That Day: A Note

Sabtu, 05 April 2014



Minimarket sedang lengang. Hanya ada aku dan empat orang lainnya yang berjaga. Aku duduk di belakang meja kasir menyalin daftar barang-barang yang baru diantar, sementara yang lain membersihkan atau menata kaleng-kaleng makanan di rak. Bosan dengan keheningan, aku memutar lagu dan suaranya langsung tersambung pada speaker. Kawanku yang awalnya menggerutu mengeluhkan pegal di punggung saat mengelap dinding kacapun menoleh, lalu tersenyum sekilas. Aku membalasnya dengan jempol terangkat.
Ketika menelengkan kepala ke samping, aku tertegun melihat seorang gadis berjalan pelan sekali dengan matanya menyorot kosong lurus ke depan. Saat berada tepat di dekat pintu masuk, dia tampak menghela napas panjang kemudian menunduk sebentar. Sedikit silau dengan lampu-lampu yang ada di dalam minimarket, dia memicingkan matanya. Aku bisa menebak dia sedang mendebat sendiri dalam hati sebelum akhirnya masuk.
“Selamat datang,” ucap Anjar ramah—temanku yang tadi mengelap dinding kaca.
Gadis itu tidak menggubris. Langkah kakinya terarah ke lemari pendingin untuk mengambil salah satu minuman ringan. Tanpa berminat mencari barang lain yang mungkin dia butuhkan, gadis itu langsung saja berjalan menghampiriku—tepatnya ke kasir. Dia menaruh botol minumannya begitu saja lalu merogoh tas lengan mengambil dompet.
“Tujuh ribu,” kataku sambil memasukkan botol itu ke plastik.
Lagi-lagi gadis itu tidak mempedulikan orang yang bicara padanya. Dia hanya melirik pada layar monitor kasir, menghitung uang di dompetnya lalu memberikannya padaku. Uang pas.
“Terimakasih.” Aku mengucapkannya dengan mengangguk sekali. Pandangan kami sempat bertemu dan dia tersenyum. Senyum yang hanya sekilas saja, tapi sukses membuatku kikuk.
***
Seminggu kemudian—boleh dibilang aku telah nyaris lupa dengan gadis yang pernah datang ke minimarket tempat aku bekerja—ketika sekali lagi aku melihatnya, ingatan itu langsung kembali. Dia memakai jaket biru muda kebesaran tapi terlihat nyaman. Kepalanya tertutup tudung jaket itu. Rambutnya yang panjang kecoklatan terurai di depan badan. Tanpa basi-basi dia langsung ke lemari pendingin mengambil sebotol yogurt lalu berlari kecil ke meja kasir.
“Mau tambah yang lain?” tanyaku menawarkan.
Sepasang matanya yang bulat melebar menatapku. Aku bisa melihat tanda tanya di sana. Dia bingung. Keningku berkerut. Saat kuulangi pertanyaanku, dia memperhatikan seksama sebelum akhirnya menggeleng dan tersenyum. Sama dengan waktu sebelumnya, aku menyebutkan nominal yang harus dia bayar tapi dia melirik pada monitor, melihat harga yogurt yang dia ambil. Dia menghitung uangnya kemudian memberikannya padaku lalu pergi tanpa meminta nota.
***
Keesokan harinya, gadis itu datang lagi. Tapi kali ini tidak sendiri. Dia memang sedang tidak bersama siapa pun, hanya seekor kucing Persia gemuk yang berdiam manis dalam gendongannya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat sosoknya dari samping. Rambutnya sedikit bergelombang dan gaya poninya baru: rata menutupi dahi. Dia mengambil keranjang belanja kemudia memutari rak mengambil sekotak susu bayi, beberapa minuman, dan roti.
“Terusin nyatet woi, ngelamun aja,” tegur Anjar iseng. Melihatku tersentak, dia mengikik geli. Aku mendelik kesal padanya tapi menurut. Dia mendekatiku. “Cakep ya dia?” godanya.
“Apaan sih,” tanggapku acuh tak acuh.
Anjar terkekeh. Melihat gadis tadi menghampiri kami dengan keranjang belanjaannya, dia berdehem lalu pergi sambil bersiul. Aku menggeleng.
“Mau tambah yang lain?” tawarku sambil men-scan barcode barang yang dia ambil. Aku memandangnya. Mata kami bertemu dan aku pun tertegun mendapati dia menatapku lurus-lurus. Alhasil jantungku memompa tak karuan.
Dia menggeleng. Saat aku menyebutkan harga keseluruhan barangnya, dia melirik lagi pada layar komputer lalu menyodorkan uang. Aku mengambil uang itu lalu memberikan semua belanjaannya yang telah kumasukkan dalam plastik ukuran sedang. Dia berbalik pergi dengan dua tangan yang sibuk. Satu tangan menggendong kucing, dan yang satunya lagi menenteng belanjaan.
Andai aku bisa membantunya. Tapi lirikan jahil dari Anjar dan yang lain membuatku terpaksa mengurungkan niat.
Menggeleng pura-pura kesal, aku memasukkan uang gadis tadi ke dalam laci. Dan tiba-tiba aku merasa seperti orang paling tolol sedunia. Aku dan gadis itu melupakan uang kembaliannya!
Semoga belum terlalu jauh, batinku.
Melesat cepat keluar minimarket diiringi pandangan melongo karyawan yang lain, aku tak peduli. Aku mengedarkan pandanganku dengan cepat untuk menemukan sosok gadis itu. Dan dapat! Tanpa pikir panjang aku pun berlari.
“Mbak!” seruku memanggil.
Gadis itu tidak menoleh.
Aku mengulangi panggilanku, namun tidak ada tanda-tanda kalau dia mendengar. Terpaksa kutingkatkan kecepatan lari. Cukup dekat di belakangnya, aku menepuk bahu gadis itu. Dia tersentak dan refleks menoleh. Raut wajahnya terkejut melihatku membungkuk memegangi lutut dengan napas terengah-engah.
“Mbak, ini… kembaliannya…,” kataku terputus-putus menyodorkan uang kembalian tadi.
Alis gadis itu terangkat. Raut wajahnya bingung. Dia mengambil uang itu dan melihat nota yang sudah dicetak. Dia tersenyum. Ketika gadis itu menyodorkan plastik belanjaannya, giliran aku yang bingung. Ganti aku yang memegangi plastik belanjaannya. Dengan tetap menggendong kucing, dia mengambil sebuah notes kecil dari tasnya dan sebuah pulpen. Aku menunggu dan sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan. Selesai menulis, dia memperlihatkan tulisannya padaku.

