Welcome to Disaster Maker Club (4): Girl on the Bridge

Selasa, 17 November 2015



Besok akhirnya mereka akan mulai sekolah seperti biasa. Audin memang telah menyiapkan segalanya sesegera mungkin. Dia selalu mencari-cari apa yang bisa dia kerjakan karena nyaris dua bulan yang dihabiskan, dia tampaknya terlalu membiarkan benaknya diganggu oleh sosok orang itu. Seorang gadis yang selalu tampak menyeringai ketika akhirnya melihat Audin.

Audin selalu membenci wajahnya tertawa. Meski buruk untuk mengakuinya, mereka sebenarnya tidak jauh berbeda. Masing-masing sebenarnya menyembunyikan kebobrokan itu dalam senyum tanpa beban. Munafik.

Gadis itu tengah menggunting kertas-kertas warna yang telah dia tulis menggunakan spidol merah. Isinya antara lain jadwal kelas yang dia ikuti, juga beberapa kegiatan di mana Audin turut serta. Seharusnya dia senang. Banyak bertemu orang-orang baru setidaknya akan membuat Audin lupa—meski hanya sementara. Dia hanya harus melakukan semua hal yang bisa dia lakukan seperti orang gila.

Audin bersumpah dia harus terus-terusan memohon. Dia bersumpah mimpi-mimpi buruknya tidak akan pernah berakhir kalau dia belum benar-benar menyingkirkan kuk tersebut.

***

Mereka berlima—Audin, Shin, Zein, Lana dan Eva berjalan berbanjar, bersama-sama berangkat pagi itu setelah menyaksikan kaum Adam yang juga tinggal dengan mereka baru bangun saat sesi sarapan telah selesai. Alhasil Laz dan Eero berebutan siapa yang akan memakai kamar mandi duluan.

“Ah, aku lupa!” Zein mendadak teringat. “Aku mau ke taman samping dulu. Kemarin Esmeralda meriang. Aku ingin lihat apa dia sudah baikan atau belum.”

Shin mengangguk. Zein pun meninggalkan mereka setelah mengacungkan kedua jempolnya.

“Siapa Esmeralda?” tanya Audin. Mereka melanjutkan ngobrol sambil melangkah.

“Salah satu kelinci yang dipelihara sekolah,” jawab Shin. “Zein ada di sana saat kelinci itu lahir. Kebetulan Laz menemaninya. Karena Zein bingung harus memberi nama apa, lantas Laz memberinya nama Esmeralda.”

“Aku jadi ingat telenovela menyebalkan yang selalu ditonton ibu angkatku dulu,” gumam Lana ditanggapi dengan tawa kecil Eva.

“Ah, hampir lupa,” kata Shin. “Masih ada setengah jam sebelum masuk kan? Aku sarankan kalian bertiga ke ruang OSIS dulu. Di sini kalian wajib ikut klub. Klub apa pun terserah kalian. Form resminya ada di sana dan bisa langsung diisi. Karena aku dari klub pertamanan, aku sekalian promosi ya.” Gadis itu tersenyum manis. “Ruang OSISnya ada di sebelah perpustakaan, depan ruang siaran.”

Audin dan Lana mengangguk mengerti. Setelahnya giliran Shin yang memisah untuk masuk ke kelasnya sendiri. Mereka lalu mengikuti arah yang diberitahukan Shin dan akhirnya menemukannya dengan mudah. Terlihat beberapa anak di ruang siaran melalui kaca jendela yang transparan dan jernih. Ruang OSIS sebaliknya. Pintu kayunya seperti menutup rapat angkuh, ditambah kesan dingin kaca jendela yang gelap.

Eva mengetuk dan sedetik kemudian pintu itu dibuka.

“Oh, kalian.” Snare menoleh ke belakang ketika sedang mengambil buku dari rak.

Mereka bertiga masuk—sama-sama melebarkan mata karena terkejut.

“Snare, kau anggota OSIS?” tanya Lana yang langsung menghampirinya.

Laki-laki yang berwajah pucat dengan warna bibir yang merekah semerah darah itupun tersenyum.

“Semacam itu,” kata Snare membenarkan. “Kalian mau apa ke sini?”

“Shin yang menyarankan. Katanya kami harus mendaftar klub…” Ucapan Audin terpotong saat pintu lain di sana dibuka. Seorang gadis berambut pendek dan berkacamata sedang berbicara dengan orang di sebelahnya.

“Oh, ada siapa ini? Wajah baru ya?” kata si Gadis berkacamata tadi. “Murid pindahan?”

Yes,” tanggap Eva yang tanpa disuruh pun langsung duduk di sofa.

