That Time They were Learning (Resolution-End)

Kamis, 16 Juli 2015






Si Gadis mata satu tidak ada di kelas. Viola meski diam dan duduk manis, matanya tidak bisa berhenti melirik pintu yang dibiarkan terbuka. Tiara sendiri telah kembali ke kelas Amarta. Hanya saja saat menoleh ke belakang sewaktu hendak masuk ke kelasnya sendiri, Ratimeria lenyap. Viola menyetujui adanya pendapat kalau kembarannya itu memiliki tubuh seperti bulu, namun tetap saja, bagaimana bisa dia tidak mendengar sama sekali langkah kaki gadis itu tatkala meninggalkannya?

Kalau dia tidak benar-benar bisa mengikuti sekolah umum, kenapa sampai repot-repot menjadi pelajar sementara di sana? Entah di mana Ratimeria sekarang, yang pasti dia pasti sengaja membolos. Tidak mengherankan selama ini sumber kegiatan belajarnya berasal dari pengajaran privat—selain guru-guru yang dipekerjakan, Viola sempat iri kalau Ratimeria kadang menerima didikan langsung dari ayah mereka. Apa yang dia pelajari telah jauh melewati batas materi sekolah formal. Mungkin otaknya mirip Melisma, hanya saja dia tidak punya ambisi untuk mengandalkan segala hal yang dia tahu. Kerjanya hanya mengurusi perusahan produsen-produsen makanan yang tersebar di mana-mana. Sayangnya Viola hanya tahu sebatas itu.

***

Sedari awal dia memang tidak berniat berdiam di dalam kelas. Ratimeria tidak suka kurungan yang berwujud nyata—kelas sekolah adalah salah satunya. Dia berada di halaman belakang sekolah yang dipenuhi tanaman juga rumput liar. Matanya terpaku pada sekuntum bunga kertas yang dihinggapi kupu-kupu merah. Tanpa berkedip dia memperhatikannya hingga akhirnya kupu-kupu tadi terbang.

Mungkinkah.., dia bertanya dalam hati. Langkah mereka mendekat ke sini terlalu berisik?

Ratimeria menoleh. Dia tidak terkejut melihat sepasang gadis berada lumayan dekat dengannya sekarang. Haven dan Isabel. Dia cukup tahu hanya dengan membaca name tag keduanya.

“Kamu siapa?” tanya Isabel. Sebab air muka yang berbeda, juga berkat balutan kain putih di mata kirinya, mereka tidak mengenali wajah Ratimeria mirip dengan Viola ataupun Amarta.

Sounds like rhetorical question to me…” Ratimeria berujar disambut dengan kerutan kening Isabel dan Haven. “Terus kenapa kalian ke sini?”

Isabel dan Haven saling berpandangan sekilas. Mereka mendengar kalau Amarta terus-terusan berbicara dengan guru yang sedang mengantar siswa baru berkeliling sekolah. Gadis itu bertingkah mencurigakan hingga keduanya tidak bisa tenang. Isabel bersikap tenang namun Haven sebaliknya. Mereka tambah cemas karena tidak berhasil menemukan Amarta di mana pun. Atau bahkan gadis cengeng itu nekat datang ke ruang guru.

Pertanyaan Isabel tadi sebatas kilasan karena mereka mendapati Ratimeria tidak mengenakan seragam identitas sekolah seperti siswa lain.

Meskipun hanya dengan mata kanan, Ratimeria menatap mereka bergantian tanpa melewatkan satu detilpun. Isabel—khususnya—merasakan hawa aneh menjalar di tubuhnya.

“Kita pergi aja,” ajak Haven menarik lengan Isabel.

Looking for someone?” Ratimeria bertanya lagi sebelum mereka berdua membalikkan badan untuk pergi.

Haven dan Isabel sama-sama menoleh.

“Kurasa aku tadi melihat seseorang masuk ke sana..,” kata Ratimeria menunjuk ke satu arah.

Mata kedua gadis tadi langsung membelalak begitu mengetahui telunjuk Ratimeria mengarah ke sebuah barak di samping laboratorium biologi. Panik, mereka langsung berlari ke sana. Haven mencoba membuka pintu namun barak itu dikunci dari dalam. Dia pun berteriak menebut nama seseorang dengan terus menggedor-gedor pintu. Isabel sendiri berulang kali menekan-nekan tombol ponselnya diiringi decapan gelisah.

