisma memotong puding susunya menjadi dua bagian lalu meletakkan salah satunya di piring kecil untuk Alan.

“Kenapa? Buatmu saja. Bukannya kamu suka susu?”  tanya Alan.

“Sudahlah. Anggap saja kita impas,” balas Melisma lalu menambahkan potongan tumis daging ke nasinya. “Makan itu nanti sebelum aku memaksamu menelannya.”

Mereka lalu saling diam setelahnya kemudian tertawa bersamaan melihat adegan seorang gadis yang menghajar perampoknya dalam film.


Sometimes it’s not the butterflies that tell you you’re in love, but the pain..