Welcome to Disaster Maker Club (7): The Nerd Boy is Falling in Love

Selasa, 17 November 2015



Kertas-kertas warna berserakan memenuhi meja di sisi paling ujung. Di baliknya, gadis itu sabar menggunting satu per satu kertas yang belum dipotong, sesuai pola yang tergambar di sana. Matanya menerawang seperti sedang melamun. Gadis itu tadinya sempat menggerutu kalau dia akan mati kebosanan dengan hanya menggunting saja hiasan untuk majalah dinding sekolah, meski begitu dia tidak menolak. Dia membisu ketika membawa kardus berisi kertas-kertas itu ke ruang OSIS yang selalu sepi.

“Kau sepertinya senang sekali melakukan hal yang sama berulang-ulang,” komentar Snare yang bergelantungan di lubang ventilasi. Kepalanya ada di bawah, dan kakinya berselonjor keluar. Entah sudah berapa anak yang terkaget-kaget melihat sepasang kaki keluar dari sana.

Agatha tetap diam seperti tidak mendengar.

“Aku lapar. Kau tidak mau ke kantin? Belikan jus tomat buatku,” pinta Snare.

Lagi-lagi tidak ada tanggapan.

“Atau mungkin kau lebih senang aku menghisap di leher salah satu anak.”

Gunting yang digunakan Agatha tetap pada iramanya, tidak ada perubahan. Snare yakin Agatha meragukan kalau dia akan sungguh-sungguh melakukannya. Snare sedang tidak lapar. Baru kemarin dia menghisap darah seekor domba sampai tandas, dan aromanya bahkan masih dirasakan Snare. Jus tomat hanya kadang-kadang dia minum untuk pengganjal perut—meski rasanya tidak terlalu enak.

Beberapa menit lagi terlewat, Snare mulai bosan. Dia akhirnya turun dari ventilasi lalu melangkah mendekati Agatha. Dia menarik kursi sebelahnya, kemudian duduk di hadapan gadis itu. Wajahnya datar namun Snare menangkap aura keruh di sana.

Mendapat ide brilian, Snare pun berkata, “Dyar masih membuat harimu buruk? Harus kuapakan dia?”

Tiba-tiba air dalam akuarium bergerak secepat kilat seperti cambuk mengarah ke Snare. Air itu menyayat wajahnya seketika hingga darah mengalir dari luka robek di pelipis hingga dagu Snare—membuatnya tampak mengerikan. Snare tersenyum, matanya langsung berubah merah menyala padahal yang dia cium adalah bau darahnya sendiri. Laki-laki itu tidak terkejut karena dia memang sengaja memancing emosi Agatha. Hanya saja kali ini emosinya singkat dan ringkas, bukan dengan gertakan atau umpatan.

“Jangan ganggu aku,” kata Agatha pelan dengan tetap menggunting.

Luka memanjang yang ada di wajah Snare perlahan menutup dengan sendirinya. Agak menyakitkan memang, tamparan tadi.

“Mungkin kau akan tertarik dengan hal lain,” kata Snare lagi. “Ini soal gadis yang kau sebut iblis. Kau tahu dia sengaja mencederai salah satu anak di sini kemarin?”

***

“Ada orang di luar.” Zein menggumam sebelum memasukkan sepotong roti ke dalam mulut. Dia tidak melihatnya, hanya merasakan kehadiran seseorang dekat pagar asrama mereka.

“Siapa?” tanya Shin sambil memotong-motong sawi putih.

“Aku tidak kenal. Dia sedang mondar-mandir.”

“Kenapa dia tidak memencet bel? Apa jangan-jangan penguntit?”

“Tidak. Dia teman kita,” kata Audin memberitahu. Dia mengintip keluar lewat jendela. “Namanya Gael. Dia pasti mencari Eva.”

“Gael?” Shin mengerutkan kening. “Anak aneh itu? Darimana kau tahu dia mencari Eva?”

“Aku akan menemuinya.” Audin beranjak keluar. Ketika dia membuka pintu depan, Gael terperanjat. Melihat Audin menghampirinya, dia pun salah tingkah apalagi saat pagar besi itu dibuka gemboknya.

“Ma-maaf.. aku ingin memencet bel, tapi..”

“Mau bertemu Eva?” tanya Audin.

“Ti-tidak! Bukan begitu… Aku memang ingin bertemu dengannya, tapi dia tidak membalas pesanku, jadi… mungkin dia sedang sibuk, atau istirahat.. aku tidak mau mengganggu.”

Terdiam, Audin merasa tidak enak hati pada orang di hadapannya kini. Gael jelas tidak sama dengan Laz ataupun Eero. Guru-guru selalu berkomentar kalau Gael begitu jenius. Nilai-nilainya luar biasa, terutama karena dia anak akselerasi. Tapi melihatnya sekarang, Audin merasa kasihan. Flashdisk milik Gael telah Audin berikan pada Eva, namun tanggapannya menyedihkan.

