Warm Croquettes in the Afternoon: Feeling in A Gift

Kamis, 11 Juni 2015



Setelah membentuk adonan berbentuk bundar lalu membalurnya dengan tepung panir, dia mendekatkan telapak tangannya di atas penggorengan, memastikan apakah minyak gorengnya sudah cukup panas atau tidak. Gadis itu melepaskan sarung tangan plastiknya lalu memasukkan satu per satu kroket ke dalam wajan menggunakan sumpit. Bersenandung sembari membolak-balik kroket itu, dia memandang keluar jendela memperhatikan tanaman-tanaman anggrek yang sebagian sudah mulai mekar.

“Lho, Marta belum pulang?” kata seorang gadis berseragam renda kuning ketika membuka pintu ruangan itu.

Amarta menoleh.

“Hai, Hilda. Kamu juga belum pulang?” Dia membalikkan pertanyaan.

“Aku baru selesai mengumpulkan bahan untuk presentasi besok,” jawab Hilda yang perlahan mendekati Marta. “Wah… sepertinya enak. Apa ini?”

“Kroket kentang daging keju.”

“Ah, aku suka sekali keju! Ah, tapi buat siapa? Kalau untuk praktek, harusnya kan kamu masak waktu pelajaran.”

Amarta tersenyum singkat lalu membalik kroket supaya tidak gosong.

“Oh, lihat! Anggreknya udah pada mekar!” Hilda berdecak kagum sekaligus iri. “Enak ya, jadi kamu. Anak tata boga sekaligus pertamanan. Perabot dapur kamu sama taman kamu juga dekat.”
 
“Kebetulan saja kok. Omong-omong.. bisa tolong ambilkan saus saset di lemari atas?”

Hilda mengangguk lalu melakukan apa yang diminta Amarta. Setelah menggoreng semua kroket, Amarta membungkus tiga di antaranya untuk Hilda disambut senyum mengembang gadis itu. Amarta membereskan sisanya dengan menaruh beberapa pada piring melamin kecil sedangkan sebagian lagi dia bungkus untuk dibawa pulang. Ketika dia menoleh pada jam dinding, waktu menunjukkan pukul tiga kurang tujuh menit.

Dia harus bergegas.

Amarta buru-buru mengenakan kembali jaketnya kemudian merapikan baju dan roknya sambil mematut diri ke cermin. Tersenyum setelah menyampirkan tas selempang ke bahu dengan sepiring kecil kroket di tangan, gadis itupun pergi setelah menutup pintu.

Seperti yang sudah dia duga, di lapangan sore itu telah berkumpul anak-anak klub sepakbola yang sedang mendengarkan arahan dari pelatih mereka. Amarta diam-diam mengintip di ujung dinding sekolah mencari-cari seseorang yang ada di antara barisan remaja laki-laki di sana. Agak sulit membedakan mereka karena menghadap arah yang berlawanan.

Namun sedetik kemudian, laki-laki itu menoleh ke samping—berbicara sesuatu pada anak di sebelahnya.

Amarta tersenyum. Itu dia, batinnya dengan perasaan berbunga-bunga.

Tanpa menunda-nunda lagi gadis itu berjalan mengendap—padahal tidak perlu begitu—seperti pencuri, mendekati meja panjang di mana beberapa tas anggota klub sepakbola diletakkan. Saking sering melakukannya, Amarta bahkan hafal masing-masing nama pemilik tas-tas itu. Sepiring kecil kroket buatannya kemudian dia taruh di dekat sebuah tas hijau gelap yang diletakkan paling pinggir.

Setelah melakukan kegiatan rutinnya seminggu sekali, dia pun berbalik pergi.

Saat itulah sebelum Amarta sampai ke gerbang depan, mata mereka bertemu: gadis itu dan sang Laki-laki jangkung pucat dengan kacamatanya.

***

Nathan tahu dia tidak sedang memperhatikan jalan. Dia juga tahu kalau sewaktu-waktu bisa saja ada sebongkah batu besar di tengah-tengah jalan yang dia telusuri kini dan Nathan mungkin saja akan tersandung atau bahkan terjungkal ke depan. Namun dia tidak peduli. Suasana hatinya sedang sangat jelek hari ini. Dia juga tidak peduli kalau pelatih klub sepakbola akan menceramahinya panjang lebar karena telah datang terlambat.

Ketika akhirnya mengangkat wajahnya setelah melewati gerbang sekolah, Nathan urung menghela napas panjang. Kedua matanya terpaku selama beberapa detik sebelum gadis itu mengangkat wajahnya juga.

Nathan tertegun.

Sepasang mata yang jernih itu seolah tidak pernah membuat Nathan bosan meskipun seringkali bukan dirinya yang jadi objek perhatian gadis itu.

Rambut pendeknya tertata rapi di belakang kepalanya dan terkadang sepasang jepit disematkan di sisi kanan dan kiri untuk mengatur anak-anak rambut. Wajahnya oval dengan rona wajah yang sehat dan bercahaya. Dua bibirnya ranum. Nilainya bertambah ketika gadis itu tersenyum. Dan kenyataannya gadis itu memang selalu menyunggingkan senyum saat bersama siapa pun. Nathan bahkan menyadari kalau tidak sekalipun dia mendapati gadis itu bersedih atau marah—meskipun mungkin gadis itu menutupi segala emosinya dalam ulasan senyum itu. Nilai tambah lainnya ialah, walaupun senyum gadis itu palsu, tidak ada yang bisa menyadarinya.

