Wounds Heal, Scar Left (5)

Rabu, 16 Desember 2015





Bau teh yang beraroma vanilla menguar begitu uap melayang lalu menghilang, menyatu dengan udara. Gadis itu meletakkan kembali teko yang lama-lama membakar tangannya. Dia lupa bagaimana seharusnya menyiapkan teh yang baik karena rupanya baru sadar kalau dirinya terbiasa dibantu. Membawa cangkir teh tersebut beserta piring kecil alasnya, dia lalu duduk menghadap meja di ruang tengah. Rumah itu sempit, namun terasa menyenangkan.

Orchidee yang datang sekitar lima menit yang lalu tidak sungkan membuka kotak yang diletakkan sedikit berdesakan dengan tumpukan buku-buku dongeng klasik yang rata-rata lebar dan tebal. Kardus pembungkusnya berwarna baby purple, dengan pita kuning susu. Dari dalam kardus itu, dia mengeluarkan sehelai gaun koktail berwarna senada. Dress itu berbahan viscose dengan model loose. Sederhana tetapi terkesan lembut.

“Ini gaun yang agak mahal, kau tahu?” kata Orchidee menoleh pada Kirana yang tengah menambahkan gula kubus ke dalam cangkir.

Tidak ada sahutan. Orchidee mengabaikannya dengan membolak-balik sisi depan dan belakang gaun pendek selutut itu. Beberapa saat, dia baru sadar kalau masih ada barang lain yang dia lewatkan, tertinggal di kardus pembungkus tadi.

Sepatu berwarna putih.

“Cantik sekali…,” gumam Orchidee. Mendadak keningnya muncul kerutan hingga kepalanya meneleng spontan pada kembarannya. “Apa dia orang yang membuatmu senang akhir-akhir ini? Kenapa kau tidak memperkenalkannya padaku?”

“Bukan dia,” jawab Kirana pendek.

“Lalu?”

“Orang yang memberiku pekerjaan..”

Orchidee terkesiap. Mulutnya membuka dan matanya melebar antusias. Kirana langsung tahu apa yang dia pikirkan, meskipun hal itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan kalau benar, tapi dugaan gadis itu meleset.

“Bos tempatku bekerja, suka padamu?! Eh, berapa umurnya? Jangan bilang kalau dia pria bercambang dan berotot seksi yang suka menggoda wanita!”

Ah, tebakan Kirana meleset. Yang Orchidee pikirkan bahkan lebih parah.

“Memang apa yang salah dengan deskripsi priamu itu?” Kirana menopang samping kepalanya yang miring ke kanan.

“Jangan sampai kau suka dengan pria seperti itu!” protes Orchidee. Suaranya setengah berteriak hingga napas gadis itu berubah labil.

Kedua sudut bibir Kirana terangkat membentuk seulas senyum samar. Dia lebih dulu menyesap tehnya sebelum menatap Orchidee lagi.

“Dia jauh lebih muda dari ayah..,” jawab Kirana seolah kalimat itu telah cukup menghilangkan semua kekhawatiran Orchidee.

***

Cakra mengendarai mobilnya ke alamat yang diberikan oleh Kirana. Mobil itu berhenti di ujung gang karena tidak mungkin masuk ke jalan yang sempit. Cakra melihat sekelilingnya saat ini, mendapati rumah-rumah  dan gedung apartemen dengan harga sewa yang murah mendiami kompleks tersebut. Dia mematikan mesin mobilnya, menunggu. Arlojinya menunjukkan pukul delapan kurang delapan belas menit. Tiga menit lagi seharusnya gadis itu akan menampakkan diri.

Cakra memakai setelan jas hitam dengan craft yang berwarna persis dengan gaun yang dia berikan pada Kirana. Tangannya mengerat pada stir, kulit di sana memucat bahkan seolah membeku. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah ini keputusan yang tepat.

Laki-laki itu membenci keluarganya, kecuali ibunya. Sebenarnya Cakra tahu, undangan itu hanyalah alat untuk mengejeknya. Mereka ingin membuat dia merasakan rendah diri, menganggap kalau semua yang dilakukannya adalah hal konyol hanya karena bagi mereka tidak menghasilkan apa-apa. Dan selama ini bagi Cakra, bukannya memberikan sesuatu yang berharga untuknya, mereka justru hanya berusaha menjerat kakinya supaya tidak ke mana-mana.

Apa yang harus dia lakukan? Sungguh, dia tidak memiliki ide apa pun untuk menghadapi orang-orang itu nantinya. Obrolan itu nantinya hanya akan membuat Cakra muak.

