Welcome to Disaster Maker Club (2)

Selasa, 17 November 2015



Gadis itu berjinjit mencoba mengambil obat kumur yang ada di laci gantung dekat kamar mandi tapi tidak kunjung bisa meraihnya. Menggembungkan pipi, dia pun melayang sedikit hingga obat kumur dalam botol kecil itu akhirnya berada dalam genggamannya. Dia lalu meraih tasnya sendiri kemudian mengeluarkan sebuah mug, sebatang sikat gigi yang masih tersegel, juga bebek karet. Membuka mulut, dia lalu bercermin, memastikan bagian mana yang harus disikat baik-baik kalau tidak ingin sisa cokelat yang dimakannya tadi menciptakan karang.

Sesudah menggosok gigi dan berkumur, dia pun kembali ke kamar. Letaknya ada di lantai dua. Gadis itu memperhatikan tangga di depannya sekilas lalu melayang naik. Barulah ketika sampai di lantai puncak, kakinya berpijak lagi di lantai.

Tepat saat itulah, pintu di belakangnya dibuka. Gadis itu menoleh dan sontak menjerit sejadi-jadinya sampai-sampai seluruh penghuni rumah merasakan bumi berguncang. Lupa akan kemampuannya melayang, gadis itupun terjengkang lemas kemudian berguling menciumi satu per satu anak tangga. Suaranya berkali-kali lipat lebih keras tatkala dia sampai di lantai dasar. Badannya tengkurap dengan kepala yang nyaris saja membentur pintu.

Beberapa detik selanjutnya, pintu itu dibuka. Gadis tadi mengerang lalu mendongak setelah sadar kalau di depan wajahnya persis, terlihat sepasang kaki.

Seorang laki-laki berambut keemasan tengah menatapnya heran. Dia lalu jongkok untuk melihat wajah si Gadis lebih dekat.

“Wajah baru,” ujarnya. “Kau siapa?”

Gadis itu bengong sesaat. Ketika kesadarannya kembali, dia buru-buru menegakkan punggung untuk menyetarakan tinggi mereka.

“Aku baru di sini. Namaku Lana.”

“Ah, pindahan ya?” Laki-laki itu tersenyum manis dan ramah. Senyuman itu bahkan membuat Lana merasa sempat berhenti bernapas. Dia mengulurkan tangannya pada Lana, mengajak bersalaman. “Aku Snare. Salam kenal.”

Lana menyambut uluran tangan itu. Dia sedikit terkesiap ketika Snare justru langsung menarik tangannya hingga di antara mereka tidak ada lagi jarak. Dada Snare menekan tubuh Lana hingga gadis itu bisa merasakan napas Snare dekat telinganya.

“Kau harum sekali. Apa golongan darahmu?” tanya Snare.

“Hah?” Lana mengangkat alis bingung.

Sedetik kemudian sebuah sepatu meluncur dari atas dan seketika menghantam kepala Snare. Lana langsung menarik tubuhnya menjauh. Matanya mengerjap kala melihat Snare tertawa geli.

“Jus tomatmu ada di kulkas,” kata suara yang ditangkap Lana. Suara itu terdengar diiringi langkah kaki seseorang yang menuruni tangga.

Snare dan Lana lalu berdiri. Lana menoleh ke belakang dan dia refleks membelalakkan mata serta menutup mulutnya dengan tangan. Orang itulah yang membuatnya serasa kena serangan jantung tadi. Seseorang yang berwajah putih mengerikan ditambah sorot matanya yang setajam silet.

Namun ketika Lana dan orang itu saling berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat, Lana pun dapat bernapas lega. Ternyata dia hanyalah gadis seumurannya yang sedang memakai masker.

Berbeda dengan sambutan Snare tadi, gadis itu melengos begitu saja lalu menghilang di balik dinding kamar mandi.

“Siapa itu?” tanya Lana pada Snare.