Ratimeria mendekati keduanya dengan langkah tanpa suara. Barulah ketika baik Haven dan Isabel sampai pada puncak frustasi mereka, Ratimeria memberikan saran terbaiknya.

“Tunggulah waktu sekolah usai nanti..” Dia berkata berhiaskan senyuman prihatin. “Kita bisa.. dobrak pintunya sama-sama tanpa menarik perhatian.”

***

Sekelompok laki-laki masih memakai lapangan rumput di belakang gedung sekolah untuk bermain sepakbola. Mau tidak mau Haven dan Isabel harus menunggu mereka selesai—walaupun bisa jadi langit sudah menggelap ketika mereka selesai bermain. Haven sempat mengutarakan keraguannya pada Isabel kalau Amarta benar-benar mengurung diri di barak, tapi kemudian Isabel membalasnya kalau setidaknya kali ini mereka harus percaya. Sedikit sekali orang yang berbohong tetap tinggal di lokasi dia mengatakan kebohongannya.
Perhatian mereka kemudian beralih pada gadis aneh itu. Dia sedang duduk di atas kubus batu-bata dengan mulut mengulum ujung sedotan dari sebuah teh botol. Posisinya saat ini tengah membelakangi mereka.

Hawanya semakin dingin setelah sekeliling mereka mulai gelap serta muncul cahaya kecil yang berasal dari lampu-lampu rumah di atas bukit. Ratimeria tetap bergeming sedangkan Haven dan Isabel tambah gelisah. Setelah memastikan tidak ada lagi anak laki-laki anggota klub sepakbola yang tertinggal, sepasang gadis itu lalu sepakat untuk langsung mendatangi barak. Di dalam suasananya gelap karena lampu remang-remang yang ada di sana tidak dinyalakan.

“Amarta!!” Haven berteriak memanggil. “Jawab aku kalau kamu di dalam!! Mau sampai kapan kamu di dalam situ?!”

Ratimeria berdiri diam di belakang mereka dengan matanya yang tetap mengawasi seksama. Haven terlihat yang paling panik karena dia terus berseru kasar, tapi kemudian tambah menarik karena melihat baik-baik tingkah mereka berdua, Isabellah yang sebenarnya paling ketakutan.

Haven mendadak menoleh ke belakang lalu bertanya bernada melengking pada Ratimeria. “Kamu yakin ada orang di dalam sini?!”

“Kenapa tidak, kalau kalian tidak bisa membuka pintunya dari luar?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Ratimeria namun sangat jelas menjawab pertanyaan Haven.

Kuncian di pintu barak itu ada dua, yakni kunci gembok di sisi luar, serta kuncian batang besi di sisi dalam. Karena gembok yang mereka lihat tidak dalam keadaan mengunci, pintu itu tidak bisa dibuka pastilah karena seseorang mengunci dari dalam.

“Dia benar,” kata Isabel yang sekarang memucat. “Kita harus dobrak pintu ini.”

Haven lalu menggigit bibir frustasi. Dia lalu berkali-kali menendang keras pintu barak tapi sia-sia saja. Sebagai gantinya, gadis itu kembali berteriak membentak. Ratimeria memperhatikan Isabel lagi. Wajahnya makin pucat ditambah kekakuannya menggigiti ujung kuku jari-jarinya.

Tegang di sana semakin parah tatkala tiba-tiba terdengar benda tumpul berjatuhan dari dalam barak. Haven dan Isabel sama-sama membelalak. Bahkan sayup-sayup suara tangisan terdengar.

“AMARTA!!!” Haven yang tampaknya sudah berada di puncak emosinya, menyebut nama itu liar.

Allow me.”

Ketiga gadis itu termasuk Ratimeria langsung menoleh ke belakang pada sumber suara yang tenang. Seorang gadis lagi dengan rambut panjang hitam yang menutupi seluruh punggungnya. Dia merasa tidak perlu respon persetujuan untuk kemudian membuat lubang di dinding kayu barak itu menggunakan pipa besi yang panjang. Suaranya keras sekali sampai-sampai Haven dan Isabel mundur dua langkah.

Gadis misterius tadi melemparkan begitu saja pipa besinya—membuat Haven dan Isabel tersentak. Dia lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang itu lalu meraba-raba sisi dalam pintu, mencari batang besi kecil yang dalam posisi mengunci. Hanya butuh beberapa detik, pintu itupun berhasil dibuka.