Cakra menghela napas panjang. Dia mengerjap tatkala melihat dari kejauhan Kirana yang melangkah pelan menghampiri mobilnya. Laki-laki itu terpaku. Dia tahu kalau gadis mana pun akan berdandan ketika diminta mengenakan dress untuk datang ke pesta, namun apa yang dia lihat saat ini benar-benar mengejutkannya.

Rambut panjang coklatnya yang terang seperti nilon, disampirkan di bahu kiri kemudian dililit sedemikian rupa dengan hiasan serupa tumbuhan sulur dari jaring-jaring benang berwarna senada dengan gaunnya. Wajahnya sendiri tidak jauh berbeda dengan kesehariannya ketika mereka bertemu di Kembang Rasa, tentunya dengan rona yang lebih lembut dan halus. Mungkin gadis itu hanya membubuhkan sedikit bedak, juga lipstik pastel di bibirnya.

Kirana berhenti ketika jaraknya hanya satu langkah dari kaca pintu mobil yang ada di sebelah Cakra. Laki-laki itu buru-buru turun dari mobil lalu berjalan memutar menghampiri Kirana. Gadis itu seperti biasa menatapnya tanpa ekspresi yang berarti.

“Terimakasih karena bersedia menemaniku,” ucap Cakra. “Kau… Kau sangat cantik..”

Tidak mengacuhkan pujian tadi, Kirana memalingkan wajah kemudian menggumam, “Kita harus berangkat sekarang kalau kau tidak ingin terlambat..”

Cakra tersenyum hambar.

“Ya..,” jawabnya pelan. “Tentu saja.”

***

Seorang pria tua dalam ball room yang mewah, dikelilingi oleh beberapa orang yang membincangkan urusan mereka. Dia pria yang berwajah tegas serta bertubuh tinggi, meski perutnya sedikit membuncit.

“Pak Darmintjaja pasti senang sekali dengar Luki Putra berhasil bangun mall di Taiwan.”

“Kabarnya kemarin ketemu sama anak kedua Mr. Hong yang pengusaha properti di Korea ya? Bagus kalau seumpama mereka jadi.”

“Saya kok malah jarang dengar soal Cakra, Pak? Bisnis atau kuliah di mana dia?”

Pria bermarga Darmintjaja itu hanya tersenyum lalu meminum wine di gelas pialanya. Dalam hati dia membatin lagi kalau Cakra mungkin tidak akan datang lagi ke pesta semacam itu. Kurang lebih tiga bulan yang lalu, Cakra datang ke pesta seperti itu bersama seorang gadis yang bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya di kalangan orang-orang di sana. Cakra pun tidak betah berada di hall waktu itu. Setidaknya tekanan seperti ini akan ampuh bekerja pada anak tak tahu malu itu.

Cakra tidak pernah menyukai bidang bisnis seperti ayah ataupun kakaknya. Dia lebih suka bergaul dengan anak-anak kumuh seusianya. Terakhir kabarnya, dia bahkan bekerja sebagai pelayan restoran kecil untuk membiayai kuliahnya sendiri, karena Darmintjaja menolak untuk membiayai kuliah seni rupa bodohnya itu.

“Omong-omong, anda semua tahu soal Mr. Slovki? Kabarnya dia akan datang.”

Owner menara Goghini di Jerman? Oh ya? Pak Ronald bisa juga ya mengundang orang macam itu.”

“Sepertinya Mr. Slovki juga ada urusan di sini, tapi tidak tahu urusan bisnis atau apa.”

Obrolan itu terputus ketika mendadak, satu gerombolan itu merasakan tamu-tamu di sekeliling mereka saling berbisik dengan pandangan yang tertuju ke satu arah. Tidak aneh sebenarnya meski Cakra seringkali mengabaikan apa yang dia punya, ayahnya—pria bernama Darmintjaja tadi merupakan salah satu pebisnis yang paling berpengaruh di Indonesia. Tidak hanya itu, gadis misterius yang bersamanya juga lumayan membuat para tamu bertanya-tanya.

***

Kirana bisa menyadari banyak pasang mata tertuju pada Cakra, padahal baru beberapa langkah mereka masuk ke aula di gedung tersebut. Cakra menampakkan wajah tenang, namun Kirana merasakan siku lengan yang mengait tangannya begitu tegang.

Tanpa laki-laki itu tahu, Kirana sebenarnya telah mencari tahu semua hal tentangnya. Sekarang, gadis itu bisa menebak alasan mengapa Cakra menjadi pelayan restoran sementara keluarganya amat kaya.

“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk tersenyum..,” kata Kirana pelan sementara mereka melangkah makin ke tengah, menuju ayah Cakra—Darmintjaja berada.