“Dari Gael? Tidak. Terimakasih. Katakan padanya aku sudah muak dengan film sejarah. Dulu aku memang sering menontonnya karena nilai sejarahku jeblok. Sekarang tidak lagi, jadi… mungkin kapan-kapan saja kalau aku butuh.”

Dengan kata lain, Eva hanya memanfaatkannya saja.

Audin menghela napas panjang. Apa yang harus dia lakukan? Gael tampak seperti sebatang korek api yang akan langsung menjadi abu jika dinyalakan. Gael korek kayunya, sedangkan Eva api. Persis sekali.

“Ka-kalau begitu, aku pulang dulu..”

“Tunggu sebentar,” tahan Audin. “Bagaimana kalau masuk dulu sebentar? Sebentar lagi sepertinya akan hujan. Shin akan membuatkanmu teh.”

Gael sempat ragu, tapi Audin yang tidak sabar langsung menarik lengannya masuk. Di sana laki-laki itu celingukan gugup melihat penghuni-penghuni DM lain yang asing baginya. Zein menatap ke arahnya, tersenyum dengan pipi yang menggembung karena sedang mengunyah. Shin juga tersenyum padanya sekilas lalu kembali mengaduk-aduk kuah dalam panci. Sementara itu Laz dan Eero seperti biasa sedang memutar video games, kali ini bertema balapan liar. Mereka tidak menyadari kehadiran Gael.

“Duduk dulu,” kata Audin menunjuk sofa di belakang Laz dan Eero. Gael mengangguk.

Audin mengambil satu cangkir di lemari layang.

“Sedang apa?” tanya Shin.

“Membuatkan dia teh.”

“Biar aku saja. Kau panggil saja Eva. Katamu tadi dia mencari Eva.”

“Oh, itu…” Audin sempat terdiam. Dia ragu apakah Eva mau menemuinya.

Ketika ditanya kenapa dia tidak menyukai Gael, Audin mendapatkan dua alasan konyol: Eva tidak suka orang yang bergigi kawat. Dia juga tidak suka laki-laki berambut belah tengah. Tapi biar bagaimana pun Gael sudah di sini. Memberitahu Eva tanpa memaksanya ke ruang tengah seharusnya tidak jadi masalah. Siapa tahu meski tidak punya nurani, Eva masih berpegang pada etika.

“Ya, kenapa tidak?” balas Audin lalu segera berlari kecil menaiki tangga.

Bersamaan dengan itu, Lana melayang turun dari lantai dua. Gadis itu terbang, hendak ke ruang tengah. Shin terkesiap. Tanaman sulur yang ada di pojok dapur langsung memanjang dan menjambak rambut Lana hingga gadis itu memekik. Suara bedebum keras terdengar sedetik kemudian.

“Ap—!”

Lana akan protes tapi Zein langsung membekap mulutnya.

“Ada manusia di situ. Mengerti? Manusia. Lazimnya, manusia tidak bisa terbang.” Zein berbisik.

Lana bungkam. Dia kemudian mengangguk mengerti.

Shin dan Zein menghela napas lega. Mereka lalu membiarkan Lana yang berjalan ke ruang tengah. Diam-diam gadis itu mengintip ada siapa di sana selain Laz dan Eero. Dia melihat Gael. Giginya menggigit bibir bawah mengenali anak itu serta gosip yang beredar tentangnya. Hanya sekilas, tapi dia tahu kalau keberadaannya di sini akan sia-sia saja.

Terbukti setelahnya sampai Gael pamit pulang pun, Eva tidak menemuinya.

***

Mr. Elios datang ke asrama sore hari berikutnya dan memberikan instruksi semua penghuni DM harus berkumpul saat itu juga. Yang jelas mereka semua baru saja pulang sekolah dengan baju seragam yang masih melekat di badan. Sekarang setelah mereka semua ada di ruang tengah—kecuali Snare, Mr. Elios yang duduk di sofa paling ujung mengutarakan maksudnya.

“Pagi ini ada aroma dari jejak seekor iblis tercium. Penjaga yang semalam ceroboh, tidak mengetahui ada anak yang menyusup ke kelasnya sendiri. Mungkin ada barang yang tertinggal. Yang jelas sekarang, dia menghilang.”

“Tunggu sebentar.” Laz menyela. “Kenapa iblis bisa masuk ke sana? Bukankah anda sendiri yang menciptakan perisai pelindungnya? Kalau anak itu diculik di luar sekolah mungkin saja. Tapi kenapa bisa di dalam?”

“Iblis memang tidak akan bisa masuk selama perisai itu terpasang.” Mr. Elios membenarkan. “Iblis kali ini kurasa cukup pintar. Dia pasti mengarahkan seseorang untuk melepas salah satu kertas mantra yang kupasang. Mantra itu tidak punya pengaruh apa pun selain pada iblis dan siluman, atau makhluk semacam mereka.”

