Welcome to Disaster Maker Club (1)

Selasa, 17 November 2015



Entahlah. Asrama itu tampak biasa sekali. Rumornya anak-anak yang tinggal di dalamnya adalah pembuat bencana. Mungkin memang itu kepanjangannya dari huruf DM beserta angka 9 yang turut terpampang di papan yang miring dekat gerbang: Disaster Maker. Audin sendiri langsung begidik ketika menatap bangunan yang sekilas terlihat seperti rumah pada umumnya. Sejauh ini, rumor-rumor itu sukses membuatnya menilai kalau asrama DM angker.

Audin masih mendebat dalam diri apakah dia akan langsung masuk atau tidak ketika seseorang melangkah tepat di belakangnya. Seorang gadis memakai jaket jingga bertudung, juga jeans hitam, lalu dari lutut sampai ujung kaki tertutup sepasang boots hitam berhak. Audin baru menyadari kehadirannya saat gadis itu hanya beberapa senti jaraknya dari bahu kiri.

“Apa ini asrama DM?” tanyanya pada Audin.

Audin mengangguk. “Ya. Kalau aku tidak salah alamat—tentu saja.”

Gadis tadi memiringkan mata menatap Audin. Bukan hanya mata, namun dari ujung kepala sampai ujung kaki gadis itu. Bukan pandangan meremehkan, hanya saja sorot penuh menyelidik itu cukup membuat Audin merasa tidak nyaman.

“Siswa baru juga? Atau pindahan?” tanya si Gadis berjaket jingga.

“Pindahan,” jawab Audin pendek.

Gadis itu mengangguk-angguk setelah merasa selesai meneliti tiap sudut sosok Audin di depannya. Caranya berpakaian santai sekali seperti orang yang sedang berjalan mencari angin di sore hari. Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya kaus biru lengan panjang, juga jeans pendek selutut berwarna abu-abu. Di punggungnya terdapat ransel berukuran sedang yang tampak tidak terlalu bervolume. Mungkin isinya hanya beberapa helai baju.

“Sama,” kata si Gadis kemudian setelah lebih dulu menyingkirkan tudung yang menutup kepalanya. “Aku Eva. Kau siapa?”

“Audin.”

“Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Aku lapar.. mereka seharusnya sudah menyiapkan makan malam.”

Audin mengangguk sembari mengelus perutnya.

***

“Zein,” panggil seorang gadis bercelemek yang sedang berjongkok menghadap rak lemari es yang terbuka.

Bukannya menyahut, orang yang gadis itu panggil justru mulai menyanyikan lirik lagu yang dia dengar menggunakan headset. Tidak cukup sampai di situ, dia beranjak dari kursinya lalu mulai menari ala-ala gadis Hawai.

Si Gadis bercelemek menoleh ke belakang melihat tingkah gadis yang dia panggil Zein tadi. Sesaat dia terbengong, selanjutnya paru-parunya mengembang, menghela napas sebanyak-banyaknya.

“ZEIN ADA TIKUS KEJEPIT DI JEBAKAN!!!”

Teriakan tadi sontak membuat Zein terperanjat juga langsung mencopot headset yang menyumpal telinganya. Sesuai perkiraan gadis iseng tadi, Zein panik mencari jebakan yang dimaksud ke sana kemari. Idiotnya dia sampai merayap di dinding demi melongok keluar lewat lubang ventilasi.

“Penyihir sialan itu…,” gerutu Zein dengan mata melotot menyebut seorang wanita yang jadi penghuni rumah di samping tempat tinggal mereka. “Benar-benar tidak menghargai nilai hidup seekor makhluk!”

“Ya ya ya.” Gadis di dekat kulkas menanggapi. “Kemari kau!”

“Aku harus menyelamatkan tikus malang itu!” protes Zein. “Eh, tapi… kenapa rumah penyihir itu gelap?”

“Karena dia sedang pergi menjenguk ibunya. Kalau kau tidak ke sini juga, entah berapa jam lagi makan malam akan siap.”