Cakra mengerjap sesaat.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Terlepas siapa pun yang kau benci, tidak ada larangan untuk tidak menampakkannya. Bahkan ketika kau berusaha terlihat baik-baik saja, orang-orang macam ini tetap akan berpendapat ada yang salah dengan hubunganmu. Karena itu.. berbohong atau tidak, hasilnya akan sama..”

Cakra terdiam. Pikirannya mencerna baik-baik sambil memandang sosok ayahnya yang perlahan makin dekat. Dalam kekalutannya, kata-kata Kirana mulai menerobos benak laki-laki itu.

“Kau pikir mengapa semua orang di pesta ini tersenyum? Karena mereka semua palsu.. Mereka berkoar tentang hal-hal yang sama, tapi tidak ada yang berharga di dalamnya. Kamu yang bersedih.. lebih dari cukup tahu seperti apa caranya menjalani hidupmu sendiri..”

Langkah Cakra seketika berhenti karena laki-laki itu tertegun. Dia pun menoleh pada Kirana yang terlihat menatap kosong ke depan. Mengapa gadis itu bersikap dan berkata seolah tahu segalanya?

Darmintjaja melangkah mendatangi mereka diiringi tamu-tamu yang mengitarinya tadi. Senyuman merendahkan tampak di bibir pria itu, meskipun yang ada di hadapannya adalah putranya sendiri.

“Aku pikir kau tidak datang,” katanya. “Oh ya, kenalkan, ini anak saya, Cakra. Dia kuliah di jurusan seni rupa.”

Orang-orang selain mereka langsung memasang wajah bingung.

Tidak menghiraukan balasan apa yang akan keluar dari mulut Cakra, Darmintjaja mendadak mengalihkan topik lagi dengan membicarakan putra sulungnya yang sukses berbisnis. Hal itu tentu saja sukses memperjelas hubungan antara ayah dan anak itu.

“Omong-omong, siapa nona ini?” Salah satu dari mereka bertanya.

“Dia temanku. Namanya Kirana,” balas Cakra sebelum Kirana menanggapi. “Kami rekan kerja di restoran tidak jauh dari sini.”

Baik Darmintjaja dan yang lainnya terkejut oleh kalimat Cakra.

“Kerja? Maksudmu bisnis?” tanya salah seorang.

“Bukan.” Cakra tersenyum. “Aku jadi pelayan restoran untuk membayar kuliahku sendiri.”

Mereka sontak tercengang. Samar sekali, Kirana tersenyum.

“Karena sudah datang ke sini, berarti saya sudah memenuhi undangan kan? Kami langsung pamit dulu karena restoran sekarang pasti ramai sekali. Kalau tidak membantu, bisa-bisa kami dipecat.”

Darmintjaja syok—tidak mampu berkata-kata.

Cakra langsung membalikkan badan dengan tangan kiri yang lantas menarik Kirana pergi. Tangan itu terasa dingin, namun ada ketegaran di sana.

Melewati gerombolan beberapa tamu yang mengobrol, seorang pria bercambang yang berdiri di sekitar sudut ruangan tidak sengaja melihat wajah Kirana. Matanya melebar seketika, bahkan dia hampir saja berlari juga berseru memanggil gadis itu kalau saja tamu lain tidak menyapanya tiba-tiba.

“Mr. Slovki, ada apa?

“Ah, tidak…” Pria itu menjawab dengan ragu-ragu. “Sepertinya tadi saya melihat atasan saya di sini..”

Welcome to Disaster Maker Club (8): The Nerd Boy is Falling in Love

Rabu, 09 Desember 2015



Sesaat, Audin menutup matanya setelah langkah kakinya berhenti setelah berjalan agak jauh memasuki hutan Diadra. Di sekelilingnya, rekan satu timnya kali itu juga berdiri tidak jauh. Audin bergerak seperti orang bersujud. Telinga kanannya lalu menempel persis di atas tanah, seperti sedang berusaha mendengarkan sesuatu yang setidaknya akan berguna bagi mereka untuk mencari dua anak yang diculik. Ketika telah menemukannya, sepasang matanya kemudian terbuka.

Tanpa dia berdiri, Audin berkata, “Mereka ada tidak jauh dari sini.”

“Baunya sedikit anyir,” tambah Zein.

“Ke arah mana?” tanya Laz.

“Lurus saja,” jawab Audin lalu bangkit berdiri dan menepuk-nepuk tangan menyingkirkan kotoran di sana.