Mata Ratimeria dan Melisma sempat bertemu sebelum gadis pualam itu masuk ke sana duluan diikuti Haven dan Isabel. Melisma menyalakan lampu remang-remang di sana. Kedua gadis tadi sontak terkesiap melihat wajah Amarta hampir seluruhnya basah oleh air mata dan tubuhnya diikat dengan tali.

Ratimeria sempat menghela napas kecewa melihat kesalahan kecil yang telah gadis itu lakukan. Namun untunglah saking syoknya, baik Haven dan Isabel tidak bisa mencerna pemandangan di depan mereka kini dengan baik.

Isabel langsung mendatangi Amarta sedangkan Haven terpaku di tempat.

“Kamu nggak apa-apa?” Isabel melepaskan ikatan tali di tubuh Amarta seraya menangis.

Ratimeria lalu duduk di atas meja yang usang dan berdebu. Saat itu juga masuk satu orang lagi yang mereka kenal dengan seragam yang sama dengan Amarta, Haven, dan Isabel. Viola mendesah memandang mereka bertiga penuh arti. Kelopak matanya berkedut menunjukkan keprihatinan. Setelah itu, Haven dan Isabel terdiam tegang.

“Kalian berdua..” Viola berkata pelan. “Apa yang kalian lakukan pada adikku?”

***

Pesan singkat yang diterima Haven siang tadi adalah jebakan.

Aku akan mengakhiri semuanya seperti yang kau mau. Sekali lagi maaf.

Berkat pesan itu Haven panik dan langsung memberitahukannya pada Isabel. Ada dua kemungkinan mengenai apa yang dilakukan Amarta selanjutnya: pertama, mengadukan kejadian yang dia alami pada guru, dan yang kedua menghukum dirinya sendiri. Karena mereka bersahabat dekat cukup lama dan saling mengenal baik, kemungkinan pertama gugur karena Amarta bukan orang yang tega menjerumuskan siapa pun. Otomatis mereka berdua panik luar biasa—karena walaupun Haven dan Isabel tahu bagaimana perlakuan anak-anak lain pada Amarta, setidaknya mereka tidak pernah lupa pernah menganggapnya sebagai sahabat yang menyenangkan.

“Kalian berdua.. Apa yang kalian lakukan pada adikku?” Viola—kembaran Amarta lalu bertanya. Saat itu juga gadis yang tadi membuat lubang pada dinding kayu barak, mengunci pintu itu lagi.

Haven mengernyit begitu menyadari wajah mereka begitu mirip.

“Katakan hanya padaku,” balas Haven berani dengan menjadikan badannya perisai untuk Isabel walaupun di belakangnya juga ada Amarta yang sesenggukan. “Karena yang memberinya pelajaran hari-hari belakangan ini adalah perbuatanku.”

“Kenapa?” tanya Viola lagi.

“Itu…”

“Amarta membuatkanku sup kepiting,” potong Isabel lalu berdiri di samping Haven. Matanya sempat menoleh nanar pada Amarta kemudian kembali menatap Viola.

Viola dan Melisma awalnya mengernyit tidak mengerti. Tapi begitu Isabel meneruskan kata-katanya, raut wajah mereka berubah.

“Aku alergi kepiting,” aku Isabel. “Bukan alergi yang berat. Saat tidak sengaja makan kepiting, beberapa bagian tubuhku hanya akan gatal-gatal. Kalau kupikir-pikir.. Amarta pantas melakukannya karena dia marah aku telah secara tidak sengaja merusak janjinya dengan guru tata boga yang sangat dia sukai.. juga membuat buku agenda yang dia buat dengan susah payah, hancur ketika tidak sengaja aku mendorong tasnya ke sungai…”

Sama dengan Haven, Viola dan Melisma diam menyimak, menunggu alasan sebenarnya.

“Bungkusan sup kepiting itu aku bawa ke rumah.. awalnya kupikir itu hanyalah sup biasa. Ibuku pun memakannya untuk makan malam kami di rumah..” Isabel menutup mata sejenak. Tangannya terkepal. “Ibuku juga alergi. Tapi tidak seperti alergiku yang ringan, alergi ibuku jauh lebih berat. Dia hampir tidak bisa bernapas. Dia hampir mati kalau tidak cepat-cepat dibawa ke rumah sakit.”