Snare tersenyum. Alih-alih menjawab, dia memberitahu hal lain, “Kepalamu benjol.”

***

Sore hari berikutnya, mumpung sekolah mereka masih libur, dua laki-laki dalam asrama itu mem-booking televisi ruang tengah untuk bermain game petualangan Silent Hill. Karena player hanya bisa satu, kali ini giliran laki-laki berambut jabrik dan bertubuh bagaikan ranting yang memainkannya.

Keringat dingin mengucur menganak sungai melewati pelipis hingga meluncur ke leher. Tangannya bahkan gemetaran, terus bertanya-tanya dalam hati apakah ada mayat bergerak yang mengikuti di belakangnya, ataukan ada tengkorak terbang yang ingin menggorok lehernya.

“Laz, kiri. Kiri kataku!” suruh laki-laki di sebelahnya tidak kalah tegang.

“Bukannya kanan?” tanya Laz bimbang sekaligus takut.

“Nanti kalau kanan, kau jalannya ke kuburan! Banyak monster belatungnya!”

“Oh, oke.. bentar…”

Laz pun menurut. Dia mengarahkan player supaya berjalan ke kiri.  Tapi kurang dari semenit selanjutnya, mayat tanpa kepala menghampirinya. Laz pun memekik sejadi-jadinya sedangkan partner jahanam yang menjerumuskannya tertawa terbahak-bahak sampai tersedak.

“BERISIK!!! TOPLES TEPUNGNYA JATUH!!!” teriak Shin membuat dua kaum Adam itu menoleh ke arah dapur. Mereka mendapati kabut putih pekat menyelimuti udara di sana.

Audin dan Eva hadir di saat yang salah. Sampai dekat dapur mereka langsung bersin dan batuk-batuk. Eva menutup hidungnya menggunakan dua jari sedangkan Audin meniup-niup butir-butir tepung yang berterbangan—semakin ia melakukannya, semakin hebat bersinnya hingga terdengar bunyi-bunyi aneh di pekarangan.

“Tepung?” Eva mengernyit memandang ke sekeliling. Mendadak di otaknya lewat secuil ide brilian. “Coba nyalakan kompor,” sarannya.

“Memang kalau kompor menyala, tepungnya langsung hilang?” tanya Audin lalu bersin lagi.

Eva tersenyum meyakinkan pada Shin untuk menyalakan kompor. Ragu, Shin akhirnya menurut juga. Dia tidak sempat mendengar teriakan seseorang yang buru-buru menuruni tangga.

“SHIN!!! JANGAAAANNN!!!!!!”

Cklek! BLAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!!!!

***

“Jadi… Eero membuat ulah lagi..?” tanya seorang pria dewasa yang bercambang kasar melihat ruang tengah asrama yang menjadi tanggung jawabnya enam puluh persen hancur dan penuh warna jelaga.

“Bukan aku!” sangkal laki-laki yang pria itu sebut namanya dengan keras serta membeo.

“Kau yakin?” Pria tadi mengangkat alis. Dia lalu beralih memandang para penghuni perempuan. “Ada apa dengan perempuan-perempuan di sini?” tanyanya melihat Shin, Audin, Eva, Zein, dan satu lagi gadis berwajah keruh, berpenampilan berantakan. Sebagian wajah mereka hitam legam dengan rambut yang amburadul.

“Aku tak tahu, Sir,” jawab Zein polos. “Sir tahu kamarku ada tepat di atas dapur. Waktu itu aku sedang menyisir bulu Pompom dan tiba-tiba DUARR!!! Aku terlempar dan menghantam genting sampai hancur. Lihat, kepalaku benjol.”

Shin, Audin, dan Eva diam. Namun bukan diam karena bingung harus mengadu atau tidak seperti yang Shin dan Audin lakukan, Eva diam karena dia mati-matian mengulum senyum.