Zein menoleh. Matanya menyipit. Beberapa saat mencerna, barulah dia paham kalau gadis itu—Shin telah mengerjainya lagi. Mulut Zein komat-kamit mengumpat Shin. Meski begitu dia menurut. Kakinya yang berada satu meter di atas lantai sesaat kemudian beringsut.

“Kau mau masak apa? Aku kepingin terong balado,” kata Zein tak tahu malu sambil mengusap-usap perut.

“Bagaimana ya…?” Shin menggumam. “Aku mau masak lobster.”

Zein memekik tertahan. Cuek, Shin langsung menutup kulkas setelah mengambil lobster beku dan plastik berisi dua terong ungu. Menaruh lobster beku tadi dalam baskom lalu merendamnya di air, Shin mendengar bel rumah mereka dibunyikan.

“Buka pintunya,” pinta Shin direspon anggukan Zein.

Gadis yang sepertinya selalu punya kelebihan energi itupun berlari kecil untuk membukakan pintu. Rambut ikal hitamnya diikat tinggi-tinggi di belakang kepala sedang poni serta anak-anak rambut Zein berantakan. Dia memakai kaus santai kuning tanpa lengan serta celana pendek. Ketika membuka pintu itu dan melihat siapa yang datang, meskipun tidak kenal siapa mereka, Zein tersenyum lebar memamerkan gigi.

“Selamat sore! Mau bertemu siapa? Masuk-masuk!” sambut gadis itu bernada ceria.

“Ah, anu..,” balas tamu yang berkaus biru. “Kami siswa pindahan…”

“Oh ya? Wah! Kupikir kalian baru datang besok!” Zein tertawa. “Masuklah! Shin sedang masak. Mau aku bikinkan teh?”

Yes, please.” Kali ini gadis yang berjaket jingga menyahut tanpa sungkan.

Mereka bertiga lalu masuk ke dalam, tapi bukan berhenti di ruang tamu. Zein mengarahkan mereka supaya duduk di ruang makan sekaligus dapur. Audin dan Eva melihat seorang gadis lagi tengah memunggungi mereka ditemani suara gemericik air. Barulah setelah dua penghuni pindahan tadi duduk, gadis bercelemek itupun menoleh. Matanya mengerjap mendapati dua orang berwajah asing ada di sana.

“Mereka anak pindahan,” kata Zein sebelum Shin bertanya.

“Hai!” sapa Audin melambai rendah. “Aku Audin.”

“Aku Eva,” sambung yang lain.

“Ah… Mrs. Ruth memberitahuku akan ada tiga murid pindahan ke sini. Tapi kenapa baru ada dua?” tanya Shin. “Di mana yang satu lagi?”

Audin dan Eva saling berpandangan. Mereka kemudian menatap lagi Shin lalu mengangkat bahu.

“Kami bahkan tidak tahu ada satu lagi murid pindahan. Kami bahkan baru berkenalan di depan gerbang tadi,” kata Audin.

Shin mengangguk-angguk lalu melanjutkan kerjanya memasak makan malam.

Zein menarik kursi lalu duduk menghadap Audin dan Eva. Dari sorot matanya, jelas sekali kalau gadis itu sedang dalam suasana hati yang antusias.

“Sebelumnya kalian pasti sudah tahu, anak-anak yang ditempatkan di sini bukan anak-anak biasa,” jelas Zein. “Karena pengurus asrama ini mendirikannya dengan alasan mendasar seperti itu, kalian tak perlu sungkan. Apa kalian bidadari? Penyihir? Vampir? Atau… pengendali salah satu elemen?”

“Ah, aku…”

“Tunggu dulu!” Zein langsung memotong perkataan Audin. “Daripada langsung menjawabnya seperti itu, lebih baik kalian menunjukkan lebih dulu apa yang kalian miliki.”

Sedetik setelahnya, lilin di atas cawan yang diletakkan di atas meja tidak jauh dari sana mendadak menyala. Zein memperhatikan api kecil di lilin itu dengan perasaan takjub. Cahaya kecil yang indah, pikirnya.

“Siapa yang menyalakannya?”

“Aku,” jawab Eva.