Viola langsung membekap mulutnya sendiri sementara Melisma syok. Haven dan Isabel jelas tidak menyadari gadis yang terduduk di belakang mereka tidak lagi sesenggukan, melainkan tertegun dengan sepasang matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya.

“Aku anak tunggal…,” kata Isabel yang mulai terisak. “Ibuku adalah keluargaku satu-satunya. Di saat aku tidak bisa menyalahkan Amarta secara langsung, aku hanya bisa cerita pada Haven.. aku tahu alasan Amarta yang murung dan terluka akhir-akhir ini.. sambil menunggunya menyampaikan permintaan maaf padaku secara langsung.. aku pun berpura-pura tidak tahu apa-apa…”

Haven menyentuh bahu Isabel untuk menenangkannya.

“Semua hal yang dialami Amarta adalah perbuatanku sendiri,” klaimnya tegas. “Isabel tidak ikut andil sama sekali.”

Viola, Melisma, serta gadis yang terduduk di belakang Haven dan Isabel lalu membisu. Sebenarnya rencana awal mereka adalah untuk memberi pelajaran pada dalang perundungan Amarta. Tapi setelah tahu alasan di balik itu, sekarang bahkan tidak ada yang berani mengangkat wajah, apalagi untuk berkata-kata.

You’ve heard that..” Ratimeria berujar pelan. “Take the mask off.”

Merasa perintah tadi ditujukan padanya, gadis yang ada di belakang Isabel lalu berdiri. Dia melepaskan wig pendeknya juga menyeka air mata palsu yang membasahi pipinya, membuat Haven dan Isabel membelalakkan mata terkejut. Gadis itu juga melepaskan beberapa jepit di kepalanya hingga rambut panjang ikalnya tergerai panjang sekarang.

Sorry,” ucap Tiara sembari meringis pada Haven dan Isabel. Pandangannya lalu beralih pada Ratimeria. “Berlebihan sekali ya?”

“Bukan kau,” balas Ratimeria datar. Gadis itu lalu menoleh pada Melisma. “Coba buka pintunya..”

Melisma bertingkah bingung. Meski begitu dia lalu membuka kunci pintu dan membukanya. Matanya langsung melebar begitu melihat Amarta yang asli berdiri tepat di ambang pintu sambil menangis tanpa suara.

“Marta..” Viola memanggilnya pelan dengan perasaan campur aduk.

“Kemarilah..,” panggil Ratimeria yang mengulurkan tangan. Amarta lalu mendekat padanya seraya menyeka pipinya yang basah. Tangan itu lalu menangkup di wajah Amarta. “Is it time for apology?”

Amarta mengangguk.

ŠÆ скажу вам кое-что, прежГе чем Š“ŠµŠ»Š°Ń‚ŃŒ ŃŃ‚Š¾. ŠžŠ“Š½Š° Š»ŃŽŠ±Š¾Š²ŃŒ на самом Геле Ń‚Š¾Š»ŃŒŠŗŠ¾ Š“Š»Ń оГного человека .. Š’Ń‹ не можете ŠæŠ¾Š“ŠµŠ»ŠøŃ‚ŃŒŃŃ им с Š“Ń€ŃƒŠ³Š¾Š¼. Это то, что Єейвен ŠæŃ‹Ń‚Š°ŠµŃ‚ŃŃ ŃŠŗŠ°Š·Š°Ń‚ŃŒ вам. Š’Ń‹ можете ŠæŠ¾Š“Ń€ŃƒŠ¶ŠøŃ‚ŃŒŃŃ со всеми, но Ń‚Š¾Š»ŃŒŠŗŠ¾ в оГном человеке, которого вы можете ŠøŠ¼ŠµŃ‚ŃŒ ее серГце.

Kata-kata itu diucapkan secara lembut dalam bahasa Rusia hingga baik Haven ataupun Isabel tidak bisa mengetahui maknanya. Amarta menunduk lagi lalu mengangguk mengerti meski air matanya kembali mengalir.

Gadis manekin kemudian beranjak meninggalkan barak diikuti Viola dan yang lain tanpa melewatkan menoleh pada Amarta lebih dulu. Melisma yang terakhir keluar kemudian menutup pintu tanpa menguncinya lagi. Dia membayangkan mereka bertiga akan bicara dari lubuk hati yang paling dalam hingga tidak sepatutnya diusik oleh siapa pun. Termasuk mereka berempat.