Trims :) kamu baik banget

Aku memandangnya, dan dia tersenyum lebar.
“Sama-sama,” balasku  dengan senyuman yang dia tularkan. “Jangan bosan datang lagi.” Aku menambahkan—setengah bergurau.
Dia menulis lagi lalu menunjukkannya padaku.

Tentu :) Btw, namaku Sheila

“Aku Liam.”
Dia—Sheila membalas.

I saw you enjoy your work.. I’ll see you tomorrow.

Kami berpandangan sejenak lalu tertawa kecil. Dia memasukkan notes-nya ke dalam tas dan mengambil kembali plastik belanjaannya dari tanganku. Sheila membalikkan badannya kemudian beranjak pergi. Aku tetap pada posisiku, melihatnya akan menghilang ketika hendak berbelok. Namun sebelumnya dia menoleh lagi ke belakang, tersenyum penuh padaku dan melambai.

Sweet Birthday




Hujan turun lagi malam itu. Angin badai menerjang Tembalang, membuat pohon mangga di depan kostku meliuk-liuk seakan mau ambruk. Tong sampah yang kulihat sore tadi penuh dengan limbah, kini berguling-guling ke sana kemari setelah membiarkan semua isinya berceceran di pekarangan.

Aku terdiam mendapati semua itu melalui jendela kamarku yang menghadap keluar. Setelah hampir seharian mengikuti mata kuliah yang menumpuk ditambah dengan latihan senam untuk penilaian lusa, aku berharap bisa melewati malam ini dengan Darren. Kami sepakat akan makan malam bersama hari ini. Tapi cuacanya sungguh buruk. Aku tidak yakin Darren akan menerobos badai seperti ini. Cowok itu memang tangguh sebenarnya. Kalau seumpama dia benar-benar datang menemuiku malam itu, aku justru akan memarahinya. Aku terlalu menyayangi cowok itu dan tak mau kalau sampai melihatnya jatuh sakit.

Hanya saja...