“Tidak ada yang mau mengaku?” Mr. Elios kembali bertanya. Pandangannya lalu mengarah pada si Gadis berwajah keruh yang berdiri paling pinggir dari para gadis itu. “Ada yang mau kau katakan, Agatha?”

Anak-anak itu langsung menoleh pada gadis yang namanya disebut Mr. Elios. Gadis itu berdiri dengan tangan menyilang juga bibir yang terus-terusan menekan. Shin ingat. Agathalah yang berteriak keras melarangnya menyalakan kompor, tapi sayang terlambat.

“Ada iblis di sini,” kata Agatha lalu mendelik pada Eva, sementara gadis pengendali api itu bermain-main dengan udara yang memenuhi mulutnya hingga pipi gadis itu mengembung.

“Vampir maksudmu? Snare?” tanya Mr. Elios lagi. “Atau memang ada vampir di antara murid pindahan?”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau begitu, coba beritahu aku, bagaimana bisa dapurnya meledak?”

“Laz dan Eero mengagetkanku saat sedang menggeledah tepung,” papar Shin. “Ada yang bilang tepungnya bisa hilang kalau saya menyalakan kompor. Agatha sampai terjungkal dari tangga untuk menghentikan saya, tapi…”

“DUARR!! Just like that!” sambung Zein lalu terkekeh.

“Ah… tepung..,” gumam Mr. Elios mengangguk-angguk. “Itu pasti tepung kualitas baik dengan butiran yang sangat kecil dan lebih ringan dari debu…”

“Ya,” tambah Agatha. “Orang idiot macam apa yang tidak tahu soal kejadian pabrik tepung meledak di Minnesota?”

Shin menelan ludah dan memutar bola mata.

Setelah berdecap, Agatha beranjak pergi setelah melemparkan pandangan tajam lagi pada Eva yang justru membalasnya dengan seulas senyum licik.

Mr. Elios menghela napas panjang, menyimpulkan kejadian itu sebagai kecelakaan yang tidak disengaja. Tatapannya lalu beralih pada Audin.

“Aku bisa mengandalkanmu kan?” katanya.

Yes, Sir,” jawab Audin sembari tersenyum.

Zein dan Shin saling berpandangan. Tahu-tahu, sebagian tanah di sekeliling mereka bergerak masuk ke dalam asrama.

***

Beruntung ketika saat kejadian, Snare sedang tidak ada di asrama. Laki-laki itu sedang berjalan-jalan di tengah kota ketika hari beranjak malam. Dia melihat seorang wanita yang tampak resah menunggu di depan sebuah gedung bioskop. Wanita dewasa yang penuh aroma parfum yang menyegarkan. Snare punya penciuman yang amat tajam meskipun posisinya lumayan jauh dari wanita itu.

“Menunggu seseorang?” tanya Snare saat mendekati wanita tadi.

“Eh? I-iya..,” jawab wanita itu ragu-ragu sekaligus terpesona melihat wajah Snare yang begitu tampan dan berpenampilan amat maskulin. Muda namun menggoda.

“Mungkin dia takkan datang,” kata Snare. “Bagaimana kalau kutemani saja?”

Sang Wanita tampak tak bisa berkata apa pun untuk menolaknya.

Snare tersenyum lalu menggumam pelan, “Aku selalu terpesona pada gadis bergolongan darah A…”

Welcome to Disaster Maker Club (1)



Entahlah. Asrama itu tampak biasa sekali. Rumornya anak-anak yang tinggal di dalamnya adalah pembuat bencana. Mungkin memang itu kepanjangannya dari huruf DM beserta angka 9 yang turut terpampang di papan yang miring dekat gerbang: Disaster Maker. Audin sendiri langsung begidik ketika menatap bangunan yang sekilas terlihat seperti rumah pada umumnya. Sejauh ini, rumor-rumor itu sukses membuatnya menilai kalau asrama DM angker.