Amarta ragu-ragu menatap bergantian Haven dan Isabel. Kedua tangannya meremas kuat-kuat roknya hingga kusut tidak karuan. Makna dari kata-kata yang diutarakan Ratimeria terngiang jelas dalam benaknya, membuat gadis itu harus memutuskan tindakannya sendiri—tentu saja bukan cara pengecut yang dia lakukan kemarin-kemarin.


I'll tell you something before you do that. One love actually only for one person.. You can't share it with the other. This is what Haven trying to tell you. You can make friends with everyone, but only in one person you can have her/his heart.

That Time They were Learning (Complication 3)

Selasa, 14 Juli 2015



Setelah menghabiskan kira-kira separuh sarapannya serta tidak lupa menghirup aroma blooming tea pagi ini, Ratimeria dijemput oleh seorang laki-laki berotot dengan kepala tanpa rambut. Penjaga gerbang sempat takut kalau orang yang bersinggah itu adalah preman. Tapi ketika laki-laki itu memberikan salam padanya dan bertingkah sopan, kekhawatirannya pun sirna.

Tidak lama kemudian Ratimeria keluar dari pintu utama mengenakan coat cokelat yang membuatnya tampak hangat. Laki-laki itu tersenyum lalu menunduk sekilas, sedangkan Ratimeria memperhatikan dia seksama mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu tahu namanya, namun tidak begitu mengenalnya. Dia meminta seseorang mengantarnya ke suatu tempat dengan penjagaan yang benar-benar aman, tapi seseorang itu lalu menyuruh putra sulungnya ke sana.

“Davi?” Nama laki-laki itu dia sebut.

“Ya, saya Davi,” responnya sembari tersenyum merekah. Matanya mengerjap-ngerjap ramah membatin kalau dia amat bersyukur ayahnya tidak menyuruhnya memandu orang yang tua dan aneh. Justru di hadapannya sekarang berdiri gadis berbaju loli yang kira-kira seumuran dengannya. Dia sangat cantik meski ekspresinya datar.

“Kau tidak pergi ke sekolah?” tanya Ratimeria mengingat Viola dan Tiara sudah berangkat sekolah kurang lebih satu jam yang lalu.

“Harusnya begitu. Tapi kata ayah, saya harus menemanimu… em.. Vr—.. maksud saya Nona Vrt—…”

“Meri.” Gadis itu memotong lebih dulu karena sepertinya nama tengahnya tidak mudah untuk Davi sebut. Lebih dulu dia bertanya, “Di mana ayahmu?”

“Beliau di rumah sakit mengantar mama.”

“Ah… Aku harap Sofiana baik-baik saja.”

Davi mengerjap mendengar Ratimeria menyebut nama ibunya tanpa embel-embel apa pun. Dia juga tidak sungkan membuka pintu mobilnya lalu masuk ke sana sebelum Davi sempat melakukannya untuk gadis itu. Beberapa menit yang lalu ayahnya memberi perintah yang cukup sederhana namun berkatnya Davi terus bertanya-tanya dalam hati mengenai siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan ayahnya. Ayahnya juga berpesan kalau Davi tidak boleh sampai mengacau di depannya. Dia bahkan memberi instruksi panjang lebar mengenai bagaimana cara memperlakukannya. Davi menebak kalau bentuk perlakuan itu sebagai wujud layanan seseorang pada tuannya. Kemudian Davi menyimpulkan kalau gadis itu pastilah anak bos ayahnya.

Ratimeria hanya memberikan sepucuk kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Davi sempat mengernyit bingung namun akhirnya dia mengerti ke mana mereka akan pergi. Perjalanannya sendiri memakan waktu satu setengah jam. Sesampainya di sana yang mereka lihat adalah bangunan kecil dengan papan tulisan Orchid Bakery. Dinding depannya menggunakan kaca.

Gadis itu jauh-jauh datang ke sana untuk membeli roti? Davi tidak habis pikir.

“Tunggulah di sini,” pesan Ratimeria sebelum keluar dari mobil. Davi melihatnya masuk ke sana, kemudian masuk lagi ke ruang yang lebih dalam, tanpa mengamati barisan roti dalam etalase.