Mereka berjalan kurang lebih beberapa menit hingga akhirnya sampai di tempat dengan hawa yang sedikit ganjil. Pohon-pohon yang tumbuh di depan mereka tidak menjulang tinggi ke atas, melainkan saling membengkok membentuk lingkaran. Tanaman-tanaman lain semacam sulur, memanjang berhimpit seperti menjelma dinding dalam daerah yang gelap beberapa langkah di hadapan mereka.

Zein maju menyentuh batang pohon yang bengkok juga sulur-sulur di sana.

“Ini sarangnya, kurasa,” kata gadis itu.

“Tunggu apa lagi?” Eva menjentikkan jari hingga keluar api sebesar kepalan tangan. Tanpa rasa takut, dia langsung melangkah memasuki ruang gelap di dalam dinding sulur tanaman itu.

Zein dan Audin sempat saling berpandangan sebelum mengekor di belakang Eva. Laz menyusul di belakang mereka, sedangkan Agatha berjalan di paling akhir. Pedang perlahan-lahan keluar dari telapak tangan Laz, namun tidak ada darah yang keluar meskipun pedang itu seperti menyayatnya.

Mendadak mata Zein mengerjap.

“Eva, berhenti!” sentaknya, membuat Eva langsung menoleh. Zein pelan-pelan mendongak diikuti yang lain.

Mereka terbelalak tatkala melihat gerombolan makhluk mengerikan menggantung di sepanjang langit-langit gua. Ada yang berbentuk menyerupai laba-laba namun setengah tubuh bagian atasnya berbentuk manusia, ada ular raksasa yang merayap, kelelawar setengah reptil, dan lain sebagainya. Sebagian dari mereka menatap Zein dan yang lain seperti tengah memperhatikan mangsa. Saking menjijikkannya, air liur mereka menetes.

“Hitungan ke tiga, kita langsung lari ke dalam,” kata Zein memberi aba-aba. “TIGA!!!”

Sontak mereka semua berlari gila-gilaan lebih ke dalam. Bahkan tanpa menoleh ke belakang, mereka semua tahu siluman-siluman ganas itu mengejar mereka. Gawatnya lagi beberapa siluman sengaja menjatuhkan diri dari langit-langit untuk menerkam siapa pun yang ada di bawahnya.

Eva berdecap kesal. Gadis itu mengerem larinya dan menciptakan api merah yang memanjang untuk membakar siluman-siluman itu. Sebagian langsung menjadi bangkai-bangkai gosong, tapi tetap saja, saking banyaknya jumlah mereka, Eva tidak bisa langsung menyingkirkannya. Apalagi yang ada di lorong itu bukan hanya siluman, melainkan juga Zein dan yang lain.

Seekor siluman yang berwujud seperti belalang sembah raksasa yang masih merayap cepat di langit-langit langsung menghujamkan senjata di tangannya mengarah tepat pada Audin. Tiba-tiba saja gadis itu tersandung lalu terjatuh keras. Serangan siluman itu meleset, tapi dia melakukannya untuk yang ke dua kali. Tapi sebelum benda tajam itu melukai Audin, Laz menebas tangan siluman itu hingga terpotong dan terlempar entah ke mana. Agatha dengan sigap menarik lengan Audin, memaksanya untuk kembali berlari.

Mereka berlari menyongsong cahaya yang berpendar di sisi paling ujung. Saking cepatnya hingga sebagian besar mereka terjatuh keras di ruangan yang kosong.

“Audin! Tutup!!” seru Zein keras.

Audin langsung mengayunkan tangannya hingga lubang gua itu tertutup dengan dinding tanah yang keras. Kelimanya sama-sama terengah-engah dan sedikit bisa bernapas lega.

“Aku tahu Diadra itu sarang siluman. Tapi aku tidak pernah melihat mereka ada sebanyak itu sebelumnya,” ujar Eva kemudian menjatuhkan badannya ke tanah.

Laz dan Agatha bersamaan berdiri saat mata mereka melihat jaring-jaring laba-laba yang luas tidak jauh dari tempat mereka kini. Di tengah-tengah jaring itu, meskipun tampak kecil, ada dua orang yang tubuhnya dibalut benang-benang tipis yang beracun di sana.

“Siluman laba-laba?” Laz bergumam dan mengernyit.

Tiba-tiba seekor laba-laba kecil meluncur tepat di atas Agatha, hendak menggigit lehernya. Gadis itu langsung mendongak ke atas dan tangannya mengacung ke atas, memegang sebuah botol penyemprot.

“Argh!!! Mataku!!” pekik laba-laba itu. Siluman itu terlempar setelah Agatha menendangnya keras ke depan. Makhluk itu sempat mengucek-ngucek matanya sekilas sebelum menggumamkan sesuatu dengan cerobohnya. “Minyak…?”