Audin masih mendebat dalam diri apakah dia akan langsung masuk atau tidak ketika seseorang melangkah tepat di belakangnya. Seorang gadis memakai jaket jingga bertudung, juga jeans hitam, lalu dari lutut sampai ujung kaki tertutup sepasang boots hitam berhak. Audin baru menyadari kehadirannya saat gadis itu hanya beberapa senti jaraknya dari bahu kiri.

“Apa ini asrama DM?” tanyanya pada Audin.

Audin mengangguk. “Ya. Kalau aku tidak salah alamat—tentu saja.”

Gadis tadi memiringkan mata menatap Audin. Bukan hanya mata, namun dari ujung kepala sampai ujung kaki gadis itu. Bukan pandangan meremehkan, hanya saja sorot penuh menyelidik itu cukup membuat Audin merasa tidak nyaman.

“Siswa baru juga? Atau pindahan?” tanya si Gadis berjaket jingga.

“Pindahan,” jawab Audin pendek.

Gadis itu mengangguk-angguk setelah merasa selesai meneliti tiap sudut sosok Audin di depannya. Caranya berpakaian santai sekali seperti orang yang sedang berjalan mencari angin di sore hari. Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya kaus biru lengan panjang, juga jeans pendek selutut berwarna abu-abu. Di punggungnya terdapat ransel berukuran sedang yang tampak tidak terlalu bervolume. Mungkin isinya hanya beberapa helai baju.

“Sama,” kata si Gadis kemudian setelah lebih dulu menyingkirkan tudung yang menutup kepalanya. “Aku Eva. Kau siapa?”

“Audin.”

“Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Aku lapar.. mereka seharusnya sudah menyiapkan makan malam.”

Audin mengangguk sembari mengelus perutnya.

***

“Zein,” panggil seorang gadis bercelemek yang sedang berjongkok menghadap rak lemari es yang terbuka.

Bukannya menyahut, orang yang gadis itu panggil justru mulai menyanyikan lirik lagu yang dia dengar menggunakan headset. Tidak cukup sampai di situ, dia beranjak dari kursinya lalu mulai menari ala-ala gadis Hawai.

Si Gadis bercelemek menoleh ke belakang melihat tingkah gadis yang dia panggil Zein tadi. Sesaat dia terbengong, selanjutnya paru-parunya mengembang, menghela napas sebanyak-banyaknya.

“ZEIN ADA TIKUS KEJEPIT DI JEBAKAN!!!”

Teriakan tadi sontak membuat Zein terperanjat juga langsung mencopot headset yang menyumpal telinganya. Sesuai perkiraan gadis iseng tadi, Zein panik mencari jebakan yang dimaksud ke sana kemari. Idiotnya dia sampai merayap di dinding demi melongok keluar lewat lubang ventilasi.

“Penyihir sialan itu…,” gerutu Zein dengan mata melotot menyebut seorang wanita yang jadi penghuni rumah di samping tempat tinggal mereka. “Benar-benar tidak menghargai nilai hidup seekor makhluk!”

“Ya ya ya.” Gadis di dekat kulkas menanggapi. “Kemari kau!”

“Aku harus menyelamatkan tikus malang itu!” protes Zein. “Eh, tapi… kenapa rumah penyihir itu gelap?”

“Karena dia sedang pergi menjenguk ibunya. Kalau kau tidak ke sini juga, entah berapa jam lagi makan malam akan siap.”

Zein menoleh. Matanya menyipit. Beberapa saat mencerna, barulah dia paham kalau gadis itu—Shin telah mengerjainya lagi. Mulut Zein komat-kamit mengumpat Shin. Meski begitu dia menurut. Kakinya yang berada satu meter di atas lantai sesaat kemudian beringsut.

“Kau mau masak apa? Aku kepingin terong balado,” kata Zein tak tahu malu sambil mengusap-usap perut.

“Bagaimana ya…?” Shin menggumam. “Aku mau masak lobster.”