“Wah! Kau pengendali api! Luar biasa sekali!” Zein bertepuk tangan. Dia lalu menoleh pada Audin. “Dan kau?”

“Aku…”

Jawaban Audin mendadak terpotong saat Zein tiba-tiba terkesiap melihat seorang gadis yang melayang di luar jendela.

“HANTU!!” Dia memekik.

Baik Audin, Eva, maupun Shin menoleh. Ketiganya sama-sama membelalak terkejut melihat penampakan gadis bergaun terusan putih melayang sambil tangan kanannya mengetuk-ngetuk kaca jendela, mengisyaratkan pada mereka untuk membuka jendela itu. Zein menoleh pada Shin. Dengan kedipan mata—ditambah pelototan galak, Shin memaksa Zein membukanya.

Akhirnya masuklah gadis itu—gadis yang nampak seringan bulu dengan rambut ikal berwarna cokelat terang dengan gaun terusan putih selutut. Kedua kakinya telanjang menyentuh lantai. Bibirnya pun menyunggingkan senyum sapa pada masing-masing orang di sana.

“Aku Lana,” katanya memperkenalkan diri.

“Ah.. murid pindahan juga?” tanya Shin. Gadis itu pun menangguk.

“Lengkap sudah ya,” ujar Eva sambil menekan-nekan layar ponsel.

“Kamar mandi di mana ya?” tanya Lana.

Zein menunjuk ke satu arah tempat kamar mandi berada dan gadis itu langsung enyah.

Anti-mainstream sekali dia. Sepertinya,” gumam Zein menggaruk-garuk belakang kepala. “Sepertinya dia bidadari. Melayang seperti itu biarpun tanpa sayap.”

“Kau belum memperkenalkan diri, omong-omong,” kata Eva menatap pada Zein.

“Aku Zein,” tanggap gadis itu sembari tersenyum. “Dia Shin. Kami juga pengendali. Tapi bukan elemen benda mati.”

“Kalian bisa tahu dengan melihat ada kandang di belakang asrama. Juga kebun bunga dan buah,” tambah Shin.

“Itu bukan kandang!” Zein protes keras.

Whatever.” Shin cuek. Selesai membumbui lobster, dia lalu memasukkannya ke dalam oven.

“Jadi..” Eva mengalihkan topik. “Ada berapa orang yang tinggal di sini?”

“Ditambah kalian bertiga, totalnya ada sembilan orang,” jawab Zein. “Siap-siap saja selama kalian tinggal di sini.” Dia tersenyum penuh arti.

Audin dan Eva pun saling berpandangan, masing-masing dipenuhi perasaan aneh.

Wounds Heal, Scar Left (3)

Jumat, 09 Oktober 2015



Pukul enam pagi saat Chan membawa dua bungkus plastik penuh belanjaan bersama motor tuanya ke Kembang Rasa—nama rumah makan itu. Dia masuk tanpa memperhatikan ada siapa di balik dinding kaca, karena memang biasanya tidak ada karyawan yang datang lebih pagi darinya. Begitu membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang dia punya, Chan pun membukanya dengan dorongan punggung. Saat itulah dia terperanjat mendapati seorang gadis bergaun terusan putih selutut tanpa lengan sedang mengelap kaca.

Kirana

Melihat Chan yang membelalak serta rongga dadanya yang kembang kempis, gadis yang sepertinya sepantaran anak-anak SMA itu tersenyum. Tangannya yang terangkat tinggi untuk mengelap pun beringsut ke bawah, lalu badan yang mungil dan ramping itupun menghadap ke arah Chan.

“Selamat pagi,” sapa Kirana. Nadanya begitu halus sampai getaran-getaran aneh menjalar di batin Chan.

Chan kemudian tersenyum mengangguk membalas gadis itu. Namun sedetik selanjutnya, dahi laki-laki itu berkerut menyadari ada yang salah. Saat akhirnya Chan mampu mencerna keadaan sekelilingnya dengan baik, barulah dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana adalah gadis itu—Kirana.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Chan bingung.