Senyuman tersungging di bibir Eva. Gadis itu menjentikkan jarinya dan mendadak api merah melahap laba-laba kecil tadi hingga tubuhnya hangus menjadi abu meski hanya sesaat.

“Aku berani bertaruh,” kata Eva kemudian sembari menatap Agatha. Gadis itu tersenyum yakin. “Kau sengaja membawa minyak dalam botol itu karena ada aku di sini kan?”

Agatha tidak menjawab. Dia juga tidak terang-terangan membentak seperti yang biasa gadis itu lakukan. Tidak mengacuhkan Eva, Agatha mengalihkan pandangannya lalu melangkah ke tempat dua anak yang tidak bisa bergerak berkat benang-benang jaring yang membalut tubuh mereka.

Audin menyikut Zein.

“Dia kenapa lagi?” tanyanya.

Zein diam. Kedua bibirnya mengulum. Batinnya bertanya-tanya apakah mungkin kepala gadis itu terbentur sesuatu tanpa Zein tahu? Ah, ada satu cara untuk mengeceknya.

“Atha, hati-hati loh!” seru Zein mengingatkan.

Agatha menoleh. Matanya mendelik tajam.

“Sekali lagi kau salah menyebut namaku, kubunuh kau,” ancam gadis itu tajam meski serak.

Baiklah, dia tidak terbentur, simpul Zein dalam hati.

“Dia…” Audin mengerjap-ngerjap tidak percaya saat mengenali salah satu anak yang dijerat di jaring laba-laba itu. “Gael..?”

***

Shin berbaring menyamping di ranjangnya—tidak bisa tidur. Tentu saja. Bagaimana dia bisa tidur sementara teman-temannya yang lain sibuk dalam sebuah misi, sedangkan dirinya disuruh tinggal dan jaga rumah? Apa yang dipikirkan Mr. Elios soal dirinya? Apakah dia begitu menganggap Shin tidak bisa diandalkan?

Gadis itu menegakkan punggungnya tiba-tiba lalu menggeleng cepat. Dengan tujuan mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu, Shin bahkan dua kali menampar pipinya sendiri. Mendengus keras, dia pun turun dari ranjang dan melangkah keluar. Begitu membuka pintu, dia kaget mendapati Eero sedang menggambar di atas lantai.

Alat yang dia gunakan hanya kapur hitam. Berkat benda itu, tangannya menjadi hitam legam. Yang membuat Shin tidak habis pikir, Eero menggambar simbol-simbol aneh itu di atas lantai ruang tamu asrama itu. Entah sejak kapan semua perabotan di sana disingkirkan di satu sisi, sehingga laki-laki itu bisa leluasa menggambarnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Shin bingung.

Eero bangkit berdiri lalu mengusap keningnya yang berkeringat. Otomatis, jidatnya berwarna hitam.

“Kalau dugaanku benar…,” katanya setelah menoleh pada Shin. “Iblis satu ini akan merepotkan sekali.”

***

“Laz.” Agatha menyebut namanya. Tanpa dia utarakan maksudpun, laki-laki itu kemudian melangkah mendekat dengan gerakan memegang pedang yang bersiap akan mengayun.

“STOP!!”

Tubuh Laz langsung mematung seperti seseorang menekan tombol pause tiba-tiba. Tidak hanya dia, yang lain juga langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling karena barusan yang menghentikan Laz adalah suara Lana.

“Di mana kau, Lang?” Zein berseru.

“Jauh di atas kalian!” jawab Lana. Suaranya menggema di dalam gua tempat mereka berada. “Aku barusan dapat pesan dari Eero. Jangan sentuh jaring-jaring itu! Bahkan sedikitpun, kalian tidak boleh menyentuh benang-benang yang berceceran di lantai.”

Eva mengerutkan kening. Gadis itu rupanya masih berbaring di atas tanah karena merasa malas bergerak. Telapak tangannya lalu mengambil segenggam pasir di atas tanah. Matanya lalu menyipit tatkala mendapati pasir yang dia genggam ada benang-benang tipis yang terselip.

“Memangnya ada apa dengan benang ini?” gumamnya penasaran. Sebelum yang lain membatin pertanyaan yang sama, Eva tiba-tiba menjerit saat kumpulan benang lainnya menjerat tubuhnya supaya terkubur di dalam tanah.

“Benangnya hidup?!” Audin terperangah. Dia melihat Zein yang berlari hendak menolong Eva, tapi tiba-tiba gadis itu menjerit juga ketika gerombolan benang menarik kakinya hingga menggantung di udara. “Zein!” serunya.