Zein memekik tertahan. Cuek, Shin langsung menutup kulkas setelah mengambil lobster beku dan plastik berisi dua terong ungu. Menaruh lobster beku tadi dalam baskom lalu merendamnya di air, Shin mendengar bel rumah mereka dibunyikan.

“Buka pintunya,” pinta Shin direspon anggukan Zein.

Gadis yang sepertinya selalu punya kelebihan energi itupun berlari kecil untuk membukakan pintu. Rambut ikal hitamnya diikat tinggi-tinggi di belakang kepala sedang poni serta anak-anak rambut Zein berantakan. Dia memakai kaus santai kuning tanpa lengan serta celana pendek. Ketika membuka pintu itu dan melihat siapa yang datang, meskipun tidak kenal siapa mereka, Zein tersenyum lebar memamerkan gigi.

“Selamat sore! Mau bertemu siapa? Masuk-masuk!” sambut gadis itu bernada ceria.

“Ah, anu..,” balas tamu yang berkaus biru. “Kami siswa pindahan…”

“Oh ya? Wah! Kupikir kalian baru datang besok!” Zein tertawa. “Masuklah! Shin sedang masak. Mau aku bikinkan teh?”

Yes, please.” Kali ini gadis yang berjaket jingga menyahut tanpa sungkan.

Mereka bertiga lalu masuk ke dalam, tapi bukan berhenti di ruang tamu. Zein mengarahkan mereka supaya duduk di ruang makan sekaligus dapur. Audin dan Eva melihat seorang gadis lagi tengah memunggungi mereka ditemani suara gemericik air. Barulah setelah dua penghuni pindahan tadi duduk, gadis bercelemek itupun menoleh. Matanya mengerjap mendapati dua orang berwajah asing ada di sana.

“Mereka anak pindahan,” kata Zein sebelum Shin bertanya.

“Hai!” sapa Audin melambai rendah. “Aku Audin.”

“Aku Eva,” sambung yang lain.

“Ah… Mrs. Ruth memberitahuku akan ada tiga murid pindahan ke sini. Tapi kenapa baru ada dua?” tanya Shin. “Di mana yang satu lagi?”

Audin dan Eva saling berpandangan. Mereka kemudian menatap lagi Shin lalu mengangkat bahu.

“Kami bahkan tidak tahu ada satu lagi murid pindahan. Kami bahkan baru berkenalan di depan gerbang tadi,” kata Audin.

Shin mengangguk-angguk lalu melanjutkan kerjanya memasak makan malam.

Zein menarik kursi lalu duduk menghadap Audin dan Eva. Dari sorot matanya, jelas sekali kalau gadis itu sedang dalam suasana hati yang antusias.

“Sebelumnya kalian pasti sudah tahu, anak-anak yang ditempatkan di sini bukan anak-anak biasa,” jelas Zein. “Karena pengurus asrama ini mendirikannya dengan alasan mendasar seperti itu, kalian tak perlu sungkan. Apa kalian bidadari? Penyihir? Vampir? Atau… pengendali salah satu elemen?”

“Ah, aku…”

“Tunggu dulu!” Zein langsung memotong perkataan Audin. “Daripada langsung menjawabnya seperti itu, lebih baik kalian menunjukkan lebih dulu apa yang kalian miliki.”

Sedetik setelahnya, lilin di atas cawan yang diletakkan di atas meja tidak jauh dari sana mendadak menyala. Zein memperhatikan api kecil di lilin itu dengan perasaan takjub. Cahaya kecil yang indah, pikirnya.

“Siapa yang menyalakannya?”

“Aku,” jawab Eva.

“Wah! Kau pengendali api! Luar biasa sekali!” Zein bertepuk tangan. Dia lalu menoleh pada Audin. “Dan kau?”

“Aku…”

Jawaban Audin mendadak terpotong saat Zein tiba-tiba terkesiap melihat seorang gadis yang melayang di luar jendela.

“HANTU!!” Dia memekik.