“Kalau tidak salah DM kedatangan tiga penghuni baru. Mereka temanmu kan?” tanya gadis tadi pada orang di sebelahnya. Seorang gadis juga, dengan ekspresi enggan yang tampak tidak ramah.

“Aku tidak kenal mereka,” kata Agatha pendek lalu duduk di kursi putar yang menghadap meja besar di ujung ruangan itu. Baik Audin dan Lana saling berpandangan membaca papan bertuliskan ‘ketua OSIS’ di sana.

“Oh ya? Berarti bukan?” Gadis berkacamata tadi mengerjap bingung.

“Mereka memang penghuni baru, Dyar.” Kali ini Snare membenarkan. Dia menyerahkan buku yang dipegangnya pada gadis itu kemudian menatap satu per satu murid baru tersebut. “Kenalkan, ini Dyar, sekretaris di sini.”

“Kalian pasti mau mendaftar klub kan? Sudah mengisi data di buku besar?”

“Belum,” jawab Lana.

“Sebentar ya, aku ambilkan,” kata Dyar lalu beranjak pergi lagi. Saat dia kembali, di tangannya ada sebuah buku besar dan tebal bersampul hitam yang telah dibukakan sampai halaman masukan yang terakhir.

Saat Audin dan Lana memusatkan perhatiannya pada buku besar itu, pandangan Eva yang menelisik tidak bisa lepas dari Dyar. Diam-diam juga, Agatha melakukan hal yang sama ketika memangku dagu dengan kedua tangannya yang berlipat.

***

Pada pertengahan jam hari itu, guru yang mengajar meminta Audin untuk membawakan berkas salinan materi dari koperasi sekolah. Menurut, gadis itupun lalu keluar kelas dan berjalan ke koperasi. Karena seluruh anak pastinya ada di dalam kelas karena pelajaran masih berlangsung, sekelilingnya lengang.

Audin melewati lapangan rumput ketika dia keluar dari gedung sekolah ketika angin mendadak menghembus menyatu ke arahnya. Gadis itu menghentikan langkah dan bergeming. Sekujur tubuhnya membeku seketika. Cepat, Audin menoleh. Bukan hanya arah belakangnya, namun juga ke atas.

Napasnya memburu sedang mata gadis itu melebar.

Tidak. Tidak mungkin, pikirnya. Audin telah datang sampai sejauh ini. Dia sedang dalam perlindungan sekarang. Orang itu tidak mungkin mengikutinya.

Semoga tidak.

***

Guyuran hujan deras yang tumpah sejak sore diamati Zein melalui jendela ruang tengah. Gadis itu berdiri dan kakinya tidak bisa tenang. Sementara itu tangan kanannya terangkat dekat mulut hingga dia bisa menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Siapa pun tahu kalau Zein sedang amat gelisah. Bahkan dia sampai lupa pada jam makan malam sebentar lagi. Shin pun mengaduk-aduk nasi yang sudah matang sambil mengernyit ke arahnya.

“Shin, Eva mana?” tanya Lana lalu menguap. Matanya berair.

“Aku tidak lihat dia. Mungkin di kamar. Kenapa?”

“Kelompokku dan Eva ada acara pendakian minggu depan loh.”

“Sepertinya asyik. Klub pecinta alam kan? Kau pernah mendaki sebelum ini?”

“Tidak juga.” Lana meringis. “Kalau lelah, aku tinggal meringankan tubuhku saja.” Dia tertawa. “Waktu aku tanya Eva, dia bilang kalau dia akan sangat senang kalau kebagian tugas membuat api unggun.”

Shin tertawa kecil setengah hati.

Kegelisahan Zein bertambah. Puncaknya, gadis itu melesat keluar rumah dan tidak sengaja menyenggol vas bunga hingga jatuh dan pecah.

“Ada apa? Kenapa?” tanya Lana bingung.

Shin mendesis. Gadis itu terpaksa melepas celemeknya lalu menyusul Zein yang keluar tanpa pelindung tubuh apa pun padahal di luar dingin sekali. Teringat akan yang lain, Shin pun kembali sebentar untuk berpesan pada Lana.

“Panggil yang lain! Suruh mereka semua keluar! Akan lebih baik kalau kalian memanggil Mr. Elios.”

“Tu-tunggu! Ada apa sih?!” Pertanyaan Lana tidak terjawab karena Shin langsung enyah dari sana.

Tepat saat itu, Audin yang setengah melamun turun dari tangga. Lana pun langsung membuatnya sadar seratus persen dengan kata-kata yang dilontarkan dalam tempo yang cepat juga susunan yang berantakan.