“Jangan bergerak!!” teriak Agatha menghentikan gerak Audin yang akan menolong Zein. “Matamu buta?! Tidak lihat ada benang-benang itu berserakan di lantai?”

Pandangan Audin dan Laz beringsut ke sekitar kaki mereka. Benar katanya. Banyak sekali benang-benang berwarna perak yang tersebar di atas tanah.

“Siapa pun… tolong aku…,” kata Zein yang menggantung terbalik di langit-langit. Wajahnya sedikit membiru. “Lama-lama aku mual…”

Agatha mendengus.

Laz menarik kembali pedangnya lalu memasukkan senjata itu ke dalam sarung  yang menempel di celananya. Siapa yang tahu kalau sarung pedang itu justru menyenggol balutan benang di tubuh anak-anak yang diculik. Laz tersentak. Tanpa sempat berteriak, laki-laki itu ditarik paksa ke dinding dalam keadaan mulut yang disumpal.

“Woi! Kalian baik-baik saja?!” seru Lana bertanya.

“Tanyakan pada Eero siluman macam apa ini!” balas Agatha.

“Bukan siluman! Yang ada di sana hanya ada satu iblis. Mr. Elios bilang iblis yang menculik anak-anak itu kan?”

Agatha berdecap. Tangannya menyilang.

“Apa Eero juga memberitahu bagaimana cara menyingkirkan benang-benang ini?!” seru Audin. “Eva, Zein, dan Laz terperangkap!”

“Mereka harus melepaskan diri sendiri—begitu kata Eero,” balas Lana.

Saran macam apa itu? Zein membatin sebal. Detik berikutnya dia membekap mulutnya sendiri begitu merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari perutnya melalui mulut.

Tanpa mereka sadari, Laz perlahan-lahan mengubah wujud dirinya menjadi bola baja raksasa. Saking beratnya, benang-benang itu lama-lama tidak mampu menahan berat baja itu hingga akhirnya satu persatu benang terputus. Tepat ketika bola baja itu terlepas, sebelum menghujam tanah, Agatha tersentak dan menoleh.

Tahu-tahu bola baja itu menggelinding ke arahnya.

“Ap—!”

“Lari!” seru Audin.

Terlambat. Bola itu menggelinding dan langsung menghantamnya hingga membuat liang besar di dinding gua, dengan posisi Agatha di dalamnya. Laz perlahan-lahan berubah kembali ke wujud asli. Laki-laki itu langsung kebingungan, tidak ingat apa yang telah dia perbuat. Segerombolan benang nyaris akan menjeratnya lagi, namun Laz memotong semuanya dalam sekali tebas.

Bersamaan dengan itu, tanah tempat Eva berada meledak. Zein dan Audin pun langsung terbatuk-batuk karena tidak tahan dengan asap dan debu yang berterbangan. Eva bersin berulang kali karena hidungnya kemasukan debu.

“Apa ini? Kompor gasnya meledak?”

Mereka semua menoleh ke orang yang sama. Orangnya sama, tapi… logat dan nada suaranya berbeda.

“Mana si Bau Kencur Shin? Biar kugoreng dia di teflon!”

Agatha. Dan yah… kepalanya terbentur.

Feeling for The Angel (Orientation)

Senin, 30 November 2015



Cewek itu pulang dalam keadaan penuh keringat. Dia sebenarnya masih memakai dogi yang lengkap, tapi berkat jaket hitamnya yang besar, celana putih yang dia pakai tampak biasa saja. Tidak banyak barang yang dia bawa. Hanya satu tas kecil, berbentuk seperti dompet untuk uang receh. Di dalamnya cuma ada sebuah botol minuman yang telah tandas, juga sehelai handuk.

Ketika keluar dari gedung olahraga tempat dia biasa latihan, cewek itu sempat terbengong mendapati suasana yang telah gelap. Dia lupa waktu. Benaknya sedikit penat akhir-akhir ini hingga dia terlalu asyik melampiaskan apa yang dia rasakan pada lawan mainnya, ditambah satu samsak tinju. Tapi, segelintir hatinya masih belum membaik. Dia tidak melihat orang yang harusnya ada di sana: cowok sialan itu.

Sesampainya di kamar kosnya setelah pindah dekat pusat kota untuk lanjut kuliah, dia melihat adiknya sedang menatap layar laptop—menonton film misteri sambil mengupas apel.

“Kak Yos, tumben lama banget olahraganya,” sambut Adam yang langsung menoleh ke belakang ketika pintu kamar mereka dibuka.