***

Viola mengawasi baik-baik pensi yang sekolahnya adakan walaupun untuk merencanakannya mereka hanya diberi waktu dua minggu. Sudah empat pengisi acara yang sudah tampil di panggung. Selama itu pula dia terus-terusan menghela napas panjang. Respon penampilan-penampilannya bukan karena suara penyanyi bagus, permainan musik yang memukau, melainkan karena tingkat populer mereka juga rupa wajah. Viola sebenarnya ingin sekali tampil, tapi usahanya langsung gugur setelah salah seorang guru yang tidak tahu sama sekali mengenai bakatnya langsung menunjuk dia sebagai ketua penanggung jawab.

“Ivan keren banget, ya kan?” komentar Cindy yang berdiri di sebelahnya.

“Tukang Make up-nya pasti rugi bandar,” respon Viola menggumam enggan. Sembari menunggu persiapan penampilan berikutnya, perhatiannya beralih pada daftar pengisi acara. Awalnya tanpa curiga, gadis itu bertanya, “Siapa Seruni?”

Cindy mengedikkan bahu juga menggeleng.

Mungkin dia nekat mendaftar, simpul Viola seenaknya sembari menuliskan sesuatu di salah satu kolom. Mendadak sekelebat pikiran aneh menjalar otaknya. Matanya kemudian beralih lagi pada nama Seruni yang tertera. Bukankah Seruni adalah nama bunga? Mengingat nama tengah masing-masing kembar mewakili bunga tertentu, Viola entah sejak kapan menjadi lebih peka.

Seruni adalah nama lain bunga krisan. Sebutan lain untuk krisan adalah chrysanthemum.

God…” Viola tanpa sadar menggumamkannya.

Tepat saat itulah seorang gadis berpakaian mencolok dalam balutan pakaian hitam naik ke atas panggung. Rambut cokelat terangnya yang panjang telah diatur hingga lemas dan jatuh. Dandanannya tidak berlebihan namun memukau. Dia tampak seperti dancer ditambah boots heels-nya yang memaku latar. Di belakangnya, personil-personil yang semuanya laki-laki telah siap memainkan alat musik mereka.

Baby, I’m preying on you tonight. Hunt you down eat you alive. Just like animals, animals, like animals-mals. Maybe you think that you can hide. I can smell your scent from miles. Just like animals, animals, like animals-mals…

Viola dan Cindy bengong di tempat. Tidak hanya mereka, bahkan semua anak yang mendapati wajah yang mirip dengan Amarta itu begitu memesona walau hanya dalam waktu singkat. Tema tampilannya yang segar sekaligus maskulin bahkan juga disukai oleh murid perempuan.

So what you trying to do to me.
It's like we can't stop we're enemies.
But we get along when I'm inside you.
You're like a drug that's killing me.
I cut you out entirely.
But I get so high when I'm inside you.

“Yeah, you can start over, you can run free.
You can find other fish in the sea.
You can pretend it's meant to be.
But you can't stay away from me.
I can still hear you making that sound.
Taking me down, rolling on the ground.
You can pretend that it was me.
But no.

Tanpa mereka sadari, Daren juga tengah menonton dari lantai dua. Wajahnya masih lebam dan juga penuh plester. Berkat itu dia sempat dipanggil oleh guru perihal penampakannya hari ini. Sekarang laki-laki itu mematung. Tidak perlu berpikir rumit bagi orang lain untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Ekspresinya memenuhi ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama: mata menyorot hanya pada satu orang, senyum perlahan-lahan merekah, dan sekarang dia sedang menahan sesuatu di dadanya—takut kalau jantungnya akan meloncat keluar.

Don't tell no lie-lie-lie-lie
You can't deny-ny-ny-ny
The beast inside-side-side-side
Yeah, yeah, yeah
No, girl, don't lie-lie-lie-lie
You can't deny-ny-ny-ny
The beast inside-side-side-side
Yeah, yeah, yeah.”

(Animals by Maroon 5)

Saat menyanyikannya itulah, pandangan Tiara tidak bisa lepas dari sosok Haven yang berdiri tidak jauh darinya dengan kedua tangan yang menyilang. Sorot mata keduanya sama-sama tidak ramah dan mengancam. Tiara bahkan terang-terangan menyinggungnya dengan lirik lagu yang dia lantunkan.