“Hai, Nathan,” sapa Amarta ramah ditambah lambaian tangan yang rendah dan singkat. “Latihannya sudah dimulai lho. Cepatlah ke sana.”

Nathan diam. Bukan hal mengherankan kalau dia mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat meskipun yang dia inginkan justru melakukan kebalikannya. Dialah yang pertama memutus kontak mata mereka lalu melangkah maju melewati gadis itu. Sesuai dugaannya, ekspresi Amarta seketika berubah keruh. Tetapi kemudian, apa yang dilakukan gadis itu selanjutnya, sama sekali tidak disangka oleh Nathan.

Melangkah menyusun Nathan, Amarta tiba-tiba menepuk bahunya. Alan yang sedikit terkejut langsung menoleh. Sepasang matanya melebar. Amarta tanpa ragu menyodorkan bungkusan kecil berisi beberapa kroket buatannya tadi.

“Buatmu,” katanya pendek dan—seperti biasa—berhiaskan senyuman hangat.

Nathan mengerjap. Meski begitu diterimanya bungkusan tadi. Senyum Amarta pun mengembang senang. Lalu setelah melambai lagi, dia pun berbalik pergi.

Baru ketika sosok gadis itu menghilang, Nathan baru sadar kalau dia lupa mengucapkan terimakasih. Seringnya dia memang terus meyakinkan diri kalau menjadi seorang introvert bukanlah sesuatu yang buruk. Hanya saja di saat-saat seperti tadi, dia selalu merutuki diri sendiri.

Nathan sedikit meremas bungkusan tadi dan dia merasakan kehangatan. Dari tekstur dan aroma yang berhasil dia cium, sepertinya bungkusan itu berisi makanan.

Nathan tersenyum sekilas kemudian melanjutkan jalan. Dia akan menganggap pemberian tadi sebagai balasan karena sebelumnya dia juga telah melakukan hal yang sama pada gadis itu. Entah Amarta menerimanya dengan baik atau tidak. Nathan hanya berharap perasaan gadis itu akan sama dengannya ketika menerima pemberian seperti tadi.

Benar-benar… karena dia merasa Amarta sungguh bagai anggrek yang mekar di pagi hari.

***

“Tadi aku dimarahi guru,” keluh Amarta setelah menaruh sepiring lemon myrtle soufflé glace di atas meja makan di depan Viola yang sibuk mengunyah pai ayam.

“Kenapa?” tanya Viola walau dengan mulut penuh.

“Aku lupa mengganti buku-buku di tas. Jadinya hari ini aku membawa buku-buku yang tidak perlu, juga tidak membawa buku-buku yang seharusnya kubawa.”

“Lain kali siapkan malam hari sebelumnya.”

“Aku tahu. Cuma lupa saja.”

“Kenapa bisa lupa?”

Amarta terdiam lalu menekan bibirnya ditambah senyuman serupa bocah kecil yang ketahuan tidak menyikat gigi malam sebelum tidur.

“Kalau begitu, aku bereskan sekarang saja bukunya!” putus gadis itu lalu berlari naik tangga menuju kamarnya. Viola pasti akan menyindir habis-habisan kalau sampai dia tahu alasan mengapa Amarta lupa menyiapkan kembali buku-buku sekolahnya adalah karena terlalu asyik dalam fase jatuh cinta.

Buru-buru dia memilah satu per satu buku dalam tasnya untuk menentukan bawaannya besok ketika tiba-tiba dia mendengar bunyi benda kecil yang tidak sengaja jatuh saat dia mengeluarkan buku catatan kecilnya. Amarta mengerutkan kening melihat benda yang berkilauan itu di lantai. Berjongkok, dia pun memungutnya.

Sebuah jepit rambut anggrek berwarna ungu yang masih dibungkus dalam kemasan plastik.
Benaknya dipenuhi tanda tanya. Setahunya, dia tidak ada jepit rambut seperti itu dalam koleksi hiasan-hiasan rambut yang dirinya miliki.

Then it’s a gift?

Kemudian dia pun tersenyum lalu memasang jepit itu di rambutnya di depan cermin.


“Love is not about how much you say ‘I love you’ but how much you prove that its true…”

A Bowl of Milk Pudding: Sometimes it’s not the butterflies that tell you you’re in love, but the pain

Minggu, 07 Juni 2015





Sebuah mobil Audi hitam berhenti tepat di depan stasiun kemudian dari pintu pengendara, seorang pria berlari kecil membuka bagasi mengeluarkan sebuah koper kecil berwarna kuning. Beberapa saat keluarlah seorang gadis ber-coat kuning dengan sepasang wedges tinggi yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling mendapati banyak orang berlalu lalang sibuk. Pria tadi menghampirinya menyerahkan koper gadis itu lalu menunduk sekilas. Setelah mengatakan sesuatu, gadis itu pun melangkah masuk stasiun tanpa menoleh kembali.

Melewati akses masuk dan setibanya di dalam, pandangannya berkeliling lagi namun dia tidak menemukan orang yang dicari. Menghela napas, gadis itu menyeret kopernya menuju ke tempat duduk yang kosong. Saat melihat jam tangan kecilnya, dia maklum karena telah datang dua belas menit lebih awal dari yang dijanjikan.

Seorang pria beraroma rokok yang menyengat berjalan lewat di depannya lalu duduk tidak jauh dari gadis itu. Dia menyembunyikan kedua tangannya pada saku jaket. Diam-diam dia pun melirik ke samping memperhatikan gadis tadi yang sekarang tampak sedang melamun karena matanya menyorot lurus ke depan tanpa beralih ke arah lain.

