Welcome to Disaster Maker Club (6): The Nerd Boy is Falling in Love

Selasa, 17 November 2015



“Eva, duluan ya!”

Eva melambai pada dua teman yang makan bersamanya di kantin. Mereka kembali ke kelas duluan dengan alasan ada guru yang memanggil. Bersamaan dengan kedua gadis itu pergi, Eva pun keluar dari dalam kantin sambil membawa satu tusukan besar sosis bakar ukuran ekstra. Gadis itu dengan santai berjalan ke tangga menuju lantai dua gedung sekolah sambil mengunyah saat tiba-tiba seseorang menghadang jalannya.

Mata Eva mengerjap lalu detik selanjutnya, dia menelan makanan yang telah dia kunyah.

“Ha-halo, E-Eva!” sapa laki-laki yang selalu mengundang kerutan di dahi Eva itu. Dia salah satu siswa di sana—mereka seumuran. Tapi Eva justru merasa anak itu mungkin beberapa tahun lebih muda darinya.

“Hai, Gael,” balas Eva menyebut namanya. “Ada apa?” Gadis itu memasukkan segigit sosis lagi ke mulut.

“Ma-malam ini, ma-mau tidak mampir ke rumah lagi? A-aku punya film baru yang ba-bagus, se-seperti film Roma kemarin.”

Eva tidak langsung menjawab. Gadis itu membuat Gael menunggu beberapa saat dengan mengunyah penuh hikmat potongan sosis di mulutnya, itupun dengan mata menyipit serta memutar—seperti sedang berpikir keras mempertimbangkan sesuatu. Tapi tanpa mengamati baik-baik ekspresi penuh harap Gael saat itu, Eva menyunggingkan senyum lalu menjawab ajakannya tanpa beban.

No. Sorry.”

***

Shin bersenandung. Masih mengenakan seragamnya sore itu, dia menikmati detik demi detik air yang keluar dari selang untuk menyiram taman belakang asrama DM. Bunga cosmos, marigold, turnip, sakura, serta bunga-bunga yang disiram olehnya tanpa terkecuali, mekar saat itu juga. Tidak peduli akan musim, aura yang dipancarkan gadis itu serupa serbuk ajaib yang mengendalikan tumbuh kembang tanaman mana pun.

Pandangan Shin lalu terpaku pada pohon jambu biji yang telah tumbuh setinggi dirinya. Gadis itu meletakkan teko penyiramnya begitu saja lalu menghampiri pohon tersebut. Dia kemudian tersenyum. Tangan Shin mengulur, mendekat pada pohon itu dan seketika rantingnya condong. Dalam hitungan detik, pohon itu memunculkan bunga lalu berubah menjadi sebutir jambu biji yang matang. Bahkan tanpa Shin harus memetiknya, buah itu langsung jatuh ke tangan Shin.

“Terimakasih,” ucap Shin. Dia berbalik dan ekspresinya berubah terkejut. “Kapan Guru datang?”

Mr. Elios berdiri tidak jauh darinya. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu menghela napas panjang.

“Aku mencari Snare. Dia tidak ada di mana pun aku mencarinya.”

Shin tertawa kecil.

“Guru tidak akan menemukannya. Dia akan datang sendiri,” katanya kemudian berlari kecil pada Mr. Elios. Mereka lalu berjalan beriringan ke dalam asrama. “Saya berniat mengeriting rambut. Bagaimana?”

“Keriting?” Mr. Elios mengernyit.

“Tidak sampai keriting. Saya ingin membuat rambut saya bergelombang, jadi nantinya kelihatan lebih dewasa.”

Mr. Elios menghentikan langkahnya, membuat Shin mengerjap. Tangan guru itu perlahan terangkat menyentuh poni dekat pelipis Shin. Gadis itu pun mematung merasakan degup jantungnya yang tidak karuan. Shin pikir Mr. Elios akan menyentuh wajahnya juga, namun sebelum dia membayangkan lebih jauh, tangan yang lembut itu telah ditarik kembali.

“Terserah kau,” kata Mr. Elios akhirnya dan melanjutkan langkah.

Shin masih mengusap-usap poninya sampai Mr. Elios hampir melewati ambang pintu. Dia tidak lagi bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

“Guru!” panggilnya sambil berlari kecil. “Bagaimana kalau saya bikinkan teh?”

Sosok keduanya lalu menghilang di balik tembok. Bisa ditebak arah mana yang dituju Shin.

Omong-omong gadis itu lupa mengingat baik-baik satu kamar yang terletak di lantai dua dengan jendela yang persis berada dekat halaman samping asrama DM. Sebelum tiga penghuni baru datang, kamar itu kosong. Sekarang, kamar itu telah terisi. Gadis dengan rambut pendek yang selalu meliuk-liuk lembut itupun menopang dagu melihat pemandangan baru yang ada di bawahnya tadi. Dia bahkan lupa caranya menutup mulut.

Apa itu tadi? Pikirnya bengong. Cinta terlarang?