***

Snare memakai jaket bertudung dan berteduh sekaligus bersembunyi di tempat biasanya dia mengamati dari kejauhan. Laki-laki itu membisu ketika gadis yang seringkali dia awasi selama beberapa waktu belakangan ini akhirnya menyerahkan semuanya lalu membiarkan tubuhnya sendiri terjun dari jembatan. Dia memang menginginkan kematian, lantas kenapa Snare harus menolongnya?

Hampir saja meninggalkan tempat itu, Snare mengerutkan kening ketika samar-samar dia mendengar suara Shin yang berseru memanggil.

“Zein!! ZEIN!!!”

Gadis yang dipanggil Shin itu berlari cepat menuju ke tengah-tengah jembatan, dan di sanalah dia: berdiri membeku sambil menatap ngeri ke permukaan air di bawahnya.

Apa yang harus dia lakukan? Di dalam sungai itu tidak ada yang bisa dia mintai tolong untuk menarik gadis yang mencoba membunuh dirinya itu! Apa yang harus… siapa…

Di tengah kekalutan itu, mata Zein menangkap sekelebat sosok yang terjun dari jembatan, tepat di sebelahnya. Sedetik kemudian terdengar bunyi benda yang jatuh terjebur ke dalam sungai yang berarus deras.

“Apa yang terjadi?” Shin menghampiri Zein sambil terengah-engah. Tidak lama, hampir semua penghuni DM telah ada setidaknya di sekitaran jembatan itu.

Mr. Elios datang dengan balutan jas hujan yang besar. Dia mengayunkan tangannya ke udara dan seketika muncullah cahaya yang membentuk perisai yang mengelilingi sekitaran tempat mereka berada.

“Ini perisai mantra…,” gumam Lana yang mengerjap. Tubuhnya juga Audin basah berkat hujan. “Mr. Elios… orang kayangan? Bidadari laki-laki?”

Mati-matian menekan kuat rasa takutnya, gerak Agatha memacu mengikuti arus sungai yang deras. Sebisa mungkin dia menantang gerak air supaya tidak mempersulitnya mencari gadis itu. Gadis yang amat dia kenal selama dua tahun ini. Sosok yang pura-pura tegar namun pelan-pelan larut dan hancur di dalamnya.

Tulang-tulangnya perlahan membatu karena air sungai begitu dingin. Sangat dingin sampai-sampai Agatha merasa ada ribuan jarum yang menghujam sekujur tubuhnya ketika dia terjun ke bawah. Beberapa saat ada di dalam air, gadis yang dicarinya kemudian ditemukan melayang di tengah-tengah. Kaku dan tidak sadarkan diri.

“Kenapa belum kelihatan juga…?” gumam Zein cemas—lagi-lagi sambil menggigiti ujung kukunya.

“Lihat!” seru Lana sambil menunjuk ke sebuah arah.

Agatha akhirnya muncul ke permukaan. Tangan kanannya melingkar menarik tubuh gadis tadi.

“Naik! Mereka harus naik!” seru Zein.

Lana berdecap. Gadis itu langsung terbang ke tengah-tengah sungai tempat Agatha dan gadis itu berada. Lana mengulurkan tangannya saat Agatha mencoba mengangkat tubuh gadis itu. Si Gadis yang tidak sadarkan diri itupun berhasil diangkat dengan Lana memeluk tubuhnya naik ke atas.

“Agatha!” Lana menjerit.

Snare langsung berlari ke arah sungai karena dia tahu apa yang terjadi. Anggota gerak gadis itu membatu seketika lebih cepat dari yang dia perkirakan. Saat Snare nyaris terjun ke sana, Agatha memberontak.

“Shin..! Shin!!” Suaranya sayup-sayup terdengar karena berulang kali hampir tenggelam penuh ke dalam sungai. “SHIN!!!!”

“Ugh…” Shin menggigit bibir. Tangannya langsung terangkat tinggi-tinggi ke udara. Saat itulah tiba-tiba tanah di sekeliling tempat itu berguncang.

Audin menutup matanya, merasakan sesuatu yang meringsek keluar dari tanah. Benda hidup yang besar dan kuat.

Sulur tumbuhan raksasa menerobos kuatnya arus sungai, menjadi penolong bagi Agatha untuk bisa menghirup udara lagi. Lemas, Shin pun langsung roboh dan Zein menolongnya.

Yang lain akhirnya bisa menghirup napas lega. Audin pun melihat mereka dan batinnya bisa berubah tenang sekarang. Namun sebuah suara yang terdengar begitu dekat dari telinganya, membuat gadis itu membelalak ngeri.

“Padahal tinggal sedikit lagi dia akan kubawa..”