“Karena sudah terlanjur terjadi, Mr. Elios mau kami mencari dua anak itu?” Kali ini Zein menyambung.

“Yang diculik ada dua anak?” tanya Eero heran.

Zein mengangguk. “Tangan salah satunya menggores sepanjang jalan di lorong dekat barak. Sepertinya diseret dalam keadaan tidak sadar. Sementara yang satunya lagi—perempuan. Ada beberapa helai rambutnya yang rontok di sana. Mereka mengarah ke Diadra—kata Michael.”

“Siapa itu?” tanya Audin.

“Salah satu gagak yang berdiam dekat sana,” jawab Zein.

Hening. Diadra merupakan hutan yang jarang disentuh, letaknya di sisi paling utara kota yang mereka tinggali ini. Jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Kenapa iblis itu nekat sekali berburu mangsa di sekolah?

“Iblis tidak akan semudah itu melahap jiwa mereka. Hanya yang punya sisi gelap yang bisa dimakan—itupun harus dengan mental yang lemah. Akan tambah runyam kalau siluman juga terlibat,” papar Eva yang menyilangkan tangan. “Mereka makan daging—bukan roh.”

“Mereka masih hidup,” kata Mr. Elios. “Kita masih bisa menyelamatkan mereka.”

Shin menggigiti ujung kuku.

Mr. Elios lalu bangkit berdiri. Dia menepuk tangannya sekali kemudian memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.

“Eero, kau tinggal. Buat kristal perpindahan sesegera mungkin. Hanya lima anak yang kuizinkan pergi ke sana: Zein, Audin, Laz, Eva, dan Agatha. Lana, kau bisa memantau dari udara, pertajam tangkapan gelombang suara. Shin…”

Gadis yang namanya disebut terakhir oleh Mr. Elios itu mengerjap dan beraut bingung. Shin memang ingin ikut membantu, tapi dia tidak pernah ingin memprotes Mr. Elios. Apa mungkin gurunya itu khawatir dia akan terlalu jauh bertindak seperti ketika Dyar lompat ke sungai dulu? Shin memang kuat, tapi responnya buruk dalam keadaan genting.

“Kau juga tinggal,” kata Mr. Elios akhirnya setelah menghela napas panjang. “Pastikan Eero tidak mengacau. Bersiaplah satu jam lagi.”

Mr. Elios pun pergi setelah menyelesaikan instruksinya, menyisakan keheningan panjang. Shin menggenggam tangannya erat-erat—sedikit kecewa. Eero yang biasanya memecah kekakuan dengan tawa pun kali ini tegang. Laki-laki itu langsung pergi ke kamarnya untuk menciptakan kristal perpindahan. Tidak lama, ruang tengah itupun kosong karena semuanya harus bersiap. Tentunya tidak ada yang mau seragam mereka rusak di tengah perburuan malam nanti.

Welcome to Disaster Maker Club (6): The Nerd Boy is Falling in Love



“Eva, duluan ya!”

Eva melambai pada dua teman yang makan bersamanya di kantin. Mereka kembali ke kelas duluan dengan alasan ada guru yang memanggil. Bersamaan dengan kedua gadis itu pergi, Eva pun keluar dari dalam kantin sambil membawa satu tusukan besar sosis bakar ukuran ekstra. Gadis itu dengan santai berjalan ke tangga menuju lantai dua gedung sekolah sambil mengunyah saat tiba-tiba seseorang menghadang jalannya.

Mata Eva mengerjap lalu detik selanjutnya, dia menelan makanan yang telah dia kunyah.

“Ha-halo, E-Eva!” sapa laki-laki yang selalu mengundang kerutan di dahi Eva itu. Dia salah satu siswa di sana—mereka seumuran. Tapi Eva justru merasa anak itu mungkin beberapa tahun lebih muda darinya.

“Hai, Gael,” balas Eva menyebut namanya. “Ada apa?” Gadis itu memasukkan segigit sosis lagi ke mulut.

“Ma-malam ini, ma-mau tidak mampir ke rumah lagi? A-aku punya film baru yang ba-bagus, se-seperti film Roma kemarin.”

Eva tidak langsung menjawab. Gadis itu membuat Gael menunggu beberapa saat dengan mengunyah penuh hikmat potongan sosis di mulutnya, itupun dengan mata menyipit serta memutar—seperti sedang berpikir keras mempertimbangkan sesuatu. Tapi tanpa mengamati baik-baik ekspresi penuh harap Gael saat itu, Eva menyunggingkan senyum lalu menjawab ajakannya tanpa beban.

No. Sorry.”