***

Bunyi langkah kaki terdengar keras di lorong yang lengang. Audin tidak peduli meski hanya dua menit yang lalu office boy sekolahnya baru mengepel lantainya. Gadis itu terburu-buru pergi ke koperasi sambil membawa selipat kertas yang harus disalin cepat seratus lembar. Mendadak sosok seseorang berjalan ke arah tangga membuatnya terkesiap keras. Sama dengan Audin, anak itu pun terperanjat kaget.

Kurang dari sedetik, mereka bertabrakan. Audin jatuh menelungkup ke depan sedangkan anak itu menghantam dinding tangga.

“Ah…” Audin meringis saat bangkit berdiri. “Kau tak apa-apa?”

Siswa laki-laki itu sedikit lebih tinggi dari Audin. Dia membenarkan dulu posisi kacamatanya sebelum akhirnya meraih uluran tangan Audin. Wajahnya tampak kebingungan beberapa saat dan sikapnya berubah kikuk. Dia membalas pertanyaan Audin dengan seulas senyum yang menampakkan gigi-giginya yang berkawat. Name tag tersemat di dada kirinya. Nama pertamanya Gael.

“Maaf, aku terburu-buru. Langsung saja ke UKS, oke? Nanti aku susul,” kata Audin. Tapi sebelum gadis itu akan pergi lagi, Gael buru-buru menahan lengannya.

“Mungkin.. kau.. anak di asrama sembilan?” tanya Gael.

Asrama sembilan? Alis Audin bertaut. DM maksudnya?

“Kau satu asrama dengan Eva?” tanya Gael memperjelas pertanyaannya.

“Begitulah..”

Senyum Gael tersungging senang. Dia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari sana. Satu flashdisk putih dengan gantungan lonceng kecil. Gael kemudian memberikannya pada Audin.

“Tolong berikan ini pada Eva,” pintanya. “Mungkin dia akan senang.”

“Oh, oke..” Audin mengangguk menggenggam flashdisk itu sekarang.

Gael pun pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Sorot yang tidak biasa, pikir Audin mengingat sosok Gael. Apa itu seperti yang dia pikirkan sekarang?

Audin menekan bibirnya dan angkat bahu. Gadis itu langsung berlari lagi seperti orang kesetanan menuju koperasi.

***

“Laz.. Laz..!” Eero menepuk bahu Laz yang asyik headset yang menyumpal telinganya.

Laz langsung mencopot headset dan menoleh pada Eero.

“Kecuali aku sedang berhalusinasi atau mataku sedang dimantrai oleh Mr. Elios..” Eero berkata dengan mata berbinar yang mencurigakan. “Kupikir aku sedang melihat Zein yang tersangkut di dinding pojok sebelah sana. Itu. Yang ada kawat berdurinya.”

Laz bengong. Pandangannya lalu mengikuti arah yang ditunjukkan dagu Eero. Dinding pojok yang dimaksud Eero sebenarnya lumayan tertutupi semak, tapi jika dilihat lebih teliti, ada seekor—atau bahkan seseorang yang memiliki tekstur terkepelai sedang bergerak-gerak di sana. Satu kakinya tersangkut di beberapa duri kawat, dan posisinya kini sedang menentang letak kepala yang lazimnya ada lebih tinggi dari kaki.

Sedang apa pula bocah itu?

“Kupikir kita harus mengerjainya dulu sebelum menolongnya,” komentar Eero lalu berlari kecil menghampiri Zein.

Khas Eero. Tidak mengherankan. Bahu Laz beringsut dan laki-laki itu dengan malas mengikuti teman usil dua tahun belakangan ini. Berkat kamar mereka yang berdekatan, Laz sering menjadi korban “kekejaman” Eero. Tapi setidaknya mereka bisa lega mengingat semua urusan keisengannya, Eero tidak pernah menggunakan listrik apalagi halilintar.

“Agatha akan membunuhmu jika tahu kau mencoba untuk bolos lagi, Zein…,” gumam Eero saat Zein tengah mati-matian melepaskan ujung celananya yang tersangkut ke tiga kawat duri sekaligus.

Gadis itu terkesiap keras saking kagetnya. Punggungnya melayang jatuh ke belakang dan langsung membentur tembok. Merasakan sakit, dia justru tertawa tergelak—tawa setengah hati.

“Aku cuma sit up kok!” Lalu dia tertawa lagi—lebih keras. “Aku cuma… eh, mengecek kalau-kalau Manuela dan Sofia kabur. Ah, sepertinya Rodrigo naksir salah satu dari mereka. Kita akan punya bayi kambing lagi!”

Hening. Laz ada di belakang Eero sesaat kemudian dengan mata menyipit.

Let me ask you something…,” bisik Eero pada Laz. “Ada berapa kira-kira peliharaan bocah hiperaktif itu di sekolah dan DM kalau dijumlahkan semua?”

“Kau jelas tidak memperhitungkan makhluk lain yang invisible,” balas Laz sama pelannya.

“Seperti apa misalnya?” Eero bergidik ngeri.

“Lipan? Cacing tanah? Belatung?”

Hell… mungkin ada cacing tanah yang dia beri nama Gabriella.”