Coat kuning gadis itu terlihat begitu mencolok karena kuning bersih tanpa cela. Tudungnya berhias serat-serat yang lembut bagai bulu domba. Kebalikan dari warna kuning itu, rambut hitam kelamnya terjalin rapi di samping kanan. Walau hanya dilihat dari samping, semua orang pasti berpendapat sama dengan si Pria—dia gadis yang amat cantik. Ketika perhatian pria itu beralih, dia mengerutkan kening begitu menyadari orang-orang di sekelilingnya juga tanpa malu memperhatikan gadis tadi. Kasarnya, menjadikan dia barang tontonan.

Si Pria pelan-pelan mendekat lalu bertanya, “Mau ke mana, Non?”

Gadis itu menoleh. Tapi ekspresinya sama sekali tidak diharapkan oleh si Pria. Matanya menyorot tajam dan alisnya bertaut menunjukkan rasa tidak suka karena telah terusik. Menerima respon seperti itu, pria tadi pun mengurungkan niatnya untuk sok akrab.

Untunglah tidak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu datang.

Seorang remaja laki-laki jangkung berjaket hitam dengan ranselnya berjalan cepat menghampiri sang Gadis yang menunggu.

“Aku sudah berusaha datang lebih awal, tapi selalu kamu yang datang lebih dulu,” kata laki-laki itu kemudian duduk di dekatnya dengan napas yang agak memburu.

“Kau lari?” Melisma—gadis itu menoleh dan tersenyum. Sikapnya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang tadi.

“Taksiku terjebak macet. Aku terpaksa lari ke sini karena seperti yang sudah kubilang tadi: aku berusaha sampai di sini lebih awal,” jawab Alan sebal.

“Kenapa kau begitu terobsesi sekali datang lebih dulu daripada aku?”

“Aku-tidak-terobsesi,” jawab Alan menekan nada pada satu per satu kata, khususnya pada kata terakhir.

Melisma tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

Satu kereta datang, berhenti sejenak untuk menunggu semua penumpangnya masuk menimbulkan jeda obrolan yang panjang di antara mereka berdua. Sebagian besar orang di sana membawa tas atau koper yang besar dan berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing, sementara sebagian lainnya hanya duduk dan menunggu—seperti yang Melisma dan Alan lakukan—sambil berkutat dengan gadget.

“Kenapa kamu milih naik kereta? Padahal akan lebih cepat dengan pesawat,” ujar Alan memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
 
Gadis itu menekan bibirnya lalu menyilangkan tangan meskipun tersembunyi dalam balutan coat.

“Ibuku suka sekali mengajak kami berlima naik kereta api,” katanya kemudian. Matanya menerawang lurus mengingat saat-saat kecilnya yang indah. Tentunya jauh lebih indah ketika wanita yang bagaikan terus bermandikan cahaya itu masih menghembuskan napas. “Meskipun ujung-ujungnya kami hanya mendatangi tempat-tempat yang sebenarnya tidak perlu.. atau juga meski kami hanya berkeliling… Dia suka menggantungkan tangannya pada pegangan dalam kereta api yang sedikit berguncang..”

Alan terdiam. Mendengar Melisma begitu merindukan ibunya, dia langsung teringat pada sosok ibunya sendiri. Seorang wanita yang ceroboh. Bahkan karena satu kecerobohan yang dia perbuat, Alan kehilangan seseorang yang amat berharga. Karenanya untuk waktu yang lama, mereka seperti dipisahkan sebuah jurang yang lebar dan tinggi. Alan marah padanya. Namun sedikit demi sedikit, berkat bentakan Melisma suatu hari lalu, Alan sadar kalau dialah yang membuat senyum cerah yang dulu selalu menghias wajah ibunya telah memudar hingga sekarang nyaris tidak tampak sama sekali.

“Kuharap Mrs. Lusi tidak keberatan aku mengganggumu,” kata Melisma.

“Tentu aja nggak,” jawab Alan sembari menggeleng. “Dia justru tampak senang. Kamu mengingatkannya pada Allen.”

Melisma mengerutkan kening. “Allen—adikmu laki-laki.”

“Orang sering mengiranya anak perempuan karena dia sangat manis.”

“Jadi menurutmu apa aku juga sangat manis?”

Alan langsung berdehem beberapa kali lalu melihat jam tangannya. Mereka cukup menunggu beberapa menit lagi sebelum akhirnya kereta yang akan membawa mereka datang.

***

Jam-jam yang terlewat di kereta begitu melelahkan. Melisma menyeret kopernya keluar bersama Alan yang menggendong ransel di punggung. Keduanya sampai di kota tujuan saat hari menjelang sore, namun suasana dalam stasiun masih cukup padat.

“Kamu lapar? Kita naik taksi dan cari makan, atau kita check in dulu ke hotel?” tanya Alan memandang ke sekelilingnya, mengabaikan supir taksi, angkot, atau bahkan tukang ojek yang menawarkan dengan gigih jasa mereka.

“Aku mau mandi…,” gumam Melisma pelan menyadari segaris kecokelatan di bagian siku coat-nya.

“Kita ke hotel dulu kalau begitu,” putus Alan yang tiba-tiba merebut pegangan koper Melisma lalu menyeretnya ke arah satu taksi yang sedang diparkir di luar. Laki-laki itu mengatakan sesuatu pada supirnya lalu mereka menghampiri bagasi untuk menaruh barang.