Baik Audin, Eva, maupun Shin menoleh. Ketiganya sama-sama membelalak terkejut melihat penampakan gadis bergaun terusan putih melayang sambil tangan kanannya mengetuk-ngetuk kaca jendela, mengisyaratkan pada mereka untuk membuka jendela itu. Zein menoleh pada Shin. Dengan kedipan mata—ditambah pelototan galak, Shin memaksa Zein membukanya.

Akhirnya masuklah gadis itu—gadis yang nampak seringan bulu dengan rambut ikal berwarna cokelat terang dengan gaun terusan putih selutut. Kedua kakinya telanjang menyentuh lantai. Bibirnya pun menyunggingkan senyum sapa pada masing-masing orang di sana.

“Aku Lana,” katanya memperkenalkan diri.

“Ah.. murid pindahan juga?” tanya Shin. Gadis itu pun menangguk.

“Lengkap sudah ya,” ujar Eva sambil menekan-nekan layar ponsel.

“Kamar mandi di mana ya?” tanya Lana.

Zein menunjuk ke satu arah tempat kamar mandi berada dan gadis itu langsung enyah.

Anti-mainstream sekali dia. Sepertinya,” gumam Zein menggaruk-garuk belakang kepala. “Sepertinya dia bidadari. Melayang seperti itu biarpun tanpa sayap.”

“Kau belum memperkenalkan diri, omong-omong,” kata Eva menatap pada Zein.

“Aku Zein,” tanggap gadis itu sembari tersenyum. “Dia Shin. Kami juga pengendali. Tapi bukan elemen benda mati.”

“Kalian bisa tahu dengan melihat ada kandang di belakang asrama. Juga kebun bunga dan buah,” tambah Shin.

“Itu bukan kandang!” Zein protes keras.

Whatever.” Shin cuek. Selesai membumbui lobster, dia lalu memasukkannya ke dalam oven.

“Jadi..” Eva mengalihkan topik. “Ada berapa orang yang tinggal di sini?”

“Ditambah kalian bertiga, totalnya ada sembilan orang,” jawab Zein. “Siap-siap saja selama kalian tinggal di sini.” Dia tersenyum penuh arti.

Audin dan Eva pun saling berpandangan, masing-masing dipenuhi perasaan aneh.

Wounds Heal, Scar Left (3)

Jumat, 09 Oktober 2015



Pukul enam pagi saat Chan membawa dua bungkus plastik penuh belanjaan bersama motor tuanya ke Kembang Rasa—nama rumah makan itu. Dia masuk tanpa memperhatikan ada siapa di balik dinding kaca, karena memang biasanya tidak ada karyawan yang datang lebih pagi darinya. Begitu membuka pintu menggunakan kunci duplikat yang dia punya, Chan pun membukanya dengan dorongan punggung. Saat itulah dia terperanjat mendapati seorang gadis bergaun terusan putih selutut tanpa lengan sedang mengelap kaca.

Kirana

Melihat Chan yang membelalak serta rongga dadanya yang kembang kempis, gadis yang sepertinya sepantaran anak-anak SMA itu tersenyum. Tangannya yang terangkat tinggi untuk mengelap pun beringsut ke bawah, lalu badan yang mungil dan ramping itupun menghadap ke arah Chan.

“Selamat pagi,” sapa Kirana. Nadanya begitu halus sampai getaran-getaran aneh menjalar di batin Chan.

Chan kemudian tersenyum mengangguk membalas gadis itu. Namun sedetik selanjutnya, dahi laki-laki itu berkerut menyadari ada yang salah. Saat akhirnya Chan mampu mencerna keadaan sekelilingnya dengan baik, barulah dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana adalah gadis itu—Kirana.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Chan bingung.

Mulut Kirana tetap terkatup sedangkan senyum tipis gadis itu tetap menghiasi wajahnya. Gantinya, kelopak mata gadis itu bergerak-gerak sedih ke bawah seolah kecewa dengan pertanyaan Chan barusan.