Zein berdehem saat itu juga karena dia mendengar gumaman Eero. Bukan karena tersinggung, gadis itu hanya berniat meralat.

“Jangkrik yang ada di kamarku, namanya Gabriella.”

Eero dan Laz kompak memutar bola mata.

“Err… guys. Aku akui kalau kakiku tersangkut…,” kata Zein akhirnya. “Kalau kalian tidak mau menolong, oke-oke saja, jadi silakan pergi. Aku barusan punya ide untuk bebas, tapi tidak bisa kalau kalian tetap menonton di situ.”

“Ide apa?” tanya Laz.

“Melepas celanaku.”

***

Eva keluar dari kantor guru setelah mengurus berkas-berkas kepindahannya yang tertunda karena sejuta alasan. Dia dengan entengnya datang ke sana membawa jus nanas yang telah dicampur sedikit bensin dalam gelas plastik murah yang dipakai para pedagang. Tegukan terakhir telah dia habiskan, tapi gadis itu sengaja menyeruputnya keras-keras hingga para siswa di sekitarnya bisa mendengar dengan jelas.

Eva sadar akan banyak pasang mata yang mengikuti gerak tubuhnya yang menyusuri lorong lantas dia sengaja menyibakkan rambut panjangnya.

Para siswa laki-laki otomatis membuka mulut—terpaku dengan gaya idiot. Sementara itu para siswa gadis berwajah dongkol. Salah satu dari mereka yang sedang menyapu lantai kemudian sengaja menjulurkan gagang sapu di tengah jalan, berharap supaya “iblis” jalang itu tersandung dan mukanya bengkak berkat menghantam lantai.

Eva masih dengan senyuman penuh percaya dirinya tetap melangkah santai. Saat senyuman si Gadis sapu mengembang lebar menanti anak itu tersandung, Eva justru melompat-lompat girang bak Candy. Lompatannya persis melewati gagang sapu tersebut.

Tepat saat gadis sapu terperangah, pintu di belakangnya mendadak ambruk menimpa tubuhnya.

Sedetik kemudian, senyum Eva tersungging. Manis sekali.

Bersamaan dengan itu Gael melihat senyuman Eva. Pandangannya menerawang, namun dia tetap menyunggingkan senyum biarpun tipis. Bocah ini tidak peduli sama sekali pada anak yang tertimpa daun pintu karena di matanya yang terlihat hanya Eva.

Cukup Eva.

Welcome to Disaster Maker Club (5): Girl on the Bridge (End)



Ruang tengah sepi. Bukan karena tidak ada orang di sana. Sebaliknya, nyaris semua orang hadir di tempat itu, berkutat dengan pikiran masing-masing, runyam dan rumit. Meski sebenarnya telah terbiasa dirundung masalah yang mempersulit mereka sejauh ini, atau juga mengatasi segala persoalan pelik ketika diminta, baru kali ini—terlepas dari masalah apa yang dialami gadis yang dari luar nampaknya baik-baik saja itu—mereka menyaksikan orang yang sengaja melenyapkan diri. Tentu kasusnya akan berbeda jika dia bukan manusia. Makhluk berwujud seperti manusia di bawah binaan Mr. Elios memang tidak akan mengerti maksudnya.

Sekali mati, manusia akan hilang selamanya. Mereka makhluk lemah yang bisa mati hanya gara-gara bakteri masuk ke pori-pori kulit.

Membiarkan suara detik jarum jam memenuhi ruangan itu, mereka bungkam untuk alasan yang kurang lebih sama—kecuali mungkin dua orang. Hidung Shin masih mengeluarkan darah. Gadis itu mimisan hebat setelah menggunakan hampir seluruh energinya untuk menumbuhkan tumbuhan sekejap untuk menolong Agatha. Zein memangku kepalanya dan memegangi kantung es yang menutupi hampir seluruh bagian wajah Shin. Sementara Eva… tidak diketahui rimbanya, mengingat di luar masih hujan deras. Yang pasti dia masih ada di dalam rumah itu—Zein berani jamin, dan dia bersumpah masih bisa mencium bau di sana.

“Baiklah…” Mr. Elios akhirnya angkat bicara. “Lana, bagaimana dia?”

Lana sedang berdiri bersandar dekat tepian pintu, melihat ranjang di kamar dekat ruang tengah—kamar Shin. Gadis yang mereka tolong sedang berbaring di sana.

“Matanya bergerak-gerak,” jawab Lana. “Dia akan bangun sebentar lagi.”

“Ada yang tahu kenapa dia sampai senekat itu?” tanya Mr. Elios lagi. “Yang sering kelihatan dengannya barangkali.”

Snare, Zein, Eero, dan Laz kompak menoleh ke arah Agatha diikuti Audin. Gadis itu sadar dengan pandangan yang ditujukan padanya namun dia memilih membisu. Dia sedang duduk berselonjor kaki di atas sofa, dengan bagian lutut kaki kanan yang diletakkan agak tinggi karena dijejali bantal. Audin telah mengoleskan obat ke luka yang robek menganga di sana. Mungkin tersayat serpihan kayu yang hanyut di dalam sungai.