***

Shin bersenandung. Masih mengenakan seragamnya sore itu, dia menikmati detik demi detik air yang keluar dari selang untuk menyiram taman belakang asrama DM. Bunga cosmos, marigold, turnip, sakura, serta bunga-bunga yang disiram olehnya tanpa terkecuali, mekar saat itu juga. Tidak peduli akan musim, aura yang dipancarkan gadis itu serupa serbuk ajaib yang mengendalikan tumbuh kembang tanaman mana pun.

Pandangan Shin lalu terpaku pada pohon jambu biji yang telah tumbuh setinggi dirinya. Gadis itu meletakkan teko penyiramnya begitu saja lalu menghampiri pohon tersebut. Dia kemudian tersenyum. Tangan Shin mengulur, mendekat pada pohon itu dan seketika rantingnya condong. Dalam hitungan detik, pohon itu memunculkan bunga lalu berubah menjadi sebutir jambu biji yang matang. Bahkan tanpa Shin harus memetiknya, buah itu langsung jatuh ke tangan Shin.

“Terimakasih,” ucap Shin. Dia berbalik dan ekspresinya berubah terkejut. “Kapan Guru datang?”

Mr. Elios berdiri tidak jauh darinya. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu menghela napas panjang.

“Aku mencari Snare. Dia tidak ada di mana pun aku mencarinya.”

Shin tertawa kecil.

“Guru tidak akan menemukannya. Dia akan datang sendiri,” katanya kemudian berlari kecil pada Mr. Elios. Mereka lalu berjalan beriringan ke dalam asrama. “Saya berniat mengeriting rambut. Bagaimana?”

“Keriting?” Mr. Elios mengernyit.

“Tidak sampai keriting. Saya ingin membuat rambut saya bergelombang, jadi nantinya kelihatan lebih dewasa.”

Mr. Elios menghentikan langkahnya, membuat Shin mengerjap. Tangan guru itu perlahan terangkat menyentuh poni dekat pelipis Shin. Gadis itu pun mematung merasakan degup jantungnya yang tidak karuan. Shin pikir Mr. Elios akan menyentuh wajahnya juga, namun sebelum dia membayangkan lebih jauh, tangan yang lembut itu telah ditarik kembali.

“Terserah kau,” kata Mr. Elios akhirnya dan melanjutkan langkah.

Shin masih mengusap-usap poninya sampai Mr. Elios hampir melewati ambang pintu. Dia tidak lagi bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

“Guru!” panggilnya sambil berlari kecil. “Bagaimana kalau saya bikinkan teh?”

Sosok keduanya lalu menghilang di balik tembok. Bisa ditebak arah mana yang dituju Shin.

Omong-omong gadis itu lupa mengingat baik-baik satu kamar yang terletak di lantai dua dengan jendela yang persis berada dekat halaman samping asrama DM. Sebelum tiga penghuni baru datang, kamar itu kosong. Sekarang, kamar itu telah terisi. Gadis dengan rambut pendek yang selalu meliuk-liuk lembut itupun menopang dagu melihat pemandangan baru yang ada di bawahnya tadi. Dia bahkan lupa caranya menutup mulut.

Apa itu tadi? Pikirnya bengong. Cinta terlarang?

***

Bunyi langkah kaki terdengar keras di lorong yang lengang. Audin tidak peduli meski hanya dua menit yang lalu office boy sekolahnya baru mengepel lantainya. Gadis itu terburu-buru pergi ke koperasi sambil membawa selipat kertas yang harus disalin cepat seratus lembar. Mendadak sosok seseorang berjalan ke arah tangga membuatnya terkesiap keras. Sama dengan Audin, anak itu pun terperanjat kaget.

Kurang dari sedetik, mereka bertabrakan. Audin jatuh menelungkup ke depan sedangkan anak itu menghantam dinding tangga.

“Ah…” Audin meringis saat bangkit berdiri. “Kau tak apa-apa?”

Siswa laki-laki itu sedikit lebih tinggi dari Audin. Dia membenarkan dulu posisi kacamatanya sebelum akhirnya meraih uluran tangan Audin. Wajahnya tampak kebingungan beberapa saat dan sikapnya berubah kikuk. Dia membalas pertanyaan Audin dengan seulas senyum yang menampakkan gigi-giginya yang berkawat. Name tag tersemat di dada kirinya. Nama pertamanya Gael.

“Maaf, aku terburu-buru. Langsung saja ke UKS, oke? Nanti aku susul,” kata Audin. Tapi sebelum gadis itu akan pergi lagi, Gael buru-buru menahan lengannya.

“Mungkin.. kau.. anak di asrama sembilan?” tanya Gael.

Asrama sembilan? Alis Audin bertaut. DM maksudnya?

“Kau satu asrama dengan Eva?” tanya Gael memperjelas pertanyaannya.

“Begitulah..”

Senyum Gael tersungging senang. Dia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari sana. Satu flashdisk putih dengan gantungan lonceng kecil. Gael kemudian memberikannya pada Audin.