Malam sebelumnya Melisma memberitahu banyak hal yang menyangkut Amarta pada Tiara. Dalam pembicaraan itu si Gadis pualam seringkali menyebut Haven, bagaimana orang yang dulunya dekat dengan Amarta tapi sekarang justru menganggapnya hama. Yang jelas, Haven pasti punya andil kuat dengan kejadian-kejadian yang menekan Amarta akhir-akhir ini.

Ketika musik lagu yang dibawakan Tiara selesai, derai tepuk tangan riuh langsung ditujukan untuknya. Gadis itu tersenyum manis disambut siulan dari berbagai arah.

Viola juga termasuk anak yang memberinya tepuk tangan—standing applause, dia akui. Selama ini dia tahu Tiara suka bernyanyi bahkan menjadi artis walaupun bukan artis besar. Tapi sungguh, gadis itu luar biasa. Meskipun seringkali menjengkelkan—menurut cerita Gladys, Tiara sebenarnya bukan orang yang suka memendam dendam. Dia suka bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan mereka. Hanya saja sudah sifatnya seperti bumerang. Apa pun yang orang lakukan padanya pasti dibalas, baik atau buruk. Bisa dibilang kembar keempat itulah yang paling bercahaya dibanding yang lain.

Sekarangpun setelah melihat respon anak-anak yang menyaksikan jelas penampilannya, Viola menyadari dan harus mengakui kalau Tiara memang memesona. Berkat gadis itu juga, Amarta pasti akan lebih dikenal baik. Hanya saja Viola tidak tahu apakah hal itu juga berlaku untuk orang yang sengaja membuatnya dalam posisi di bawah tekanan.

***

Gadis itu sedang memasak namun dia juga melamun. Pisau yang dia pegang sedang mengiris-iris jamur. Setelah semua jamur yang dia potong siap, gadis itu lalu memasukkannya ke dalam panci di atas kompor yang menyala. Kemudian sembari menunggu supnya matang, dia mengambil segelas jeruk tidak jauh darinya lalu minum. Saat itu juga dia menoleh ke belakang dan sontak jus jeruk di mulutnya menyembur tiba-tiba.

Amarta terkesiap keras. Gara-gara itu juga dia tersedak.

Orang yang ada di hadapannya sesaat menutup mata begitu menerima cairan jus yang memercik ke wajahnya. Kain yang membalut mata kirinya juga jadi basah. Dia lalu mengambil selembar sapu tangan dari saku coat lalu mengelap bagian yang terkena percikan jus. Seperti biasa matanya menyorot sendu tanpa emosi yang berarti.

Amarta tentu saja terkejut mengapa Ratimeria ada di tempatnya berada sekarang. Namun perlahan-lahan, semakin lama dia menerima tatapan halus gadis itu, matanya mulai berlinang. Beberapa detik setelahnya tangis Amarta pun pecah. Dia langsung menyongsong kembarannya, memberinya pelukan yang erat dengan posisi kakinya yang ditekuk bersujud. Isaknya tumpah di bagian tengah coat Ratimeria.

“Angkat wajahmu. Aku bukan ibu.” Ratimeria berkata. Tangan kirinya tergerak mengusap atas kepala kembaran bungsunya.

Amarta tetap saja menangis. Setidaknya setengah jam kemudian terlewat dengan posisi mereka yang tidak berubah.

Ratimeria menunggu Amarta tenang tanpa bicara sedikit pun. Mereka kemudian beralih ke ruang tengah yang suasananya lebih tenang juga terhindar dari resiko karyawan-karyawan bakery yang suka menguping. Karena di sana tidak tersedia macam-macam teh seperti di dapur rumah, Amarta pun hanya membuatkan teh celup hangat seadanya. Gadis itu diam menunduk menyembunyikan matanya yang sembab. Tadinya dia berharap Ratimeria akan menanyainya duluan, tapi setelah sekian menit terlewat, kembarannya itu belum juga mengucapkan sesuatu.

“Kau pulang ke rumah?” tanya Amarta basa-basi, tapi tidak direspon. “Matamu.. kenapa?”

Ratimeria masih terus memandangnya. Amarta sendiri tahu persis kalau gadis satu itu sungguh peka. Sorot matanya mampu menyibakkan semua tirai yang menutupi jalan pikirannya dari orang lain.