Sontak, Audin menoleh ke belakang dan langkahnya refleks mundur. Tertegun, dia menatap wajah itu. Bibir berona hitam yang melengkung membentuk ulas senyum—senyumnya yang tampak begitu menakutkan bagi Audin. Kedua sayap hitamnya membentang lebar di masing-masing samping gadis itu.

Audin bersumpah. Sebelumnya dia bersumpah kalau tidak lagi ingin punya urusan dengannya! Meskipun wajah mereka sama, Audin berjanji dalam diri untuk melenyapkan gadis itu.

Demetrin—sang Bidadari Kematian.

Saudara kembarnya.

Welcome to Disaster Maker Club (3): Girl on the Bridge



Laz sedang ada dalam minimarket yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari asrama. Dia menenteng keranjang belanja plastik merah lalu seenaknya mengambil minuman-minuman manis serta tidak lupa berbagai macam cemilan. Tingkahnya mengabaikan pandangan mengawasi dan enggan dari kasir yang juga merangkap sebagai pemilik minimarket tersebut. Laz memang pelanggan setia di sana, namun ada satu hal yang membuat laki-laki itu kurang disukai.

Kelvin—nama pria berumur empat puluhan, si Penjaga minimarket lalu memandang Laz penuh arti ketika anak itu menaruh keranjang belanjaannya di atas meja kasir. Berdehem, dia pun mulai menghitung makanan ringan dan minuman yang Laz ambil.

“Delapan puluh tujuh ribu delapan ratus..,” kata Kelvin datar.

Dan sesuai dugaannya, Laz pun mengeluarkan dompet spesialnya dari saku dalam jaket. Bukan dompet tipis yang umumnya dimiliki orang lain, dompet yang Laz punyai lebih cocok dikatakan kantung lusuh yang selama ada di tangannya tidak pernah dicuci. Di dalam kantung itu, Laz tidak pernah mempunyai lembaran uang kertas, melainkan ratusan keping uang logam.

Laz tersenyum pada Kelvin yang memandangnya lesu. Memang berkat Laz, Kelvin tidak pernah kekurangan uang receh. Tapi setiap anak itu datang, mereka harus menunggu puluhan uang logam itu dihitung, baru urusan mereka selesai. Dan tiap transaksi yang mereka lakukan, tidak pernah sekalipun Laz tidak membayar dengan uang pas.

“Mari kita hitung sampai delapan puluh tujuh!” tandas Laz semangat diiringi berisik bunyi logam yang berjatuhan ke meja aluminium.

***

Zein selalu jogging di sore hari minimal tiga kilometer dia lalui. Dia selalu riang tatkala melihat beberapa anjing yang juga berlari menemani majikannya, atau kucing yang digendong lembut, juga kadang beberapa burung yang langsung bertengger di dahan pohon untuk berkicau. Gadis itu berhenti sebentar saat sampai di tengah jembatan lalu minum air mineral dalam botol yang dia bawa. Tiba-tiba seekor welsh corgi mendatanginya sambil menyalak keras.

“Hai!” balas Zein lalu berjongkok menyentuhnya. Ketika menangkupkan kedua tangannya ke kepala anjing itu, raut wajah Zein berubah.

Seorang gadis.. berseragam sekolahnya.. selalu mematung di pinggir jembatan ketika siang hari…

“Nak, kau tak apa-apa?” tanya wanita paruh baya yang memegang tali pengait leher anjing tadi.

“Ah, maaf!” Zein buru-buru melepaskan kepala si Welsh Corgi yang cantik. “Dia sehat sekali. Siapa namanya?”

“Anya,” kata wanita itu mengangguk-angguk dan tersenyum lalu pergi.

Wajah Zein lagi-lagi keruh. Sepertinya karena hampir setiap hari diajak jalan-jalan oleh majikannya, Anya selalu merekam apa yang ada di jembatan itu. Sesosok gadis yang ada dalam ingatan Anya tampak lebih mencolok karena dia sering melihatnya. Orang yang berlalu-lalang mungkin tidak terlalu memperhatikannya, namun Anya lebih peka. Anjing itu bahkan seringkali melihat garis kemilau menghiasi pipi si Gadis.

Siapa? Zein bertanya dalam hati. Dia tidak begitu mengingat satu per satu teman sekolahnya yang berjumlah ratusan hingga tidak merasa kenal akan wajah gadis itu. Tapi jujur, sorot mata gadis itu yang direkam Anya cukup membuat Zein khawatir. Pandangan yang kosong dengan kesedihan mendalam. Ekspresi itu… seperti orang yang hendak bunuh diri.

***

Audin dan Lana duduk manis di ruang makan ketika Shin yang bercelemek membawakan panci panas lalu diletakkan di atas meja. Shin melepas sarung tangannya lebih dulu baru selanjutnya mengangkat tutup panci itu. Seketika uap panas dari dalam keluar membawa aroma yang sedap juga menggugah selerah.