Sejenak aku menunduk lalu menyandarkan kepalaku ke dinding. Kuhela napas panjang sehingga harumnya tanah yang basah merasuk sempurna ke paru-paruku. Kecewa. Ini adalah malam yang kutunggu-tunggu. Aku benar-benar menantikannya bahkan sudah semenjak lama. Sekali lagi kutengok kalender Angry Birds di meja kerjaku. Ada lingkaran spidol merah yang tebal pada tanggal dua puluh November.

Besok adalah ulang tahunku yang ke sembilan belas.

Mendengus lagi, aku mendengar pintu kamarku diketuk. Saat kubuka, kudapati Kak Delila membawa tumpukan baju-bajunya. Rambutnya basah akibat kehujanan. Sempat aku bersyukur karena tidak sedang menjemur pakaian hari ini.

“Dek, pintu depan mau aku kunci. Mbak Irma kan lagi pulang kampung, kalau bisa motornya dimasukin ke garasi sekarang aja, mumpung belum penuh,” katanya.

“Iya, Kak. Makasih ya,” ucapku.

Kak Delila tersenyum mengangguk kemudian pergi ke kamarnya. Aku menutup kembali pintuku dengan enggan.

Ketika aku melihat kunci motorku tergeletak di atas meja, tak ada sedikitpun niatku untuk mengambilnya. Aku terlalu malas melakukan apa yang dikatakan Kak Delila tadi. Dia juga bilang akan mengunci pintu di depan dan itu artinya tidak akan ada tamu yang boleh masuk. Begitu juga Darren. Anehnya cowok itu sama sekali tidak mengontakku untuk membatalkan janji yang kami buat.
Well, sepertinya tidak ada yang bisa kulakukan malam ini selain tidur lebih awal. Aku biarkan saja motorku yang masih terparkir di luar. Tidur dan mengenyahkan semua pikiran yang membuatku kesal itu lebih baik sekarang—walaupun perutku agak sedikit lapar.

***

Beberapa jam lamanya dan rasanya aku telah puas tertidur. Aku masih mendengar suara hujan samar-samar walaupun tidak sederas tadi. Ketika membalik badan ke samping, aku melihat jam weker dekat kipas angin di atas meja. Pukul setengah satu dini hari. Bibirku sedikit menyunggingkan senyum.

Happy birthday, ucapku pada diri sendiri.

Let’s make a wish...

Aku melipat tanganku serta menutup mata. Kubatin semua harapanku pada diri sendiri juga semua orang yang kusayangi di mana pun mereka berada.

Darren.

Tiba-tiba nama cowok itu terlintas di benakku lagi. Oh, buat apa aku memikirkannya? Paling-paling dia sedang menikmati tidurnya mengingat baru pukul berapa sekarang. Miris jika aku mengira dia tidak ingat hari apa ini. Tapi mudah-mudahan tidak begitu.

Kupeluk lagi gulingku untuk meneruskan tidur ketika tak lama kemudian aku mendengar suara aneh, seperti...

“Pst! Pssssstt!!”

Sekali dua kali. Mataku mengerjap karenanya. 

Nggak mungkin...

Badanku langsung melompat ke arah jendela. Kubuka tirai dan apa yang ada di luar sedang memegangi pagar itu otomatis membuat mataku terbelalak dan mulutku menganga. Cepat-cepat aku berlari keluar kamar menuju ke garasi karena pintu utama dikunci, aku keluar lewat sana.

“Darren!” seruku terkejut bukan main.

Cowok yang ada di hadapanku sekarang ini justru tersenyum meringis menanggapi ekspresi wajahku yang bingung. Begitu melihatku tadi, dia segera melepaskan tudung mantel hujannya. Memang dasar otaknya encer juga. Kalau dia sampai datang dengan sekujur tubuh basah kuyup, aku tak akan berpikir dua kali untuk mengomelinya.

“Kamu apa-apaan?! Tahu kan sekarang jam berapa?!” Tanganku bergegas akan membuka pagar yang tingginya tak seberapa itu ketika Darren justru menghentikan geraknya.

“Aku nggak akan masuk. Habis ini aku mau langsung balik kost,” kata Darren yang masih tersenyum penuh arti.

Aku terdiam, hanya karena tak tahu harus berkata apa. Tangannya yang satu lagi disodorkannya padaku. Sebuah kandang kecil dengan beberapa helai kain di dalamnya. Ketika kuperhatikan lagi dengan teliti, ada seekor bayi kucing.

“Ini...”