Menghela napas karena pertanyaannya tidak ditanggapi dan hening kembali membuat atmosfer kaku, Mr. Elios pun mengalihkan pandangannya pada Laz.

“Hilangkan tanaman sulur itu,” perintahnya. “Kau tidak perlu membunuhnya. Potong saja supaya orang tidak akan tahu ada tanaman sebesar itu tumbuh di dasar sungai.”

Laz mengangkat alis lalu menjawab santai, “Oke.” Setelahnya, laki-laki itupun pergi.

Ketika berjalan, dia mengeluarkan gantungan kunci dengan hiasan-hiasan yang bergemerincing. Laz mengambil salah satunya yang berbentuk kapak. Detik selanjutnya kapak itu membesar hingga seukuran pintu rumah mereka. Tidak mau repot-repot mengangkat benda itu, Laz pun menyeretnya sampai ke sungai.

Sleeping Beauty is awake,” umum Lana, menarik semuanya paksa dari lamunan.

Mr. Elios hendak menghampiri gadis itu namun tiba-tiba bahunya disenggol oleh anak yang berjalan cepat dan mencapai kamar itu pertama kali. Yang lainpun menyusul—kecuali Shin yang kepalanya lebih dulu diletakkan ke atas bantal dengan hati-hati oleh Zein.

“Perban—..” Audin baru akan mengingatkannya namun urung.

Awalnya gadis itu tampak kebingungan karena tidak mengenali tempat dia berada sekarang. Ketika mengangkat wajah dan langsung melihat Agatha di hadapannya, dia mematung.

“’Kenapa aku masih hidup?’” Agatha menyindir sinis menggantikan pertanyaan yang tidak sempat gadis itu ucapkan.

Dia—Dyar mengerjap sambil menelan ludah, sementara tangannya meremas selimutnya kuat-kuat. Mengalihkan pandangannya, dia tidak sadar sedetik kemudian Agatha melangkah mendekatinya lalu menampar keras gadis itu.

Lana dan Zein menganga, tidak jauh berbeda dengan ekspresi terkejut yang lain. Mr. Elios menepuk bahu Eero, memberinya isyarat untuk menarik Agatha mundur. Sekarang laki-laki itu memberanikan maju dengan air muka bingung.

“Masih tidak tahu kenapa kau tidak kunjung berhasil? Masih menyalahkan orang yang lebih hebat darimu dan selalu dimudahkan, sedangkan kau terus bekerja keras tapi selalu gagal?! SADARLAH KAU, BRENGSEK!! AKU BAHKAN MENYESAL TELAH MENOLONGMU!!!”

Semburat perasaan aneh tiba-tiba menjalar dalam batin Audin.

“Wow! Wow! Ayo kita keluar ya. Kita keluar!” Eero berusaha menghalaunya dan menarik Agatha keluar, namun tetap saja dia tidak bisa langsung mengunci mulut gadis itu.

“Kau bilang kalau kau menyukainya lebih dari apa pun! Kau bilang kalau kau bisa menuangkan jiwamu tiap kali melakukannya! Mau tahu kenapa kau kalah dan ayahmu membuangmu?!!”

“Atha, please…” Zein mencoba menghentikannya.

“Sebut namaku dengan benar, kau sialan!!” semprot Agatha beralih pada Zein namun hanya sekejap. Mata tajamnya kembali pada Dyar yang berkaca-kaca. “Bukan karena orang lain lebih hebat darimu! Persetan juga dengan mereka menyuap para juri! KAU KALAH KARENA MENGOTORI PERMAINANMU DENGAN NAPSU MENJIJIKKAN DAN EGOISMU!!”

Tepat saat itu, satu bulir air mata Dyar jatuh.

Agatha menepis kasar tangan Eero yang masih akan mendorongnya keluar. Gadis itu lalu berjalan agak pincang ke kamarnya yang terletak di lantai atas—itupun dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan. Audin miris membayangkan kalau lukanya akan kembali menganga dan merembes keluar dari pembalut yang telah dia pasang—tapi sepertinya copot sebagian ketika Agatha berjalan cepat menghampiri Dyar tadi.

Dyar terisak. Zein buru-buru duduk dekatnya lalu menghibur gadis itu. Mr. Elios pun hanya bisa menghela napas panjang kemudian menyuruh yang lain pergi. Semuanya kecuali dua gadis tadipun keluar ruangan hingga pintu kamar itu ditutup lagi. Namun ketika yang lain kembali ke tempat masing-masing, Audin masih bergeming di depan pintu. Tanpa ada yang melihat, gadis itu menunduk murung ketika bersandar di pintu tersebut.

Entahlah, mungkin... apa yang Dyar alami tidak jauh berbeda dengannya. Dulu.

***

Agatha memang menaiki tangga sendirian. Tapi ketika menyadari ada seseorang yang mengikutinya di belakang, gadis itu tidak segan-segan langsung membalikkan badan dengan tangan kanan terangkat, hendak melayangkan tamparan sekali lagi. Namun orang yang mengikutinya ternyata telah lebih dulu mengantisipasi hal tersebut hingga dia berhasil menahan tangan Agatha.