Mulut Kirana tetap terkatup sedangkan senyum tipis gadis itu tetap menghiasi wajahnya. Gantinya, kelopak mata gadis itu bergerak-gerak sedih ke bawah seolah kecewa dengan pertanyaan Chan barusan.

“Ma-maksudku… aku hanya penasaran bagaimana kau masuk ke sini padahal pintunya tadi belum dibuka,” kata Chan kelabakan. “Dan.. rumah makan ini belum buka, jadi..” Kalimat laki-laki itu terpotong melihat kain lap kotor yang dibawa Kirana. “Kau membersihkan kaca?”

Kirana tersenyum—seolah yang dilakukannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Chan. Gadis itu lalu mengalihkan perhatiannya lagi ke kaca untuk selanjutnya meneruskan mengelap.

Sesaat kemudian, Elmo—pemilik Kembang Rasa yang tinggal di rumah yang bangunannya berdiri tidak jauh dari sana, datang sambil menguap. Dia melihat Chan yang menenteng belanjaan dan hanya mengerutkan kening melihat laki-laki itu tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Sebelum Elmo menegurnya, Chan lebih dulu menyapa pria berumur akhir tiga puluhan yang sudah memiliki dua anak laki-laki itu.

“Mr. Mo, aku sudah membeli mentega yang kau minta,” kata Chan.

Elmo mengangguk.

“Taruh saja dalam kulkas,” katanya.

Chan menurut. Pandangannya belum juga berpindah dari Kirana sampai sosoknya benar-benar terhalang dinding dapur. Elmo sendiri memperhatikan tingkah salah satu karyawannya itu dengan kalem seolah tidak ada yang aneh. Dia pun menoleh juga, melihat gadis yang mengaku bernama Kirana itu sedang mengelap lagi—kali ini meja kayu yang mengkilap. Elmo membatin kalau dia sebenarnya juga merasa aneh membiarkan gadis itu bekerja.

Pertama kali melihatnya, Elmo tidak merasa kalau sosok gadis itu serupa dengan remaja seumurannya yang membutuhkan pekerjaan sambilan. Kulit yang pucat namun juga sebening kristal itu mengajukan permintaan bernada halus untuknya: yaitu dengan membiarkannya bekerja apabila Chan juga bekerja. Tentunya Elmo tidak akan semudah itu percaya kalau saja ayahnya tidak meneleponnya tiba-tiba—langsung dari Brazil, memintanya untuk membantu gadis itu. Elmo merasa agak janggal karena meski tahu gadis itu meminta sesuatu darinya, namun ayahnya merasa enggan menyebut namanya.

Elmo menghela napas panjang. Laki-laki itu menggaruk lehernya lalu kembali ke ruangan dalam. Dia masih mengantuk.

***

Kembang Rasa ramai saat makan siang tiba. Pengunjung yang rata-rata karyawan yang berkantor tidak jauh dari sana datang untuk mengisi perut. Memang tidak ada masalah. Chan hanya tertegun mendapati pandangan orang itu beberapa kali bahkan selalu melirik pada Kirana yang duduk manis di meja kasir. Gadis itu tidak terlihat sedang melamun, tapi Chan tahu matanya tidak menyorot ke mana pun.

Chan juga mengamati tiap tamu yang selesai makan lalu membayar makanan yang telah mereka habiskan. Kirana tidak mencatatnya—dia mencatat saat semua makanan dihidangkan pada tamu. Gadis itu juga tidak memanfaatkan kalkulator. Jadi sejak kapan dia menghitung?

Chan yang merasa tidak benar membiarkannya seperti itu lalu mendatangi Kirana selagi tamu mereka sudah cukup berkurang siang itu.

“Oh, Kirana… apa kamu sudah catat bill mereka tadi? Kamu memang sudah catat waktu mereka datang, tapi nggak ada salahnya kalau mengecek daftar harga, soalnya kamu kan baru di sini.”

Gadis serupa manekin itu tidak tersinggung sedikitpun. Dia bahkan tersenyum samar namun hangat pada Chan. Kepalanya menoleh sebentar untuk melongok ke dalam laci yang dia tarik. Detik selanjutnya dia menyerahkan sebuah note yang setengah penuh pada Chan.