Alan sepertinya tidak sadar kalau Melisma tidak langsung mengikutinya. Gadis itu masih berdiri mematung di tempat sambil memperhatikan Alan dari kejauhan. Ketika kemudian Alan bingung karena Melisma tidak ada di sekitarnya, barulah gadis itu melangkah setelah menghela napas panjang. Tapi baru saja dua langkah dia bergerak, seorang pria tiba-tiba menubruk keras badannya, kemudian Melisma oleng ke samping dan bahunya membentur dinding pilar.

Pria tadi panik lalu buru-buru menolong Melisma. Hanya ada sebagian kecil orang yang melihat—itupun mereka tidak terlalu mempedulikannya karena tubrukan tadi terkesan tidak sengaja.

“Mbak nggak apa-apa? Maaf, saya buru-buru,” kata pria itu setelah melepaskan tangannya dari lengan Melisma.

Gadis itu mengerutkan kening.

Tepat saat pria tadi berbalik hendak pergi, Melisma langsung mencengkeram kerahnya. Aksinya itulah yang kemudian mengundang perhatian orang-orang di sekeliling mereka.

“Yang namanya sampah tetap saja sampah,” ujar Melisma menatap tajam pada pria itu.

“Mbak, saya buru-buru nih!” elak pria itu yang sepertinya mulai panik dan menutupinya dengan ekspresi kesal.

Emosi Melisma langsung terpancing. Dengan sekali hentakan dia membanting tubuh pria itu ke depan. Saking kerasnya bunyi benturan yang dihasilkan, orang-orang di sana pun mulai heboh. Pria tadi berusaha keras untuk melepaskan diri, tapi yang ada, Melisma mencengkeram pergelangan tangan kirinya lebih keras dan kasar. Berikutnya bahkan tangan kanan pria itu berada dalam injakan sepatu wedges Melisma.

Pria itu mengerang kesakitan sementara Melisma merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah kantung kecil kuning yang berhias manik-manik berkilauan dengan ditutup tali pita. Setelah memastikan isi kantung itu masih berada pada tempatnya, Melisma melepas cengkeraman tangan dan injakannya tapi menendang tubuh pria itu sehingga berbalik menghadap atas. Mulut pria itu kaku ditatap tajam oleh Melisma.

You’re lucky I didn’t kill you after trying to steal my precious brooch,” kata gadis itu marah.

Tiba-tiba saja pria tadi mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya yang lain. Melisma tersentak namun terlambat menghindar. Ujung pisau kecil yang tajam itu melukai kakinya dan membuat luka yang memanjang. Tidak butuh waktu lama, darahpun merembes membasahi kaus kakinya.

Masih kalut dalam kepanikan karena tertangkap basah mencuri sekaligus ditambah tidak sengaja melukai Melisma, pria tadi langsung berlari kabur. Tapi sialnya, seseorang memukul leher belakangnya hingga pria itu langsung jatuh pingsan. Dua orang sekuriti yang datang langsung mengamankan pria tadi.

Melisma terduduk, meskipun di atas lantai kotor yang amat dibencinya. Kakinya terasa perih sekaligus lemas.

Alan—orang yang ternyata berhasil melumpuhkan pencuri tadi berjalan menghampiri Melisma lalu berjongkok memunggungi gadis itu.

“Naik,” katanya. “Taksinya di sana.”

Melisma menggigit bibir dan kedua alisnya bertaut. Biar begitu Alan tidak dibuatnya menunggu lama. Gadis itu perlahan-lahan merangkul Alan melewati kedua bahunya. Alan kemudian beranjak berdiri sambil menggendong Melisma di punggungnya tanpa berkata apa-apa lagi karena baik dia ataupun gadis itu tahu bagaimana persisnya melihat orang yang mereka sayangi terluka.

***

“Kamu nggak seharusnya pergi keluar lagi jadi aku pesan makanan hotel. Nanti diantar ke sini,” kata Alan sambil membereskan obat luar, kapas, dan pembalut dalam plastik setelah membebat kaki Melisma yang kini duduk di ujung ranjang. Laki-laki itu menghela napas panjang lalu berdiri hendak beranjak pergi. “Aku ke kamarku dulu.”

“Ah, anu…,” ucap Melisma kemudian menghentikan langkah Alan sebelum berlalu. “Kita pergi besok, tapi.. aku tidak mau bosan di dalam kamar saja. Bagaimana kalau menonton film sama-sama?”

Alan terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Kalau makanannya sudah diantar, kasih tahu aku.” Dan setelah mengatakannya dia pergi.

Apa dia marah? Melisma bertanya-tanya dalam hati lalu memeluk kedua kakinya sendiri yang ditekuk di atas ranjang.

Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk. Datang seorang laki-laki pegawai hotel yang berseragam rapi membawa troli makan malamnya. Melisma mempersilakan dia masuk untuk menaruh makanan itu di meja tengah kamarnya di depan televisi. Setelahnya, pegawai itupun pergi.

Melisma mengambil ponselnya untuk memberitahu Alan, namun niatnya urung. Detik selanjutnya yang dia hubungi justru kembar pertama.

“Halo, Snow White. Kenapa kau meneleponku?” respon suara jauh di seberang sana. “Kau sudah makan malam? Tidak ada segelas susu di mejamu?”

“Memang tidak ada susu.” Melisma menggerutu menatap meja makan malamnya yang penuh makanan. Tapi kemudian keningnya berkerut melihat semangkuk puding di sana.
Puding susu.

“Kupikir aku sedang dihukum. Ternyata tidak.” Dia tersenyum. Saat kembarannya bingung mengartikan ucapannya, Melisma justru memutus sambungan. Setelahnya tanpa ragu dia mengetikkan obrolan di Line pada Alan.