“Jangan tanya,” balas Yosi setengah menggumam—lebih tepat dikatakan menggerutu. “Krannya hidup kan?”

“Mm. Tapi kecil. Tenang aja, embernya udah kuisi.”

Yosi menguap.

Thank you,” ucap cewek itu lalu melemparkan tasnya sembarangan dan langsung mengunci diri ke dalam kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri, tidak peduli rambutnya yang pendek sebahu dan bergelombang masih basah, Yosi merebahkan badannya ke atas tempat tidur lalu seperti meringkuk memeluk bantalnya.

Apa… Suara-suara dalam hatinya berbisik mengucapkan kata tanya yang mengusiknya. Apa yang dia lakukan?

Pelukan Yosi mengerat. Gadis itu lalu memutuskan memejamkan matanya rapat-rapat sembari membatin. Dia harus mengenyahkan semua pikiran-pikiran yang mengganggu itu. Lagipula tidak ada alasan baginya untuk terganggu. Sama sekali tidak ada. Sosok cowok itu tetap sama seperti dulu. Dia tidak berubah. Semoga seperti itu.

***

“Apa ini?” Yosi sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya ketika Rosy—teman yang dikenalnya sejak pertama kali masuk kuliah—memberikannya secarik kertas yang dilipat semacam surat undangan.

“Iuran untuk bazar,” jawab Rosy sambil nyengir.

Pertama kali melihat Rosy, jujur, Yosi mengira kalau dia anak salah satu dosen di kampusnya melihat tubuhnya begitu kurus dan mungil. Dia suka sekali mengenakan kemeja berwarna lembut yang berenda, lalu rambutnya yang bergelombang seperti Yosi diikat di belakang kepala. Berkat penampilannya itu, pertama kali melihat dia, orang lain akan berpikir kalau dia anak SMP—meski Yosi mengingat Adam tidak seimut itu sewaktu SMP dulu. Teman-teman mereka yang lainpun sering berceletuk mereka kakak beradik karena akhiran nama mereka yang sama ketika diucapkan.

“Iuran aja musti pake surat,” gumam Yosi sambil membuka lipatan surat itu.

“Yah.. buat ngehindarin gerutuan yang lain soal dana ini. Aku mau masukin kamu ke yang jaga stan. Gimana? Tenang aja. Giliran kok.”

“Asal nggak tabrakan sama latihan karate gue. Oh, dan Voli. Tenis juga.”

Rosy berdecap dan geleng-geleng.

“Kegiatanmu makin banyak aja,” komentarnya. “Kalau kamu segitunya suka olahraga, kenapa dulu nggak ngambil jurusan olahraga?”

Yosi tersenyum sekilas. Pertanyaan itu sering dia dapat dari teman-temannya SMA dulu. Mereka terkejut karena Yosi ternyata mengambil jurusan bisnis, bukannya olahraga atau lebih cocok ke akademi kepolisian. Sebab berkat beberapa kejadian yang dia alami tiga tahun yang lalu, membuat gadis itu suka sekali menghajar orang-orang jahat yang kerjanya menindas yang lemah. Alih-alih mendapat penghargaan, Yosi lebih sering mendapat teguran. Namun banyak orang-orang yang dia tolong selalu mengingatnya ke mana pun gadis itu pergi.

Listen, Sis.” Dia berkata. “Kuliah nggak ada gunanya kalau lo nggak bisa ngehasilin uang banyak nantinya. Gue nggak mau tabungan orangtua gue habis sebelum Adam jadi sarjana nanti. Lo sendiri tahu gue kerja sambilan buat bayar kuliah.”

“Ah…” Rosy mengangguk-angguk mengerti. “Apa kabarnya si Adam?”

Gadis itu rupanya lupa agenda selanjutnya untuk pergi rapat. Binar matanya bertambah kala mengingat wajah Adam sewaktu Yosi memperkenalkannya dulu pada Rosy. Cowok itu masih SMA, tapi badannya lumayan jangkung seperti kakaknya. Wajahnya juga selalu enak dilihat karena dia ramah dan baik sekali.

“Biasa aja,” jawab Yosi sekenanya.

“Heh… masa’ kakaknya nggak tau adiknya punya gebetan atau nggak?”

“Gue kakaknya, bukan pacarnya. Gue bakal dengerin kalau dia cerita, bukannya maksa dia cerita.”

Mendengarnya, seperti biasa Rosy mencibir gantinya menggerutu. Gadis itu menopang dagu dan menggumam pelan.

“Andai nanti aku punya pacar kayak Adam…”

Yosi mematung sekilas. Raut wajahnya sedikit berubah tanpa Rosy sadari. Mengulum bibir, gadis itupun bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.