“Maafkan..” Kirana berucap. “Aku pikir sudah menghafal harga menunya.. kalau ada yang salah hitung.. biar aku ganti..”

Chan tertegun. Dia membaca semua bill yang sudah gadis itu tuliskan dan otomatis tercengang. Bahkan Chan sendiri beberapa kali kelabakan ketika disuruh menghafal daftar harga menu di Kembang Rasa—karenanya dia selalu melihat daftar itu tiap bertugas jadi kasir. Tapi gadis itu menuliskan semuanya tanpa kesalahan.

“Oh, well…,” gumam Chan. “Maaf sudah komplain hal yang nggak perlu.”

Kirana menanggapinya dengan senyum—lagi-lagi melalui ekspresi yang selalu membuat Chan bertanya-tanya. Berdehem, Chan pun melanjutkan kerjanya yang lain. Seperginya dia, karyawan-karyawan lain yang seluruhnya laki-laki langsung menghampiri Kirana kala Kembang Rasa telah sepi.

“Kirana tinggal di mana?”

“Sekolah di mana?”

“Kenapa kerja di sini?”

Semacam itu. Namun Chan membiarkan mereka, mengabaikan kegelisahan yang tidak benar-benar mengganggunya—mulanya.

***

“Chan? Sudah mau pulang?” tanya Elmo. “Hendra mana? Tan? Cakra?”

“Kenapa?” tanya Chan heran setelah memasukkan paksa celana jeans-nya ke ransel.

“Kakak iparku yang nelayan, kemarin dapat tongkol. Panjangnya satu meter. Bantuin motongin yuk!”

“Serius?” Chan berbinar senang. Siapa tahu dia diberi beberapa potong dan gratis. “Boleh deh. Lagian nggak buru-buru pulang.” Laki-laki itu lalu menyerukan nama rekan kerjanya yang lain. Dia menyadari sesuatu dan buru-buru berkata pada Kirana yang berdiri mematung di belakangnya. “Kamu di sini saja ya. Jaga toko dulu. Pintunya boleh sekalian dikunci. Nggak buru-buru pulang kan?”

Kirana mengangguk sekali. Senyum Chan pun tersungging. Semua orang di toko itupun beranjak pergi meninggalkan gadis itu sendirian di sana.

Saat itulah, Chan tidak sengaja menyenggol tas ranselnya yang disampirkan di salah satu kursi kayu. Karena isinya pakaian, jadi tidak terlalu terdengar oleh sekumpulan orang yang berisik itu. Ketika mereka telah pergi, Kirana diam-diam memungutnya. Hampir seluruh isi tas ransel itu berisi pakaian-pakaian lusuh yang belum dicuci.  Perhatiannya Kirana jatuh pada jeans yang terakhir dimasukkan Chan ke sana. Banyak jahitan yang berantakan—seperti rusak parah tapi dipaksakan diperbaiki.

Gadis itu bangkit berdiri, menggantungkan jeans tadi pada lipatan sikunya sedang dia menempelkan ponsel ke telinga.

“Aku mau celana jeans untuk laki-laki. Ukurannya…” Dia melihat lagi pada jeans tadi, juga kemudian menyebutkan merk. “Aku mau yang sama persis,” tukasnya.

Kirana tidak peduli meski Chan menyuruhnya untuk tetap tinggal, karena saat ini ada hal lain yang perlu dia lakukan. Gadis itu tetap menempelkan layar ponsel ke telinganya sambil mengunci pintu sekeluarnya dia dari sana. Entah apa yang dia dengar, yang pasti sesaat kemudian, Kirana kembali mematung.

Identify.” Dia berkata. “Aku tidak punya urusan dengan sampah.. berlakulah semestinya.. pastikan aku mendapatkannya kembali.”

Ponsel itu langsung dimatikan, sementara pikiran gadis itu berkutat mengingat sebuah bros yang berkilauan berbentuk mawar.