“Untuk apa tamparan ini?” tanya Snare.

“Aku heran kau masih perlu bertanya,” balas Agatha sengit dan langsung menarik tangannya lagi. Pandangan menyorot tajam menghujam mata Snare. “Jangan kira aku tidak tahu apa yang belakangan kau lakukan.”

“Karena tidak menolongnya?”

Satu tamparan langsung mendarat di pipi Snare. Laki-laki itu termangu. Tentu saja dia tidak mengira akan ada tamparan gelombang ke dua.

“Sedikit saja kau sentuh Dyar, aku akan membunuhmu.”

Setelah melontarkan kata ancaman itu, Snare melihat Agatha berbalik pergi. Gadis itu kentara menunjukkan kekesalannya dengan membanting pintu keras-keras hingga lantai yang Snare pijak sedikit bergetar. Alih-alih terdiam gusar, Snare justru tersenyum. Setidaknya meski kasar, gadis itu jelas memperhatikannya—terutama rasa lapar yang dirasakan Snare.

Oh, baiklah. Snare hanya harus mencari mangsa lain. Sesederhana itu.

***

Audin hanya sempat membeli sebungkus roti. Dia enggan makan di kantin karena tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Teman-teman DM yang lain pun menghilang entah ke mana. Yang pasti mereka pasti sibuk atau asyik dengan urusan masing-masing hingga tidak merasa perlu selalu bersama-sama tiap ada di sekolah. Toh pada akhirnya semuanya akan pulang ke rumah yang sama.

“Kau tampak baik-baik saja. Merindukanku?”

Ingatan akan semalam masih tampak jelas dalam benak Audin. Kembarannya itu—Demetrin suka sekali menyeringai. Terakhir bahkan, dia berani menyentuh Audin lalu mencium pipinya. Alih-alih menyentak kasar Demetrin, Audin menyembunyikan amarahnya dalam mata yang nanar.

“Sampai kapan kau menatapku seperti itu? Melunaklah. Karena aku yakin wajahmu akan persis seperti itu saat aku menjemputmu suatu hari nanti.” Dia berbisik lembut. “Sampai jumpa lagi… Demetria..”

Karena dia, Audin ingin melupakannya. Iblis yang membuat dia ingin mengubur nama lahirnya dalam-dalam hingga tidak pernah ditemukan. Dia merasa sungguh bodoh telah mempercayai Demetrin selama belasan tahun mereka tumbuh bersama. Pada akhirnya iblis itu mengkhianatinya, sengaja mendorongnya ke jurang tercuram.

Audin melihat bangku di bawah pohon samping barak sekolah kosong ketika tiba-tiba seorang gadis menubruknya keras. Roti yang dibawa Audin jatuh sedangkan gelas plastik yang dibawa gadis tadi menumpahkan isinya ke bajunya.

“Menjengkelkan sekali!” umpat gadis itu lalu menatap tajam ke Audin—menyalahkannya. “Kau—!” Bentakan gadis itu seketika berhenti tatkala dia merasakan panas menyengat di saku roknya. Dia memekik. Ada asap samar-samar di sana. “Ponselku! Ponselku!!”

Audin terbengong melihat gadis itu lalu buru-buru berlari meninggalkannya, lupa pada bajunya yang basah dan kotor. Memungut bungkusan rotinya, Audin melihat Eero berdiri bersandar ke dinding dekat pintu gedung serba guna tidak jauh darinya sambil menyilangkan tangan. Laki-laki itu tersenyum pada Audin juga sedikit melambaikan tangan.

“Aku tidak bisa membiarkanmu punya masalah dengan anak tadi. Dia salah satu anak paling menjengkelkan di sini. Zein bahkan tidak menyukainya,” kata Eero saat dia dan Audin berjalan beriringan menuju kelas.

“Kalau begitu.. ponselnya tadi.. perbuatanmu?” tanya Audin.

Eero hanya tersenyum.

“Omong-omong, aku selalu lupa menanyakan ini. Apakah orang luar selain Mr. Elios tahu kalau penghuni DM bukan orang biasa?”

“Yang lain tidak tahu. Kecuali Kepala Sekolah,” jawab Eero. “Mr. Elios telah memantrai kita sehingga apa pun yang kita lakukan menggunakan kekuatan, tidak akan terlalu terlihat aneh di mata mereka. Tentu saja, kita tetap harus berusaha menyembunyikannya.”

“Seperti perisai yang diciptakan Mr. Elios semalam?”

“Seperti itu.” Eero mengangguk.

Keduanya sama-sama mengerutkan kening ketika samar-samar mendengar suara derap kaki yang makin lama makin dekat. Saat Audin dan Eero menoleh, mereka langsung melihat Zein berlari seperti orang kesetanan.

“Audin!! AUDIN!!” serunya, mengundang perhatian siswa-siswa lain yang ada di sekitar situ. “Tolong!”

“Ha?”