“Tolong berikan ini pada Eva,” pintanya. “Mungkin dia akan senang.”

“Oh, oke..” Audin mengangguk menggenggam flashdisk itu sekarang.

Gael pun pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Sorot yang tidak biasa, pikir Audin mengingat sosok Gael. Apa itu seperti yang dia pikirkan sekarang?

Audin menekan bibirnya dan angkat bahu. Gadis itu langsung berlari lagi seperti orang kesetanan menuju koperasi.

***

“Laz.. Laz..!” Eero menepuk bahu Laz yang asyik headset yang menyumpal telinganya.

Laz langsung mencopot headset dan menoleh pada Eero.

“Kecuali aku sedang berhalusinasi atau mataku sedang dimantrai oleh Mr. Elios..” Eero berkata dengan mata berbinar yang mencurigakan. “Kupikir aku sedang melihat Zein yang tersangkut di dinding pojok sebelah sana. Itu. Yang ada kawat berdurinya.”

Laz bengong. Pandangannya lalu mengikuti arah yang ditunjukkan dagu Eero. Dinding pojok yang dimaksud Eero sebenarnya lumayan tertutupi semak, tapi jika dilihat lebih teliti, ada seekor—atau bahkan seseorang yang memiliki tekstur terkepelai sedang bergerak-gerak di sana. Satu kakinya tersangkut di beberapa duri kawat, dan posisinya kini sedang menentang letak kepala yang lazimnya ada lebih tinggi dari kaki.

Sedang apa pula bocah itu?

“Kupikir kita harus mengerjainya dulu sebelum menolongnya,” komentar Eero lalu berlari kecil menghampiri Zein.

Khas Eero. Tidak mengherankan. Bahu Laz beringsut dan laki-laki itu dengan malas mengikuti teman usil dua tahun belakangan ini. Berkat kamar mereka yang berdekatan, Laz sering menjadi korban “kekejaman” Eero. Tapi setidaknya mereka bisa lega mengingat semua urusan keisengannya, Eero tidak pernah menggunakan listrik apalagi halilintar.

“Agatha akan membunuhmu jika tahu kau mencoba untuk bolos lagi, Zein…,” gumam Eero saat Zein tengah mati-matian melepaskan ujung celananya yang tersangkut ke tiga kawat duri sekaligus.

Gadis itu terkesiap keras saking kagetnya. Punggungnya melayang jatuh ke belakang dan langsung membentur tembok. Merasakan sakit, dia justru tertawa tergelak—tawa setengah hati.

“Aku cuma sit up kok!” Lalu dia tertawa lagi—lebih keras. “Aku cuma… eh, mengecek kalau-kalau Manuela dan Sofia kabur. Ah, sepertinya Rodrigo naksir salah satu dari mereka. Kita akan punya bayi kambing lagi!”

Hening. Laz ada di belakang Eero sesaat kemudian dengan mata menyipit.

Let me ask you something…,” bisik Eero pada Laz. “Ada berapa kira-kira peliharaan bocah hiperaktif itu di sekolah dan DM kalau dijumlahkan semua?”

“Kau jelas tidak memperhitungkan makhluk lain yang invisible,” balas Laz sama pelannya.

“Seperti apa misalnya?” Eero bergidik ngeri.

“Lipan? Cacing tanah? Belatung?”

Hell… mungkin ada cacing tanah yang dia beri nama Gabriella.”

Zein berdehem saat itu juga karena dia mendengar gumaman Eero. Bukan karena tersinggung, gadis itu hanya berniat meralat.

“Jangkrik yang ada di kamarku, namanya Gabriella.”

Eero dan Laz kompak memutar bola mata.

“Err… guys. Aku akui kalau kakiku tersangkut…,” kata Zein akhirnya. “Kalau kalian tidak mau menolong, oke-oke saja, jadi silakan pergi. Aku barusan punya ide untuk bebas, tapi tidak bisa kalau kalian tetap menonton di situ.”

“Ide apa?” tanya Laz.

“Melepas celanaku.”

***

Eva keluar dari kantor guru setelah mengurus berkas-berkas kepindahannya yang tertunda karena sejuta alasan. Dia dengan entengnya datang ke sana membawa jus nanas yang telah dicampur sedikit bensin dalam gelas plastik murah yang dipakai para pedagang. Tegukan terakhir telah dia habiskan, tapi gadis itu sengaja menyeruputnya keras-keras hingga para siswa di sekitarnya bisa mendengar dengan jelas.

Eva sadar akan banyak pasang mata yang mengikuti gerak tubuhnya yang menyusuri lorong lantas dia sengaja menyibakkan rambut panjangnya.