***

Hujan deras mendadak mengguyur tepat ketika Yosi akan keluar kampus. Air yang tumpah benar-benar tidak main-main. Ada di bawah langit terbuka satu detik saja, orang pasti akan basah kuyup sampai ke pakaian dalam juga. Karenanya mahasiswa lain terpaksa berdiam di dalam kampus biarpun mereka duduk di lantai.

Yosi melihat ke arah jam tangannya. Padahal setengah jam lagi waktunya dia mulai kerja sambilan. Gadis itu lalu memutuskan untuk ikut duduk di lantai, bersebelahan dengan seorang cowok yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu di laptop. Dia mengeluarkan ponselnya dari tas dan membuka line. Ada beberapa chat masuk di sana, namun pandangan Yosi terpaku pada salah satu chat yang sepi kurang lebih seminggu ini.

Rian alias cowok sialan yang membuatnya tidak tenang akhir-akhir ini.

Cowok itu memang tidak melakukan hal yang salah. Dia juga tidak lagi sengaja mengerjai Yosi seperti yang biasa dia lakukan—karena Yosi pikir itu hobinya. Sudah seminggu Rian tidak mengontaknya. Cowok itupun tidak lagi terlihat di gedung olahraga tempat mereka biasa berlatih. Tapi sebenarnya meskipun Yosi tidak mau akui, ada hal selain itu yang membuat benaknya makin runyam.

“Lo tau nggak kalau Rian mungkin punya pacar?”

Deni tiba-tiba mengangkat topik mengejutkan itu ketika dia dan Yosi saling sapa via facebook tiga hari yang lalu. Yosi membalasnya dengan enggan, menjawab kalau dia tidak tahu—ironi padahal mereka sering latihan bersama. Deni lalu bercerita soal temannya yang berada satu fakultas dengan Rian. Katanya, Rian sering terlihat bersama seorang cewek yang kurang lebih populer di sana. Mereka juga kadang datang ke kampus bebarengan karena cewek itu membonceng Rian.

Memangnya kenapa? Batin Yosi sebal. Dia kesal bukan berarti dia memiliki perasaan istimewa ke cowok sialan itu. Lebih kepada tingkah Rian yang seperti berlaku layaknya ada perang dingin antara mereka berdua. Ini bukan apa-apa—Yosi meyakinkan diri. Gadis itu bersumpah akan membuat tubuh Rian terbanting keras nantinya apabila mereka berlatih bersama nanti.

***

Yosi sampai di kafe es krim tempatnya bekerja sambilan, lewat lima menit dari jam yang ditentukan kapan dia mulai bekerja. Untung saja manajer merangkap kasir di sana maklum karena di luar barusan hujan deras. Lagipula kafe itu sedang sepi. Siapa pula yang mau makan es krim saat udara dingin?

Tidak ada pelanggan yang datang, Yosi lalu mengambil senampan peralatan makan es krim kemudian mengelapnya satu per satu sementara rekan kerjanya yang lain mengelap dinding kaca dan meja. Saat itulah, lonceng di pintu masuk kafe berbunyi kala seseorang masuk.

“Selamat datang!” sambut Yosi, bersamaan dengan waitress yang lain. Namun ketika melihat wajahnya, ekspresi Yosi berubah terkejut. Dia pun mematung dekat etalase es krim.

Tamu yang datang ketika di luar masih gerimis itu adalah seorang gadis yang memakai dress loli selutut berwarna merah muda emas. Rambutnya panjang kecoklatan serta sedikit bergelombang. Nada make up-nya manis sekali. Dengan wajah yang cantik itu, dia tersenyum pada Yosi.

“Minta satu banana split ditambah almond ya,” pesan gadis itu tanpa melihat ke arah daftar menu yang dipajang.

Gadis itu menunduk memperhatikan wadah-wadah es krim dalam etalase, tidak menyadari ekspresi tertegun yang ditampakkan Yosi.

Tiga tahun terlewat, namun Yosi tidak akan pernah lupa wajah orang-orang itu. Orang yang menabraknya hingga motornya hancur, orang yang pernah mengacungkan ujung tongkat kendo padanya, juga orang yang selalu tampak bersahabat pada Yosi dan tidak pernah main-main menganggapnya teman.

Menyadari pelayan kafe di hadapannya tidak juga bergerak, gadis tamu itu mengangkat kepalanya, mengerjap pada Yosi. Melihat air muka Yosi masih sama dengan tadi, gadis itu lalu tersenyum seolah mampu membaca pikirannya.

“Kita…” Gadis itu berkata. “Pernah bertemu sebelum ini kan?”