“Ma-maksudku… aku hanya penasaran bagaimana kau masuk ke sini padahal pintunya tadi belum dibuka,” kata Chan kelabakan. “Dan.. rumah makan ini belum buka, jadi..” Kalimat laki-laki itu terpotong melihat kain lap kotor yang dibawa Kirana. “Kau membersihkan kaca?”

Kirana tersenyum—seolah yang dilakukannya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Chan. Gadis itu lalu mengalihkan perhatiannya lagi ke kaca untuk selanjutnya meneruskan mengelap.

Sesaat kemudian, Elmo—pemilik Kembang Rasa yang tinggal di rumah yang bangunannya berdiri tidak jauh dari sana, datang sambil menguap. Dia melihat Chan yang menenteng belanjaan dan hanya mengerutkan kening melihat laki-laki itu tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Sebelum Elmo menegurnya, Chan lebih dulu menyapa pria berumur akhir tiga puluhan yang sudah memiliki dua anak laki-laki itu.

“Mr. Mo, aku sudah membeli mentega yang kau minta,” kata Chan.

Elmo mengangguk.

“Taruh saja dalam kulkas,” katanya.

Chan menurut. Pandangannya belum juga berpindah dari Kirana sampai sosoknya benar-benar terhalang dinding dapur. Elmo sendiri memperhatikan tingkah salah satu karyawannya itu dengan kalem seolah tidak ada yang aneh. Dia pun menoleh juga, melihat gadis yang mengaku bernama Kirana itu sedang mengelap lagi—kali ini meja kayu yang mengkilap. Elmo membatin kalau dia sebenarnya juga merasa aneh membiarkan gadis itu bekerja.

Pertama kali melihatnya, Elmo tidak merasa kalau sosok gadis itu serupa dengan remaja seumurannya yang membutuhkan pekerjaan sambilan. Kulit yang pucat namun juga sebening kristal itu mengajukan permintaan bernada halus untuknya: yaitu dengan membiarkannya bekerja apabila Chan juga bekerja. Tentunya Elmo tidak akan semudah itu percaya kalau saja ayahnya tidak meneleponnya tiba-tiba—langsung dari Brazil, memintanya untuk membantu gadis itu. Elmo merasa agak janggal karena meski tahu gadis itu meminta sesuatu darinya, namun ayahnya merasa enggan menyebut namanya.

Elmo menghela napas panjang. Laki-laki itu menggaruk lehernya lalu kembali ke ruangan dalam. Dia masih mengantuk.

***

Kembang Rasa ramai saat makan siang tiba. Pengunjung yang rata-rata karyawan yang berkantor tidak jauh dari sana datang untuk mengisi perut. Memang tidak ada masalah. Chan hanya tertegun mendapati pandangan orang itu beberapa kali bahkan selalu melirik pada Kirana yang duduk manis di meja kasir. Gadis itu tidak terlihat sedang melamun, tapi Chan tahu matanya tidak menyorot ke mana pun.

Chan juga mengamati tiap tamu yang selesai makan lalu membayar makanan yang telah mereka habiskan. Kirana tidak mencatatnya—dia mencatat saat semua makanan dihidangkan pada tamu. Gadis itu juga tidak memanfaatkan kalkulator. Jadi sejak kapan dia menghitung?

Chan yang merasa tidak benar membiarkannya seperti itu lalu mendatangi Kirana selagi tamu mereka sudah cukup berkurang siang itu.

“Oh, Kirana… apa kamu sudah catat bill mereka tadi? Kamu memang sudah catat waktu mereka datang, tapi nggak ada salahnya kalau mengecek daftar harga, soalnya kamu kan baru di sini.”

Gadis serupa manekin itu tidak tersinggung sedikitpun. Dia bahkan tersenyum samar namun hangat pada Chan. Kepalanya menoleh sebentar untuk melongok ke dalam laci yang dia tarik. Detik selanjutnya dia menyerahkan sebuah note yang setengah penuh pada Chan.