***

Film komedi. Mereka menontonnya sambil menyantap makan malam dengan duduk bersila menghadap meja yang rendah. Alan menyendokkan nasi ke mulutnya sedangkan Melisma memotong puding susunya menjadi dua bagian lalu meletakkan salah satunya di piring kecil untuk Alan.

“Kenapa? Buatmu saja. Bukannya kamu suka susu?”  tanya Alan.

“Sudahlah. Anggap saja kita impas,” balas Melisma lalu menambahkan potongan tumis daging ke nasinya. “Makan itu nanti sebelum aku memaksamu menelannya.”

Mereka lalu saling diam setelahnya kemudian tertawa bersamaan melihat adegan seorang gadis yang menghajar perampoknya dalam film.


Sometimes it’s not the butterflies that tell you you’re in love, but the pain..

A Cup of White Tea in the Morning: It was not smile, she said, it was tears

Senin, 01 Juni 2015



Aroma teh tawar menguar begitu dituang dari teh ke sebuah cangkir porselen putih yang memantulkan sinar matahari pagi. Menatap wajahnya pada permukaan teh sejenak, dia lalu mengambil honey dipper yang juga berada di meja yang sama, mencelupkannya ke wadah kecil berisi madu kental, lalu meneteskan cairan itu ke dalam teh. Tidak lupa untuk sentuhan terakhir, dia memberikan sedikit perasan lemon dari salah satu potongan kecilnya.

Tepat saat gadis itu meminum tehnya, seseorang terlempar dari jendela di lantai dua dan terjun langsung ke halaman taman. Punggungnya menghantam dinding pagar dan dia sempat terguling dua kali sebelum akhirnya menyenggol pot amarilis hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.

Gadis itu tidak terkejut. Dia meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja kemudian memandang tenang laki-laki yang berada tidak jauh darinya.

Orang itu susah payah berdiri. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Baik wajah dan tangannya yang terlihat penuh guratan memerah—namun tidak ada darah. Dia menyeka bagian pelipisnya lalu balik memandang gadis tadi. Napasnya terengah-engah namun rupanya dia masih terkesan tenang—hanya saja dengan sorot mata kesal.

“Hei, bocah!!” seru seseorang dari lantai dua. Pemilik suara itu adalah seorang pria berbadan kekar serta berkepala gundul, tapi dengan janggut yang panjang. “Ringnya di sini! Belum-belum mau mandi?”

Sontak beberapa orang yang juga ada di lantai dua tertawa terbahak-bahak. Si Gadis tersenyum samar. Laki-laki itupun sama tapi bernada mencibir. Persis di sebelahnya waktu jatuh tadi ada sebuah kolam yang lumayan lebar—penuh dengan ikan koi.

“Carilah minum, bocah! Kita bisa mulai lagi nanti!” kata pria tadi lalu kembali tertawa.

Setelah pria itu pergi, laki-laki tadi berjalan mendekat pada gadis manekin yang sedang duduk di kursi putih, menghadap meja kecil yang tinggi berukiran mawar. Sinar matahari tidak terlalu terik namun dia berada di bawah naungan payung yang besar. Seperti biasa dia memakai gaun putih selutut berenda. Rona kulit pucatnya selalu memberi kesan gadis itu selalu kurang sehat.

“Itu lucu?” Laki-laki itu menggumam sebal lalu mengambil duduk persis di depan si Gadis.

“Setidaknya ada kemajuan kan?” Ratimeria—si Gadis manekin itu menanggapi.

“Kemajuan dari mananya?”

“Jimmy bilang kemarin pagi kau dilemparnya keluar tiga kali. Sekarang ketika aku di sini, dia hanya bisa melemparmu satu kali sampai latihanmu pagi ini berakhir.”

“Jadi kau akan memujiku sekarang?” Fellon—laki-laki jangkung dengan rupa mempesona itu menyilangkan tangan.

“Sejenis itu,” jawab Ratimeria.

Fellon tertawa. “Biasanya kau cuma memberikan kritik pedas.”

“Aku mungkin kasar, tapi aku tak pernah berbohong,” ujar gadis itu lalu menyesap kembali tehnya.

Beberapa saat mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing. Fellon mengambil handuk yang tersampir di sandaran kursi tempatnya duduk lalu menyeka keringat di lehernya.
 
So why are you here?” Dia bertanya. “Beberapa waktu yang lalu kudengar kau menabrak seorang gadis sampai koma.”

Gadis itu diam. Sejenak Fellon sempat bertanya-tanya apakah ucapannya tadi menyinggung Ratimeria. Tapi biarpun penasaran Fellon takkan pernah bisa mengetahuinya kecuali gadis itu menjelaskan secara langsung apa yang ada dalam pikirannya. Ratimeria bagaikan seseorang yang berada di balik cermin. Ketika orang lain berupaya menebak apa yang dirasakan gadis itu, dia justru larut dalam pantulan pertanyaannya sendiri.

“Dia masih hidup. Jangan khawatir,” kata Ratimeria akhirnya. “Aku hanya sedang menikmati liburanku.”

“Bukannya kau selalu berlibur?”

“Tepatnya aku terbang ke mana-mana.” Ia mengkoreksi.

Fellon mengangguk-angguk menurut. Dia tahu tidak ada gunanya mendebat gadis itu. Lagipula siapa yang paham pada pola pikir seorang gadis remaja milyarder tujuh belas tahun yang penuh dengan hal-hal yang amat sedikit orang lain ketahui? Bahkan sejauh tiga tahun Fellon mengenalnya, segala tentang gadis itu masih nampak terselimuti kabut abu-abu. Dan satu hal: pola pikirnya sama sekali tidak cocok untuk remaja seumurannya, demi Tuhan!