“Wah! Sup kepiting pedasnya sudah jadi!” kata Lana girang. Cepat-cepat dia mengambil kuah di dalamnya menggunakan sendok kuah lalu menyicipinya sedikit. “Ini benar-benar salah satu dari warisan dunia!” Dia memuji Shin.

“Kau tidak mau ambil?” tanya Shin pada Audin.

“Hah? Eh, iya..” Audin buru-buru mengambil mangkuknya.

“Sini aku ambilkan,” tawar Shin lalu meletakkan salah satu kepiting di sana ke mangkuk Audin. “Jangan lupa makan pakai nasi.”

“Beres!” balas Lana lalu menyeruput kuah supnya lagi.

“Yang lain ke mana?” tanya Audin karena hanya ada mereka bertiga di sana.

“Aku tidak melihat Snare, Laz, dan Eva dari tadi. Kalau Agatha, dia baru mandi. Zein jogging. Eero mungkin masih tidur. Dia begadang sepanjang malam main House of Death, kau tahu. Heran aku. Apa menyenangkannya game macam itu,” ujar Shin lalu ikut duduk.

Audin tersenyum. “Sepertinya rumah ini memang ramai sekali ya. Syukurlah.”

“Yang kau lihat jelas belum semuanya,” tanggap Shin. “Omong-omong pengendalian tanahmu bagus sekali. Dinding ruangan ini seperti baru. Mungkin akar terkuat akan susah sekali menembusnya. Pantas Mr. Elios sangat mengandalkanmu.”

“Kau pengendali tanah pertama yang kukenal,” sambung Lana meskipun mulutnya tengah penuh nasi.

“Masa’?” Audin mengangkat alis. “Bukankah pulang melayang seperti kayangan banyak tokoh pengendali tanah yang hebat?”

“Kayangan? Entahlah. Aku tidak pernah ke sana.”

Audin dan Shin saling berpandangan.

“Kau bukan bidadari?” tanya Shin.

“Kalian mengejekku?” Lana tertawa. “Mana ada bidadari seperti aku? Mereka congkak sekali dengan paras yang khusus diciptakan untuk mereka.”

“Lalu…?”

“Aku pengendali seperti kalian. Angin.”

Jawaban itu cukup menjelaskan bagaimana Lana datang dengan melayang meskipun tanpa sayap, biarpun dia bukan bidadari. Namun baik Audin dan Shin merasa harus hati-hati karena mereka sama-sama tidak tahu seberapa kemampuan yang dimiliki Lana. Bisa saja sewaktu-waktu gadis itu kehilangan kontrol dan menciptakan tornado.

Tidak lama kemudian, Zein datang. Sekujur tubuh gadis itu basah oleh keringat. Bersamaan dengan itu Agatha keluar dari kamar mandi—juga dalam keadaan basah kuyup. Tubuhnya hanya berbalut handuk berbentuk kimono.

“Ah, kalian. Ke sini, gabung makan juga,” ajak Shin.

Agatha mengabaikannya. Gadis itu pura-pura tidak mendengar lalu menaiki tangga menuju kamarnya.

“Kepiting? Malang sekali nasib kalian…,” gumam Zein ngeri. Dia langsung bergabung di meja makan. “Buatku apa?”

“Ada acar timun dan wortel. Ambil saja.”

“Omong-omong… apa dia selalu seperti itu? Maksudku Agatha,” tanya Lana pada Shin. “Dia selalu kelihatan membenci semua orang di rumah ini. Khususnya Eva. Snare juga. Kenapa aku merasa tingkahnya seperti om-om mesum?”

Audin diam. Sebenarnya dia punya pertanyaan yang sama, hanya saja dia merasa tidak enak menanyakannya. Beda dengan Lana yang selalu berseloroh dengan jujurnya sejauh ini.

“Dia tidak selalu seperti itu,” jawab Zein yang menghampiri meja makan membawa sepiring acar. “Aku butuh dua bulan supaya dia menganggapku teman.”

“Aku butuh tiga bulan,” sambung Shin.

“Siapa yang kalian maksud?” tanya Audin.

Shin dan Zein bersamaan menjawab, “Agatha.” Mereka pun berpandangan penuh arti—dan agaknya licik saat memutuskan untuk menceritakan hal yang penting menyangkut gadis sinis dan galak itu.

“Sebenarnya… ada cara supaya dia bisa bertingkah manis, tapi…” Ucapan Shin menggantung.

“Lebih baik jangan. Kalian akan kehilangan napsu makan nanti,” kata Zein sok misterius.