Para siswa laki-laki otomatis membuka mulut—terpaku dengan gaya idiot. Sementara itu para siswa gadis berwajah dongkol. Salah satu dari mereka yang sedang menyapu lantai kemudian sengaja menjulurkan gagang sapu di tengah jalan, berharap supaya “iblis” jalang itu tersandung dan mukanya bengkak berkat menghantam lantai.

Eva masih dengan senyuman penuh percaya dirinya tetap melangkah santai. Saat senyuman si Gadis sapu mengembang lebar menanti anak itu tersandung, Eva justru melompat-lompat girang bak Candy. Lompatannya persis melewati gagang sapu tersebut.

Tepat saat gadis sapu terperangah, pintu di belakangnya mendadak ambruk menimpa tubuhnya.

Sedetik kemudian, senyum Eva tersungging. Manis sekali.

Bersamaan dengan itu Gael melihat senyuman Eva. Pandangannya menerawang, namun dia tetap menyunggingkan senyum biarpun tipis. Bocah ini tidak peduli sama sekali pada anak yang tertimpa daun pintu karena di matanya yang terlihat hanya Eva.

Cukup Eva.

Welcome to Disaster Maker Club (5): Girl on the Bridge (End)



Ruang tengah sepi. Bukan karena tidak ada orang di sana. Sebaliknya, nyaris semua orang hadir di tempat itu, berkutat dengan pikiran masing-masing, runyam dan rumit. Meski sebenarnya telah terbiasa dirundung masalah yang mempersulit mereka sejauh ini, atau juga mengatasi segala persoalan pelik ketika diminta, baru kali ini—terlepas dari masalah apa yang dialami gadis yang dari luar nampaknya baik-baik saja itu—mereka menyaksikan orang yang sengaja melenyapkan diri. Tentu kasusnya akan berbeda jika dia bukan manusia. Makhluk berwujud seperti manusia di bawah binaan Mr. Elios memang tidak akan mengerti maksudnya.

Sekali mati, manusia akan hilang selamanya. Mereka makhluk lemah yang bisa mati hanya gara-gara bakteri masuk ke pori-pori kulit.

Membiarkan suara detik jarum jam memenuhi ruangan itu, mereka bungkam untuk alasan yang kurang lebih sama—kecuali mungkin dua orang. Hidung Shin masih mengeluarkan darah. Gadis itu mimisan hebat setelah menggunakan hampir seluruh energinya untuk menumbuhkan tumbuhan sekejap untuk menolong Agatha. Zein memangku kepalanya dan memegangi kantung es yang menutupi hampir seluruh bagian wajah Shin. Sementara Eva… tidak diketahui rimbanya, mengingat di luar masih hujan deras. Yang pasti dia masih ada di dalam rumah itu—Zein berani jamin, dan dia bersumpah masih bisa mencium bau di sana.

“Baiklah…” Mr. Elios akhirnya angkat bicara. “Lana, bagaimana dia?”

Lana sedang berdiri bersandar dekat tepian pintu, melihat ranjang di kamar dekat ruang tengah—kamar Shin. Gadis yang mereka tolong sedang berbaring di sana.

“Matanya bergerak-gerak,” jawab Lana. “Dia akan bangun sebentar lagi.”

“Ada yang tahu kenapa dia sampai senekat itu?” tanya Mr. Elios lagi. “Yang sering kelihatan dengannya barangkali.”

Snare, Zein, Eero, dan Laz kompak menoleh ke arah Agatha diikuti Audin. Gadis itu sadar dengan pandangan yang ditujukan padanya namun dia memilih membisu. Dia sedang duduk berselonjor kaki di atas sofa, dengan bagian lutut kaki kanan yang diletakkan agak tinggi karena dijejali bantal. Audin telah mengoleskan obat ke luka yang robek menganga di sana. Mungkin tersayat serpihan kayu yang hanyut di dalam sungai.

Menghela napas karena pertanyaannya tidak ditanggapi dan hening kembali membuat atmosfer kaku, Mr. Elios pun mengalihkan pandangannya pada Laz.

“Hilangkan tanaman sulur itu,” perintahnya. “Kau tidak perlu membunuhnya. Potong saja supaya orang tidak akan tahu ada tanaman sebesar itu tumbuh di dasar sungai.”

Laz mengangkat alis lalu menjawab santai, “Oke.” Setelahnya, laki-laki itupun pergi.

Ketika berjalan, dia mengeluarkan gantungan kunci dengan hiasan-hiasan yang bergemerincing. Laz mengambil salah satunya yang berbentuk kapak. Detik selanjutnya kapak itu membesar hingga seukuran pintu rumah mereka. Tidak mau repot-repot mengangkat benda itu, Laz pun menyeretnya sampai ke sungai.

Sleeping Beauty is awake,” umum Lana, menarik semuanya paksa dari lamunan.