Wounds Heal, Scar Left (2)

Jumat, 04 September 2015




Ketika pandangan laki-laki itu tidak lagi memperhatikan keramaian di depan rumah makan miliknya, kepalanya beralih menghadap lurus senada tubuhnya kini. Dia tertegun mendapati si Gadis yang barusan terjatuh menatapnya tanpa berkedip. Kontak mata mereka pun tersambung setidaknya beberapa detik. Kening laki-laki yang mengenakan celemek itupun berkerut menyadari sepasang mata itu mendadak berlinang. Dari jarak mereka yang dekat, dia yakin gadis itu sedang melihat ke arahnya. Tapi apakah mereka saling mengenal?

Berkedip seolah tersadar dari lamunan, gadis itulah yang duluan memutus kontak mata mereka. Dia menoleh ke samping, tepatnya ke bagian bawah. Laki-laki itupun mengikuti arah pandang gadis itu dan dia menemukan banyak tangkai mawar yang agak berserakan, keluar dari kertas pembungkusnya.

Si Gadis berjongkok memunguti mawar-mawarnya dengan hati-hati. Sebagian kelopak yang terlepas juga dipungutnya. Bahkan hanya dari sudut matanya pun si Laki-laki tahu, gadis itu merasa sangat sedih. Sorot matanya yang sendu tampak begitu menyayat hatinya. Berinisiatif, dia pun segera keluar dari dalam rumah makan untuk membantunya.

Laki-laki itu menyingsingkan lengan lalu berjongkok di depan si Gadis dan membereskan mawar-mawar tadi dengan cepat tanpa merusaknya. Warna merah kelopaknya mulai menggelap diterpa panas. Laki-laki itupun berpikir, jika terlihat begitu sedih, gadis itu pastilah membeli mawar tadi untuk sesuatu yang amat penting.

“Kau harus cepat-cepat menaruhnya dalam vas yang berisi air,” kata si Laki-laki, membuat gadis tadi menatapnya kembali.

Mereka bersamaan berdiri dan gadis itu memeluk erat bungkusan mawarnya di depan tubuh.

“Tasmu dicopet kan? Bagaimana kalau kau lapor polisi dulu?”

Alih-alih menjawab, genangan air di pelupuk mata gadis itu bertambah. Kelopak mata bawahnya tidak lagi bisa menampung hingga akhirnya setitik air matanya jatuh, mengalir di pipi kanan. Laki-laki itu terkejut lalu panik. Gadis di hadapannya menangis tanpa suara.

“Kau terluka? Mau masuk ke dalam dulu?”

Gadis itu lagi-lagi tidak menjawab. Namun kali ini kedua tangannya kemudian terangkat mengulurkan bungkusan mawar miliknya. Ke arah mana bunga merah itu disodorkan, membuat laki-laki di depannya tertegun tidak mengerti.

“Ambillah..,” kata gadis itu pelan. Mata sendunya semakin kuat menyorot. Secara tidak langsung memaksa si Laki-laki menerima pemberiannya tanpa perlu bertanya.

Setelah bungkusan mawar itu diambil, kedua sudut bibir gadis itu terangkat membentuk seulas senyum walaupun dua garis kemilau menghiasi pipinya. Senyum itu tidak hanya sekedar bermakna senang, namun melukiskan kebahagiaan tidak terkira meskipun laki-laki itu sendiri tidak tahu sebabnya.

Seolah-olah sebelum detik ini mereka bertemu, kehidupannya berkubang dalam air yang keruh dan mengental. Siapa pun tidak akan hidup lama di dalamnya. Tidak ada cahaya yang bisa meringsek masuk, juga tidak ada udara yang bisa dihirup.

“Chan! Chan! Dipanggil bos tuh!” seru seseorang dari dalam rumah makan.

Mendengar namanya disebut, laki-laki itupun mendesah keras. Awalnya dia bersyukur karena rumah makan mereka sepi pengunjung. Memang bukan hal yang menguntungkan, tapi setidaknya dia bisa melakukan aktivitas yang lain, seperti… melanjutkan pahatan kemarin?