“Percayalah. Kalian akan lebih suka Agatha yang ini dibanding yang lain.” Shin pun tersenyum lalu menggeleng.

Baik Lana dan Audin saling melemparkan pandangan tidak mengerti sama sekali.

“Ah ya, hampir lupa,” tambah Shin kemudian. “Ini peringatan kalian soal Snare. Jangan pernah terlena pada tingkah manisnya. Meskipun tampak tenang, Snare aslinya vampir yang agresif. Untuk meredam rasa laparnya, aku selalu mencekokinya dengan jus tomat. Bentuk pencegahan yang lain, seringkali Agatha yang lakukan.”

“Seperti?” Audin mengernyit,

“Melayangkan sepatu ke kepalanya.”

***

Siapa yang tahu dalam ingatan Anya, tidak pernah ada sosok gadis di atas jembatan itu ketika malam hari. Seperti biasa gadis itu berdiri dengan pandangan kosong di tengah jembatan, menatap kilauan permukaan sungai di depannya. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitaran gadis itu tidak terlalu mempedulikannya. Kecuali satu.

Snare sedang mengawasinya di depan sebuah toko yang letaknya menghimpit gedung sebelahnya. Laki-laki itu menyilangkan tangan dan bersandar pada dinding. Beberapa saat kemudian dia mendengar langkah kaki samar yang perlahan mendekat. Snare bisa mencium aromanya namun dia enggan menoleh karena sudah tahu siapa itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Eva.

Snare menutup mata sejenak lalu membalikkan pertanyaan tadi. “Apa yang kau lakukan?”

Eva tertawa sekilas. “Membeli kembang api. Kau?”

“Mengintai,” jawab Snare. Laki-laki itu kemudian menoleh pada Eva. “Bau mesiu. Kau yakin tidak akan meledakkan DM untuk yang kedua kalinya?”

Eva tertawa lagi. “Ayolah. Itu hanya salam permulaan. Aku harus berpikir ulang jika hendak melakukannya lagi. Gadis itu akan membunuhku nanti. Berkat kejadian itu dia memperlakukanku seperti hama pengganggu.”

Snare diam mengetahui siapa yang Eva maksud. Tatapan Agatha lebih tajam berkali-kali lipat ketika mendengar nama Eva disebut, apalagi ketika keduanya bertemu.

“Aku mendengarnya dari Shin dan Zein. Dia memang tidak mudah akrab dengan orang lain. Jadi aku maklum,” kata Eva lagi.

Snare menyeringai, membuat Eva mengerjap.

“Dia memang tidak suka orang asing,” katanya. “Tapi dia lebih tidak menyukai orang yang licik. Aku pikir kau salah satunya.” Dan setelah mengatakannya, Snare pergi.

Eva mengerutkan kening mencerna perkataan Snare barusan. Tidak lama, gadis itu pun angkat bahu—menyerah. Pandangannya lalu beralih ke arah di mana Snare melemparkan perhatiannya tadi: pada sesosok gadis yang berdiri diam di tengah jembatan.

Welcome to Disaster Maker Club (2)



Gadis itu berjinjit mencoba mengambil obat kumur yang ada di laci gantung dekat kamar mandi tapi tidak kunjung bisa meraihnya. Menggembungkan pipi, dia pun melayang sedikit hingga obat kumur dalam botol kecil itu akhirnya berada dalam genggamannya. Dia lalu meraih tasnya sendiri kemudian mengeluarkan sebuah mug, sebatang sikat gigi yang masih tersegel, juga bebek karet. Membuka mulut, dia lalu bercermin, memastikan bagian mana yang harus disikat baik-baik kalau tidak ingin sisa cokelat yang dimakannya tadi menciptakan karang.

Sesudah menggosok gigi dan berkumur, dia pun kembali ke kamar. Letaknya ada di lantai dua. Gadis itu memperhatikan tangga di depannya sekilas lalu melayang naik. Barulah ketika sampai di lantai puncak, kakinya berpijak lagi di lantai.

Tepat saat itulah, pintu di belakangnya dibuka. Gadis itu menoleh dan sontak menjerit sejadi-jadinya sampai-sampai seluruh penghuni rumah merasakan bumi berguncang. Lupa akan kemampuannya melayang, gadis itupun terjengkang lemas kemudian berguling menciumi satu per satu anak tangga. Suaranya berkali-kali lipat lebih keras tatkala dia sampai di lantai dasar. Badannya tengkurap dengan kepala yang nyaris saja membentur pintu.

Beberapa detik selanjutnya, pintu itu dibuka. Gadis tadi mengerang lalu mendongak setelah sadar kalau di depan wajahnya persis, terlihat sepasang kaki.