Mr. Elios hendak menghampiri gadis itu namun tiba-tiba bahunya disenggol oleh anak yang berjalan cepat dan mencapai kamar itu pertama kali. Yang lainpun menyusul—kecuali Shin yang kepalanya lebih dulu diletakkan ke atas bantal dengan hati-hati oleh Zein.

“Perban—..” Audin baru akan mengingatkannya namun urung.

Awalnya gadis itu tampak kebingungan karena tidak mengenali tempat dia berada sekarang. Ketika mengangkat wajah dan langsung melihat Agatha di hadapannya, dia mematung.

“’Kenapa aku masih hidup?’” Agatha menyindir sinis menggantikan pertanyaan yang tidak sempat gadis itu ucapkan.

Dia—Dyar mengerjap sambil menelan ludah, sementara tangannya meremas selimutnya kuat-kuat. Mengalihkan pandangannya, dia tidak sadar sedetik kemudian Agatha melangkah mendekatinya lalu menampar keras gadis itu.

Lana dan Zein menganga, tidak jauh berbeda dengan ekspresi terkejut yang lain. Mr. Elios menepuk bahu Eero, memberinya isyarat untuk menarik Agatha mundur. Sekarang laki-laki itu memberanikan maju dengan air muka bingung.

“Masih tidak tahu kenapa kau tidak kunjung berhasil? Masih menyalahkan orang yang lebih hebat darimu dan selalu dimudahkan, sedangkan kau terus bekerja keras tapi selalu gagal?! SADARLAH KAU, BRENGSEK!! AKU BAHKAN MENYESAL TELAH MENOLONGMU!!!”

Semburat perasaan aneh tiba-tiba menjalar dalam batin Audin.

“Wow! Wow! Ayo kita keluar ya. Kita keluar!” Eero berusaha menghalaunya dan menarik Agatha keluar, namun tetap saja dia tidak bisa langsung mengunci mulut gadis itu.

“Kau bilang kalau kau menyukainya lebih dari apa pun! Kau bilang kalau kau bisa menuangkan jiwamu tiap kali melakukannya! Mau tahu kenapa kau kalah dan ayahmu membuangmu?!!”

“Atha, please…” Zein mencoba menghentikannya.

“Sebut namaku dengan benar, kau sialan!!” semprot Agatha beralih pada Zein namun hanya sekejap. Mata tajamnya kembali pada Dyar yang berkaca-kaca. “Bukan karena orang lain lebih hebat darimu! Persetan juga dengan mereka menyuap para juri! KAU KALAH KARENA MENGOTORI PERMAINANMU DENGAN NAPSU MENJIJIKKAN DAN EGOISMU!!”

Tepat saat itu, satu bulir air mata Dyar jatuh.

Agatha menepis kasar tangan Eero yang masih akan mendorongnya keluar. Gadis itu lalu berjalan agak pincang ke kamarnya yang terletak di lantai atas—itupun dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan. Audin miris membayangkan kalau lukanya akan kembali menganga dan merembes keluar dari pembalut yang telah dia pasang—tapi sepertinya copot sebagian ketika Agatha berjalan cepat menghampiri Dyar tadi.

Dyar terisak. Zein buru-buru duduk dekatnya lalu menghibur gadis itu. Mr. Elios pun hanya bisa menghela napas panjang kemudian menyuruh yang lain pergi. Semuanya kecuali dua gadis tadipun keluar ruangan hingga pintu kamar itu ditutup lagi. Namun ketika yang lain kembali ke tempat masing-masing, Audin masih bergeming di depan pintu. Tanpa ada yang melihat, gadis itu menunduk murung ketika bersandar di pintu tersebut.

Entahlah, mungkin... apa yang Dyar alami tidak jauh berbeda dengannya. Dulu.

***

Agatha memang menaiki tangga sendirian. Tapi ketika menyadari ada seseorang yang mengikutinya di belakang, gadis itu tidak segan-segan langsung membalikkan badan dengan tangan kanan terangkat, hendak melayangkan tamparan sekali lagi. Namun orang yang mengikutinya ternyata telah lebih dulu mengantisipasi hal tersebut hingga dia berhasil menahan tangan Agatha.

“Untuk apa tamparan ini?” tanya Snare.

“Aku heran kau masih perlu bertanya,” balas Agatha sengit dan langsung menarik tangannya lagi. Pandangan menyorot tajam menghujam mata Snare. “Jangan kira aku tidak tahu apa yang belakangan kau lakukan.”

“Karena tidak menolongnya?”

Satu tamparan langsung mendarat di pipi Snare. Laki-laki itu termangu. Tentu saja dia tidak mengira akan ada tamparan gelombang ke dua.

“Sedikit saja kau sentuh Dyar, aku akan membunuhmu.”