“Kau mau masuk ke dalam?” tawar laki-laki bernama Chan itu. “Aku bisa membuatkanmu teh hangat.” Buru-buru dia menambahkan saat teringat tas gadis itu baru saja dicuri. “Gratis.”

Gadis itu tersenyum pertanda merespon baik. Mereka lalu masuk ke dalam. Chan langsung menghambur ke ruangan dalam, meninggalkan gadis yang diajaknya—yang bahkan belum dipersilakan duduk. Satu orang lagi laki-laki di sana yang sepertinya pelayan berlari kecil menghampirinya lalu menarik sebuah kursi.

Si Gadis lagi-lagi tersenyum dengan satu kedipan yang lambat dan tenang sebagai ganti ucapan terimakasih.

“Chan! Chan!!” Pelayan tadi tiba-tiba melingkarkan lengannya ke leher Chan setelah berlari masuk ke dapur. Saat itu Chan sudah menyelesaikan pembicaraan singkatnya dengan seorang pria tua pemilik rumah makan tersebut. “Siapa itu? Cewek itu! Cakep betul! Pacar kau?” tanya Hendra—teman Chan dengan logat batak.

“Bukan.” Chan menjawab sambil mengaduk gula dalam segelas teh yang dia buat. “Dia yang tadi kecopetan.”

“Kau yang ajak ke sini?”

“Masa’ aku biarin?” Pandangan Chan mengarah pada segunung tangkai mawar yang masih ada dalam kantong kertas. Bunga-bunga itu benar-benar akan layu kalau tidak buru-buru ditaruh vas berisi air. “Dra, cariin vas dong. Kalau nggak ada, botol plastik bolehlah. Taruh tuh bunga di tempat yang ada airnya ya.”

“Kau dapat darimana mawar banyak sekali itu?”

“Tanyanya ntar aja, aku mau kasih teh hangat dulu.”

Hendra mengangguk. Pipinya tidak berhenti mengembang mengulum senyum yang apabila dibiarkan bisa-bisa meluber ke mana-mana.

Gadis tadi menempati meja yang nyaris menempel pada bingkai kayu jendela. Dari arah kepalanya, Chan bisa menebak kalau gadis itu sedang memandang keluar. Bahkan boleh jadi dia sedang melamun. Mungkin dia sangat sedih karena tasnya baru saja dibawa kabur. Di dalam tasnya paling tidak berisi dua hal yang penting: dompet dan ponsel. Orang mana yang bisa tenang kalau dua benda itu direbut paksa darinya?

“Minumlah dulu,” kata Chan setelah menaruh segelas teh hangat di depan gadis itu. Kantong tehnya masih melayang di dalamnya.

Gadis itu mengalihkan pandangannya lalu menatap Chan. Ekspresinya terlihat begitu tenang diselimuti kesan damai. Tidak terlihat perasaan gelisah atau cemas yang diduga Chan. Dia akui, Hendra tidak melebih-lebihkan kata-katanya kali ini, meski keseringan laki-laki itu sering mengobral kata cantik pada gadis-gadis yang bersliweran di pasar sekalipun. Gadis di depannya memang amat cantik. Orang mana pun pasti akan setuju dengan pendapat ini.

Melihatnya, Chan jadi mengingat seorang gadis yang mulanya terlahir sebagai manusia, kemudian berubah menjadi vampir karena digigit kekasih vampirnya. Kulit gadis itu nyaris sepucat susu yang menggenang dalam wadah bening. Wajah ovalnya yang kecil berlindung pada rambut hitamnya yang cukup tipis namun lembut dan jatuh. Chan ingat gerak mulut gadis itu ketika berucap tadi. Sepasang bibirnya tidak digerakkan dengan benar, mungkin karena itulah suara yang keluar sungguh pelan. Meskipun sisi luarnya juga pucat serupa warna kulit, makin ke dalam warna bibir itu merekah merah, menunjukkan kalau darah juga mengalir di sana. Bentuk hidungnya simetris sempurna, tidak begitu mancung namun indah. Sementara itu sepasang matanya yang masih menyisakan sendu nampak jernih serupa air mengalir yang tidak jauh dari sumber dia berasal.