Seorang laki-laki berambut keemasan tengah menatapnya heran. Dia lalu jongkok untuk melihat wajah si Gadis lebih dekat.

“Wajah baru,” ujarnya. “Kau siapa?”

Gadis itu bengong sesaat. Ketika kesadarannya kembali, dia buru-buru menegakkan punggung untuk menyetarakan tinggi mereka.

“Aku baru di sini. Namaku Lana.”

“Ah, pindahan ya?” Laki-laki itu tersenyum manis dan ramah. Senyuman itu bahkan membuat Lana merasa sempat berhenti bernapas. Dia mengulurkan tangannya pada Lana, mengajak bersalaman. “Aku Snare. Salam kenal.”

Lana menyambut uluran tangan itu. Dia sedikit terkesiap ketika Snare justru langsung menarik tangannya hingga di antara mereka tidak ada lagi jarak. Dada Snare menekan tubuh Lana hingga gadis itu bisa merasakan napas Snare dekat telinganya.

“Kau harum sekali. Apa golongan darahmu?” tanya Snare.

“Hah?” Lana mengangkat alis bingung.

Sedetik kemudian sebuah sepatu meluncur dari atas dan seketika menghantam kepala Snare. Lana langsung menarik tubuhnya menjauh. Matanya mengerjap kala melihat Snare tertawa geli.

“Jus tomatmu ada di kulkas,” kata suara yang ditangkap Lana. Suara itu terdengar diiringi langkah kaki seseorang yang menuruni tangga.

Snare dan Lana lalu berdiri. Lana menoleh ke belakang dan dia refleks membelalakkan mata serta menutup mulutnya dengan tangan. Orang itulah yang membuatnya serasa kena serangan jantung tadi. Seseorang yang berwajah putih mengerikan ditambah sorot matanya yang setajam silet.

Namun ketika Lana dan orang itu saling berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat, Lana pun dapat bernapas lega. Ternyata dia hanyalah gadis seumurannya yang sedang memakai masker.

Berbeda dengan sambutan Snare tadi, gadis itu melengos begitu saja lalu menghilang di balik dinding kamar mandi.

“Siapa itu?” tanya Lana pada Snare.

Snare tersenyum. Alih-alih menjawab, dia memberitahu hal lain, “Kepalamu benjol.”

***

Sore hari berikutnya, mumpung sekolah mereka masih libur, dua laki-laki dalam asrama itu mem-booking televisi ruang tengah untuk bermain game petualangan Silent Hill. Karena player hanya bisa satu, kali ini giliran laki-laki berambut jabrik dan bertubuh bagaikan ranting yang memainkannya.

Keringat dingin mengucur menganak sungai melewati pelipis hingga meluncur ke leher. Tangannya bahkan gemetaran, terus bertanya-tanya dalam hati apakah ada mayat bergerak yang mengikuti di belakangnya, ataukan ada tengkorak terbang yang ingin menggorok lehernya.

“Laz, kiri. Kiri kataku!” suruh laki-laki di sebelahnya tidak kalah tegang.

“Bukannya kanan?” tanya Laz bimbang sekaligus takut.

“Nanti kalau kanan, kau jalannya ke kuburan! Banyak monster belatungnya!”

“Oh, oke.. bentar…”

Laz pun menurut. Dia mengarahkan player supaya berjalan ke kiri.  Tapi kurang dari semenit selanjutnya, mayat tanpa kepala menghampirinya. Laz pun memekik sejadi-jadinya sedangkan partner jahanam yang menjerumuskannya tertawa terbahak-bahak sampai tersedak.

“BERISIK!!! TOPLES TEPUNGNYA JATUH!!!” teriak Shin membuat dua kaum Adam itu menoleh ke arah dapur. Mereka mendapati kabut putih pekat menyelimuti udara di sana.

Audin dan Eva hadir di saat yang salah. Sampai dekat dapur mereka langsung bersin dan batuk-batuk. Eva menutup hidungnya menggunakan dua jari sedangkan Audin meniup-niup butir-butir tepung yang berterbangan—semakin ia melakukannya, semakin hebat bersinnya hingga terdengar bunyi-bunyi aneh di pekarangan.

“Tepung?” Eva mengernyit memandang ke sekeliling. Mendadak di otaknya lewat secuil ide brilian. “Coba nyalakan kompor,” sarannya.

“Memang kalau kompor menyala, tepungnya langsung hilang?” tanya Audin lalu bersin lagi.

Eva tersenyum meyakinkan pada Shin untuk menyalakan kompor. Ragu, Shin akhirnya menurut juga. Dia tidak sempat mendengar teriakan seseorang yang buru-buru menuruni tangga.