Setelah melontarkan kata ancaman itu, Snare melihat Agatha berbalik pergi. Gadis itu kentara menunjukkan kekesalannya dengan membanting pintu keras-keras hingga lantai yang Snare pijak sedikit bergetar. Alih-alih terdiam gusar, Snare justru tersenyum. Setidaknya meski kasar, gadis itu jelas memperhatikannya—terutama rasa lapar yang dirasakan Snare.

Oh, baiklah. Snare hanya harus mencari mangsa lain. Sesederhana itu.

***

Audin hanya sempat membeli sebungkus roti. Dia enggan makan di kantin karena tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Teman-teman DM yang lain pun menghilang entah ke mana. Yang pasti mereka pasti sibuk atau asyik dengan urusan masing-masing hingga tidak merasa perlu selalu bersama-sama tiap ada di sekolah. Toh pada akhirnya semuanya akan pulang ke rumah yang sama.

“Kau tampak baik-baik saja. Merindukanku?”

Ingatan akan semalam masih tampak jelas dalam benak Audin. Kembarannya itu—Demetrin suka sekali menyeringai. Terakhir bahkan, dia berani menyentuh Audin lalu mencium pipinya. Alih-alih menyentak kasar Demetrin, Audin menyembunyikan amarahnya dalam mata yang nanar.

“Sampai kapan kau menatapku seperti itu? Melunaklah. Karena aku yakin wajahmu akan persis seperti itu saat aku menjemputmu suatu hari nanti.” Dia berbisik lembut. “Sampai jumpa lagi… Demetria..”

Karena dia, Audin ingin melupakannya. Iblis yang membuat dia ingin mengubur nama lahirnya dalam-dalam hingga tidak pernah ditemukan. Dia merasa sungguh bodoh telah mempercayai Demetrin selama belasan tahun mereka tumbuh bersama. Pada akhirnya iblis itu mengkhianatinya, sengaja mendorongnya ke jurang tercuram.

Audin melihat bangku di bawah pohon samping barak sekolah kosong ketika tiba-tiba seorang gadis menubruknya keras. Roti yang dibawa Audin jatuh sedangkan gelas plastik yang dibawa gadis tadi menumpahkan isinya ke bajunya.

“Menjengkelkan sekali!” umpat gadis itu lalu menatap tajam ke Audin—menyalahkannya. “Kau—!” Bentakan gadis itu seketika berhenti tatkala dia merasakan panas menyengat di saku roknya. Dia memekik. Ada asap samar-samar di sana. “Ponselku! Ponselku!!”

Audin terbengong melihat gadis itu lalu buru-buru berlari meninggalkannya, lupa pada bajunya yang basah dan kotor. Memungut bungkusan rotinya, Audin melihat Eero berdiri bersandar ke dinding dekat pintu gedung serba guna tidak jauh darinya sambil menyilangkan tangan. Laki-laki itu tersenyum pada Audin juga sedikit melambaikan tangan.

“Aku tidak bisa membiarkanmu punya masalah dengan anak tadi. Dia salah satu anak paling menjengkelkan di sini. Zein bahkan tidak menyukainya,” kata Eero saat dia dan Audin berjalan beriringan menuju kelas.

“Kalau begitu.. ponselnya tadi.. perbuatanmu?” tanya Audin.

Eero hanya tersenyum.

“Omong-omong, aku selalu lupa menanyakan ini. Apakah orang luar selain Mr. Elios tahu kalau penghuni DM bukan orang biasa?”

“Yang lain tidak tahu. Kecuali Kepala Sekolah,” jawab Eero. “Mr. Elios telah memantrai kita sehingga apa pun yang kita lakukan menggunakan kekuatan, tidak akan terlalu terlihat aneh di mata mereka. Tentu saja, kita tetap harus berusaha menyembunyikannya.”

“Seperti perisai yang diciptakan Mr. Elios semalam?”

“Seperti itu.” Eero mengangguk.

Keduanya sama-sama mengerutkan kening ketika samar-samar mendengar suara derap kaki yang makin lama makin dekat. Saat Audin dan Eero menoleh, mereka langsung melihat Zein berlari seperti orang kesetanan.

“Audin!! AUDIN!!” serunya, mengundang perhatian siswa-siswa lain yang ada di sekitar situ. “Tolong!”

“Ha?”

Zein berhenti berlari dan mencoba mengatur kembali napasnya dengan berpegangan pada lutut.

“Tolong… Rosalinda masuk ke lubang… dalam sekali lubangnya!”

“Siapa Rosalinda?” Audin mengernyit. Bukannya menjawab, Zein langsung menyeretnya ke belakang gedung sekolah, bagian kandang peliharaan. Di sana mereka mendapati seekor anak ayam terperosok ke lubang di tanah yang sangat dalam.

Seseorang mengamati mereka dari kejauhan. Pandangannya terarah tidak hanya pada Zein dan Audin, melainkan juga di sekitar mereka. Orang itu lalu menghembuskan napas kecewa. Orang yang dicarinya ternyata tidak ada di sana.