“Aku mau mandi dulu,” kata Fellon lalu bangkit berdiri.

Ratimeria mengangguk. “Bersiaplah.”

“Hah?”

“Temani aku jalan-jalan.”

***

Anjing bulldog berbadan besar—tingginya kira-kira selutut Fellon yang jangkung tampak senang sekali membuat penuntunnya melangkah miring ke kanan dan ke kiri bergantian meskipun  jalan yang mereka telusuri lurus dan rata tanpa hambatan. Fellon berulang kali mendecap karena seharusnya hari itu dia ada janji dengan gadis blasteran Jerman yang amat cantik dengan mata hijaunya, namun Ratimeria dengan satu kata saja membuatnya tidak bisa membantah. Lagipula tadinya dia berpikir kalau makna jalan-jalan yang gadis itu katakan adalah dengan berbelanja seperti yang biasa mereka lakukan, namun ternyata dia sungguh-sungguh ingin jalan-jalan. Sejauh ini mereka terus berjalan sampai di atas jembatan lalu Ratimeria berhenti sejenak untuk membeli es krim pisang—itupun Fellon yang membelikannya tanpa melepaskan tali leher Clarky—nama anjing bulldog itu.

Sekarang setelah hampir satu setengah jam berjalan tanpa henti, barulah gadis itu memutuskan duduk di bangku panjang pinggir jalan dan melepaskan sandal kayunya.

“Jadi apa yang biasanya kau lakukan di tempat lain tiap harinya,” tanya Fellon asal-asalan karena Ratimeria lebih banyak diam.

“Meracik teh dan mengawasi ‘anak asuh’ku.”

Felon tersenyum sekilas. Gadis itu menyebutnya dengan ringan seolah itu hal yang wajar: mengulurkan tangan kanannya pada siapa pun yang dia sukai dan memberikan apa pun yang orang itu butuhkan walaupun ujung-ujungnya dia memasangkan rantai yang akan berlaku selamanya—persis seperti perlakuan mereka sekarang pada Clarky. Kasarnya, Fellon menyadari kalau dirinya adalah salah satu dari “anak asuh” itu.

Fellon tahu hal itu terdengar buruk. Namun sejauh dia mengenalnya, Ratimeria bukan ular yang melilit diam-diam. Hubungan mereka lebih condong dalam lingkup paternalisme. Masing-masing menjaga satu sama lain meski seringkali gadis itu hanya memanfaatkan mereka.

“Kau yakin sedang berlibur di sini?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku tidak sedang berlibur?”

“Karena orang yang sedang berlibur tidak akan duduk seharian menatap ke satu arah seperti yang sedang kau lakukan.”

Gadis itu tersenyum tipis.

Fellon mengerutkan kening. Sepertinya dugaannya benar.

“Akan kutunjukkan sesuatu yang menarik,” kata Ratimeria kemudian sembari menatap Fellon. “Karena hari ini telah kukabulkan permintaan seseorang..”

***

Mereka mendatangi sebuah rumah dengan tembok batu-bata merah yang dihimpit oleh dua gedung yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri. Fellon bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan gadis itu di sana ketika tidak lama setelah Ratimeria mengetuk pintunya, seorang wanita bertubuh kurus serta berambut merah panjang menyambut mereka ramah. Senyumnya berseri-seri namun Fellon merasakan ada yang aneh dengan senyum wanita itu.

“Kau datang di saat yang tepat,” kata wanita itu sambil merapikan anak-anak rambutnya ke belakang telinga. Fellon sempat bersalaman dengannya dan wanita itu menyebutkan namanya: Helena.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ratimeria meskipun dia tidak benar-benar berniat bertanya. Fellon yakin, Ratimeria bisa mengartikan semua hal yang tergambar di wajah Helena.

Wanita itu tersenyum berbinar meskipun keadaan yang sebenarnya berbanding terbalik.

“Tadi malam…” Helena berkata. “Akhirnya dia mengancam akan membunuhku.”

Sontak Fellon terbelalak. Dia memperhatikan Ratimeria dan Helena bergantian namun mereka nampak tenang seolah kalimat tadi bukan perkara besar.

“Aku harap dia datang secepatnya… karena aku tidak sabar lagi menunggu,” tambah Helena yang kembali tersenyum.

Ratimeria diam membisu. Gadis itupun membiarkan Helena berbicara hal-hal yang sama sekali tidak Fellon mengerti. Wanita itu bilang kalau dia akan dibunuh, namun raut wajahnya begitu bahagia seolah-olah kematian adalah satu-satunya pilihan terbaiknya kini.

Wanita itu gila.

“Aku sudah menyiapkan semuanya.” Helena mengambil sekeping CD yang dia taruh dekat televisi di sana. “Anakku.. pasti akan sangat gembira.” Perlahan dia menyerahkan wadah kepingan CD itu pada Ratimeria. “Kurasa kita tidak akan bertemu lagi.. tapi ketahuilah, aku benar-benar sangat berterimakasih padamu…”

Lalu setitik air matanya menetes.

Sampai Fellon mengantar Ratimeria pulang ke manor house tempatnya tinggal, sedikitpun Fellon tidak melupakan ekspresi penuh arti yang Helena pancarkan pada mereka. Ingatan itu masih melekat kuat hingga Fellon mendengar berita kalau wanita itu tewas tertembak tepat di bagian jantungnya.