“SHIN!!! JANGAAAANNN!!!!!!”

Cklek! BLAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!!!!

***

“Jadi… Eero membuat ulah lagi..?” tanya seorang pria dewasa yang bercambang kasar melihat ruang tengah asrama yang menjadi tanggung jawabnya enam puluh persen hancur dan penuh warna jelaga.

“Bukan aku!” sangkal laki-laki yang pria itu sebut namanya dengan keras serta membeo.

“Kau yakin?” Pria tadi mengangkat alis. Dia lalu beralih memandang para penghuni perempuan. “Ada apa dengan perempuan-perempuan di sini?” tanyanya melihat Shin, Audin, Eva, Zein, dan satu lagi gadis berwajah keruh, berpenampilan berantakan. Sebagian wajah mereka hitam legam dengan rambut yang amburadul.

“Aku tak tahu, Sir,” jawab Zein polos. “Sir tahu kamarku ada tepat di atas dapur. Waktu itu aku sedang menyisir bulu Pompom dan tiba-tiba DUARR!!! Aku terlempar dan menghantam genting sampai hancur. Lihat, kepalaku benjol.”

Shin, Audin, dan Eva diam. Namun bukan diam karena bingung harus mengadu atau tidak seperti yang Shin dan Audin lakukan, Eva diam karena dia mati-matian mengulum senyum.

“Tidak ada yang mau mengaku?” Mr. Elios kembali bertanya. Pandangannya lalu mengarah pada si Gadis berwajah keruh yang berdiri paling pinggir dari para gadis itu. “Ada yang mau kau katakan, Agatha?”

Anak-anak itu langsung menoleh pada gadis yang namanya disebut Mr. Elios. Gadis itu berdiri dengan tangan menyilang juga bibir yang terus-terusan menekan. Shin ingat. Agathalah yang berteriak keras melarangnya menyalakan kompor, tapi sayang terlambat.

“Ada iblis di sini,” kata Agatha lalu mendelik pada Eva, sementara gadis pengendali api itu bermain-main dengan udara yang memenuhi mulutnya hingga pipi gadis itu mengembung.

“Vampir maksudmu? Snare?” tanya Mr. Elios lagi. “Atau memang ada vampir di antara murid pindahan?”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau begitu, coba beritahu aku, bagaimana bisa dapurnya meledak?”

“Laz dan Eero mengagetkanku saat sedang menggeledah tepung,” papar Shin. “Ada yang bilang tepungnya bisa hilang kalau saya menyalakan kompor. Agatha sampai terjungkal dari tangga untuk menghentikan saya, tapi…”

“DUARR!! Just like that!” sambung Zein lalu terkekeh.

“Ah… tepung..,” gumam Mr. Elios mengangguk-angguk. “Itu pasti tepung kualitas baik dengan butiran yang sangat kecil dan lebih ringan dari debu…”

“Ya,” tambah Agatha. “Orang idiot macam apa yang tidak tahu soal kejadian pabrik tepung meledak di Minnesota?”

Shin menelan ludah dan memutar bola mata.

Setelah berdecap, Agatha beranjak pergi setelah melemparkan pandangan tajam lagi pada Eva yang justru membalasnya dengan seulas senyum licik.

Mr. Elios menghela napas panjang, menyimpulkan kejadian itu sebagai kecelakaan yang tidak disengaja. Tatapannya lalu beralih pada Audin.

“Aku bisa mengandalkanmu kan?” katanya.

Yes, Sir,” jawab Audin sembari tersenyum.

Zein dan Shin saling berpandangan. Tahu-tahu, sebagian tanah di sekeliling mereka bergerak masuk ke dalam asrama.

***

Beruntung ketika saat kejadian, Snare sedang tidak ada di asrama. Laki-laki itu sedang berjalan-jalan di tengah kota ketika hari beranjak malam. Dia melihat seorang wanita yang tampak resah menunggu di depan sebuah gedung bioskop. Wanita dewasa yang penuh aroma parfum yang menyegarkan. Snare punya penciuman yang amat tajam meskipun posisinya lumayan jauh dari wanita itu.

“Menunggu seseorang?” tanya Snare saat mendekati wanita tadi.

“Eh? I-iya..,” jawab wanita itu ragu-ragu sekaligus terpesona melihat wajah Snare yang begitu tampan dan berpenampilan amat maskulin. Muda namun menggoda.

“Mungkin dia takkan datang,” kata Snare. “Bagaimana kalau kutemani saja?”

Sang Wanita tampak tak bisa berkata apa pun untuk menolaknya.

Snare tersenyum lalu menggumam pelan, “Aku selalu terpesona pada gadis bergolongan darah A…”