Garis-garis wajah itu memaparkan kemudaannya dengan jelas. Mungkin usianya beberapa tahun di bawah Chan. Juga yang membuat Chan penasaran, rupa gadis itu punya nada guratan yang asing. Memang ada semburat khas wajah Indonesia darinya, namun Chan juga menangkap sisi oriental gadis itu. Mungkin dia blasteran Jepang atau semacamnya?

Menerima tatapan menyelidik Chan, gadis itu tersenyum penuh arti seolah tahu semua yang dipikirkannya saat ini.

“Namamu Chan?” tanya gadis itu kemudian.

Chan mengangguk. “Kedengaran Asia sekali ya? Namaku Chandler, tapi anak-anak di sini lebih suka memanggilku Chan.”

“Kau suka memahat lilin?”

 
Chan mengerjap. Dia memang suka memahat. Namun bukan bongkahan kayu-kayu besar, melainkan kayu-kayu yang berukuran kecil dengan ukiran yang rumit dan detil. Tapi kenapa gadis itu lebih memilih menebak kalau yang dipahatnya adalah benda bertekstur halus dan berminyak seperti lilin?

Sebelum Chan balik bertanya, gadis itu lebih dulu meneruskan kata-katanya.

“Kau sering menggunakan pisau kecil dan menekan sisi atasnya. Tampak jelas dari jari telunjukmu..,” ujar si Gadis bernada halus. “Lilin…” Dia berucap, awalnya menggantung. “Namamu.. bermakna si Pembuat lilin..”

Chan terdiam namun beberapa detik kemudian tertawa.

“Coba saja kalau kau pakai baju formal, seperti pakaian kantoran. Aku pasti akan kira kau semacam detektif atau jaksa. Yah.. semacam itu,” katanya. “Jarang sekali orang bisa nebak seperti itu. Aku memang suka memahat, tapi kayu, bukan lilin. Tapi namaku memang berarti si Pembuat lilin.”

Gadis itu menanggapinya lagi dengan senyuman yang Chan tidak bisa artikan. Sedetik, matanya menyorot kosong, namun kemudian fokus lagi seolah berupaya mengenal Chan lebih jauh biarpun tidak banyak kalimat tanya yang dia lontarkan. Kedua tangan gadis itu menangkup pada gelas tehnya, seperti menyerap semua kehangatan yang ada di sana.

“Ah.. bagaimana pencopet tadi ya? Sudah tertangkap belum? Kau pasti khawatir ya?” ujar Chan.

“Sedikit..,” jawab gadis itu pelan.

“Aku bisa menemani kau ke kantor polisi nanti. Yang penting kau tenangkan diri dulu. Oh ya. Namamu siapa?”

Jeda. Senyum yang menghias wajah gadis itu sempat menghilang, berganti dengan ekspresi enggan yang menyimpan sinar redup. Untunglah kemudian, keramahan gadis itu kembali, namun dengan respon yang tidak Chan duga.

“Apa pun yang kau sukai..”

“Hah?” Alis Chan terangkat bingung.

Si Gadis lagi-lagi tersenyum penuh arti.

“Kau bisa memanggilku apa pun yang kau mau..,” katanya.

“Kenapa?” tanya Chan heran.

“Hanya.. aku ingin tahu menurutmu, nama apa yang akan kau berikan ketika bertemu denganku.” Pandangan gadis itu menerawang mengingat sekilas memori yang meninggalkan luka sayatan di hatinya.

Seorang laki-laki dengan tawa renyah yang hangat, pada akhirnya berselimut kebekuan dan menghilang tenggelam ke dalam laut hitam.

Masih dengan pikiran heran dan bertanya-tanya, Chan awalnya bingung bagaimana merespon gadis itu. Tapi begitu melihat wajah murungnya, Chan merasa bisa menghiburnya hanya dengan memberi gadis itu sebuah nama yang cantik, sesuai sosoknya kini.

“Aku… boleh memanggilmu Kirana?”