***

Bell pintu utama manor house bernuansa cokelat gelap dipencet berkali-kali oleh tamu tak diundang yang tergesa-gesa datang. Seorang maid membukakan pintu untuknya dan terkejut mendapati Fellon langsung melontarkan pertanyaan tepat sebelum sang Maid mengucapkan salam.

“Di mana dia?”

“Ah… Nona? Beliau pergi sekitar satu jam yang lalu..”

“Ke mana?”

“Saya tidak tahu. Tapi tadi Nona berpesan supaya Tuan menunggunya di halaman samping.”

“Apa?” Fellon mengernyit. Gadis itu sudah menduga kalau dia akan mendatanginya?

“Nona akan segera pulang. Silakan tunggu. Teh putihnya akan siap sebentar lagi.”

***

Fellon mengetuk-ngetukkan ujung jarinya berulang kali ke meja kayu karena tidak sabar menunggu Ratimeria muncul. Untunglah dia hanya perlu menunggu selama delapan menit sampai akhirnya gadis itu menghampirinya—lengkap dengan topi rajut putih dan sarung tangan transparan yang belum sempat dia lepaskan.

Ratimeria duduk lalu menyesap teh putihnya sebentar sebelum membalas tatapan Fellon yang tidak sabar.

“Apa yang terjadi? Kenapa Helena—…”

“Ah.” Ratimeria memotong. “Mengapa terkejut? Bukankah kemarin dia sudah memberitahu tentang apa yang terjadi hari ini?”

“Hentikan berbelit-belitnya! Bicaralah dengan sesuatu yang bisa aku mengerti! Kegilaan macam apa ini?!”

Ratimeria diam. Cangkir yang ada di tangannya dia letakkan kembali ke alas asalnya. Tenang, gadis itu menatap Fellon. Tatapan yang sama dengan yang dia berikan tiga tahun silam ketika Fellon dipungutnya dari gedung yang dipenuhi jeruji besi meskipun laki-laki itu tidak bersalah dengan tuduhan-tuduhan yang diarahkan padanya.

Umurnya masih empat belas tahun kala itu. Dia datang menyambut bebasnya Fellon didampingi seorang pria yang menggenggam tangannya.

“Helena pernah menjadi pengajar pribadiku,” papar Ratimeria beberapa saat kemudian. Matanya menerawang. “Dia wanita yang tegar. Tapi tidak setelah putranya terbunuh hanya gara-gara peluru salah sasaran.”

Fellon tertegun—masih belum mengerti.

“Ketika berumur dua puluh tahun, dia diserang seorang pria. Tidak hanya barang-barang berharga dirinya dirampas, Helena juga diperkosa. Dia pun depresi berat dan menghabiskan beberapa waktu yang dia punya di rumah sakit jiwa. Tapi tidak lama kemudian, dia mengetahui kalau dalam rahimnya terdapat janin. Meskipun ingat kejadian yang telah dia alami, dia tidak bisa membunuh anak itu. Dunianya berubah setelah dia memiliki seorang putra. Dia menamainya Rachie.

“Suatu hari… Helena mengajak Rachie berbelanja. Helena naik sepeda, sementara Rachie membonceng di belakangnya. Mereka menyusuri jalan ketika tiba-tiba terdengar suara letusan yang amat dekat. Helena menghentikan laju sepedanya tepat setelah tubuh Rachie terjatuh ke belakang. Leher Rachie tertembak dan dia tidak selamat.”

“Penembak itu…” Fellon tanpa sadar menyambung.

“Seorang polisi yang sedang mengejar buronan,” jawab Ratimeria pendek. “Meninggalnya Rachie seperti itu.. menumbuhkan dendam dalam hati Helena. Dia mengatakan padaku, apa pun resikonya akan dia terima supaya dendamnya terbalas. Sebab bunga mana yang akan hidup apabila tak ada matahari?” Ratimeria tersenyum tipis. “Kemudian.. aku memutuskan untuk membantunya.”

“Tunggu sebentar!” sela Fellon. “Kau bilang Helena dendam pada polisi itu. Tapi kenapa Helena yang terbunuh?”

Ratimeria tertawa kecil sebelum menjawab, “Some people come in your life as blessings, others come in your life as lessons.. Namun Helena tidak memilih salah satunya. Dia mengambil keduanya…”

Fellon mengernyit bingung. Terlalu banyak teka-teki.

“Dia bukan polisi yang handal,” kata Ratimeria memberitahu. “Meski begitu dia sangat mencintai istri dan putra mereka satu-satunya.”

“Helena membunuh putranya?” tebak Fellon.

Kali ini Ratimeria tertawa keras namun singkat.

“Anak itu punya tumor di kepalanya.” Dia berkata. “Helena mendekati istri polisi itu lalu meyakinkannya kalau dia ingin menolong anak itu. Jadilah, Helena mengatur supaya mereka pergi tanpa memberitahu sang Polisi, karena itulah syarat yang Helena ajukan, dengan alasan kalau dia ingin memberikan kejutan istimewa pada polisi itu: Yang mana ketika mereka kembali nanti, anak itu telah sembuh total.”

Mendadak sekujur tubuh Fellon mendingin. Ratimeria diam menatapnya penuh arti karena tahu Fellon perlahan-lahan mengetahui seperti apa lanjutan ceritanya.

“Helena berbohong…,” gumam Fellon. “Polisi itu mengira istri dan anaknya diculik.. dia kemudian mengancam Helena.. dan membunuhnya..”

“Tidak lama setelah membunuh Helena karena kalap, dia langsung ditangkap.” Ratimeria menopang dagu. “Aku mengabulkan permintaan Helena kemarin.. aku perlihatkan isi video itu padanya.”