“Dua hari yang lalu, ada sepasang anak kucing di loteng kostku. Setelah aku tahu, niatnya mau aku biarkan saja, tapi induknya nggak datang-datang juga. Karena kamu suka kucing, maka aku pikir kamu bisa rawat dia, sementara aku yang pelihara kembarannya biar kamu nggak terlalu repot,” jelas Darren.

Ya Tuhan.. senyum orang ini masih saja membuat jantungku berdebar-debar...

“Selamat ulang tahun, Areah,” ucap Darren lagi yang tambah membuat pikiranku melayang ke mana-mana. “Maaf tadi nggak kontak. Hapeku masuk ke kubangan waktu pulang kuliah tadi. Karena hujannya kelewat deras juga, aku nggak bisa langsung temuin kamu.”

“Nggak apa-apa,” kataku cepat. “Makasih.”

Kami sama-sama tersenyum malu satu sama lain.

“Yakin nggak mau masuk?” tanyaku.

“Nope, aku pulang aja. Kita bisa ketemu lagi besok. Lanjutin aja tidurnya,” goda Darren.

“Baiklah. Hati-hati...”

Hangat menjalar tubuhku saat Darren meremas tanganku lembut. Tak lama, dia kembali ke motornya lalu berlalu. Beberapa saat lamanya aku masih mematung di situ memeluk kucing plus kandang pemberiannya. Ya, tentu saja aku akan merawatnya. Senang rasanya punya teman kecil baru.

Hujan yang membuat suasana hatiku galau beberapa jam yang lalu, sekarang justru terasa sejuk menyenangkan.

“Met malam,” gumamku. “I love you...”

PERPUSTAKAAN DAN BUDAYA BERKARYA

Rabu, 03 Juli 2013



Oleh: Nesia Difayani
NIM: 13040112130201 – Kelas C – Semester 2
Jurusan S1 Ilmu Perpustakaan – Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro

Abstrak

Perpustakaan merupakan lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah, serta menyebarluaskan informasi dan sebagian besar wujud koleksinya ialah pustaka. Di samping tujuan utamanya sebagai pengolah informasi, didirikannya perpustakaan juga diharapkan membantu meningkatkan budaya baca masyarakat. Selain pengertian terbatasnya yaitu sebagai temu balik informasi, keberadaan perpustakaan juga dapat dikatakan sebagai pendorong keproduktifitasan generasi intelektual.

A.   Pendahuluan
Di zaman modern dengan pola pikir masyarakatnya yang terus menerus berkembang, globalisasi muncul sebagai inisiatif setiap individu supaya keterbatasan ruang dan waktu dapat dihilangkan, sehingga terciptalah jaringan dengan sarana-sarana yang serba canggih memudahkan penyebaran informasi. Namun sebagai dasar pemikiran kali ini, apakah sebenarnya yang dibutuhkan seseorang dari informasi yang dicarinya? Apakah hanya sebatas untuk kepentingan akademik seorang pelajar, mahasiswa, guru, serta banyak profesi lainnya demi mendapatkan prestasi di lingkup kerja masing-masing?
Sebelum perpustakaan lahir, masyarakat pada zaman dahulu mengenal tulisan-tulisan entah itu pada kertas, ataupun batu di kala prasejarah yang mengandung informasi. Menyadari pentingnya bukti-bukti data informasi tersebut, masyarakatpun berinisiatif untuk mendirikan sebuah tempat atau bangunan di mana benda-benda yang memiliki informasi itu dapat disimpan serta dapat digunakan kembali sewaktu-waktu.
Seiring dengan berjalannya waktu, mulai tersebutlah sebuah tempat atau lembaga bernama perpustakaan. Masa kini telah terdapat berbagai macam jenis perpustakaan, mulai dari perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, umum, hingga perpustakaan pribadi yang hanya dikelola oleh satu orang. Sasaran pemustakanya tidak terbatas pada khalayak tertentu seperti yang ada pada perpustakaan khusus, namun di perpustakaan umum, kategori pengunjung cenderung tidak dibatasi.
Berkembangnya pola pikir juga terjadi pada para pemustaka yang menginginkan daya produktivitas diri sendiri demi menciptakan sesuatu. Tidak hanya sebatas memerlukan informasi untuk kepentingan sendiri, melainkan penyebarluasan pemikirannya pada khalayak ramai.