“Karena tidak menyambutmu waktu pulang ke rumah.. aku minta maaf…,” ucap Amarta lagi sambil meremas kedua tangannya yang masih dibalut kain putih.

“Kenapa kau menghindar?” Ratimeria akhirnya bertanya.

Amarta pun mengangkat wajah. Bibirnya bergetar seperti akan menangis lagi.

“Melihat wajahmu sekarang.. aku memperkirakan dua kemungkinan.. Satu, kau diancam..,” ujar gadis manekin. “Kedua.. karena kau layak mendapatkannya..”

Kedua bibir Amarta terkatup rapat. Air matanya menetes lagi. Gadis itu kembali diam menunduk.

“Maaf..,” kata Ratimeria lagi. “Sepertinya waktu seminggu yang kau minta tidak bisa dipenuhi..”

“Maksud..nya?”

“Melisma dan Tiara bahkan sepakat untuk menyamar jadi dirimu..”

“Apa?” Amarta membelalak terkejut. “Meli.. Tiara.. juga pulang? Berarti.. Vio…”

“Karena khawatir..,” jawab Ratimeria menyunggingkan senyuman tipis. “Aku juga khawatir..” Gadis itu bergerak mendekat dengan tangannya terangkat menyeka air mata yang membasahi pipi Amarta. “Lusa.. kembalilah. Lihat apa yang mereka lakukan pada orang yang berbuat jahat padamu..”

“A-apa… apa yang akan mereka lakukan..?” Amarta lagi-lagi terkejut. Kedua tangannya meremas lebih kuat.

Bagi Ratimeria, ekspresi itu jelas lebih dari sekedar rasa penasaran atau terkejut. Itu rona ketakutan. Sekali lagi, bukan pembenaran ketakutan karena diancam. Melainkan ketakutan karena pembalasan dari saudari-saudarinya akan berbalik mengarah pada dirinya.

***

Hari ke lima minggu itu—berkat Melisma yang benar-benar tidak sudi menyamar lagi, Viola dan Tiara tertegun saat tidak sengaja melihat seorang gadis yang mengenakan seragam yang berbeda dengan seragam sekolah mereka, berjalan beriringan dengan dua guru. Mereka agak tidak yakin awalnya. Namun setelah tubuh gadis itu tidak lagi menghadap ke samping, melainkan beralih berjalan mendekat ke tempat mereka berada, keduanya melongo mendapati gadis dengan mata kiri dibalut perban itu ada di sekolah.

“Bukannya dia bilang tidak akan ikut-ikutan?” tanya Viola tanpa menoleh pada Tiara.

“Teknisnya, dia tidak bilang apa pun.” Tiara meralat.

Ratimeria berhenti melangkah, begitu pun dengan dua guru yang mengirinya. Wajah satu pria dan wanita itu tampak sumringah—entah karena apa. Mereka pun memandang Viola dan Tiara bergantian.

“Oh, Viola dan Amarta,” kata si Guru pria. “Saya baru tahu kalian ternyata kembar tiga. Kenapa sebelumnya kalian nggak bilang kalau punya kembaran lagi di Rusia?”

Viola tersenyum hambar.

“Dia pulang baru-baru ini sih, Pak,” katanya. “Tapi… kau jadi murid pindahan?” Pertanyaan tadi ditujukan pada Ratimeria.

“Dia hanya ikut pertukaran pelajar saja,” jawab si Guru wanita. “Dia akan ke kelas IPA 1, berarti kalian sekelas kan?”

“Ah… gitu…”

Ratimeria menoleh ke arah lain sementara mereka berbasa-basi. Sekeliling mereka sepi karena hampir semua murid sedang mengikuti pelajaran di kelas. Viola dan Tiara hanya kebetulan saja ada di luar. Pandangan Ratimeria kemudian terpaku pada sepasang anak yang tengah berada di lantai dua. Dari arah wajah mereka berdua menghadap, Ratimeria menyimpulkan keduanya memandang ke arah dirinya dan kembarannya berada sekarang. Dia ragu dua orang itu mengenali wajahnya yang mirip dengan Viola atau Amarta dari jarak yang lumayan jauh. Kemungkinan besar mereka berdiri di sana, mengawasi baik Viola atau Tiara.

Pandangan tidak suka juga was-was bercampur jadi satu.

Perlahan, Ratimeria pun paham darimana sumber perpecahan itu berasal.