“Kalian bersekongkol,” simpul Fellon yang mulai terpancing emosi.

“Akulah yang membiayai semua pengobatan anak itu.” Ratimeria mengangguk.

“Memangnya kau siapa? Iblis bersayap malaikat?” sindir Fellon sinis. Laki-laki itu bahkan mulai merasakan kepalanya berdenyut.

Ratimeria terdiam. Dia memperhatikan seksama ekspresi Fellon yang kemungkinan jengah mendengar perbuatannya kali ini. Ratimeria selalu tahu apa yang orang-orang pikirkan tentangnya entah di saat mereka mengenalnya atau tidak sama sekali. Hanya saja berulang kali batinnya tidak pernah berhenti membatin pertanyaan mengapa.

Segala hal yang dia lakukan tidak luput dari konsekuensi yang harus dia terima. Dia terbiasa mendapatkan upah yang pahit, bahkan paling buruk sekalipun. Tidak ada orang yang ingin memanen buah yang telah busuk—dia tahu. Tapi entah kenapa setiap dia menabur benih serta berharap hasil yang terbaik, tidak semua orang mengerti maksud dia sesungguhnya. Fellon pun bagian dari mereka.

Apakah yang dia harapkan terlalu tinggi? Ratimeria bertanya-tanya.

Sesaat, angin berhembus menerpa mereka dan tak sengaja topi Ratimeria melayang lalu terjatuh ke atas tanaman mawar yang berduri banyak. Gadis itu pun menatap kosong ke depan seolah rohnya mengambang entah di mana.

Karena Fellon tidak lagi mengucapkan apa pun, Ratimeria perlahan-lahan berdiri dan mendekatinya dalam hening. Tahu-tahu ketika Fellon berhasil menarik kesadarannya kembali dari jalinan pemikirannya yang runyam, dia melihat gadis itu duduk di atas meja menghadapnya dan menangkupkan kedua tangannya yang masih terbungkus kain renda putih ke wajah Fellon. Mata laki-laki itu melebar karena terkejut. Dia ingin menyentakkan Ratimeria karena wajah mereka berdua begitu dekat hingga nyaris tidak ada jarak, namun mulutnya seperti tersumbat sesuatu.

Mata mereka saling beradu. Saking dekatnya, Fellon juga merasakan aroma mawar yang samar dari setiap hembusan napas Ratimeria. Irisnya cokelat gelap yang teduh juga gelap. Fellon takkan tahu seberapa jauh kedalaman batin yang tersembunyi di dalamnya.

Don’t judge my choices without understanding my reasons…” Dia berbisik. Kelopak matanya berkedut memperlihatkan semburat kesedihan. “Is it hurt you, after heard one of my stories? Then never forget what it taught you… It’s not crimes committed by evil people who makes the best revenge, but crimes committed by a good person in a good way…” Ratimeria membisikkan sesuatu lagi namun dalam nada yang lebih pelan sampai-sampai Fellon butuh waktu lebih untuk mencernanya.

Dan setelah mengatakannya, gadis itu menarik diri membiarkan Fellon membatu pada tempatnya. Sementara teh putih yang terhidang telah menjadi dingin, dia menyadari Ratimeria sengaja meninggalkan sekeping wadah CD Helena di sana.

***

Awal ketika video itu diputar, muncul wajah seorang wanita berona pucat namun tetap tersenyum cerah malu-malu saat menghidupkan camrecorder untuk merekam dirinya sendiri dan seorang anak laki-laki di sampingnya yang terus mengerjap polos. Beberapa detik wanita itu mencoba merapikan rambut ikalnya baru kemudian mulai bicara.

“Hai, Sayang… Maaf, aku baru menghubungimu sekarang… Helena melarangku menghubungimu karena takut aku akan merusak kejutan yang sedang aku dan Rick persiapkan.. Tapi karena sekarang keadaan Rick sudah membaik jadi, kami pikir ini saat yang tepat.”

Wanita itu tersenyum lebar menyembunyikan tangis yang pelan-pelan menyeruak.

“Putra kita sembuh sayang,” katanya dengan begitu bahagia. “Helena benar-benar penolong untuk keluarga kita.. dia tahu dokter terbaik untuk Rick dan bersedia membantu membiayai pengobatannya.. Rick sembuh, Sayang.”

Gemetaran, Fellon membekap mulutnya sendiri.

“Papa,” kali ini anak itu yang berkata. “Maukah mengajakku ke taman bermain saat aku pulang? Ajak juga Mrs. Helena. Dia baik sekali selalu membawakan mainan selama aku di sini.”

“Intinya.. maaf telah membuatmu cemas,” tambah ibu Rick yang sekarang tampak menangis—tangisan membendung kebahagiannya. “Rencananya kami akan pulang minggu depan.. tunggulah kami. Kami sangat mencintaimu..”

Beberapa detik mereka diam dan saling tersenyum. Kemudian tidak lama, video itu berhenti.

Fellon terpaku. Perasaannya membuncah, tapi dia larut dalam kesunyian panjang memikirkan keluarga yang masih utuh itu.

Kebahagiaan dengan dasar luka.

Samar-samar, Fellon berhasil mencerna kata-kata terakhir Ratimeria yang diberikannya hari ini.


“Don’t hate or love too much… because that ‘too much’ can hurt you so much…”


Senyum miris tersungging di wajah Fellon.

Benar-benar…, pikirnya. Mungkin hal seperti inilah yang membuatnya sampai jatuh hati pada sang Gadis Manekin.