B.   PEMBAHASAN
Perpustakaan sebagai tempat penyimpanan dan pengolah informasi memiliki tujuan-tujuan dasar, yaitu:
a.       Sebagai tempat penyimpanan, artinya perpustakaan memiliki tugas menyimpan bahan-bahan pustaka terutama dalam bentuk buku yang diterimanya, entah itu berupa hadiah, sumbangan, ataupun secara pembelian. Tujuan tersebut memenuhi petunjuk perpustakaan oleh undang-undang untuk menyimpan segala bentuk terbitan dari suatu Negara.
b.      Sebagai sarana penelitian, artinya perpustakaan menyediakan bahan pustaka untuk keperluan penelitian. Dalam hal penelitian ini terkait dengan jenis perpustakaan masing-masing. Misal untuk perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan tersebut menyediakan buku-buku, jurnal, atau artikel yang dibutuhkan untuk para mahasiswanya yang sedang mengerjakan tugas penelitian, seperti pembuatan skripsi, tesis, ataupun desertasi. Pustakawan yang bekerja pada perpustakaan tersebut menyediakan jasa untuk membantu pemustaka menemukan sumber informasi yang dicari demi keberhasilan penelitian tersebut.
c.       Sebagai penyebarluasan informasi, artinya perpustakaan menyediakan informasi yang diperlukan para pemustakanya. Pemberian informasi ini dilakukan baik atas permintaan maupun tidak diminta. Dalam poin kedua, dilakukan apabila perpustakaan menganggap informasi yang tersedia sesuai dengan minat dan keperluan pengguna.
d.      Sebagai lembaga pendukung pendidikan, artinya perpustakaan merupakan tempat belajar untuk semua golongan, entah itu yang masih mengenyam pendidikan, ataupun yang telah bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Pendidikan dapat dienyam oleh siapa pun, termasuk anak-anak putus sekolah, ataupun pekerja rumahan biasa. Terkait dengan budaya baca masyarakat, keberadaan perpustakaan sangatlah bermanfaat. Lain halnya dengan perpustakaan umum di mana pemustakanya tidak dibatasi menjadi golongan tertentu saja yang dapat memakai, perpustakaan khusus memiliki fasilitas-fasilitas yang hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu.
e.       Fungsi kultural, artinya perpustakaan menyimpan khazanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan tersebut didirikan. Perpustakaan mendorong meningkatnya nilai dan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya melalui penyediaan bahan bacaan. Perpustakaan umum misalnya, membedakan antara ruangan bacaan-bacaan fiksi dengan nonfiksi. Selain untuk media pembelajaran, perpustakaan juga dapat memiliki fungsi rekreasi yaitu sebagai sarana hiburan bagi pemustakanya.

Menyadari betapa pentingnya informasi tersebut tersebar, sebagian kaum intelektual memiliki hasrat untuk mengadakan atau menciptakan bahan pustaka bersumber dari pemikiran pribadi dalam bentuk tulisan. Hal ini tentu dapat menarik minat lebih banyak pemustaka yang datang berkunjung ke perpustakaan.

1.      Apakah menulis itu?
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut (Tarigan, 2000:21).
Menulis atau mengarang berarti menggunakan bahasa terpilih dan tersusun. (Yus Rusyana, 1986: 14)
Menurut ahli strategi, rencana menulis yang dimatangkan di pikiran, hanya berguna untuk menyegerakan tindakan. Namun ketika seseorang menulis, tulisan sedikit banyak akan menyimpang dari rencana semula. Kita semua, tanpa terkecuali, adalah penulis di otak sendiri. Jadi semua orang mempunyai potensi luar biasa untuk menulis.
Definisi-definisi tersebut memberi gambaran bahwa di satu sisi, menulis itu tidak mudah, dan di sisi lain, memberikan harapan karena menulis dapat dilakukan oleh siapa saja. Seeorang menulis karena ia diberi peluang dan stimulus untuk belajar, berlatih, dan berkembang (Bambang Trim, 2005: 18)
2.      Berkomunikasi melalui tulisan
Semua koleksi bahan pustaka di perpustakaan mengandung tulisan, entah itu dalam wujud buku, artikel, skripsi, koran, majalah, dan sebagainya. Tulisan-tulisan tersebut lahir dari pemikiran penulisnya yang ingin menyampaikan suatu maksud atau gagasan pada pembacanya.
Dengan adanya tulisan pada prinsipnya ujaran dalam setiap bahasa dapat direkam secara visual. Dengan demikian, tukar pikiran tetap dimungkinkan meskipun lawan bicara hadir di tempat lain dan baru akan membaca tulisan tersebut pada waktu yang berbeda.
Jadi dalam proses komunikasi melalui tulisan ini berkaitan erat dengan proses membaca. Artinya, informasi yang dituangkan dalam tulisan tidak akan dipahami jika tidak dibaca. Hal ini sama halnya antara hubungan komunikasi lisan (berbicara) dan mendengarkan atau menyimak. Kita tidak akan bisa berkomunikasi secara aktif jika kita tidak mendengarkan pembicaraan yang disampaikan lawan bicara kita.