Zein berhenti berlari dan mencoba mengatur kembali napasnya dengan berpegangan pada lutut.

“Tolong… Rosalinda masuk ke lubang… dalam sekali lubangnya!”

“Siapa Rosalinda?” Audin mengernyit. Bukannya menjawab, Zein langsung menyeretnya ke belakang gedung sekolah, bagian kandang peliharaan. Di sana mereka mendapati seekor anak ayam terperosok ke lubang di tanah yang sangat dalam.

Seseorang mengamati mereka dari kejauhan. Pandangannya terarah tidak hanya pada Zein dan Audin, melainkan juga di sekitar mereka. Orang itu lalu menghembuskan napas kecewa. Orang yang dicarinya ternyata tidak ada di sana.

Welcome to Disaster Maker Club (4): Girl on the Bridge



Besok akhirnya mereka akan mulai sekolah seperti biasa. Audin memang telah menyiapkan segalanya sesegera mungkin. Dia selalu mencari-cari apa yang bisa dia kerjakan karena nyaris dua bulan yang dihabiskan, dia tampaknya terlalu membiarkan benaknya diganggu oleh sosok orang itu. Seorang gadis yang selalu tampak menyeringai ketika akhirnya melihat Audin.

Audin selalu membenci wajahnya tertawa. Meski buruk untuk mengakuinya, mereka sebenarnya tidak jauh berbeda. Masing-masing sebenarnya menyembunyikan kebobrokan itu dalam senyum tanpa beban. Munafik.

Gadis itu tengah menggunting kertas-kertas warna yang telah dia tulis menggunakan spidol merah. Isinya antara lain jadwal kelas yang dia ikuti, juga beberapa kegiatan di mana Audin turut serta. Seharusnya dia senang. Banyak bertemu orang-orang baru setidaknya akan membuat Audin lupa—meski hanya sementara. Dia hanya harus melakukan semua hal yang bisa dia lakukan seperti orang gila.

Audin bersumpah dia harus terus-terusan memohon. Dia bersumpah mimpi-mimpi buruknya tidak akan pernah berakhir kalau dia belum benar-benar menyingkirkan kuk tersebut.

***

Mereka berlima—Audin, Shin, Zein, Lana dan Eva berjalan berbanjar, bersama-sama berangkat pagi itu setelah menyaksikan kaum Adam yang juga tinggal dengan mereka baru bangun saat sesi sarapan telah selesai. Alhasil Laz dan Eero berebutan siapa yang akan memakai kamar mandi duluan.

“Ah, aku lupa!” Zein mendadak teringat. “Aku mau ke taman samping dulu. Kemarin Esmeralda meriang. Aku ingin lihat apa dia sudah baikan atau belum.”

Shin mengangguk. Zein pun meninggalkan mereka setelah mengacungkan kedua jempolnya.

“Siapa Esmeralda?” tanya Audin. Mereka melanjutkan ngobrol sambil melangkah.

“Salah satu kelinci yang dipelihara sekolah,” jawab Shin. “Zein ada di sana saat kelinci itu lahir. Kebetulan Laz menemaninya. Karena Zein bingung harus memberi nama apa, lantas Laz memberinya nama Esmeralda.”

“Aku jadi ingat telenovela menyebalkan yang selalu ditonton ibu angkatku dulu,” gumam Lana ditanggapi dengan tawa kecil Eva.

“Ah, hampir lupa,” kata Shin. “Masih ada setengah jam sebelum masuk kan? Aku sarankan kalian bertiga ke ruang OSIS dulu. Di sini kalian wajib ikut klub. Klub apa pun terserah kalian. Form resminya ada di sana dan bisa langsung diisi. Karena aku dari klub pertamanan, aku sekalian promosi ya.” Gadis itu tersenyum manis. “Ruang OSISnya ada di sebelah perpustakaan, depan ruang siaran.”

Audin dan Lana mengangguk mengerti. Setelahnya giliran Shin yang memisah untuk masuk ke kelasnya sendiri. Mereka lalu mengikuti arah yang diberitahukan Shin dan akhirnya menemukannya dengan mudah. Terlihat beberapa anak di ruang siaran melalui kaca jendela yang transparan dan jernih. Ruang OSIS sebaliknya. Pintu kayunya seperti menutup rapat angkuh, ditambah kesan dingin kaca jendela yang gelap.

Eva mengetuk dan sedetik kemudian pintu itu dibuka.

“Oh, kalian.” Snare menoleh ke belakang ketika sedang mengambil buku dari rak.

Mereka bertiga masuk—sama-sama melebarkan mata karena terkejut.

“Snare, kau anggota OSIS?” tanya Lana yang langsung menghampirinya.

Laki-laki yang berwajah pucat dengan warna bibir yang merekah semerah darah itupun tersenyum.

“Semacam itu,” kata Snare membenarkan. “Kalian mau apa ke sini?”

“Shin yang menyarankan. Katanya kami harus mendaftar klub…” Ucapan Audin terpotong saat pintu lain di sana dibuka. Seorang gadis berambut pendek dan berkacamata sedang berbicara dengan orang di sebelahnya.