“Maafkan..” Kirana berucap. “Aku pikir sudah menghafal harga menunya.. kalau ada yang salah hitung.. biar aku ganti..”

Chan tertegun. Dia membaca semua bill yang sudah gadis itu tuliskan dan otomatis tercengang. Bahkan Chan sendiri beberapa kali kelabakan ketika disuruh menghafal daftar harga menu di Kembang Rasa—karenanya dia selalu melihat daftar itu tiap bertugas jadi kasir. Tapi gadis itu menuliskan semuanya tanpa kesalahan.

“Oh, well…,” gumam Chan. “Maaf sudah komplain hal yang nggak perlu.”

Kirana menanggapinya dengan senyum—lagi-lagi melalui ekspresi yang selalu membuat Chan bertanya-tanya. Berdehem, Chan pun melanjutkan kerjanya yang lain. Seperginya dia, karyawan-karyawan lain yang seluruhnya laki-laki langsung menghampiri Kirana kala Kembang Rasa telah sepi.

“Kirana tinggal di mana?”

“Sekolah di mana?”

“Kenapa kerja di sini?”

Semacam itu. Namun Chan membiarkan mereka, mengabaikan kegelisahan yang tidak benar-benar mengganggunya—mulanya.

***

“Chan? Sudah mau pulang?” tanya Elmo. “Hendra mana? Tan? Cakra?”

“Kenapa?” tanya Chan heran setelah memasukkan paksa celana jeans-nya ke ransel.

“Kakak iparku yang nelayan, kemarin dapat tongkol. Panjangnya satu meter. Bantuin motongin yuk!”

“Serius?” Chan berbinar senang. Siapa tahu dia diberi beberapa potong dan gratis. “Boleh deh. Lagian nggak buru-buru pulang.” Laki-laki itu lalu menyerukan nama rekan kerjanya yang lain. Dia menyadari sesuatu dan buru-buru berkata pada Kirana yang berdiri mematung di belakangnya. “Kamu di sini saja ya. Jaga toko dulu. Pintunya boleh sekalian dikunci. Nggak buru-buru pulang kan?”

Kirana mengangguk sekali. Senyum Chan pun tersungging. Semua orang di toko itupun beranjak pergi meninggalkan gadis itu sendirian di sana.

Saat itulah, Chan tidak sengaja menyenggol tas ranselnya yang disampirkan di salah satu kursi kayu. Karena isinya pakaian, jadi tidak terlalu terdengar oleh sekumpulan orang yang berisik itu. Ketika mereka telah pergi, Kirana diam-diam memungutnya. Hampir seluruh isi tas ransel itu berisi pakaian-pakaian lusuh yang belum dicuci.  Perhatiannya Kirana jatuh pada jeans yang terakhir dimasukkan Chan ke sana. Banyak jahitan yang berantakan—seperti rusak parah tapi dipaksakan diperbaiki.

Gadis itu bangkit berdiri, menggantungkan jeans tadi pada lipatan sikunya sedang dia menempelkan ponsel ke telinga.

“Aku mau celana jeans untuk laki-laki. Ukurannya…” Dia melihat lagi pada jeans tadi, juga kemudian menyebutkan merk. “Aku mau yang sama persis,” tukasnya.

Kirana tidak peduli meski Chan menyuruhnya untuk tetap tinggal, karena saat ini ada hal lain yang perlu dia lakukan. Gadis itu tetap menempelkan layar ponsel ke telinganya sambil mengunci pintu sekeluarnya dia dari sana. Entah apa yang dia dengar, yang pasti sesaat kemudian, Kirana kembali mematung.

Identify.” Dia berkata. “Aku tidak punya urusan dengan sampah.. berlakulah semestinya.. pastikan aku mendapatkannya kembali.”

Ponsel itu langsung dimatikan, sementara pikiran gadis itu berkutat mengingat sebuah bros yang berkilauan berbentuk mawar.