Perbedaan komunikasi lisan dan tulisan oleh Tarigan (2000: 17) dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Tulisan
Lisan
a.       Ada di atas kertas
Ada dalam ucapan
b.      Untuk dilihat/dibaca
Untuk disimak
c.       Dapat dilihat, tidak dapat disimak
Dapat disimak, tidak dapat dibaca
d.      Sedikit/hampir tidak ada pengulangan
Sering/banyak diadakan pengulangan
e.       Menggunakan bahasa resmi atau baku
Menggunakan bahasa percakapan/sehari-hari
f.       Penulis yang baik tidak selalu dan tidak harus sekaligus sebagai pembicara yang baik
Pembicara yang baik tidak dengan sendirinya seorang penulis yang baik
g.      Komunikasi tidak langsung
Komunikasi langsung
h.      Komunikasi satu arah
Komunikasi dua arah
i.        Memerlukan tanda-tanda baca
Memerlukan nada, ekspresi, dan gerak-gerik
j.        Tidak langsung mendapat umpan balik
Langsung mendapat umpan balik
k.      Dapat dibaca ulang
Tidak dapat disimak ulang
l.        Sering disunting/diedit
Tidak disunting/diedit
m.    Mengaktifkan mata dan penglihatan
Mengaktifkan telinga dan pengucapan

3.      Menurut Dr. Pennebaker, kegiatan menulis memiliki manfaat, di antaranya:
-          Menulis menjernihkan pikiran
Menulis adalah proses produktif untuk menghasilkan tulisan. Tulisan dapat digunakan untuk mencurahkan berbagai persoalan yang membebani pikiran.
-          Menulis mengatasi trauma
Trauma membuat seseorang tidak bisa memusatkan perhatian mereka pada pekerjaan baru yang besar. Menulis tentang trauma akan membantu dalam mengelola trauma dan sekaligus membebaskan pikiran untuk menangani tugas-tugas lainnya.
-          Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru
Kegiatan mencatat atau menulis dapat membantu seseorang mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain.
-          Menulis membantu memecahkan masalah
Jika sedang menghadapi atau membahas suatu masalah maka menulis merupakan salah satu cara untuk mendapatkan pemecahannya. Salah satu alasannya adalah bahwa menulis memaksa seseorang untuk memusatkan perhatian lebih dalam terhadap permasalahan tersebut daripada hanya dengan memikirkannya.

Untuk menghasilkan suatu karya, seorang penulis juga harus sering mengamati tren kebutuhan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, lagi-lagi peran perpustakaanlah yang bertugas menjadi sumber informasi bagi para penulis.

C.   PENUTUP
Memang, perpustakaan ialah tempat untuk penyimpanan buku, seperti yang biasa dimengerti oleh kebanyakan orang. Namun, kegiatan di perpustakaan tidak hanya sebatas membaca, meminjam, serta mengembalikan buku, namun ada kalanya seorang pemustaka memiliki hasrat untuk menuangkan idenya dalam bentuk tulisan.
Saran untuk perpustakaan yang menerapkan aturan jikalau pemustaka tidak boleh membawa buku tulis, aturan tersebut seharusnya dihilangkan saja. Suasana perpustakaan yang tenang dan kondusif akan membuat pemustaka juga nyaman menulis selain membaca.

Daftar Pustaka

Jasmadi. (2006). Kiat Menjadi Penulis Buku Profesional. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Kusmayadi, Ismail. (2011). Guru Juga Bisa Nulis. Jakarta Selatan: Tinta Emas Publishing.
Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.
Suwarno, Wiji. (2010). Pengetahuan Dasar Kepustakaan. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.