“Oh, ada siapa ini? Wajah baru ya?” kata si Gadis berkacamata tadi. “Murid pindahan?”

Yes,” tanggap Eva yang tanpa disuruh pun langsung duduk di sofa.

“Kalau tidak salah DM kedatangan tiga penghuni baru. Mereka temanmu kan?” tanya gadis tadi pada orang di sebelahnya. Seorang gadis juga, dengan ekspresi enggan yang tampak tidak ramah.

“Aku tidak kenal mereka,” kata Agatha pendek lalu duduk di kursi putar yang menghadap meja besar di ujung ruangan itu. Baik Audin dan Lana saling berpandangan membaca papan bertuliskan ‘ketua OSIS’ di sana.

“Oh ya? Berarti bukan?” Gadis berkacamata tadi mengerjap bingung.

“Mereka memang penghuni baru, Dyar.” Kali ini Snare membenarkan. Dia menyerahkan buku yang dipegangnya pada gadis itu kemudian menatap satu per satu murid baru tersebut. “Kenalkan, ini Dyar, sekretaris di sini.”

“Kalian pasti mau mendaftar klub kan? Sudah mengisi data di buku besar?”

“Belum,” jawab Lana.

“Sebentar ya, aku ambilkan,” kata Dyar lalu beranjak pergi lagi. Saat dia kembali, di tangannya ada sebuah buku besar dan tebal bersampul hitam yang telah dibukakan sampai halaman masukan yang terakhir.

Saat Audin dan Lana memusatkan perhatiannya pada buku besar itu, pandangan Eva yang menelisik tidak bisa lepas dari Dyar. Diam-diam juga, Agatha melakukan hal yang sama ketika memangku dagu dengan kedua tangannya yang berlipat.

***

Pada pertengahan jam hari itu, guru yang mengajar meminta Audin untuk membawakan berkas salinan materi dari koperasi sekolah. Menurut, gadis itupun lalu keluar kelas dan berjalan ke koperasi. Karena seluruh anak pastinya ada di dalam kelas karena pelajaran masih berlangsung, sekelilingnya lengang.

Audin melewati lapangan rumput ketika dia keluar dari gedung sekolah ketika angin mendadak menghembus menyatu ke arahnya. Gadis itu menghentikan langkah dan bergeming. Sekujur tubuhnya membeku seketika. Cepat, Audin menoleh. Bukan hanya arah belakangnya, namun juga ke atas.

Napasnya memburu sedang mata gadis itu melebar.

Tidak. Tidak mungkin, pikirnya. Audin telah datang sampai sejauh ini. Dia sedang dalam perlindungan sekarang. Orang itu tidak mungkin mengikutinya.

Semoga tidak.

***

Guyuran hujan deras yang tumpah sejak sore diamati Zein melalui jendela ruang tengah. Gadis itu berdiri dan kakinya tidak bisa tenang. Sementara itu tangan kanannya terangkat dekat mulut hingga dia bisa menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Siapa pun tahu kalau Zein sedang amat gelisah. Bahkan dia sampai lupa pada jam makan malam sebentar lagi. Shin pun mengaduk-aduk nasi yang sudah matang sambil mengernyit ke arahnya.

“Shin, Eva mana?” tanya Lana lalu menguap. Matanya berair.

“Aku tidak lihat dia. Mungkin di kamar. Kenapa?”

“Kelompokku dan Eva ada acara pendakian minggu depan loh.”

“Sepertinya asyik. Klub pecinta alam kan? Kau pernah mendaki sebelum ini?”

“Tidak juga.” Lana meringis. “Kalau lelah, aku tinggal meringankan tubuhku saja.” Dia tertawa. “Waktu aku tanya Eva, dia bilang kalau dia akan sangat senang kalau kebagian tugas membuat api unggun.”

Shin tertawa kecil setengah hati.

Kegelisahan Zein bertambah. Puncaknya, gadis itu melesat keluar rumah dan tidak sengaja menyenggol vas bunga hingga jatuh dan pecah.

“Ada apa? Kenapa?” tanya Lana bingung.

Shin mendesis. Gadis itu terpaksa melepas celemeknya lalu menyusul Zein yang keluar tanpa pelindung tubuh apa pun padahal di luar dingin sekali. Teringat akan yang lain, Shin pun kembali sebentar untuk berpesan pada Lana.

“Panggil yang lain! Suruh mereka semua keluar! Akan lebih baik kalau kalian memanggil Mr. Elios.”

“Tu-tunggu! Ada apa sih?!” Pertanyaan Lana tidak terjawab karena Shin langsung enyah dari sana.

Tepat saat itu, Audin yang setengah melamun turun dari tangga. Lana pun langsung membuatnya sadar seratus persen dengan kata-kata yang dilontarkan dalam tempo yang cepat juga susunan yang berantakan.

***

Snare memakai jaket bertudung dan berteduh sekaligus bersembunyi di tempat biasanya dia mengamati dari kejauhan. Laki-laki itu membisu ketika gadis yang seringkali dia awasi selama beberapa waktu belakangan ini akhirnya menyerahkan semuanya lalu membiarkan tubuhnya sendiri terjun dari jembatan. Dia memang menginginkan kematian, lantas kenapa Snare harus menolongnya?

Hampir saja meninggalkan tempat itu, Snare mengerutkan kening ketika samar-samar dia mendengar suara Shin yang berseru memanggil.

“Zein!! ZEIN!!!”

Gadis yang dipanggil Shin itu berlari cepat menuju ke tengah-tengah jembatan, dan di sanalah dia: berdiri membeku sambil menatap ngeri ke permukaan air di bawahnya.

Apa yang harus dia lakukan? Di dalam sungai itu tidak ada yang bisa dia mintai tolong untuk menarik gadis yang mencoba membunuh dirinya itu! Apa yang harus… siapa…

Di tengah kekalutan itu, mata Zein menangkap sekelebat sosok yang terjun dari jembatan, tepat di sebelahnya. Sedetik kemudian terdengar bunyi benda yang jatuh terjebur ke dalam sungai yang berarus deras.

“Apa yang terjadi?” Shin menghampiri Zein sambil terengah-engah. Tidak lama, hampir semua penghuni DM telah ada setidaknya di sekitaran jembatan itu.

Mr. Elios datang dengan balutan jas hujan yang besar. Dia mengayunkan tangannya ke udara dan seketika muncullah cahaya yang membentuk perisai yang mengelilingi sekitaran tempat mereka berada.

“Ini perisai mantra…,” gumam Lana yang mengerjap. Tubuhnya juga Audin basah berkat hujan. “Mr. Elios… orang kayangan? Bidadari laki-laki?”

Mati-matian menekan kuat rasa takutnya, gerak Agatha memacu mengikuti arus sungai yang deras. Sebisa mungkin dia menantang gerak air supaya tidak mempersulitnya mencari gadis itu. Gadis yang amat dia kenal selama dua tahun ini. Sosok yang pura-pura tegar namun pelan-pelan larut dan hancur di dalamnya.

Tulang-tulangnya perlahan membatu karena air sungai begitu dingin. Sangat dingin sampai-sampai Agatha merasa ada ribuan jarum yang menghujam sekujur tubuhnya ketika dia terjun ke bawah. Beberapa saat ada di dalam air, gadis yang dicarinya kemudian ditemukan melayang di tengah-tengah. Kaku dan tidak sadarkan diri.

“Kenapa belum kelihatan juga…?” gumam Zein cemas—lagi-lagi sambil menggigiti ujung kukunya.

“Lihat!” seru Lana sambil menunjuk ke sebuah arah.

Agatha akhirnya muncul ke permukaan. Tangan kanannya melingkar menarik tubuh gadis tadi.

“Naik! Mereka harus naik!” seru Zein.

Lana berdecap. Gadis itu langsung terbang ke tengah-tengah sungai tempat Agatha dan gadis itu berada. Lana mengulurkan tangannya saat Agatha mencoba mengangkat tubuh gadis itu. Si Gadis yang tidak sadarkan diri itupun berhasil diangkat dengan Lana memeluk tubuhnya naik ke atas.

“Agatha!” Lana menjerit.

Snare langsung berlari ke arah sungai karena dia tahu apa yang terjadi. Anggota gerak gadis itu membatu seketika lebih cepat dari yang dia perkirakan. Saat Snare nyaris terjun ke sana, Agatha memberontak.

“Shin..! Shin!!” Suaranya sayup-sayup terdengar karena berulang kali hampir tenggelam penuh ke dalam sungai. “SHIN!!!!”

“Ugh…” Shin menggigit bibir. Tangannya langsung terangkat tinggi-tinggi ke udara. Saat itulah tiba-tiba tanah di sekeliling tempat itu berguncang.

Audin menutup matanya, merasakan sesuatu yang meringsek keluar dari tanah. Benda hidup yang besar dan kuat.

Sulur tumbuhan raksasa menerobos kuatnya arus sungai, menjadi penolong bagi Agatha untuk bisa menghirup udara lagi. Lemas, Shin pun langsung roboh dan Zein menolongnya.

Yang lain akhirnya bisa menghirup napas lega. Audin pun melihat mereka dan batinnya bisa berubah tenang sekarang. Namun sebuah suara yang terdengar begitu dekat dari telinganya, membuat gadis itu membelalak ngeri.

“Padahal tinggal sedikit lagi dia akan kubawa..”

Sontak, Audin menoleh ke belakang dan langkahnya refleks mundur. Tertegun, dia menatap wajah itu. Bibir berona hitam yang melengkung membentuk ulas senyum—senyumnya yang tampak begitu menakutkan bagi Audin. Kedua sayap hitamnya membentang lebar di masing-masing samping gadis itu.

Audin bersumpah. Sebelumnya dia bersumpah kalau tidak lagi ingin punya urusan dengannya! Meskipun wajah mereka sama, Audin berjanji dalam diri untuk melenyapkan gadis itu.

Demetrin—sang Bidadari Kematian.

Saudara kembarnya.